;

Perantau Berharap Kehidupan yang Lebih Baik di Jakarta

Perantau Berharap Kehidupan yang Lebih Baik di Jakarta

Di antara ratusan penumpang Terminal Kampung Rambutan, Jaktim, Minggu (6/4) siang, tampak Rinal (21) bersama kakak perempuannya yang baru tiba dari Sumedang, Jabar. Air muka Rinal terlihat lelah setelah menempuh perjalanan 5 jam. Namun, sorot matanya memancarkan semangat. ”Sudah lima bulan jadi tukang las. Ikut saudara (kakak perempuan di Ciracas, Jaktim. Enak, bayarannya lumayan daripada di kampung,” ujar lulusan SMA dari Kecamatan Wado, Sumedang, itu. Tempat kerjanya tak jauh dari kediamannya di rumah sang kakak. Sebagai tukang las, upahnya Rp 250.000 per hari, di luar makan dan minum. Alhasil, ia bisa menabung Rp 150.000 sampaiRp 200.000 setelah jajan. Jumlah ini dua kali lipat gajinya ketika masih bekerja sebagai tukang las di kampung.

Davi (20) juga memilih ikut saudaranya ke Jakarta, meninggalkan Lubuk Linggau, Sumsel dengan harapan bisa mandiri. Sejak awal tahun 2025, ia menjadi karyawan perusahaan otobus. Tugasnya menawarkan tiket kepada calon penumpang di Terminal Kampung Rambutan. ”Susah cari kerja di kampung. Saya sudah coba melamar ke pabrik, mal, jadi petugas kebersihan, tetap tidak diterima. Mungkin karena hanya lulusan SMA dan tidak ada orang dalam,” tutur Davi. Gajinya saat ini Rp 1,5 juta per bulan. Kadang ada satu-dua penumpang yang memberikan bonus karena keramahan atau bantuannya memindahkan barang-barang. Ia merasa cukup, sebab, ia tinggal dengan kakaknya sehingga tidak mengeluarkan ongkos selain keperluan pribadi.

Pemprov Jakarta menerima pendatang baru dengan tangan terbuka. Namun, perantau diingatkan agar mempunyai keterampilan sehingga berdaya saing. Selain itu, mereka akan didata ataupun wajib melapor ke kelurahan dengan membawa persyaratan berupa surat keterangan pindah, surat penjamin, kartu tanda penduduk, kartu identitas anak, dan kartu keluarga. ”Di masa lalu, orang berpikir hidup di Jakarta enak, segala sesuatunya ada. Saat ini, dengan adanya berbagai kanal informasi, termasuk media sosial, masyarakat lebih mengerti kesulitan hidup di Jakarta tanpa keterampilan memadai,” ujar peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Turro Wongkaren. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :