Ekonomi
( 40733 )Bersih-bersih Setelah Bank Tumbang
Bom Waktu Lonjakan Petani Gurem
Tantangan Menanti Emiten Properti
Kinerja emiten properti di tahun 2024 diprediksi masih cenderung stagnan. Tergambar dari pencapaian pendapatan pra penjualan atau
marketing sales
sejumlah emiten properti. Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei menilai, pendapatan prapenjualan alias
marketing sales
emiten properti di tahun 2023 rata-rata cenderung flat, bahkan beberapa menurun.
Salah satu penyebab adalah
high base effect. Yakni penjualan emiten properti tahun lalu melonjak karena ada insentif pajak dari pemerintah dan suku bunga yang masih rendah.
Sebagai gambaran, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mengantongi
marketing sales
sebesar Rp 1,3 triliun hingga Oktober 2023. Pencapaian itu sekitar 73% dari target tahun 2023 yang sebesar Rp 1,8 triliun.
Lantas PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatatkan
marketing sales
sebesar Rp 1,02 triliun hingga kuartal III 2023. Angka tersebut naik 39% secara kuartalan, yaitu Rp 420 miliar per kuartal II 2023.
Sedangkan menurut Direktur PT Intiland Development Tbk (DILD), Archied Noto Pradono, pihaknya mencatatkan
marketing sales
hingga bulan September 2023 mencapai Rp 550 miliar. Sementara, target pendapatan pra penjualan Intiland di tahun 2023 sebesar Rp 2 triliun.
Di sisi lain, pergantian pemerintahan setelah rangkaian Pemilu 2024 bisa mempengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli properti baru. Sedangkan technical analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora justru melihat masih ada peluang b agi emiten properti bertumbuh. Penyebabnya, ada peluang penurunan suku bunga tahun depan yang bisa menjadikan sektor properti bergairah. Terlebih masih ada insentif pajak bagi sektor properti hingga pertengahan tahun depan.
Inilah yang membuat DILD, menurut Archied menargetkan
marketing sales
tahun depan sama dengan tahun ini yang sebesar Rp 2 triliun. Dan tahun depan, di tengah sejumlah proyek yang tengah berajan, Intiland tengah menyiapkan proyek hunian baru yang siap dirilis pada semester I-2024.
Perlambatan Ekonomi Global Membayangi IPO Tahun Depan
Pemain Pinjol Janji Jaga Rasio Kredit Macet
Petani Terus Menua dan Alami Guremisasi
Sepuluh tahun terakhir jumlah usaha pertanian menurun. Di
saat yang sama, jumlah petani berusia tua atau di atas usia 55 tahun dan petani
gurem meningkat. Jika tidak segera diatasi, kondisi itu akan berimplikasi pada regenerasi
dan kesejahteraan petani, ketahanan pangan nasional, serta penanggulangan kemiskinan
ke depan. Ini mengingat sektor pertanian merupakan salah satu mesin penggerak
ekonomi nasional dan penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia. Hal itu
mengemuka dalam Desiminasi Hasil Sensus Pertanian (ST) 2023 Tahap I yang
digelar BPS secara hibrida di Jakarta, Senin (4/12). Sensus yang digelar setiap
10 tahun sekali itu pada tahun ini dilakukan pada 1 Juni-31 Juli.
Berdasarkan ST 2023 Tahap I, jumlah unit usaha pertania di
Indonesia turun 7,42 % dari hasil ST 2013, yakni 31,71 juta unit menjadi 29,36
juta unit. Adapun unit usaha pertanian perorangan (UTP), jumlahnya turun 7,45 %
dari 31,71 juta unit pada 2013 menjadi 29,34 juta unit pada 2023. Namun, jumlah
rumah tangga usaha pertanian (RTUP) pada 2023 meningkat 8,74 % dari 26,14 juta pada
2013 menjadi 28,42 juta pada 2023. Meskipun meningkat, jumlah RTUP pada semua subsektor
pertanian turun. Penurunan terbesar terjadi pada subsektor kehutanan dan
tanaman pangan masing-masing 48,87 % dan 12,28 %. Dalam 10 tahun terakhir, dari
100 petani yang memiliki usaha pertanian berkurang dari 21 petani menjadi 3
petani. ST 2023 Tahap I juga menunjukkan petani di Indonesia makin menua.
Jumlah petani gurem atau pemilik lahan di bawah 0,5 hektar bertambah. (Yoga)
Kesenjangan Talenta Digital Jadi Tantangan Nasional
Kontribusi sektor ekonomi digital terhadap perekonomian
Indonesia tidak akan maksimal selama masih ada kesenjangan antara jumlah
kebutuhan talenta digital dengan ketersediaan di pasar tenaga kerja. Padahal,
jika tergarap maksimal, potensi pasar ekonomi digital bisa menopang melesatnya
pertumbuhan ekonomi nasional. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital,
Ketenagakerjaan, dan UMKM Kemenko Bidang Perekonomian Rudy Salahuddin
mengatakan, 77 % dari populasi 277 juta jiwa penduduk Indonesia telah terpapar
internet atau teknologi digital. Dengan potensi itu, pada 2030, PDB Indonesia
diprediksi mencapai Rp 24.000 triliun dengan 18 % di antaranya atau Rp 4.500
triliun disumbang oleh ekonomi digital. Sebagai catatan, PDB Indonesia pada
2022 sebesar Rp 19.588,4 triliun. Untuk mencapai lompatan PDB dengan penopang
ekonomi digital pada 2030, Indonesia memerlukan tambahan 9 juta talenta digital
terhitung sejak 2015 hingga 2030.
”Kalau dihitung secara kasar, setiap tahun Indonesia
memerlukan tambahan sekitar 600.000 talenta digital baru,” kata Rudy dalam pemaparan media bertema ”Peluncuran Buku
Putih Strategi Nasional Pengembangan Ekonomi Digital” di Jakarta, Senin (4/12).
Rudy memaparkan, dari kebutuhan 600.000 talenta digital baru per tahun
tersebut, saat ini kebutuhan SDM ditargetkan untuk yang ahli dalam bidang
digital, seperti pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)
dan komputasi awan. Sayangnya, berdasarkan catatan Kemenkominfo, kemampuan
Indonesia menghasilkan talenta digital baru saat ini jauh dari kondisi ideal,
yakni 100.000 hingga 200.000 talenta digital per tahun. Menurut Rudy,
diperlukan perubahan kurikulum yang lebih menekankan pada aspek analitik;
kuantitatif; dan sains, teknologi, teknik, matematika (science, technology,
engineering, math/STEM) guna mengejar cepatnya perkembangan teknologi. (Yoga)
Jasa Marga Tak Beri Diskon Tarif Tol
PT Jasa Marga Tbk tidak memberikan diskon tarif tol pada
periode Natal-Tahun Baru kali ini. Pertimbangannya, kapasitas jalan tol masih
bisa melayani jumlah mobil yang masuk-keluar gerbang tol di sekitar Jabodetabek
selama periode 18 Desember 2023 hingga 4 Januari 2024. Corporate Communication &
Community Development Group Head PT Jasa Marga Tbk Lisye Octaviana, pada jumpa
pers paparan kinerja triwulan III-2023 Jasa Marga di Jakarta, Senin (4/12) mengatakan,
diskon tarif sebetulnya upaya untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas.
Mengingat jumlah kendaraan pengguna jalan tol selama periode
Natal dan Tahun Baru masih bisa terkelola dengan kapasitas yang ada, diskon
tarif tidak diperlukan. Berdasarkan taksiran Jasa Marga, 2,88 juta unit mobil akan
masuk-keluar di gerbang tol sekitar Jabodetabek selama 18 Desember 2023 hingga 4
Januari 2024. Jumlah ini meningkat 14,2 % dibandingkan hari normal, tetapi
masih lebih rendah dibandingkan periode Lebaran yang melonjak hingga lebih dari
40 % dibandingkan hari normal. Oleh karena kapasitas jalan tol masih bisa
menampung mobilitas mobil pada periode Natal dan Tahun Baru kali ini, alih-alih
memberikan diskon, Jasa Marga justru akan memanfaatkanya untuk meraup
pendapatan optimal. (Yoga)
Mentan-Panglima TNI Teken Nota Kesepahaman soal Lahan Tidur
Pemerintah Siapkan Rp 2 Triliun untuk Dana Pariwisata
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









