;

Pangan Instan Menggerus Beragam Pangan Lokal

Lingkungan Hidup Yoga 16 Oct 2023 Kompas
Pangan Instan Menggerus
Beragam Pangan Lokal

Tiga puluh tahun terakhir, keberagaman konsumsi pangan warga di kepulauan kecil berkurang karena penetrasi produk instan dan varietas padi hibrida yang menggantikan padi lokal. Indonesia termasuk negara dengan tingkat biodiversitas terbesar di dunia. Berdasarkan data Bapanas (NFA), ada 945 potensi keanekaragaman hayati pangan secara nasional, terbanyak jenis buah-buahan (389 jenis). Pangan sumber karbohidrat memiliki 77 jenis, dari sagu hingga ubi jalar. Banyak jenis umbi-umbian dengan nama lokal. Untuk sumber protein, ada 75 jenis meliputi hewan darat dan laut. Keberagaman sayuran 228 jenis untuk memenuhi kebutuhan protein nabati. Jenis pangan berikut yang punya banyak jenis ialah rempah dan bumbu 110 jenis. Semua jenis pangan itu berbasis potensi lokal dan tersebar di berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Keberagaman pangan di kepulauan Nusantara menyimpan potensi besar, sejalan dengan temuan Kompas di tiga daerah kepulauan, yakni Kepulauan Mentawai, Kepulauan Muna-Buton-Wakatobi, dan NTT. Ratusan jenis pangan menopang kehidupan warga.

Sayangnya, hegemoni pangan lokal di kepulauan itu terancam hilang. Hasil observasi lapangan oleh Kompas pada Agustus-Oktober 2023 menunjukkan kini keberagaman pangan turun 7,82 5 ketimbang 30 tahun lalu, untuk semua jenis pangan, mulai dari sumber karbohidrat, protein, vitamin, ataupun mineral. Tiga puluh tahun lalu, warga di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, mengonsumsi 112 jenis pangan lokal. Berbagai jenis pangan tersedia melimpah, seperti padi lokal merah (aen mntasa), padi lokal hitam (aen metan), jagung lokal kuning (pen molo), kacang local merah (foe mntasa), kacang lokal hitam (foe metan), dan kacang lokal putih (foe muti). Kini tersisa 104 jenis pangan dikonsumsi warga Pulau Siberut. Jadi, selama tiga dekade keberagaman pangan turun 7,14 5. Hal serupa dialami warga kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi dengan penurunan jenis pangan lokal lebih besar dari Siberut. Ada 18,23 persen jenis pangan di kepulauan wilayah Sulawesi Tenggara hilang digantikan aneka produk instan, seperti mi instan dan ikan kaleng. Warga kepulauan NTT bernasib sama, 7,9 5 keberagaman pangan hilang atau tak dikonsumsi warga saat ini, Seperti jagung ungu (water lobung), sorgum putih (water wili bara karohu), dan jemawut (uhu kanii). (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :