Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Penghiliran Melalui Klaster UKM
Penghiliran tak hanya untuk industri besar. Usaha Kecil Menengah (UKM) juga dapat berpartisipasi pada program strategis nasional tersebut. Presiden Joko Widodo menegaskan hal ini dalam sambutannya pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). “Yang UKM pun kita harus industrialisasikan, harus hilirisasikan semua produk yang masih mentahan,” kata Presiden. Pernyataan orang nomor satu di Indonesia tersebut menegaskan bahwa UKM dapat berpartisipasi dalam program penghiliran utamanya untuk komoditas non minerba. Partisipasi UKM dapat dilakukan salah satunya melalui penghiliran pertanian. Penghiliran pertanian adalah upaya peningkatan nilai tambah melalui pengolahan hasil pertanian menjadi produk turunan lain. Sebagai contoh jagung yang dapat diolah menjadi berbagai produk turunan diantaranya tepung jagung, beras jagung, pati jagung, sirup glukosa, hingga bioetanol. Program penghiliran pertanian memberikan berbagai manfaat bagi perekonomian nasional melalui peningkatan harga produk, pengembangan industri pengolahan, penyerapan tenaga kerja dan adopsi teknologi, serta mendukung ketahanan pangan. Hasil survei Bank Indonesia terhadap 274 korporasi pangan menunjukan bahwa tingkat penghiliran korporasi kecil/UKM jauh lebih rendah dibandingkan dengan korporasi besar. Dari sekitar 164 korporasi kecil, masih terdapat 60% yang belum melakukan penghiliran. Di sisi lain, penghiliran pada korporasi besar telah mencapai 63%. Program penghiliran salah satunya dapat dicapai melalui pengembangan UKM berbasis klaster. Michael E.Porter (1990) mengungkapkan bahwa klaster merupakan fenomena ekonomi yang di mana banyak bisnis secara bersamaan bersaing dan berkolaborasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Program klasterisasi UKM dilakukan melalui pengelompokan individu pelaku UKM yang memiliki karakteristik serupa guna peningkatan skala usaha, produktivitas, dan nilai ekonomi produk. Adapun skema KUR Khusus diberikan kepada kelompok yang dikelola secara bersama dalam bentuk klaster yang melibatkan mitra usaha untuk perkebunan rakyat, perikanan rakyat, peternakan rakyat, industri UMKM, serta kelompok usaha yang memproduksi produk lokal, berbahan baku lokal, dan usaha produktif lainnya. Subsidi suku bunga KUR Khusus oleh pemerintah diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit oleh Klaster UKM.
PENURUNAN BIAYA LOGISTIK : 29 TERMINAL KONTAINER TELAH TERINTEGRASI
Subholding PT Pelindo Terminal Petikemas (Pelabuhan Indonesia Group) terus mengintegrasikan pelayanan 29 terminal kontainer di seluruh Indonesia untuk membantu menekan biaya logistik.
Direktur Utama Subholding PT Pelindo Ter minal Pe tikemas (SPTP) M. Adji mengatakan bahwa pengintegrasian ekosistem pelabuhan sudah dilakukan sejak bergabungnya empat BUMN pelabuhan menjadi satu kesatuan.Saat ini, SPTP terus melakukan transformasi dalam perintegrasian seluruh pelabuhan peti kemas milik perseroan, salah satunya dalam hal pertukaran data antara terminal dan perusahaan pelayaran.Menurutnya, pertukaran data itu dilakukan guna mengetahui jadwal dan muatan yang dibawa oleh kapal dari suatu tempat ke tempat lainnya.
SPTP merupakan subholding PT Pelabuhan Indonesi (Persero) yang mengelola 29 terminal peti kemas dengan 15 kantor cabang di Tanah Air. Adji melanjutkan SPTP terus mengembangkan ekosistem pelabuhan yang terintegrasi untuk mengefi sienkan aktivitas bongkar muat di pelabuhan.Sejak bergabungnya empat BUMN pelabuhan, dia menegaskan SPTP melakukan penyatuan pendataan dan pemberkasan data pelayaran.Sebelumnya, dia menyatakan ada perbedaan ketika bersandar dari satu pelabuhan ke terminal lainnya.
Dia juga memaparkan salah satu pelabuhan yang sukses memperbaiki layanan sekaligus memangkas biaya adalah Terminal Peti Kemas di Sorong. Sebelum merger, ungkapnya, aktivitas bongkar muat di terminal itu butuh waktu sekitar 3 hari dan kini menjadi 1 hari.Dari Semarang, General Manager Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang I Nyoman Sudhiarta mengungkapkan TPK Semarang mendorong penggunaan jalur kereta api untuk memberikan pilihan pengiriman peti kemas dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.Salah satu jalur dalam proses reaktivasi adalah jalur kereta api dari TPK Semarang (Pelindo) di Pelabuhan Tanjung Emas ke Stasiun Semarang Tawang milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Nyoman juga mengungkapkan salah satu tantangan utama reaktivasi jalur KA adalah mencari pasar untuk menggunakan jasa KA itu.
Dalam pembahasan pola operasional antara Pelindo, PT KAI, dan Bea Cukai, ada beberapa poin yang harus disoroti a.l. penambahan fasilitas CCTV pemisahan antara peti kemas domestik dan impor dan penjadwalan layanan KA.Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Tanjung Emas Semarang Supriyono mengapresiasi TPK Semarang menerapkan terminal booking system (TBS) untuk mengurai kepadatan kendaraan peti kemas.
Berharap dari Kebijakan DHE
Indonesia kembali membukukan surplus neraca dagang untuk yang ke 41 kalinya secara berturut-turut sejak Mei 2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,42 miliar pada September 2023. Pada periode Mei 2020 hingga September 2023, surplus dagang sempat mencatatkan rekor sebesar US$7,6 miliar pada April 2022 dan titik terendah sebesar US$427,2 juta pada Mei 2023. Adapun, surplus ditopang oleh ekspor September sebesar US$20,76 miliar, yang turun 5,63% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$5,34 miliar. Komoditas bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dan besi baja (HS 72) menjadi penyumbang utama. Sementara itu, nilai impor September tercatat US$17,34 miliar, turun 8,15% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar September adalah mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya senilai US$401,7 juta (17,95%). Sementara, peningkatan terbesar adalah garam, belerang, batu, dan semen US$33,3 juta (43,27%). Secara kumulatif, dari Januari hingga September 2023, total surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$27,75 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Januari—September 2022 yang mencapai US$39,85 miliar. Jika ekspor lebih besar dari impor dikatakan bahwa neraca perdagangan kita surplus, dan sebaliknya apabila impor lebih besar daripada ekspor maka dikatakan neraca perdagangan adalah defisit. Secara sederhana, surplus perdagangan selama 41 bulan terakhir bisa diartikan bahwa Indonesia mampu menumpuk dolar AS sejak Mei 2020. Penurunan posisi cadangan devisa dipengaruhi, antara lain oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai langkah antisipasi dampak rambatan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Ubah Haluan demi Keberpihakan pada Pangan Lokal
Indonesia memiliki keberagaman sumber dan budaya pangan
lokal, tetapi selama ini tersingkirkan dalam kebijakan pangan nasional.
Keberagaman pangan lokal ini seharusnya bisa menjadi penopang kemandirian
pangan nasional. Hal ini membutuhkan perubahan haluan kebijakan pangan yang
selama ini bias. Peliputan tim Kompas di pulau-pulau kecil NTT, Sultra, dan
Kepulauan Mentawai di Sumbar pada Agustus hingga awal Oktober 2023 menunjukkan
tingginya keberagaman sumber pangan di pulau-pulau kecil ini. Untuk karbohidrat,
selain berupa biji-bijian yang tahan kering, seperti sorgum, jagung, dan
jewawut, juga berupa umbi-umbian, batang sagu, hingga buah-buahan.
”Masa depan pangan kita ada di sumber pangan yang menyimpan
cadangan karbohidratnya di dalam umbi dan batang pohon, seperti sagu. Dan, umbi
serta sagu itu banyak di Indonesia, tetapi selama ini terabaikan karena
kebijakan pangan kita masih fokus pada beras saja,” kata Yulius B Pasolon,
profesor sagu dari Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari, Senin
(16/10). Menurut Yulius, Indonesia harus mengubah kebijakan pangan nasional
yang selama ini hanya menggantungkan pangan pokok pada beras dan kemudian
terigu yang berasal dari gandum impor. ”Dibutuhkan grand design ketahanan pangan lokal yang berbasis keluarga, kampung,
dan desa. Cadangan pangan lokal ini seharusnya menjadi lumbung-lumbung pangan
lokal yang akan bersinergi menjadi lumbung pangan nasional. Bulog seharusnya
bisa mengurusi ketersediaan pangan lokal juga, jangan hanya urus beras,”
katanya. (Yoga)
Merdeka dari Krisis Beras di Pedalaman
Lonjakan harga beras membuat masyarakat di pulau-pulau kecil
tercekik karena mesti membayar lebih mahal. Meski demikian, Parulian Sabaiket
(47) tidak ambil pusing dengan kenaikan harga beras itu. Ia beserta istri dan
putranya masih setia mengonsumsi sagu dengan keladi dan pisang sebagai
sampingan. Pangan local masyarakat suku Mentawai tersebut masih melimpah di ladang
keluarganya. ”Kami memang dari dulu jarang makan beras, sebulan sekali, bahkan
setahun sekali. Apalagi, sekarang harga beras mahal,” kata Parulian, warga Dusun
Bekkeiluk, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, yang ditemui pada Minggu
(24/9). Parulian dan keluarga besarnya masih rutin menyagu, mengolah pohon sagu
menjadi pati sagu, secara mandiri setidaknya dua bulan sekali. Ia bersama tiga
saudaranya menebang empat batang sagu kemudian diolah jadi pati sagu.
Satu batang sagu bisa menghasilkan 10 karung (kapasitas 20 kg)
pati sagu. Tiap-tiap orang mendapat 10 karung sagu untuk keluarga
masing-masing. Stok pati sagu tersebut disimpan di dalam sumur atau sungai
kecil. ”Bagi keluarga saya, 10 ka- rung itu tahan untuk dua bulan. Di rumah ada
tiga orang, saya, istri, dan anak,” katanya. Sagu itu biasa dimakan dengan lauk
berkuah seperti sup atau tumis ikan sungai dan ulat sagu (tamra). Sebagai
selingan dari sagu, keluarga Parulian juga kerap makan keladi, selain pisang. Menurut
Parulian, dengan mengonsumsi sagu, keladi, dan pisang sebagai makanan pokok, keluarganya
menjadi mandiri pangan. Keluarganya tak perlu keluar uang untuk sumber
karbohidrat. (Yoga)
Cuaca Panas Memicu Penurunan Produktivitas
Dampak meningkatnya suhu yang masih berlangsung hingga saat
ini tak hanya memicu penurunan tingkat produktivitas pekerja di luar ruangan.
Cuaca panas juga menurunkan produktivitas para karyawan yang bekerja di dalam
kantor dengan penyejuk ruangan. Meski bekerja di dalam ruangan dengan penyejuk
ruangan (AC), Raya Maulazahra (28), karyawan swasta di Jakpus, masih sering merasa
gerah dan mudah lelah saat bekerja. Dampak cuaca panas ini membuatnya kurang
bersemangat. Bahkan, pernah ia tidak mampu mengerjakan laporan tepat waktu sehingga
mendapat teguran dari atasan. ”Mata saya terasa panas dan mudah lelah, tetapi
harus menghadap komputer sepanjang waktu,” ujar Raya yang kerja di bagian
digital marketing, Senin (16/10). ”Bahkan, saya pernah tidak bisa tidur hingga
pagi hari karena gerah. Itu membuat saya mudah mengantuk saat bekerja, terlebih
saat jam siang. Hal itu mengganggu kinerja saya,” katanya.
Karyawan swasta di Jakarta Barat, Aisy Safiyah (25), juga kurang
fokus dalam bekerja akhir-akhir ini. Selain mudah lelah, ia juga gampang haus. Bekerja di dalam ruangan tak lantas membuat
Aisy terbebas dari panasnya cuaca di luar. Saat jam makan siang, ia terkadang
keluar membeli makan. Peralihan suhu dari ruangan ber-AC ke luar ruangan yang
panas membuat kulit Aisy menjadi lebih kering. Untuk meminimalkan tingkat
penurunan produktivitas karyawan, pihak kantornya menyiapkan sejumlah vitamin dan
selalu memastikan ketersediaan air putih. Para atasan juga rutin bertanya
kondisi kesehatan karyawan untuk mengetahui apakah mereka dalam keadaan fit
atau tidak. Hasil riset dari Universitas Exeter, Inggris, yang dipublikasikan
dalam jurnal Environmental and Resource Economics pada 30 Agustus 2023 menunjukkan,
meski kondisi suhu di dalam pabrik terkendali dengan adanya penyejuk ruangan,
produktivitas pekerja di dalamnya turun 0,83 % setiap peningkatan 1 derajat
celsius di luar ruangan. (Yoga)
Terjajah Pangan di Kepulauan
Inflasi harga pangan di dunia meningkatkan kerawanan global,
termasuk Indonesia yang pasokan pangan pokoknya bergantung pada impor.
Masyarakat di pulau-pulau kecil berada di garis depan yang paling rentan
terdampak krisis ini karena harus membayar pangan lebih mahal. Pada saat yang
sama, kualitas gizi anak dan kesehatan rata-rata mereka lebih rendah
dibandingkan dengan nasional. Dari Peliputan lapangan Kompas di tiga kepulauan,
yaitu NTT, Kepulauan Wakatobi di Sultra, dan Kepulauan Mentawai, Sumbar, pada Agustus
hingga awal Oktober 2023, terungkap implikasi sistem pangan nasional yang
cenderung mengabaikan keberagaman sumber pangan lokal. Wawancara dan analisis
data statistik menunjukkan terjadi pergeseran pola konsumsi yang menyebabkan
warga bergantung pada beras dan terigu.
Pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal ke beras di
kepulauan tak diikuti peningkatan produksi. Sejumlah proyek cetak sawah dan
food estate (lumbung pangan) di kepulauan ini tidak menunjukkan hasil
signifikan. Bahkan, beberapa lokasi yang dikunjungi, seperti Konawe Selatan,
Flores Timur, dan Siberut, termasuk food estate jagung yang diresmikan Presiden
Jokowi pada Maret 2022 di Belu, menuai kegagalan. Data Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan NTT menunjukkan, produksi beras di NTT pada 2022 hanya
430.948,5 ton, jauh di bawah konsumsi 642.367,53 ton. Defisit beras dipenuhi
dari luar, terutama Sulsel dan Jawa. Pergeseran pola konsumsi yang telah
menyebabkan tingginya kebutuhan beras salah satunya disebabkan anggapan bahwa
beras adalah makanan kelas satu. ”Jadi, kalau belum makan nasi dianggap belum
makan,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky F Koli.
Defisit beras juga terjadi di Mentawai. Menurut Kabid
Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kepulauan Mentawai Andre Kasianus, pada tahun 2021 jumlah produksi beras di Mentawai
1.005 ton, sedangkan kebutuhan beras tahun itu 9.678 ton. Di level provinsi,
selama dua tahun terakhir, Sultra masih surplus beras. Namun, pulau-pulau
kecilnya rata-rata defisit beras. Wakatobi, misalnya, sama sekali tak
menghasilkan beras, tetapi konsumsinya terus meningkat dari 9.169 ton pada 2019
menjadi 11.761 ton pada 2022. Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas
Rinna Syawal mengatakan, pergeseran pangan lokal ke beras dan terigu di Indonesia
mengkhawatirkan, karena keberagaman pangan merupakan kunci kemandirian pangan
nasional dan ketahanan pangan di daerah. (Yoga)
Pangan Instan Menggerus Beragam Pangan Lokal
Tiga puluh tahun terakhir, keberagaman konsumsi pangan warga
di kepulauan kecil berkurang karena penetrasi produk instan dan varietas padi
hibrida yang menggantikan padi lokal. Indonesia termasuk negara dengan tingkat
biodiversitas terbesar di dunia. Berdasarkan data Bapanas (NFA), ada 945
potensi keanekaragaman hayati pangan secara nasional, terbanyak jenis
buah-buahan (389 jenis). Pangan sumber karbohidrat memiliki 77 jenis, dari sagu
hingga ubi jalar. Banyak jenis umbi-umbian dengan nama lokal. Untuk sumber
protein, ada 75 jenis meliputi hewan darat dan laut. Keberagaman sayuran 228
jenis untuk memenuhi kebutuhan protein nabati. Jenis pangan berikut yang punya
banyak jenis ialah rempah dan bumbu 110 jenis. Semua jenis pangan itu berbasis
potensi lokal dan tersebar di berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Keberagaman
pangan di kepulauan Nusantara menyimpan potensi besar, sejalan dengan temuan
Kompas di tiga daerah kepulauan, yakni Kepulauan Mentawai, Kepulauan
Muna-Buton-Wakatobi, dan NTT. Ratusan jenis pangan menopang kehidupan warga.
Sayangnya, hegemoni pangan lokal di kepulauan itu terancam
hilang. Hasil observasi lapangan oleh Kompas pada Agustus-Oktober 2023
menunjukkan kini keberagaman pangan turun 7,82 5 ketimbang 30 tahun lalu, untuk
semua jenis pangan, mulai dari sumber karbohidrat, protein, vitamin, ataupun
mineral. Tiga puluh tahun lalu, warga di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai,
mengonsumsi 112 jenis pangan lokal. Berbagai jenis pangan tersedia melimpah,
seperti padi lokal merah (aen mntasa), padi lokal hitam (aen metan), jagung
lokal kuning (pen molo), kacang local merah (foe mntasa), kacang lokal hitam
(foe metan), dan kacang lokal putih (foe muti). Kini tersisa 104 jenis pangan
dikonsumsi warga Pulau Siberut. Jadi, selama tiga dekade keberagaman pangan
turun 7,14 5. Hal serupa dialami warga kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi
dengan penurunan jenis pangan lokal lebih besar dari Siberut. Ada 18,23 persen
jenis pangan di kepulauan wilayah Sulawesi Tenggara hilang digantikan aneka
produk instan, seperti mi instan dan ikan kaleng. Warga kepulauan NTT bernasib
sama, 7,9 5 keberagaman pangan hilang atau tak dikonsumsi warga saat ini,
Seperti jagung ungu (water lobung), sorgum putih (water wili bara karohu), dan
jemawut (uhu kanii). (Yoga)
Puluhan Triliun Rupiah di Balik Pernak-pernik Gim
Theo Christiawan (25), karyawan swasta, masih ingat betul
saat pertama mengunduh gim Mobile Legends di gawainya lima tahun silam. Bermula
dari mengikuti tren yang menjamur di kalangan tongkrongan sebayanya, perlahan
Theo mulai akrab dan kerap menghabiskan waktunya mencari hiburan melalui bermain
gim. Dalam beberapa kesempatan, ia rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi
mendapatkan kostum karakter (skin) edisi khusus ataupun pernak-pernik yang
dijual oleh pengembang gim tersebut, Shanghai Moonton Technology Co Ltd,
perusahaan asal China. ”Setiap kali ada event penjualan skin unlimited (terbatas),
biasanya butuh uang sampai Rp 3 juta. Selain itu, rata-rata sebulan bisa keluar
Rp 1,2 juta. Kalau ditotal, selama ini sudah habis lebih dari Rp 20 jutalah,”
katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (11/10).
Mutiara Ayu (26), karyawati swasta, rela mengeluarkan uang separuh
penghasilannya demi gim berbasis gawai itu. ”Awalnya cuma keluar uang Rp
150.000-Rp 200.000, tetapi lama-lama tidak terasa sebulan habis Rp 1,1 juta.
Rasanya jadi bangga gitu karena enggak semua orang punya. Bahkan, selama
sebulan itu rela nahan jajan dan beli makan yang murah biar bisa top up gim,”
tuturnya. Dilansir dari data Statista.com, total pendapatan di pasar mobile
game atau gim yang dimainkan dari gawai di Indonesia diproyeksikan mencapai
0,71 miliar USD atau Rp 11,15 triliun pada 2023. Jumlah ini diperkirakan terus
tumbuh rata-rata 6,4 % per tahun hingga mencapai 0,91 miliar USD atau Rp 14,29
triliun pada 2027.
Tren ini linier dengan jumlah pengguna mobile game yang juga
diproyeksikan meningkat hingga 76,9 juta orang pada 2027. Saat ini, sebagian
besar pemain mobile game didominasi penduduk berusia 25-34 tahun. Outlook
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2023/2024 oleh Kemenparekraf menyebutkan,
Indonesia menjadi pangsa pasar mobile game terbesar ketiga di dunia berdasarkan
unduhan aplikasi Google Play. Pengeluaran para pemain mobile game di Indonesia
yang dilihat dari in-app purchase (IAP) diperkirakan mencapai 0,37 miliar USD
atau Rp 5,6 triliun pada 2023. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and
Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat, besarnya potensi tersebut perlu
dioptimalkan oleh pengembang gim (game developer) lokal mengingat para pemain
gim memiliki loyalitas yang besar sehingga dapat memberikan dampak ekonomi. (Yoga)
BUMN Buka Depo Peti Kemas di Bitung
Peluang bisnis dari rencana pembukaan rute pelayaran langsung (direct call) kapal kargo antara Sulawesi Utara dan Shanghai, China, disambut perusahaan pelat merah. Salah satu anak perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia menyewa lahan PT Industri Kapal Indonesia di Bitung, Sulawesi Utara, untuk penumpukan peti kemas. Melalui siaran pers, Minggu (15/10/2023), Direktur Utama PT Pelni Logistics Edward Tobing mengatakan, pengadaan depo tersebut didedikasikan untuk muatan tol laut. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









