Terjajah Pangan di Kepulauan
Inflasi harga pangan di dunia meningkatkan kerawanan global,
termasuk Indonesia yang pasokan pangan pokoknya bergantung pada impor.
Masyarakat di pulau-pulau kecil berada di garis depan yang paling rentan
terdampak krisis ini karena harus membayar pangan lebih mahal. Pada saat yang
sama, kualitas gizi anak dan kesehatan rata-rata mereka lebih rendah
dibandingkan dengan nasional. Dari Peliputan lapangan Kompas di tiga kepulauan,
yaitu NTT, Kepulauan Wakatobi di Sultra, dan Kepulauan Mentawai, Sumbar, pada Agustus
hingga awal Oktober 2023, terungkap implikasi sistem pangan nasional yang
cenderung mengabaikan keberagaman sumber pangan lokal. Wawancara dan analisis
data statistik menunjukkan terjadi pergeseran pola konsumsi yang menyebabkan
warga bergantung pada beras dan terigu.
Pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal ke beras di
kepulauan tak diikuti peningkatan produksi. Sejumlah proyek cetak sawah dan
food estate (lumbung pangan) di kepulauan ini tidak menunjukkan hasil
signifikan. Bahkan, beberapa lokasi yang dikunjungi, seperti Konawe Selatan,
Flores Timur, dan Siberut, termasuk food estate jagung yang diresmikan Presiden
Jokowi pada Maret 2022 di Belu, menuai kegagalan. Data Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan NTT menunjukkan, produksi beras di NTT pada 2022 hanya
430.948,5 ton, jauh di bawah konsumsi 642.367,53 ton. Defisit beras dipenuhi
dari luar, terutama Sulsel dan Jawa. Pergeseran pola konsumsi yang telah
menyebabkan tingginya kebutuhan beras salah satunya disebabkan anggapan bahwa
beras adalah makanan kelas satu. ”Jadi, kalau belum makan nasi dianggap belum
makan,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky F Koli.
Defisit beras juga terjadi di Mentawai. Menurut Kabid
Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kepulauan Mentawai Andre Kasianus, pada tahun 2021 jumlah produksi beras di Mentawai
1.005 ton, sedangkan kebutuhan beras tahun itu 9.678 ton. Di level provinsi,
selama dua tahun terakhir, Sultra masih surplus beras. Namun, pulau-pulau
kecilnya rata-rata defisit beras. Wakatobi, misalnya, sama sekali tak
menghasilkan beras, tetapi konsumsinya terus meningkat dari 9.169 ton pada 2019
menjadi 11.761 ton pada 2022. Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas
Rinna Syawal mengatakan, pergeseran pangan lokal ke beras dan terigu di Indonesia
mengkhawatirkan, karena keberagaman pangan merupakan kunci kemandirian pangan
nasional dan ketahanan pangan di daerah. (Yoga)
Postingan Terkait
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023