Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Dompet Tipis membuat Lebaran Sepi dan Hotel Sunyi
Lebaran 2025 terasa getir bagi Maya (31) warga Jakpus. Sejak terkena PHK pada Maret 2025, Maya harus memangkas sepertiga pengeluarannya. Tak ada lagi makan di luar, tak ada tabungan untuk liburan. Bahkan, kiriman rutin untuk sang ibu harus dikurangi. ”Yang terasa paling menderita sekarang adalah tidak bisa mengirim uang kepada ibu banyak-banyak. Padahal, kebutuhan di rumah sana juga banyak. Saya sedih,” ujar Maya, Minggu (6/4) di Jakarta. Dia juga memutus kartu kredit dan sepenuhnya hidup dari dana darurat sebesar 12 kali gaji yang cukup dipakai setahun asal dia menjalani gaya hidup yang lebih ketat, seperti, memotong biaya transportasi, perawatan kulit atau skincare hingga 70 %, tidak menonton bioskop, mengurangi layanan berbasis langganan dan memasak lebih irit.
Ketika bersilaturahmi dengan keluarga besar beberapa hari lalu, suasana yang dia rasakan pun tidak semeriah biasanya. Ada beberapa kerabatnya yang menghadapi ”ujian” yang sama, terkena PHK. Neneknya yang memiliki usaha pembuatan sarung bahkan kini kesulitan menggaji pegawai karena kas defisit selama setahun terakhir. Tekanan ekonomi menjalar ke berbagai sektor. Dampaknya paling terasa kentara pada masa Lebaran 2025, momen yang selama ini mampu meningkatkan gairah konsumsi nasional. Sinyal melemahnya daya beli dan konsumsi masyarakat jelang Lebaran tecermin pada data BPS Februari 2025. Dalam laporannya, BPS menyebut Indonesia mengalami inflasi minus atau deflasi 0,48 % dibanding bulan sebelumnya.
Dalam laporan yang diterbitkan Rabu (26/3) bertajuk ”Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025”, Center of Reform on Economics (CORE) menyebut munculnya deflasi sebagai sinyal bahwa momen bulan Ramadhan dan masa Idul Fitri 2025 gagal meningkatkan gairah konsumsi di masyarakat. Artinya, ada indikasi mengarah ke pelemahan daya beli. Diduga ada anomali daya beli masyarakat yang tertekan oleh karut-marut ekonomi domestik, mulai dari gelombang PHK sejak 2022, sulitnya mencari pekerjaan formal, hingga mandeknya pertumbuhan upah riil di berbagai sektor. Situasi seperti itu diyakini menjadi faktor penyebab jumlah pemudik pada H-10 hingga H+2 Lebaran 2025 menurun disbanding periode yang sama pada 2024. Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef, Fadhila Maulida, berpendapat, penurunan jumlah pemudik berpotensi menghilangkan manfaat ekonomi, seperti pendapatan asli daerah (PAD).
Begitu pula produk domestik bruto (PDB) tingkat nasional dan regional (PDRB), khususnya dari pariwisata dan pendapatan UMKM. Proyeksi tersebut terlihar dari tingkat okupansi hotel yang merosot dan lesunya bisnis persewaan mobil. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Bogor (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay menyebut okupansi hotel saat libur Lebaran 2025 turun 20 % dibanding tahun 2024. Dalam sepekan, 30 Maret hingga 5 April 2025, tingkat okupansi hotel di Bogor tercatat 83 %. Namun, sepanjang Maret 2025 hanya di angka 28 %, jauh disbanding Maret 2024 yang mencapai 51 %. ”Hingga Lebaran 2025, ada ribuan pekerja rumahan di sektor hotel yang dirumahkan atau cuti tidak berbayar (unpaid leave),” ucap Yuno, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi PHRI. (Yoga)
Perantau Berharap Kehidupan yang Lebih Baik di Jakarta
Di antara ratusan penumpang Terminal Kampung Rambutan, Jaktim, Minggu (6/4) siang, tampak Rinal (21) bersama kakak perempuannya yang baru tiba dari Sumedang, Jabar. Air muka Rinal terlihat lelah setelah menempuh perjalanan 5 jam. Namun, sorot matanya memancarkan semangat. ”Sudah lima bulan jadi tukang las. Ikut saudara (kakak perempuan di Ciracas, Jaktim. Enak, bayarannya lumayan daripada di kampung,” ujar lulusan SMA dari Kecamatan Wado, Sumedang, itu. Tempat kerjanya tak jauh dari kediamannya di rumah sang kakak. Sebagai tukang las, upahnya Rp 250.000 per hari, di luar makan dan minum. Alhasil, ia bisa menabung Rp 150.000 sampaiRp 200.000 setelah jajan. Jumlah ini dua kali lipat gajinya ketika masih bekerja sebagai tukang las di kampung.
Davi (20) juga memilih ikut saudaranya ke Jakarta, meninggalkan Lubuk Linggau, Sumsel dengan harapan bisa mandiri. Sejak awal tahun 2025, ia menjadi karyawan perusahaan otobus. Tugasnya menawarkan tiket kepada calon penumpang di Terminal Kampung Rambutan. ”Susah cari kerja di kampung. Saya sudah coba melamar ke pabrik, mal, jadi petugas kebersihan, tetap tidak diterima. Mungkin karena hanya lulusan SMA dan tidak ada orang dalam,” tutur Davi. Gajinya saat ini Rp 1,5 juta per bulan. Kadang ada satu-dua penumpang yang memberikan bonus karena keramahan atau bantuannya memindahkan barang-barang. Ia merasa cukup, sebab, ia tinggal dengan kakaknya sehingga tidak mengeluarkan ongkos selain keperluan pribadi.
Pemprov Jakarta menerima pendatang baru dengan tangan terbuka. Namun, perantau diingatkan agar mempunyai keterampilan sehingga berdaya saing. Selain itu, mereka akan didata ataupun wajib melapor ke kelurahan dengan membawa persyaratan berupa surat keterangan pindah, surat penjamin, kartu tanda penduduk, kartu identitas anak, dan kartu keluarga. ”Di masa lalu, orang berpikir hidup di Jakarta enak, segala sesuatunya ada. Saat ini, dengan adanya berbagai kanal informasi, termasuk media sosial, masyarakat lebih mengerti kesulitan hidup di Jakarta tanpa keterampilan memadai,” ujar peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Turro Wongkaren. (Yoga)
Mensos: Masyarakat Sebaiknya Jangan Bergantung pada Bansos
Lebaran Hadirkan Keanehan Ekonomi
Aktivitas ekonomi selama libur Lebaran 2025 dipandang tidak seoptimal tahun-tahun sebelumnya, disebabkan oleh beberapa faktor seperti timing yang cukup pendek setelah libur Natal dan Tahun Baru, kebijakan diskon tarif penerbangan yang terbatas, pelemahan daya beli, dan depresiasi rupiah. Kondisi ini mengakibatkan turunnya jumlah pemudik, rendahnya okupansi perhotelan, serta aktivitas pariwisata yang kurang bergairah di banyak daerah.
Namun, meskipun sektor-sektor tertentu seperti pusat perbelanjaan di beberapa lokasi masih mendapatkan berkah, penurunan aktivitas ekonomi ini menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan oleh pemangku kebijakan adalah peningkatan daya beli masyarakat, penguatan daya saing investasi, optimalisasi pasar ekspor, serta menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah.
Fenomena Ekonomi Selama Idulfitri
Perayaan Idulfitri 2025 di Indonesia tampaknya berjalan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dengan sejumlah faktor yang memengaruhi antusiasme masyarakat. Tiga faktor utama yang menjadi penyebab perubahan ini adalah penurunan jumlah pemudik, penurunan daya beli masyarakat, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
-
Berkurangnya Arus Mudik: Diperkirakan jumlah pemudik pada Idulfitri 2025 akan turun sekitar 24% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 146,48 juta jiwa. Kenaikan biaya transportasi dan bahan bakar membuat banyak masyarakat memilih untuk tidak mudik atau menunda rencana tersebut.
-
Penurunan Daya Beli Masyarakat: Berkurangnya pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok, seperti pakaian baru, mencerminkan penurunan daya beli. Penjualan produk tekstil di awal 2025 hanya tumbuh 3%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 15%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pokok, seperti makan, cicilan rumah, kendaraan, dan pendidikan anak.
-
Dampak PHK: Tingginya angka PHK, terutama di sektor manufaktur dan tekstil, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan menjelang Idulfitri. Pada awal 2025, terdapat tambahan 4.050 pekerja yang ter-PHK, dengan sektor tekstil dan manufaktur yang paling terdampak. Hal ini memperburuk kondisi keuangan keluarga yang sebelumnya bergantung pada pendapatan tetap.
Meskipun pemerintah mengucurkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk sektor ASN dan swasta, dampak positifnya terhadap daya beli diperkirakan tidak sebesar yang diharapkan. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 55% masyarakat yang menggunakan THR untuk belanja perayaan Idulfitri, sementara sebagian besar memilih untuk membayar utang atau menabung untuk kebutuhan darurat.
Lonjakan PHK di Februari Jadi Sorotan
Pada Februari 2025, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) melaporkan lonjakan signifikan jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mencapai 15.285 orang, yang meningkat 359% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, jumlah PHK pada Januari dan Februari 2025 tercatat mencapai 18.610 orang. Provinsi Jawa Tengah menjadi yang terparah dengan 10.677 pekerja terdampak PHK, yang meningkat drastis karena pada Januari 2025 tidak ada laporan PHK di provinsi ini.
Selain Jawa Tengah, Provinsi Riau juga mengalami lonjakan PHK dengan 3.530 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja pada Februari, dibandingkan hanya 323 orang di Januari 2025. Di DKI Jakarta, jumlah PHK mencapai 2.650 pekerja, sedangkan Jawa Timur mencatatkan 978 PHK pada Februari 2025 setelah tidak ada PHK di bulan Januari.
Salah satu kasus yang mencolok adalah PT Yihong Novatex Indonesia di Cirebon, yang melakukan PHK massal terhadap lebih dari 1.000 pekerja pada pertengahan Maret 2025. Hal ini menuai reaksi keras dari pekerja dan serikat buruh, seperti yang disampaikan oleh Andi Kristianono, Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), yang menyebutkan bahwa PHK tersebut terjadi tanpa mediasi atau peringatan terlebih dahulu. Novi Hendrianto, Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, menanggapi dengan mengagendakan mediasi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Anteng Setelah Menenteng Bandeng Balik ke Perantauan
Dua hari menjelang Lebaran, toko oleh-oleh Bu Muzanah Store di Jalan Sindujoyo, Gresik, Jatim, diserbu pembeli, Sabtu (29/3). Sebagian bahkan rela mengantre hingga 1,5 jam untuk mendapatkan aneka olahan bandeng dan camilan khas Gresik. ”Setiap mendekati Lebaran, situasinya seperti ini. Kalau tidak datang pagi, konsumen sulit dapat,” kata Siswanto saat mengantre di Bu Muzanah Store, Sabtu petang. Warga Surabaya yang akan mudik ke Pacitan itu menyempatkan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke kampung halaman. Ia bersama istrinya rela menahan panasnya terik matahari Surabaya, berkendara satu jam ke Gresik.
Setiba di toko oleh-oleh, mereka langsung membeli otak-otak bandeng, bandeng asap, bandeng presto, atau bandeng bakar. Setelah menenteng oleh-oleh bandeng untuk dibagikan kepada tetangga dan teman, hati pun jadi anteng dan lega. 30 meter seberang Bu Muzanah Store, terdapat kios Otak-otak Bandeng Mak Cah. Di kios ini pun terpasang tulisan otak-otak habis. Olahan bandeng lainnya, yakni bandeng asap atau bandeng presto, juga sudah habis. Kawasan itu adalah surga oleh-oleh bandeng. Produk seperti bandeng asap tanpa duri dijual Rp 60.000 per ekor, bandeng bakar tanpa duri senilai Rp 55.000 per ekor, bandeng presto Rp 45.000 dan bandeng pepes tanpa duri Rp 50.000 dan otak-otak bandeng Rp 75.000.
Harga jual olahan bandeng di Jalan Sindujoyo ini relatif sama mencerminkan kesetaraan pengusaha oleh-oleh. Jika kehabisan di toko oleh-oleh, konsumen bisa mencoba datang ke kedai olahan bandeng. Salah satunya, Rumah Makan Bandeng Pak Elan 2, sekitar 2 km dari Gerbang Tol Romokalisari. Seporsi otak-otak bandeng seharga Rp 90.000, nasi hangat, dan sayur asem siap dilahap. ”Kalau kehabisan bandeng di Sindujoyo, cari saja ke rumah makan bandeng, misalnya Pak Elan, minta dibungkus. Sama saja, yang penting dapat oleh-oleh khas. Kalau masih tidak kebagian juga, ya, terima nasib, Mas,” ujar Marsudi, penjual bandeng olahan dan bonggolan khas Gresik. (Yoga)
Persiapan untuk Bekerja di Ibu Kota
Setelah libur Lebaran, Ibu Kota kembali dipenuhi pendatang yang ingin bekerja. Persiapan administrasi, tempat tinggal, hingga mental menghadapi kehidupan kota yang cepat jadi bekal utama para pendatang. Rina Auliani (30), pendatang dari Semarang, Jateng, tiba di Jakarta sejak Kamis (3/4). Setelah bertahun-tahun bekerja di kota kelahirannya, ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Jakarta. ”Saya kerja di bidang perhotelan. Mulai Senin besok dipindahkan ke Jakarta. Selama dua hari (Sabtu dan Minggu) ada pertemuan, jadi harus sudah di Jakarta,” kata Rina, Jumat (4/4). Meski Rina sudah terbiasa bekerja di dunia perhotelan, lingkungan kerja di Jakarta berbeda. Ia harus beradaptasi dengan ritme pekerjaan lebih cepat dan tuntutan lebih tinggi. ”Saya harus mengelola data tamu, mempersiapkan laporan, dan memastikan semua transaksi lancar. Di Jakarta semuanya serba cepat, jadi harus lebih teliti,” ujarnya.
Ia memilih tempat tinggal dekat dengan tempat kerjanya di Jaksel. Dia indekos dengan harga Rp 1,5 juta per bulan. Ia juga memastikan kemudahan akses transportasi umum, seperti Transjakarta, MRT, atau KRL, untuk membantu mobilitas sehari-hari. Sulthon (25) juga baru dua hari tiba di Jakarta. Laki-laki asal Surabaya, Jatim, ini akan memulai kehidupan baru di Jakpus. Sejak menerima tawaran pekerjaan dari pamannya, Sulthon mempersiapkan banyak hal, seperti mengurus administrasi kepindahan KTP dan KK Jakarta serta mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor. ”Saya datang ke Jakarta untuk memulai karier di bidang teknologi (data scientist). Untungnya, akan ada program orientasi yang diadakan oleh perusahaan untuk membantu memahami lebih banyak tentang Jakarta,” tutur Sulthon.
Dia pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja Jakarta, seperti pelatihan bahasa, teknologi informasi, atau keterampilan teknis lainnya. Meski demikian, ia menyadari tantangan yang ada, seperti biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang ketat di dunia kerja. Jakarta, dengan segala kesibukannya, memang menghadirkan tantangan. Namun, bagi Sulthon, setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang. Kadisdukcapil Jakarta, Budi Awaluddin mengatakan akan terbuka bagi pendatang yang ingin merantau ke Jakarta. Namun, Budi menekankan pentingnya kepastian pekerjaan dan tempat tinggal bagi pendatang baru yang ingin menetap di Ibu Kota, agar kedatangan mereka tidak sia-sia dan hanya menambah jumlah pengangguran. (Yoga)
Pengobatan Regeneratif dengan Inovasi Sel Punca
Pandemi Covid-19 menjadi berkah
bagi pengembangan stemcell atau sel punca dan metabolitnya di Tanah Air. Harga
sel punca komersial masih mahal antara Rp 200 juta-Rp 250 juta per tindakan. Inovasi
sel punca untuk pengobatan berbagai macam penyakit terus dikembangkan. Harga terapi
sel punca yang mahal tak bisa dihindari karena proses produksinya berbiaya
besar. Tingginya biaya produksi terlihat di fasilitas produksi sel punca dan
metabolit PT Bifarma Adiluhung di Pulogadung, Jaktim. Bifarma merupakan anak perusahaan
Kalbe Farma yang menjadi bagian Emiten Kompas 100 di Bursa Efek Indonesia. Kondisi
yang steril menjadi syarat wajib di pabrik Bifarma yang merupakan manufaktur
pengolahan sel punca dan metabolit GMP (guanosin monofosfat) pertama di
Indonesia yang dikembangkan sejak 1995. Di lab Bifarma, sel punca disimpan dan
dikembangbiakkan di ruangan yang membutuhkan listrik nonstop 24 jam.
Sel punca harus disimpan beku di
inkubator dengan suhu minus 196 derajat celsius. Ruangan penyimpanan sel punca
wajib bertekanan tinggi agar terhindar dari kontaminasi. Kelembaban dijaga
untuk mencegah kontaminasi bakteri. Suhu ruangan tak boleh terlalu dingin. Jika
akan dipakai, butuh waktu lima jam untuk proses pencairan hingga pencucian agar
sel punca hidup kembali. Sel punca memiliki batas waktu 24 jam sebelum dipakai.
Setelah itu, sel-selnya mati. ”Produk stem cell Indonesia masih sangat mahal
karena biaya produksinya memang sangat mahal, medianya semuanya impor, alatnya
semuanya impor. Kita masih sangat tergantung pada produk-produk impor.
Sebagaimana kita ketahui bahwa harga di Indonesia itu lebih mahal dari tetangga
kita, Malaysia, Singapura,” tutur Ketua Komite Pengembangan Sel Punca dan Sel,
Amin Soebandrio, Selasa (1/4).
Sel punca yang masih berbasis penelitian,
harganya lebih murah karena diatur hanya untuk menggantikan ongkos produksi. Karena
harga sel punca yang mahal, pasien akhirnya lebih banyak menggunakan hasil metabolik
atau produk turunan sel punca berupa sekretom. Harga sekretom lebih murah,
yaitu Rp 2 juta-Rp 2,5 juta untuk 1,5 cc sekretom. Sejak tahun 2024, pemerintah
menetapkan standar layanan terapi sel punca untuk terapi di bidang ortopedi dan
traumatologi. Saat ini, sel punca menjadi inovasi yang sangat menjanjikan bagi
pengobatan regeneratif, yang dapat menyembuhkan jaringan yang rusak, memulihkan
fungsi organ, dan mengobati penyakit kronis. Sel punca berpotensi digunakan
untuk terapi untuk beragam penyakit, seperti peradangan sendi, jantung,
gangguan saraf, stroke, dan kanker. Perkembangan sel punca menjadi harapan baru
bagi kualitas kesehatan masyarakat yang lebih baik. (Yoga)
Mengatasi Keterbatasan Sumber Daya Pendidikan dengan Pembelajaran Digital
Pendidikan digital, termasuk
perkembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), harus menjadi alat untuk
inklusi di tengah keterbatasan sumber daya pendidikan di banyak tempat. Karena
itu, kebijakan pendidikan semestinya memprioritaskan akses yang adil,
berinvestasi dalam pelatihan guru, dan mendukung inovasi yang didorong secara
lokal. Kepala Bagian Teknologi dan Akal Imitasi dalam Pendidikan UNESCO Shafika
Isaacs, Rabu (2/4) mengatakan, melalui kolaborasi dan investasi yang
berkelanjutan, pembelajaran digital dapat menjadi kekuatan untuk perubahan positif,
terutama memastikan setiap pelajar, terlepas dari latar belakangnya, memiliki
kesempatan untuk berkembang di era digital. ”Kita hanya dapat maju dengan
bekerja sama, merangkul beragam cara untuk mengetahui, dan berdiri teguh dalam
komitmen kita untuk mengurangi ketimpangan pendidikan,” kata Isaacs.
Dalam lingkungan yang menantang,
teknologi digital diyakini dapat mendukung pendidikan berkualitas dan memberdayakan
pelajar. Namun, tantangannya kini, untuk membuat pembelajaran digital dapat
diakses oleh semua orang. Tantangan lainnya adalah memberikan panduan yang
jelas bagi pemerintah dan pendidik yang berupaya mengintegrasikan teknologi
secara efektif dan inklusif dalam sistem pendidikan. Dirjen UNESCO, Audrey
Azoulay saat peringatan Hari Internasional untuk Pembelajaran Digital pada 19
Maret mengatakan, teknologi digital semakin lazim di semua bidang kehidupan.
Teknologi digital tidak hanya mengubah cara hidup, tetapi juga cara belajar.
”Teknologi ini sangat menjanjikan, mulai dari kemajuan dalam konektivitas,
portabilitas, sumber daya pendidikan terbuka, hingga kecerdasan buatan menciptakan
lebih banyak kemungkinan untuk menjangkau pelajar yang terpinggirkan,” ucapnya.
Saat ini, 2,6 miliar orang atau 32
% populasi global masih kekurangan akses internet. Sebanyak 1,8 miliar orang di
antaranya tinggal di daerah perdesaan. Di bidang pendidikan, 60 % dari SD, 50 %
dari SMP dan 30 % dari SMA di seluruh dunia saat ini tidak terhubung dengan
internet. Di Indonesia, minimnya akses pelatihan bagi guru didobrak lewat
pelantar (platform) Merdeka Mengajar yang kemudian diubah menjadi Rumah
Pendidikan pada tahun 2025. ”Transformasi digital merupakan keniscayaan, karena
masyarakat sekarang hidup di era digital. Tidak mungkin kita hindari, tetapi
juga era untuk kita sanggup adaptasi dan menggunakannya untuk kepentingan yang
bermanfaat,” kata Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, beberapa waktu lalu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









