Solusi dari Kepulauan bagi Kemandirian Pangan
Pulau-pulau kecil di Indonesia yang kini bergantung pada
beras dan terigu rata-rata memiliki beragam sumber pangan lokal yang adaptif
terhadap kondisi lingkungan. Mendorong kembali produksi dan konsumsi pangan
lokal akan mengembalikan kemandirian warga. Langkah ini membutuhkan
keberpihakan dari pemerintah pusat dan daerah. ”Sistem pangan di NTT telah
beradaptasi terhadap iklim kering. Ada banyak sumber makanan tumbuh di tanah ini,
tetapi memang tidak bisa kalau dipaksa semua harus menanam padi sawah. Jadi,
kalau ukurannya kecukupan beras, NTT akan selalu kurang, tetapi kalau pangan
lokal cukup banyak,” kata Maria Loretha, petani sorgum dan penggerak pangan
lokal dari Pulau Adonara, Flores Timur, NTT, Selasa (17/10).
Maria mengatakan, lonjakan harga beras yang sekarang memukul
penduduk di pulau-pulau kecil, termasuk NTT, harus menjadi titik balik untuk
lebih serius mengembangkan pangan lokal yang terbukti lebih berdaya tahan.
”Masyarakat memang kesulitan dengan lonjakan harga beras. Saat ini harganya
sudah di atas Rp 17.000 per kg,” katanya. Namun, lonjakan harga beras ini
jangan jadi alasan memberikan bantuan beras lagi. ”Kalaupun ada bantuan atau
operasi pasar, cobalah menggunakan pangan lokal di daerah masing-masing. Kalau
di Flores Timur, misalnya, stok sorgum di petani masih banyak,” katanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Kemendagri Bentuk Satgas Khusus
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023