Ekonomi
( 40487 )Ekonomi Hancur, Pembangunan Mundur
Ketum INSA Ditetapkan sebagai Ketua FASA 2024-2026
PINJAMAN DARING, Kredit Macet Tertinggi di Lima Provinsi
Data Statistik Tekfin Pendanaan dari OJK mengungkap,
pertumbuhan penyaluran pinjaman daring atau pinjol meningkat selama beberapa
tahun terakhir. Angkanya lebih tinggi disbanding lembaga pendanaan konvensional.
Pertumbuhan penyaluran kredit pinjol yang tajam sejalan dengan kenaikan kredit
macet. Jumlah kredit macet pinjol yang dikenal dengan istilah TWP 90 atau
tingkat wanprestasilebih dari 90 hari ini hampir berlipat ganda sejak Januari 2021.
Di tingkat provinsi, TWP 90 tertinggi ditemukan di NTB yang mencapai 6,7 % per
Juli 2023, disusul Banten 4,9 %, Jabar 4,1 %, Jatim 3,7 %, dan Jateng 3,3 %.
Hal serupa terlihat di periode Januari 2021 dan Juni 2023.
Kadis Koperasi dan UMKM Provinsi NTB Ahmad Masyhuri
mengakui, pinjol menjadi salah satu persoalan di daerahnya. ”Tidak ada yang
bisa mengatakan telah tuntas kita perangi, kami mengharapkan pinjol tidak
menjalar ke mana-mana,” kata Masyhuri. Infrastruktur telekomunikasi menjadi
faktor pendorong warga mengenal keuangan digital. ”Untuk memasarkan pinjol atau
digitalisasi keuangan secara umum tidak menjadi soal. Tinggal konsumen yang memilih,”
kata Masyhuri. Sejalan dengan peningkatan kredit macet, angka penambahan utang
berjalan di lima provinsi itu juga meningkat. Utang berjalan di Jabar, per
Januari 2021-Juli 2023, meningkat 268 %, disusul Jatim 254 %, Jateng 238 %,
Banten 221 %, dan NTB 168 %. Total nilai utang berjalan secara nasional
mencapai Rp 56 triliun. (Yoga)
Mereka yang Menikmati Manisnya Dana Pinjol untuk Pengembangan Usaha
Jasuta (55) dan Suryanah (53), menjalankan usaha membuat
tempe yang dirintis pada 2005 di Kelurahan Curug Manis, Serang, Banten.
”Orang-orang bilang, tempe saya ini lebih awet, 3-4 hari, setelah dibeli, Jadi
ya mungkin di cari orang,” kata Suryanah tersenyum, Jumat (10/11). Suryanah berkeinginan mengembangkan usahanya.
Pada 2015 ia mengajukan kredit usaha ke bank konvensional. Dua kali ia meminjam
dana Rp 10 juta dengan tenor masing-masing 1,5 tahun. Seingatnya, cicilannya Rp
700.000 per bulan. Tahun 2018, kampungnya dikunjungi Amartha yang kemudian
menawarkan pinjaman daring untuk kalangan UMKM. Suryanah pun tertarik. Berbekal
persetujuan keluarga, ia mengambil pinjaman pertama dari Amartha sebesar Rp 2
juta.
Sekarang ia tengah menyelesaikan pinjaman kelimanya dalam
lima tahun terakhir, senilai Rp 12 juta. Skema cicilan per minggu membuatnya
merasa nyaman. Siklus produksi dan penjualan tempenya yang harian membuat ia
lebih mudah menyisihkan dana untuk membayar cicilan mingguan ketimbang bulanan.
Suryanah mengakui penghasilan hariannya tak menentu. Jika target omzetnya per
hari Rp 1,5 juta-Rp 2 juta meleset, ia kekurangan modal untuk berproduksi
kembali. Harga kedelai berkisar Rp 13.000 per kg. Rata-rata ia butuh 40-80 kg
kedelai per hari sehingga setiap hari ia butuh Rp 500.000 sampaiRp 1 juta untuk
modal membuat tempe. ”Kalau ada duit pinjaman, saya bisa beli kedelai untuk
modal bikin tempe,” katanya. Suryanah tak berhenti memikirkan cara untuk
mengembangkan usahanya. Ia belajar cara pembuatan tahu. ”Kalau saya berhasil
mencoba bikin tahu, ya saya akan ngambil pinjaman lagi,” ujarnya semringah. (Yoga)
Iklan Pinjol Harus Dikendalikan
Orang mudah tergiur untuk meminjam uang dari platform pinjaman
daring atau pinjol. Mereka melakukan itu karena melihat tawaran kemudahan dari
iklan. Penerima pinjaman daring selama dua tahun terakhir didominasi kelompok
usia kurang dari 35 tahun. Mereka menggunakan dana pinjaman untuk hal-hal
konsumtif. Meski bergaji rendah, sifat konsumtif generasi muda menjadikan mereka
sasaran utama penyaluran pinjol.
Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan, ada peningkatan 5,3 %
jumlah peminjam pinjol yang tidak lancar dan macet di atas 30 hari pada
kelompok usia 17 hingga 34 tahun ini (Kompas, 22/11). Otoritas tentu sudah melakukan
berbagai cara agar keberadaan platform memberi kemudahan dan sekaligus memberi pelindungan kepada nasabah
pinjaman daring. Mereka juga memberi rambu-rambu soal keamanan dalam
bertransaksi di berbagai platform teknologi finansial (tekfin). Akan tetapi, berbagai
upaya itu sepertinya belum mencukupi.
Berbagai kasus memperlihatkan bahwa orang dengan dengan hasilan rendah, yang kemudian
berhadapan dengan sejumlah masalah finansial, langsung tertarik dengan pinjaman
daring karena melihat iklan-iklannya di berbagai kanal. Sebagian besar iklan
pinjaman daring menawarkan banyak kemudahan dan menggiurkan. Beberapa isi iklan
itu antara lain kemudahan untuk meminjam, kemudahan mendapatkan pinjaman, dan
suku bunga yang disebut lebih rendah (dibandingkan dengan platform lain). Dengan
cara pemasaran digital yang bisa menyasar target dengan lebih akurat, iklan-iklan
pinjaman daring berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis mereka. Tidak
mengherankan, mereka jorjoran mengeluarkan belanja pemasaran. Selama periode
Januari- Agustus 2023, rata-rata porsi dana iklan dan pemasaran dari 101
perusahaan fintech lending yang terdaftar di OJK mencapai 34,7 %, dengan nilai Rp
1,3 triliun atau Rp 13,2 miliar per perusahaan, meningkat 6 % dibandingkan periode
yang sama pada 2022 di 28,7 % atau Rp 8,6 miliar per perusahaan. Mereka tentu
berharap mendapatkan peminjam dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. (Yoga)
Incar Pasar RI, Tiktok Ingin Investasi di Tokopedia
Tiktok, aplikasi media sosial yang tengah berekspansi ke
bisnis e-dagang, tengah menjajaki investasi ke Tokopedia melalui GoTo Group. Langkah
korporasi milik raksasa teknologi asal China, ByteDance Ltd, ini antara lain untuk
mengembangkan bisnis e-dagang di pasar Indonesia yang diperkirakan menguasai 40
% pasar e-dagang Asia Pasifik dalam beberapa tahun mendatang. Menteri Koperasi
dan UKM, Teten Masduki, seusai konferensi pers Cerita Nusantara, Kamis (23/11)
di Jakarta, menyatakan, Tiktok Shop, yang tutup pada 4 Oktober 2023, berpotensi
akan kembali buka di Indonesia, baik buka sendiri maupun kerja sama investasi.
Sejauh ini, menurut Teten, Tiktok sudah menjajaki investasi di tiga perusahaan.
Ketiganya meliputi Tokopedia, Bukalapak, dan CT Corp. Untuk detailnya, dia
mengaku belum tahu.
Bloomberg pada Rabu (22/11) mengabarkan Tiktok sedang dalam
pembicaraan untuk berinvestasi ke salah satu unit GoTo Group di Indonesia.
Salah satu poin pembicaraan adalah bahwa Tiktok ingin mencoba memulai kembali
toko daringnya di Indonesia. Sumber Bloomberg mengatakan, perusahaan Itu sedang
mengerjakan potensi berinvestasi pada unit e-dagang GoTo, yaitu Tokopedia, yang
dapat di- selesaikan dalam beberapa minggu mendatang. Daripada melakukan
investasi langsung, kesepakatan kedua perusahaan dapat berbentuk usaha patungan.
Diskusi juga membahas langkah bersama Membangun platform e-dagang baru. Rencana
ini diduga dirancang untuk mengatasi hambatan peraturan dan memungkinkan Tiktok
menghidupkan kembali layanan belanja daring di Indonesia, pasar e-dagang
terbesar di Asia Tenggara. (Yoga)
Industri Tekstil Makin Tertekan Geopolitik dan Impor Ilegal
Beberapa perusahaan tekstil dalam negeri yang terdaftar di pasar
modal kritis. Kondisi keuangan membuat mereka tersegel, bahkan nyaris didepak
dari daftar perusahaan terbuka. Fundamental industri tekstil tertekan ketidakpastian
global dan banjirnya produk impor ilegal. Menjelang akhir 2023, beberapa
perusahaan tekstil masuk dalam papan pemantauan khusus. Salah satunya PT Sri
Rejeki Isman Tbk. Emiten berkode SRIL itu masuk dalam kategori ekuitas negatif
dan likuiditas rendah. Efek SRIL sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan
selama 30 bulan sejak 18 Mei 2021. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek
Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya yang dikutip Kamis
(23/11) mengatakan, dalam melakukan pemantauan atas perusahaan tercatat, bursa melakukan
beberapa upaya perlindungan investor ritel, salah satunya melalui pengenaan notasi
khusus dan penempatan pada papan pemantauan khusus.
Dalam laporan keuangan SRIL periode sembilan bulan pada
2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan penjualan per
September 2022, dari angka 474,17 juta USD menjadi 248,50 juta USD. Perusahaan
itu menanggung rugi operasional senilai 105,14 juta USD. Kerugian itu menurun
27,39 % dari kerugian tahun lalu 144,80 juta USD. PT Sejahtera Bintang Abadi Textile
Tbk (SBAT) juga masuk pemantauan khusus karena tidak ada pendapatan usaha dalam
laporan keuangan terakhir. Efek SBAT tidak lagi ditransak- sikan sejak
pertengahan 2021. Melihat laporan keuangan terakhir mereka di semester I-2023,
keuntungan anjlok 82,25 % secara tahunan menjadi Rp 11,09 miliar. Penurunan
kinerja juga dialami PT Asia Pacific Fibers Tbk. Emiten berkode POLY itu kini
dipantau khusus karena laporan keuangan terakhirnya menunjukkan ekuitas
negatif.
Sampai 30 September 2023, pendapatan POLY turun 27,72 %
secara tahunan ke angka 228,49 juta USD, dibandingkan dengan 316,14 juta USD
pada tahun lalu. Mereka juga mengalami kerugian komprehensif tahun berjalan
sebesar 16,05 juta USD dan defisiensi modal sebesar 960,49 juta USD. ”Industri
poliester terus menghadapi ketidakpastian dan volatilitas selama Januari hing
ga 23 September karena ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, perang Rusia
dan Ukraina, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, inflasi yang tinggi, dan
kenaikan biaya bunga,” kata perusahaan dalam laporan keuangannya. Seluruh
rantai poliester berada di bawah tekanan berat dengan permintaan yang lesu dan
tantangan pasokan yang berlebihan. Banyak produsen yang mengurangi produksi dan
beberapa di antaranya tutup karena tren penurunan ini. (Yoga)
Diversifikasi Pasar Stagnan, Ekspor RI Bakal Melambat
Kinerja ekspor Indonesia pada 2024 diperkirakan akan
melambat seiring dengan perlambatan ekonomi AS dan China. Hal itu terjadi di
tengah stagnasi diversifikasi pasar ekspor Indonesia dalam 12 tahun terakhir
ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad
Faisal, Kamis (23/11) mengatakan, tahun depan ekonomi global diperkirakan
tumbuh lambat dibandingkan tahun ini. Dana Moneter Internasional (IMF)
memproyeksikan ekonomi global pada 2024 tumbuh 2,9 % atau lebih rendah dari
2023 yang sebesar 3 %. Hal itu terutama dipengaruhi perlambatan ekonomi di AS dan
China yang pada 2024 diperkirakan tumbuh 1,4 % dan 4,2 %. Angka itu lebih
rendah dari pertumbuhan ekonomi AS dan China pada 2023 yang diperkirakan
masing-masing 2,1 % dan 5 %.
Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga di kedua negara tersebut
diproyeksikan masih lemah sehingga berpengaruh terhadap permintaan domestik. Di
AS, pendapatan masyarakat masih stagnan dan simpanan bantuan pandemi mereka semakin
menipis. Adapun di China, pemulihan pascapandemi Covid-19 tertekan krisis
bisnis properti yang berkontribusi 25-30 % terhadap perekonomian negara tersebut.
Utang pengusaha juga menumpuk karena Pemerintah China membatasi kredit. ”AS dan
China merupakan pangsa pasar utama ekspor Indonesia. Jika konsumsi kedua negara
itu melemah, maka permintaan ekspor akan turut melemah. Kondisi itu akan berpengaruh
besar terhadap kinerja ekspor Indonesia,” ujarnya dalam acara Gambir Trade Talk
#12: ”Outlook Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2024” yang digelar secara
hibrida. (Yoga)
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan
Diferensiasi Produk Wisata Mandalika Diperlukan
Indonesia Tourism Development Corp atau ITDC berupaya mengembangkan
kawasan Mandalika di Lombok, NTB, agar tak hanya dikenal karena sirkuit
balapnya. Skema besar telah dirancang untuk memopulerkan kawasan ini sehingga tak
hanya menarik investor, tetapi juga wisatawan. President Director ITDC atau PT
Pengembangan Pariwisata Indonesia Ari Respati menilai, kesan yang melekat pada
Mandalika adalah sirkuit atau balapan MotoGP. Padahal, proporsi sirkuit hanya 38
hektar dari total kawasan seluas 1.200 hektar. Sebagai upaya memperkenalkan
Mandalika dan sekitarnya untuk meyakinkan investor, ITDC telah mengajak
sejumlah investor ke beberapa lokasi di kawasan Mandalika.
Pembangunan sejumlah arena olahraga lain untuk memasarkan
wisata Mandalika sedang dilakukan ITDC. Salah satunya membangun pacuan kuda
bertaraf internasional. Rencananya, pacuan ini akan diluncurkan pada triwulan III-2024.
Arena ini murni digarap investor. ITDC, ujar Ari, telah menandatangani kesepakatan
dengan PT Indonesian Paradise Property Tbk. Perusahaan yang menaungi sejumlah
hotel berbintang, antara lain Grand Hyatt Jakarta dan Harris Hotel Tuban Bali,
ini berinvestasi membangun stadion paddle. ”Kami rasa akan jadi sebuah titik
balik bahwa daerah Mandalika itu memang cocok sebagai pusat sport tourism,”
ujar Ari di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (23/11). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









