Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Menjaga ”Leye”, Benih Tertua di NTT
Di Pulau Lembata, NTT, ada keluarga yang menjaga tradisi kuno menanam dan mengonsumsi leye. Tanaman pangan lokal bergizi ini merupakan biji-bijian pertama yang dibudidayakan leluhur orang NTT. Kristina Lolon, nenek berusia 80 tahun, memakan biji leye yang disangrai dan dipipihkan dengan batu. Rasanya tawar. Tradisi mewajibkan Lolon hanya boleh mengonsumsi biji leye sebagai makanan pokok sampai akhir hayat. ”Ini makanan sehari-hari. Saya tak boleh makan nasi, tak makan jagung,” ujar Lolon, di rumahnya, Desa Hoelea, Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (13/8). Leye atau di Jawa disebut jali-jali atau jelai (Coix lacryma-jobi L) merupakan biji-bijian kuno yang pernah jadi sumber pangan penting di banyak wilayah Nusantara, tapi kini makin langka.
Sebagai istri dari pria tertua dalam keluarga Lamadike, Lolon bertugas sebagai penjaga tradisi mengonsumsi leye. Ia mulai menunaikan kewajiban itu setelah ibu mertuanya meninggal sekitar tahun 1990. Lolon boleh makan leye dengan sayur atau lauk lain seperti ikan. Yang dilarang hanya karbohidrat. Menurut kepercayaan keluarga Lamadike, dengan mengonsumsi leye, Lolon menjaga relasi spiritual keluarga itu dengan Dewi Langit yang mereka yakini menganugerahkan berbagai jenis tanaman pangan yang menghidupi mereka. Jika tak mengonsumsi leye atau melanggar pantangan dengan mengonsumsi jagung atau nasi, Lolon akan sakit. Keluarga Lolon menanam leye di kebun dan halaman rumah. Setahun hasil panen 100 kg, cukup untuk kebutuhan makan Lolon. Kendati hanya mengonsumsi leye, fisik dia kuat, Lolon mampu berjalan di permukiman hingga ke kebun. Bicaranya juga lancer dan matanya awas.
Menurut Samsudin Sama, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan di Lembata, leye ini biji-bijian berumpun setinggi 2-3 meter. Setiap lima rumpun bisa menghasilkan 1 kg leye. Leye ditanam di lahan tadah hujan, di antara padi, jagung, dan berbagai tanaman pangan. ”Leye nyaris tak terserang hama. Tumbuh terus tiap tahun. Bijinya disimpan bertahun-tahun bisa dimakan,” ujarnya. Selain tumbuh di berbagai kondisi tanah, tanaman leye bisa diratun. Jadi saat panen, dengan memotong batang dan menyisakan 10-15 sentimeter dari tanah, tanaman ini bisa menghasilkan biji kembali. Siprianus Luran, Sekdes Desa Hoelea, menambahkan, selain Lolon, ada yang mengonsumsi leye, tapi bukan jadi kewajiban. Namun, konsumsi leye merosot seiring dominasi beras dan terigu. (Yoga)
Stimulus untuk Solusi Berbasis Riset
Dana padanan dari pemerintah bagi dosen dan perguruan tinggi menjadi stimulus riset yang mendukung pengembangan industri ataupun UKM. Dengan demikian, perguruan tinggi terdorong untuk berkolaborasi dan mengembangkan inovasi berbasis kepakaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Dana padanan penugasan dari program Kedaireka untuk Politeknik Negeri Jember, Jatim, tahun 2022, misalnya, dimanfaatkan untuk mencari solusi legalitas perizinan produk pengalengan ikan, roti, dan kopi yang potensial di wilayah ini. ”Untuk politeknik ada skema dana padanan penugasan. Kami manfaatkan untuk mengatasi masalah terkait legalitas usaha.
Sebagai politeknik badan layanan umum kami harus bisa mengembangkan potensi sesuai keilmuan yang kami miliki,” kata Ketua Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Jember, Budi Hariono, di Jember, Rabu (18/10/2023). Manajer teaching factory pengalengan Politeknik Negeri Jember M Mardiyanto mengatakan, ada potensi ikan lemuru yang berlimpah di tempat pengelolaan ikan Puger. ”Kami melihat industri pengalengan ini harus dikembangkan. Kami memiliki kepakaran dan teknologi pengalengan berstandar industri yang bisa mendukung peningkatan harga nilai jual ikan lemuru tangkapan nelayan yang rendah,” kata Mardiyanto. (Yoga)
Asing Masih Terus Curi Ikan di Indonesia
Kapal-kapal ikan asing masih terus mengincar sumber daya ikan Indonesia. Aparat pengawasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada akhir pekan lalu menggagalkan pencurian ikan oleh kapal ikan berbendera Filipina di perairan Laut Sulawesi. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Laksda Adin Nurawaluddin dalam keterangan pers, Rabu (18/10) mengemukakan, kapal ikan FB SL asal Filipina tertangkap saat melakukan penangkapan illegal di Laut Sulawesi, di koordinat 04°26.386’N-124°01.980’E. Kapal itu ditangkap oleh kapal pengawasan KKP Hiu 015. Operasi penangkapan itu merupakan bentuk sistem pengawasan terintegrasi yang tengah dikembangkan KKP.
”Ini merupakan bentuk komitmen KKP dalam rangka menindak tegas para pencuri ikan,” kata Adin. Dari data KKP, sejak Januari hingga pertengahan Oktober 2023, kapal pengawas KKP tercatat telah menangkap 15 kapal ikan asing yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Pencurian ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik (WPPNRI) 716 itu awalnya diketahui dari pantauan citra satelit Command Center KKP. Informasi itu ditindaklanjuti kapal pengawas perikanan KKP Hiu 015 dengan melakukan penghentian, pemeriksaan, dan penahanan terhadap kapal ikan ilegal asal Filipina itu, akhir pekan lalu. Dari hasil pemeriksaan, kapal itu memuat ikan lemadang kering, cakalang kering, cumi kering dan layang kering. Kapal tersebut diawaki nakhoda Filipina dan 14 ABK berkebangsaan Filipina. (Yoga)
Stagnan, Tawaran Gaji di Iklan Lowongan Pekerjaan
Tawaran gaji di iklan lowongan pekerjaan di JobStreet sepanjang 2023 stagnan. Mayoritas industri yang memasang iklan di platform ketenagakerjaan itu tidak mencantumkan perubahan penawaran nominal gaji dibandingkan 2022. Berdasarkan laporan riset ”Paduan Gaji 2023” yang dirilis oleh JobStreet by Seek (JobStreet) akhir September 2023, 95,7 % industri yang memasang iklan lowongan pekerjaan di platform JobStreet menunjukkan tidak ada perubahan tawaran rata-rata gaji yang signifikan pada tahun ini dibandingkan 2022. Sebanyak 1,3 % industri memasang tawaran kenaikan gaji dan 1,4 % industri menunjukkan penawaran nominal gaji yang turun.
JobStreet menggunakan data gaji dari iklan lowongan pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan di laman JobStreet Indonesia pada periode April 2022-Maret 2023. Tujuan laporan adalah menganalisis dan melihat tren gaji yang ditawarkan di pasar tenaga kerja. ”Beberapa waktu lalu sempat terjadi fenomena PHK yang besar-besaran karena sejumlah perusahaan mematok nominal gaji yang tinggi dan ini memberatkan operasional perusahaan. Kalau sekarang (2023), mayoritas industri memasang tawaran gaji yang stabil, artinya (mungkin) mereka menginginkan bisnis tumbuh berkelanjutan,” ujar Country Marketing Manager JobStreet by SEEK untuk Indonesia (JobStreet) Sawitri saat temu media, Rabu (18/10) di Jakarta. (Yoga)
Mengolah Kolope dari Umbi Beracun di Pulau Muna
Di bawah tajuk pohon jati, di tanah Pulau Muna yang kering berbatu, umbi-umbian kolope itu tetap bisa tumbuh subur. Racun sianida yang terkandung di umbi ini secara alami melindunginya dari babi hutan dan rusa liar. Namun, secara turun-temurun orang Muna telah memiliki pengetahuan untuk mengolah umbi ini menjadi makanan pokok yang lezat dan menyehatkan. Kolope merupakan salah satu tanaman endemik yang ditemukan di hampir semua wilayah kepulauan Indonesia dengan variasi nama lokal yang beda. Dahulu, tanaman umbi-umbian ini juga merupakan salah satu sumber karbohidrat penting di Jawa dengan nama gadung (Dioscorea hispida Dennst). Catatan sejarah Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen (Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia Diarsipkan, 2023) menyebutkan, saat Jakarta (Batavia) dikepung tentara Sultan Agung dari Mataram pada 1628, masyarakat kebanyakan makan singkong dan umbi gadung.
Bagi Apiti, menjaga pengetahuan tentang teknik menghilangkan racun di kolope hingga mengolahnya sebagai makanan pokok yang aman dikonsumsi adalah tradisi turun-temurun. Tak ingin pengetahuan itu hilang begitu saja, ia kerap membawa anaknya ikut mengolah umbi ini. Pagi di akhir Agustus 2023, La Apiti bersiap mencari umbi kolope, dengan anaknya, Ambila (20), di bawah tajuk pohon jati, Apiti menemukan sulur kolope yang telah menguning, tanda siap dipanen. Umbi kolope berwarna coklat kehitaman. Bentuknya bulat sedikit lonjong dipenuhi serabut. Dari satu batang tanaman itu La Apiti bisa memanen 20 umbi berdiameter 5-10 cm. ”Kolope ini masih banyak tumbuh liar di hutan. Babi-babi dan rusa liar tidak berani makan karena beracun. Tapi nanti kalau sudah jadi nasi enak sekali,” kata Apiti.
Kulit umbi dikupas, kemudian di iris tipis, lalu direndam dalam air garam di panic, untuk menghilangkan getahnya. Setelah beberapa jam, irisan tipis kolope ditiriskan dan dimasukkan dalam karung, lalu diperam empat hari hingga kering. ”Setelah itu, direndam di air yang mengalir semalam. Baru bisa diolah untuk dimakan,” tuturnya. Sebelum diolah, lembaran tipis kolope yang telah dihilangkan racunnya itu dicuci dengan air bersih lalu dicacah dan dimasak 10 menit lalu siap disajikan. Aromanya harum dengan warna putih kekuningan, sepintas mirip nasi singkong. Saat ini, ia melanjutkan tradisi mengolah kolope sembari menjual di pasar yang buka setiap tiga hari sekali. Hasil penjualannya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,terutama untuk pendidikan anak-anaknya. (Yoga)
Ketangguhan Indonesia Hadapi Tantangan Global
Daya Beli Loyo Menjadi Tantangan
Solusi dari Kepulauan bagi Kemandirian Pangan
Pulau-pulau kecil di Indonesia yang kini bergantung pada
beras dan terigu rata-rata memiliki beragam sumber pangan lokal yang adaptif
terhadap kondisi lingkungan. Mendorong kembali produksi dan konsumsi pangan
lokal akan mengembalikan kemandirian warga. Langkah ini membutuhkan
keberpihakan dari pemerintah pusat dan daerah. ”Sistem pangan di NTT telah
beradaptasi terhadap iklim kering. Ada banyak sumber makanan tumbuh di tanah ini,
tetapi memang tidak bisa kalau dipaksa semua harus menanam padi sawah. Jadi,
kalau ukurannya kecukupan beras, NTT akan selalu kurang, tetapi kalau pangan
lokal cukup banyak,” kata Maria Loretha, petani sorgum dan penggerak pangan
lokal dari Pulau Adonara, Flores Timur, NTT, Selasa (17/10).
Maria mengatakan, lonjakan harga beras yang sekarang memukul
penduduk di pulau-pulau kecil, termasuk NTT, harus menjadi titik balik untuk
lebih serius mengembangkan pangan lokal yang terbukti lebih berdaya tahan.
”Masyarakat memang kesulitan dengan lonjakan harga beras. Saat ini harganya
sudah di atas Rp 17.000 per kg,” katanya. Namun, lonjakan harga beras ini
jangan jadi alasan memberikan bantuan beras lagi. ”Kalaupun ada bantuan atau
operasi pasar, cobalah menggunakan pangan lokal di daerah masing-masing. Kalau
di Flores Timur, misalnya, stok sorgum di petani masih banyak,” katanya. (Yoga)
Beras, Oh, Beras
Beras merupakan komoditas pangan strategis yang keberadaan dan
harganya bisa jadi hal sensitif. Persoalan terkait beras mesti diantisipasi
jauh-jauh hari. Pada tahun 2022, beras yang dikonsumsi masyarakat Indonesia 81,044
kg per kapita per tahun. Dibagi 365 hari dalam setahun, maka rata-rata orang Indonesia
mengonsumsi 0,222 kg beras sehari. Angka itu tercantum dalam Statistik Konsumsi
Pangan 2022 yang diterbitkan Kementan. Tim buku itu mengolah data hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS dan Neraca Bahan Makanan Bapanas. Buku
yang sama memuat data ketersediaan beras, pada 2022 sebanyak 115,09 kg per kapita
per tahun. Jumlah itu melebihi angka konsumsi.
Berasnya bersumber dari produksi dan impor. Hasil Susenas
September 2022 menunjukkan, tingkat partisipasi konsumsi beras 98,35 %.
Artinya, 98,35 % rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras. Angka ini naik dibandingkan
September 2021 yang sebesar 98 %. Hal ini membuat beras menjadi komoditas
pangan yang menimbulkan sensitivitas tinggi. Harga beras yang naik, dan
produksi beras yang turun juga bisa menimbulkan persoalan. Kenaikan harganya
akan menyumbang inflasi. Selain itu, harga beras yang naik akan menambah pengeluaran
konsumsi masyarakat. Pemerintah bertindak cepat untuk mengantisipasinya. Jangan
sampai masyarakat tercekik harga beras. Jangan sampai juga masyarakat mesti
berburu beras.. (Yoga)
BENCANA KELAPARAN, Ada 11 Warga Meninggal di Papua Pegunungan
Bencana kelaparan kembali melanda wilayah Papua Pegunungan, di
sejumlah kampung di Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo. Setidaknya 11 warga
dilaporkan meninggal akibat kelaparan selama September-Oktober 2023. Kepala
Distrik Amuma, Zakeus Lagowan, saat dihubungi dari Jayapura, Selasa (17/10) mengatakan,
kelaparan tersebut merenggut sembilan nyawa bayi dan anak-anak serta dua orang
dewasa. ”Sembilan yang meninggal, yakni bayi dan anak-anak, terjadi pada
September. Pada awal Oktober ini ada
laporan lagi dua orang dewasa yang meninggal,” katanya.
Menurut Zakeus, curah hujan tinggi membuat hasil kebun warga
gagal panen. ”Gagal panen ini terjadi di 13 kampung di Distrik Amuma, yang juga
menjadi tempat tinggal warga yang meninggal. Masyarakat kehilangan sumber
makanan,” katanya. Dia menyebut, selama ini warga di kampung-kampung Distrik
Amuma mengandalkan pangan dari tanaman di kebun sendiri. Namun, saat musim
hujan tiba, berbagai hama, seperti ulat, merusak umbi-umbian yang ditanam warga.
Dedaunan juga menjadi rusak sehingga tidak dapat dikonsumsi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









