;

Terjajah Pangan di Kepulauan

Lingkungan Hidup Yoga 16 Oct 2023 Kompas (H)
Terjajah Pangan
di Kepulauan

Inflasi harga pangan di dunia meningkatkan kerawanan global, termasuk Indonesia yang pasokan pangan pokoknya bergantung pada impor. Masyarakat di pulau-pulau kecil berada di garis depan yang paling rentan terdampak krisis ini karena harus membayar pangan lebih mahal. Pada saat yang sama, kualitas gizi anak dan kesehatan rata-rata mereka lebih rendah dibandingkan dengan nasional. Dari Peliputan lapangan Kompas di tiga kepulauan, yaitu NTT, Kepulauan Wakatobi di Sultra, dan Kepulauan Mentawai, Sumbar, pada Agustus hingga awal Oktober 2023, terungkap implikasi sistem pangan nasional yang cenderung mengabaikan keberagaman sumber pangan lokal. Wawancara dan analisis data statistik menunjukkan terjadi pergeseran pola konsumsi yang menyebabkan warga bergantung pada beras dan terigu.

Pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal ke beras di kepulauan tak diikuti peningkatan produksi. Sejumlah proyek cetak sawah dan food estate (lumbung pangan) di kepulauan ini tidak menunjukkan hasil signifikan. Bahkan, beberapa lokasi yang dikunjungi, seperti Konawe Selatan, Flores Timur, dan Siberut, termasuk food estate jagung yang diresmikan Presiden Jokowi pada Maret 2022 di Belu, menuai kegagalan. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT menunjukkan, produksi beras di NTT pada 2022 hanya 430.948,5 ton, jauh di bawah konsumsi 642.367,53 ton. Defisit beras dipenuhi dari luar, terutama Sulsel dan Jawa. Pergeseran pola konsumsi yang telah menyebabkan tingginya kebutuhan beras salah satunya disebabkan anggapan bahwa beras adalah makanan kelas satu. ”Jadi, kalau belum makan nasi dianggap belum makan,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky F Koli.

Defisit beras juga terjadi di Mentawai. Menurut Kabid Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kepulauan Mentawai Andre Kasianus, pada tahun 2021 jumlah produksi beras di Mentawai 1.005 ton, sedangkan kebutuhan beras tahun itu 9.678 ton. Di level provinsi, selama dua tahun terakhir, Sultra masih surplus beras. Namun, pulau-pulau kecilnya rata-rata defisit beras. Wakatobi, misalnya, sama sekali tak menghasilkan beras, tetapi konsumsinya terus meningkat dari 9.169 ton pada 2019 menjadi 11.761 ton pada 2022. Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas Rinna Syawal mengatakan, pergeseran pangan lokal ke beras dan terigu di Indonesia mengkhawatirkan, karena keberagaman pangan merupakan kunci kemandirian pangan nasional dan ketahanan pangan di daerah. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :