Merdeka dari Krisis Beras di Pedalaman
Lonjakan harga beras membuat masyarakat di pulau-pulau kecil
tercekik karena mesti membayar lebih mahal. Meski demikian, Parulian Sabaiket
(47) tidak ambil pusing dengan kenaikan harga beras itu. Ia beserta istri dan
putranya masih setia mengonsumsi sagu dengan keladi dan pisang sebagai
sampingan. Pangan local masyarakat suku Mentawai tersebut masih melimpah di ladang
keluarganya. ”Kami memang dari dulu jarang makan beras, sebulan sekali, bahkan
setahun sekali. Apalagi, sekarang harga beras mahal,” kata Parulian, warga Dusun
Bekkeiluk, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, yang ditemui pada Minggu
(24/9). Parulian dan keluarga besarnya masih rutin menyagu, mengolah pohon sagu
menjadi pati sagu, secara mandiri setidaknya dua bulan sekali. Ia bersama tiga
saudaranya menebang empat batang sagu kemudian diolah jadi pati sagu.
Satu batang sagu bisa menghasilkan 10 karung (kapasitas 20 kg)
pati sagu. Tiap-tiap orang mendapat 10 karung sagu untuk keluarga
masing-masing. Stok pati sagu tersebut disimpan di dalam sumur atau sungai
kecil. ”Bagi keluarga saya, 10 ka- rung itu tahan untuk dua bulan. Di rumah ada
tiga orang, saya, istri, dan anak,” katanya. Sagu itu biasa dimakan dengan lauk
berkuah seperti sup atau tumis ikan sungai dan ulat sagu (tamra). Sebagai
selingan dari sagu, keluarga Parulian juga kerap makan keladi, selain pisang. Menurut
Parulian, dengan mengonsumsi sagu, keladi, dan pisang sebagai makanan pokok, keluarganya
menjadi mandiri pangan. Keluarganya tak perlu keluar uang untuk sumber
karbohidrat. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023