Ekonomi
( 40487 )Penangkapan Ikan Terukur Dinilai Belum Siap Diterapkan
Menjelang berlakunya kebijakan penangkapan ikan terukur
mulai Januari 2024, polemik terkait hal itu itu masih mencuat di kalangan
nelayan dan pelaku usaha perikanan. Kegamangan muncul, antara lain, karena sosialisasi
publik yang dinilai belum optimal, kesiapan infrastruktur yang minim, dan kekhawatiran
privatisasi laut oleh oligarki industri perikanan skala besar. Sebelumnya,
pemberlakuan kebijakan penangkapan ikan terukur (PIT) berbasis kuota beberapa
kali tertunda. Kebijakan itu mulai digulirkan pada akhir 2021 dan semula akan diterapkan
pada tahun 2022. Kebijakan itu membagi wilayah penangkapan ikan ke dalam enam
zona. Adapun kuota penangkapan ikan terbagi atas kuota industri, kuota nelayan
lokal, dan kuota kegiatan bukan untuk tujuan komersial. Kuota industri, antara
lain, memberikan kesempatan kepada pelaku usaha dalam negeri dan pemodal asing
untuk membuka usaha perikanan tangkap.
Hasil jajak pendapat ”Persepsi Publik terhadap Penangkapan
Ikan Terukur” yang digagas Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Ocean
Solutions Indonesia, dan Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta
menyimpulkan, PIT belum siap untuk dilaksanakan pada tahun 2024 di 171 pelabuhan
di Indonesia. Muncul usulan agar penerapan kebijakan itu ditunda. Survei
dibagikan dalam jaringan pada 11 Oktober-4 November 2023 terhadap 202 responden
di 14 provinsi. Mayoritas responden merupakan pelaku usaha perikanan (28 %),
awak kapal perikanan (20 %), dan nelayan skala kecil (19 %) dengan wilayah
tangkapan didominasi di Sulut (23,88 %), Maluku (15,42 %), dan Sultra (12,99 %).
Felicia Nugroho, Research Manager DFW Indonesia, mengemukakan, persepsi
masyarakat menggambarkan keraguan terhadap kebijakan PIT karena dipandang
menimbulkan kerugian bagi nelayan kecil dan tradisional. Sementara itu, infrastruktur,
kesiapan sumber daya manusia, dan pemahaman terkait pelaksanaan PIT dinilai
minim. (Yoga)
Tahun Politk Dorong Belanja Masyarakat
Tak Ciut walau Harga Cabai Melambung
Kala harga cabai melambung tinggi, ada sekelompok warga
berdikari menghasilkan cabai sendiri. Usaha ini terus ditularkan kepada warga sekitar
sehingga dampaknya diharapkan meluas hingga menekan inflasi. Firdaus Haris,
pengelola kebun di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Kelurahan Pondok
Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jaktim, memetik cabai rawit yang sudah bisa dipanen,
Rabu (22/11), hari itu ia bisa memanen sekitar 700 gram cabai merah. Pria 33
tahun asal Brebes, Jateng ini merasa senang karena cabai yang ia tanam mulai
Juli 2023 itu sudah 14 kali panen, dengan hasil 4 kg sampai 6 kg setiap kali
panen. Hasil dari kebun cabai itu dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga
50 % lebih murah dibandingkan di pasaran. Saat ini harga cabai di pasaran
melambung tinggi, antara Rp 100.000 per kg dan Rp 120.000 per kg. namun, di RPTRA ini, warga bisa mendapatkan
cabai dengan harga Rp 60.000 per kg. ”Itulah sebabnya, saat panen tiba, warga
sampai mengantre untuk membeli cabai. Apalagi, harga cabai sekarang sedang
mahal-mahalnya,” kata Haris.
Di saat warga berkunjung itulah, Haris kerap kali memberikan
edukasi kepada warga tentang bagaimana menanam cabai yang benar agar bisa
diterapkan di rumah masing-masing. Tidaklah mudah menanam cabai rawit terpedas
di kelasnya itu. Butuh perawatan rutin seperti pemupukan dan penyemprotan
pestisida setidaknya seminggu sekali. Jika tidak teratur dirawat, tanaman ini
rentan terserang hama seperti penyakit keriting dan rontok daun, kutu kebul,
dan rentan layu. Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi, Asti
Sitorus menuturkan, cabai yang ada di RPTRA ini hasil pembagian 1 juta bibit
cabai varietas rawita yang dilakukan pada awal 2023. Selain untuk penanaman di
tiga RPTRA, pihaknya juga membagikan 1.500 bibit cabai ke seluruh RW se-Kelurahan
Pondok Kopi. Dengan penanaman ini, pemerintah berharap banyak warga yang
bersemangat untuk menanam cabai di rumah sendiri. Dengan begitu, warga turut
berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan. (Yoga)
PEREDARAN UANG TRILIUNAN RUPIAH PADA MASA PEMILU
Perhelatan Pemilu 2024 tinggal menghitung hari. Euforianya mulai menyebar ke seluruh pelosok negeri. Kemeriahan ”hajatan” lima tahunan itu secara tidak langsung turut menggerakkan perekonomian lebih masif dari biasanya. Sebagaimana terjadi pada beberapa periode pemilu sebelumnya, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga belanja pemerintah pada tahun politik cenderung lebih besar (Kompas.id, 9/11). Perputaran roda ekonomi yang lebih cepat itu seiring dengan semakin banyaknya uang yang beredar saat pemilu. Pada pemilu tahun depan, perputaran uang diperkirakan naik hingga Rp 100 triliun. Proyeksi tersebut berkaca pada tren yang terjadi pada pemilu sebelumnya. Merujuk data BI, uang yang beredar di masyarakat pada momentum Pemilu 2014 dan 2019 meningkat di kisaran Rp 23 triliun-Rp 52 triliun, yang mengacu pada uang tunai yang dipegang masyarakat, uang elektronik, dan tabungan yang dapat ditarik sewaktu-waktu (M1).
Masifnya peredaran uang di masyarakat saat pesta demokrasi juga tampak dari lebih tingginya penarikan uang dari lembaga keuangan. BI menyebutnya dengan net outflow uang tunai positif. Artinya, outflow atau penarikan uang tunai lebih besar daripada inflow atau penyetorannya. Pada April 2019, penarikan uang tunai oleh masyarakat mencapai Rp 74,9 triliun, sedangkan besaran penyetoran senilai Rp 51,6 triliun. Tak dapat dimungkiri, pemilu juga turut berperan dalam menggerakkan ekonomi, terutama dalam masa jelang pemilihan. Salah satunya melalui peredaran uang yang masif untuk berbagai keperluan belanja politik demi mendulang popularitas partai ataupun sosok yang berkontestasi. Periode April 2023 hingga 29 Juni 2023, Meta Platform melaporkan, nilai transaksi iklan politik dan pemilu di sejumlah kanal media sosial mencapai Rp 10,9 miliar, yang akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menyebutkan, pelaksanaan Pemilu 2024 diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi 0,05-0,1 % pada tahun ini (Kompas.id, 1/11). (Yoga)Enam Sektor Terpukul Bunga Tinggi
Sentimen Global hingga Judi Online Penyebab Pelemahan RNTH
BRI Bidik Transaksi Business Matching Rp 1,35 Triliun
Krakatau Steel Dapat Restu Restrukturisasi Utang Rp 23 Triliun
Pemerintah Baru Hadapi Risiko Lokal dan Global
Ekonomi Indonesia akan menghadapi sederet tantangan besar. Kombinasi ketidakpastian pasar global hingga situasi panas politik dalam negeri berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun depan.
Pengamat ekonomi senior Chatib Basri mengingatkan sejumlah tantangan yang membayangi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Mantan Menteri Keuangan di era Presiden SBY ini menyebut risiko dan tantangan yang dihadapi Indonesia setjangka pendek atau dua tahun ke depan berasal dari dalam maupun luar negeri.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan Pemilu 2024 akan memberikan efek positif terhadap ekonomi nasional, baik di tahun ini maupun tahun depan. Untuk 2023, dia memproyeksikan hajatan politik bisa menyumbangkan pertumbuhan ekonomi berkisar 0,05%-0,1%.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi China juga akan mempengaruhi prospek perekonomian Indonesia, mengingat China merupakan mitra dagang terbesar. Chatib bilang, setiap 1% pelemahan ekonomi China akan berpotensi mengurangi ekonomi Indonesia sekitar 0,3%.
Hanya, Chatib melihat risiko ini akan rendah. Apabila melihat situasi terkini, perlambatan ekonomi China tidak akan sampai 1%. Alhasil, efeknya ke Indonesia akan lebih rendah dari 0,3%.
Sedangkan untuk jangka menengah, atau dalam kurun waktu dua tahun hingga lima tahun ke depan, Chatib Basri bilang Indonesia akan menghadapi risiko yang datang dari berlanjutnya perang dagang antara AS dan China.
Beberapa langkah yang perlu diambil, pertama, di era suku bunga tinggi akan membuat Bank Indonesia (BI) harus memberikan tanda dalam menyusun strategi menjaga pasar keuangan Indonesia.
Kedua, serangan yang terjadi di Palestina, bila meluas di Timur Tengah, akan mendorong kenaikan harga minyak yang tentu saja akan mempengaruhi harga barang-barang di dalam negeri.
Ketiga, kenaikan harga beras akibat fenomena kekeringan atau El Niño.
Perusahaan China Bakal Akuisisi PORT
Kabar baik datang menyapa PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT). China Merchants Port Holdings Company Limited menyatakan telah mengadakan perjanjian jual beli (share purchase agreement) untuk membeli 1,43 miliar saham atau setara 51% modal yang disetor dan ditempatkan PORT, milik PT Episenta Utama Investasi.
Berdasarkan pengumuman di situs China Merchants Port Holdings, transaksi tersebut bernilai US$ 61,20 juta. Hal tersebut diungkapkan China Merchants Port Holdings pada hari Senin (20/11) kemarin.
PORT merupakan emiten yang dikendalikan penuh oleh Garibaldi Thohir (Boy Thohir) lewat PT Episenta Utama yang mengapit 74,1% saham PORT. Perusahaan ini bergerak di bidang penyediaan pelayanan terminal peti kemas, serbaguna dan umum serta penyediaan teknik jasa peralatan pelabuhan seperti perbaikan, modifikasi dan relokasi di pelabuhan Indonesia.
China Merchants Port Holdings sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidan investasi dan atau pengoperasian pelabuhan dan bisnis yang berhubungan dengan pelabuhan.
Aksi tersebut merupakan cara yang relevan dan efektif mendorong pertumbuhan baru terhadap pertumbuhan yang sudah ada dan bisnis pelabuhan yang tumbuh secara berkelanjutan.
Rencana akuisisi tersebut, terang manajemen China Merchants Port Holdings, akan memajukan jaringan pelabuhan strategis perusahaan di Asia Tenggara dan memanfaatkan sepenuhnya kemitraan lokal untuk menembus pasar Indonesia.
Dengan mengakuisisi 51% saham PORT, China Merchants Port Holdings dapat mengambilalih pengelolaan operasional PORT serta mengkonsolidasi laporan keuangannya.
"Sekaligus ini menjadi upaya membangun
platform
untuk peluang investasi masa depan di Indonesia," terang Feng Boming,
Chairman
China Merchants Port Holdings Company Limited.
China Merchants Port Holdings Company Limited.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









