Ekonomi
( 40733 )Menanti Rezeki dari Efek Januari
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mantap melaju di atas 7.200. Usai terdorong
window dressing
dan
Santa Claus rally
di akhir tahun ini, pasar bersiap menyambut
january effect.
January effect
adalah fenomena kenaikan harga saham yang biasanya terjadi sepekan sebelum pergantian tahun dan dua pekan di bulan Januari.
January effect
tak selalu terjadi, dan berbeda di setiap negara, tergantung sejumlah sentimen yang mengiringi.
Catatan KONTAN, pada awal 2023 lalu,
january effect
tidak terjadi di pasar Indonesia. Tapi, di Hong Kong, bursa saham merekah dengan kenaikan 11,15% di pekan terakhir Desember hingga dua pekan pertama Januari.
Grandly Christophel, Analis &
Branch Manager
Jasa Utama Capital Sekuritas Manado mengamati, biasanya
january effect
hanya terjadi pada awal bulan, sebagai lanjutan
window dressing. Menurut dia, tanda-tanda kehadiran
january effect
terlihat dari posisi IHSG pada penutupan tahun.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menambahkan, probabilitas
january effect
hanya 60% setelah
rally
di akhir tahun. Ada sejumlah rilis data ekonomi penting. Misalnya, inflasi domestik, FOMC Minutes, data tenaga kerja Amerika Serikat (AS), rilis data inflasi AS, hingga rilis pertumbuhan ekonomi dan indeks manufaktur China.
Associate Director
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menyarankan investo masuk ke saham-saham sektor perbankan, barang konsumsi, ritel, serta transportasi dan logistik hingga Januari 2024. Saham pilihannya BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, ASII, INDF, ICBP, MYOR dan AMRT.
Sedangkan Grandly melihat saham perbankan sebagai pilihan menarik untuk mulai dikoleksi. Rekomendasinya adalah BBRI, dan BBTN.
Chartered Financial Analyst Head of Research & Fund Manager
Syailendra Capital, Rizki Jauhari mengingatkan, sentimen
january effect
bersifat taktis dibanding katalis positif yang struktural. Ia menyarankan investor menyesuaikan posisi investasi dengan profil risiko.
Realisasi Belanja Daerah Masih Minim
Realisasi belanja daerah tercatat masih minim di sisa akhir tahun 2023. Hingga 26 Desember 2023, tercatat baru terealisasi Rp 976,22 triliun atau baru 75,97% dari target Rp 1.285,08 triliun.
Mengutip data sistem informasi keuangan daerah (SIKD) dari laman resmi Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan, realisasi tersebut terdiri dari belanja pegawai yang sudah tersalurkan sebesar Rp 350,05 triliun atau 81,89% dari target.
Kemudian, penyerapan belanja barang dan jasa baru tersalurkan Rp 272,7 triliun atau 73% dari target. Lalu, realisasi belanja modal tersalurkan senilai Rp 133,8 triliun atau 62,7% dari target. Terakhir belanja lainnya baru tersalurkan Rp 219,57 triliun atau 79,89% dari target.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyayangkan, pemerintah daerah (pemda) sering kali melakukan belanja namun pembayaran atas belanja itu ditumpuk dan baru dibayarkan di akhir tahun. Ia menilai, meski ada transaksi belanja, dampak ke perekonomian atas belanja tersebut akan berbeda, antara dibayarkan sesuai dengan tenggat kontrak dan di luar waktu kontrak.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta agar percepatan belanja pemerintah pusat dan daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 bisa langsung dieksekusi pada awal tahun. Ia juga mengimbau agar kebiasaan ini tidak diterapkan tahun depan. Khususnya untuk daerah yang realisasi belanjanya yang hingga Oktober 2023 baru mencapai 63%.
KSEI Bidik 2,5 Juta Investor Baru
Berkah MYOR dari Tahun Pemilu
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) masih menghadapi sejumlah tantangan penjualan di tahun mendatang.
Head of Research
Mega Capital, Cheril Tanuwijaya melihat, pendapatan dan laba bersih MYOR pada tahun depan akan tetap tumbuh, namun cenderung konservatif.
Pasalnya, pelemahan daya beli dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menjadi tantangan bagi MYOR di tahun depan. "Di sisi lain, ada harapan dari aktivitas Pemilu yang bisa meningkatkan konsumsi kebutuhan primer," kata Cheril kepada KONTAN, Rabu (27/12).
Cheril memperkirakan, pendapatan MYOR pada 2024 akan naik 5%-7% secara
year on year
(yoy) dan laba bersih bakal tumbuh 3%-5% yoy.
Namun, mengutip riset Ciptadana Sekuritas tanggal 20 November 2023, manajemen MYOR justru lebih optimistis untuk 2024 dengan menargetkan pertumbuhan penjualan dua digit hingga 10% yoy.
Kenaikan volume penjualan ini kemungkinan akan mendapat dukungan dari dua faktor.
Pertama
, kenaikan permintaan produk selama perayaan hari-hari besar.
Kedua
, peningkatan konsumsi domestik yang berkaitan dengan belanja Pemilu.
Analis Ciptadana Sekuritas, Putu Chantika Putri memprediksi, MYOR hanya akan mencatatkan kenaikan penjualan 5% yoy pada 2023. Putu memproyeksi, pertumbuhan penjualan 9% pada kuartal IV-2023 karena penjualan ekspor yang lebih banyak berkat pengiriman untuk persiapan Imlek.
"Secara historis, kuartal IV menjadi salah satu periode yang mencatatkan performa tertinggi dengan sumbang terhadap total penjualan setahun penuh mencapai 26%-28%," kata Putu.
Rasio iklan terhadap total penjualan juga dipertahankan pada 8%-9%, sejalan dengan strategi belanja selektif perusahaan. MYOR terbukti efektif dalam mempertahankan dominasi di hampir semua kategori karena memiliki rekam jejak yang kuat dalam inovasi produk.
Dalam laporan riset per 21 November 2023, Analis Indo Premier Sekuritas, Lukito Supriadi dan Andrianto Saputra justru merevisi naik laba bersih MYOR di 2023 menjadi Rp 2,7 triliun-Rp 2,9 triliun, dari sebelumnya Rp 2,6 triliun.
Hitung Cermat Peluang dan Risiko Pasar Saham Tahun Depan
Pasar saham diperkirakan memberi
return
lebih tinggi pada tahun 2024 mendatang. Ada sejumlah sentimen positif yang mengiringi, mulai dari perekonomian yang diperkirakan masih stabil dan tingkat suku bunga yang lebih landai. Namun, tak dipungkiri, hajatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 juga akan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak lebih fluktuatif. Para analis yang dihubungi KONTAN sepakat, setidaknya hingga akhir semester I-2024, investor akan cenderung memasang sikap
wait and see
terlebih dahulu. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Robertus Hardy dan Rut Yesika mencermati, pergerakan IHSG pada periode pemilu cenderung stagnan atau menurun. "Namun biasanya menunjukkan perbaikan setelah hasil Pemilu menjadi jelas," ungkapnya. Tapi catatan pentingnya, kondisi ini terjadi jika pemilu berjalan kondusif dan aman.
Selain soal musim pemilu,
Head of Research
Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya menyoroti, volatiltas pasar saham juga bisa tersulut oleh sejumlah faktor. Mulai dari perlambatan ekonomi global serta perkembangan konflik geopolitik, khususnya kelanjutan Rusia vs Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi juga punya target optimistis. Hitungan Samuel Sekuritas, IHSG akan berada di level 7.600 pada akhir tahun 2024. Target ini mencerminkan valuasi
forward price to earnings
(PE) sebesar 14 kali. Pertumbuhan laba per saham alias
earnings per share
(EPS) IHSG pada tahun 2024 juga diramal naik menjadi 8,6%, dari sebelumnya 6,1% pada tahun 2023.
Sedangkan
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi punya pandangan kalau IHSG tahun depan juga akan terdorong dari potensi kembalinya arus dana asing. Pemicunya, pelonggaran kebijakan moneter The Fed diprediksi bakal lebih cepat, setidaknya pada kuartal I-2024 mendatang.
Equity Sales
Jasa Utama Capital Sekuritas Alfredo Gusvirli mengatakan, potensi penurunan suku bunga tahun depan akan memicu rotasi sektor ke saham-saham yang sensitif terhadap tingkat suku bunga. Alfredo mengunggulkan tiga sektor saham sebagai pilihan tahun depan, yaitu, sektor properti, teknologi, dan infrastruktur.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan melihat, sektor utama pendorong kinerja IHSG tahun depan adalah perbankan, telekomunikasi dan menara, konsumer, rokok, kesehatan, logam, teknologi, dan batubara. Beberapa saham pilihannya adalah BBCA, BMRI, MBMA, NCKL, ICBP, MYOR, HEAL, dan ISAT.
BERKELIT DARI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN
Masih lemahnya aktivitas ekspor-impor menjadi batu sandungan bagi performa neraca transaksi berjalan pada tahun ini yang diperkirakan defisit, setelah pada tahun lalu mencatatkan surplus 1% dari produk domestik bruto (PDB). World Bank dalam Prospek Ekonomi Indonesia Desember 2023, memperkirakan neraca transaksi berjalan mencatatkan defisit 0,1% dari PDB pada tahun ini, akibat terus menyusutnya neraca transaksi barang alias aktivitas ekspor-impor. Proyeksi tersebut lebih optimistis dibandingkan dengan prediksi kalangan ekonom yang mengestimasi defisit transaksi berjalan tahun ini di kisaran 0,2%—0,4% terhadap PDB. Dalam laporan terpisah berjudul Migration and Development Brief 39, World Bank (Bank Dunia) memandang terbatasnya defisit transaksi berjalan terbantu oleh meningkatnya remitansi pekerja migran pada tahun ini, yakni US$11 miliar, naik dibandingkan dengan realisasi 2022 senilai US$9,71 miliar. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho mengatakan faktor itulah kemudian yang mendorong bank sentral untuk memproyeksikan neraca transaksi berjalan dalam rentang yang cukup longgar. "Current account 2023 kami perkirakan berkisar antara defisit 0,4% PDB sampai dengan surplus 0,4% PDB. Jadi relatif balance," katanya. Tekanan pada tahun depan masih tak kalah berat. Hal ini tecermin dari ekspektasi pemerintah yang dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa moderasi harga komoditas sumber daya alam (SDA) akan berlanjut pada 2024.
Bahkan, World Bank memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan pada warsa depan berada pada posisi defisit 0,7% terhadap PDB. "Untuk tahun 2024 defisit 0,1% sampai dengan defisit 0,9% PDB, sejalan dengan pemulihan ekonomi domestik yang terus berlanjut. Defisit ini masih aman," tegas Wahyu. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menambahkan kinerja neraca perdagangan yang masih surplus mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia yang masih terjaga di tengah peningkatan risiko global. Defisit transaksi berjalan memang tidak selalu dikonotasikan negatif, sepanjang pergerakannya dikendalikan oleh derasnya aliran investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Dalam konteks ini, defisit transaksi berjalan bisa dimaknai positif karena disebabkan oleh masuknya investasi asing yang memberikan daya dorong ke ekonomi karena terpacunya sisi produksi. Di sisi lain, harapan dari investasi asing masih kecil mengingat maraknya aksi wait and see pelaku usaha baik di dalam maupun luar negeri. Ini lantaran adanya proses politik pergantian kepemimpinan di Indonesia mulai akhir tahun ini hingga pelantikan pada Oktober tahun depan. Kalangan ekonom memandang perdagangan masih menjadi penekan utama transaksi berjalan baik pada tahun ini maupun tahun depan. Di sisi lain, kenaikan remitansi pekerja migran masih belum mampu mengompensasi penggerusan ekspor tersebut. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan defisit transaksi berjalan akan berlanjut pada tahun depan seiring dengan perlambatan ekonomi dunia yang membatasi geliat ekspor. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal menambahkan faktor lain yang perlu dibenahi oleh pemerintah adalah neraca jasa, yang belum mampu sepenuhnya pulih seperti prapandemi.
PERFORMA MANUFAKTUR : TEKANAN BERLAPIS INDUSTRI KARET
Pelaku industri karet nasional sedang menghadapi persoalan yang tidak mudah. Bermacam tantangan dari internal dan eksternal bergantian mengadang hingga membuat kinerja sektor tersebut mengalami kontraksi cukup lama. Perkara fluktuasi harga karet di pasar global dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan menambah problem pasokan bahan baku yang sedang dihadapi oleh pelaku industri karet di dalam negeri. Alhasil, kinerja sektor tersebut terus tertekan setidaknya sejak 5 tahun lalu.Gabungan perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memperkirakan produksi karet alam di Tanah Air pada tahun ini sebanyak 2,25 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan capaian tahun lalu yang sebesar 2,65 juta ton.Penurunan produksi karet alam tersebut pun diproyeksi bakal ikut mengerek penurunan volume ekspor komoditas tersebut dari 2,03 juta ton pada tahun lalu menjadi 1,76 juta ton pada 2023. Artinya, nilai ekspor karet alam pada tahun ini juga ikut terkoreksi menjadi sekitar US$2,51 miliar, dari tahun lalu yang sebesar US$3,53 miliar. Uhendi Haris, Wakil Direktur Eksekutif Gapkindo mengatakan bahwa industri karet nasional sedang mengalami keterpurukan, sehingga kinerja produksi dan ekspor karet alam terus mengalami penurunan sejak 2017. Kontraksi kinerja industri pengolahan karet, kata dia, bisa terlihat dari utilisasi kapasitas industri crumb rubber yang saat ini hanya sebesar 40,2%. Hal tersebut berimpak kepada 46 dari 152 pabrik crumb rubber harus menghentikan kegiatan operasionalnya sepanjang 6 tahun terakhir.Persoalan tersebut ditambah dengan penyakit gugur daun yang disebabkan oleh wabah Pestalotiopsis sp di 500.000 hektare lahan karet, sehingga menghilangkan produksi karet nasional hingga 30%. “Belum lagi tantangan pemenuhan EUDR [European Union Deforestation Regulation] yang hingga saat ini belum ada langkah nyata agar comply dengan ketentuan itu,” ujarnya.
Kebijakan EUDR dinilai menjadi salah satu tantangan dalam perdagangan karet alam asal Indonesia di pasar global. Alasannya, aturan tersebut ditujukan untuk meminimalisir konsumsi produk dari supply chain yang bersumber dari degradasi lahan atau deforestasi.Rencananya, aturan tersebut akan mulai efektif berlaku pada Januari 2025, dan saat ini Pemerintah Indonesia sedang mengajukan keberatan.
Dalam kesempatan terpisah, Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) melaporkan setidaknya terdapat sembilan pabrik olahan karet di wilayah Sumatra yang gulung tikar alias tutup lantaran kekurangan pasokan Bokar.Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane mengatakan bahwa pasokan bahan baku industri karet atau crumb rubber makin minim karena produktivitas petani karet yang terus merosot. Bahkan, sejumlah petani diketahui telah mengalihkan lahannya untuk menanam komoditas lain.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) dari industri karet, barang dari karet, dan plastik sebesar Rp15,85 triliun pada kuartal II/2023.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa pihaknya telah mengidentifi kasi sejumlah tantangan yang sedang dihadapi oleh pelaku industri karet nasional. Sejumlah negara tujuan ekspor baru pun disasar agar bisa menjamin pertumbuhan sektor tersebut.
Kondisi tersebut, kata Agus, berdampak kepada petani yang mulai enggan menderes kebunnya. Bahkan, tidak sedikit petani yang memilih untuk beralih ke komoditas lain karena dinilai lebih menjanjikan.
Kementerian Perindustrian juga mencoba menyasar negara-negara yang bisa menyerap produksi karet nasional sebagai substitusi dari pasar tradisional yang sedang mengalami pelemahan.
Penerapan Bisnis Hijau Masih Jadi Tantangan
Berdasarkan hasil survei internal yang dilakukan Pengusaha Indonesia (Apindo) terkait terbatasnya pengetahuan perusahaan lokal mengenai ESG, kependekan dari environment (lingkungan), social (sosial), dan governance (tata kelola) terhadap 1.000 perusahaan anggota, tidak sampai 30 % perusahaan memahami ESG. Ketua Umum Apindo sekaligus CEO Sintesa Group Shinta W Kamdani mengatakan, hasil survei tersebut menunjukkan, yang mulai mengimplementasikan praktik ekonomi sirkular dan mematuhi prinsip-prinsip ESG umumnya perusahaan, itupun umumnya masih dalam bentuk ”keterpaksaan” untuk berbagai kebutuhan, seperti memperkuat daya tarik investasi dan sebagai bentuk akuntabilitas laporan pertanggungjawaban kepada publik dan investor. Investor memandang ESG penting untuk menyaring perusahaan sekaligus mendorong perusahaan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Konsep ESG juga dapat mengawasi perusahaan agar tidak terlibat dalam praktik-praktik yang berisiko dan tidak etis secara aspek lingkungan, sosial, ataupun tata kelola.
Menurut Shinta, bahkan di tahun 2024 masih akan ada ketimpangan
pengetahuan tentang prinsip ESG antara perusahaan berskala besar dan usaha berskala
kecil-menengah. Perusahaan yang terbiasa menjalankan prinsip ESG akan semakin
mapan dan menikmati ”kue” pembiayaan, baik dari sumber konvensional maupun
alternatif, yang hanya bisa disalurkan untuk proyek yang memenuhi prinsip
keberlanjutan, sedang perusahaan berskala kecil yang belum terbiasa menggunakan
kerangka ESG dalam praktik bisnis mereka masih membutuhkan dorongan atau
stimulus agar secara perlahan bisa turut menjalankan praktik-praktik keberlanjutan
dalam bisnis mereka. ”Untuk menerapkan ESG, kebanyakan perusahaan harus
merekrut konsultan untuk membuat sustainability reporting dan lain-lain. ini
masih jadi pekerjaan rumah sangat besar bagi para pemangku kepentingan dalam
menyosialisasikan apa itu ESG dan manfaatnya,” ujar Shinta. (Yoga)
Prospek dan Tantangan Ekonomi Global 2024
Rilis Economic Outlook terbaru dari Organisasi untuk Kerja
Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 29 November 2023 menyatakan, proyeksi
ekonomi global 2024 diprediksi bakal melambat ke level pertumbuhan 2,7 %,
setelah pada 2023 diprognosis mencapai 2,9 %. OECD memperkirakan pertumbuhan
ekonomi global akan melandai pada 2024, juga risiko terjadinya hard landing
perekonomian global mereda meski tingkat utang masih tinggi dan ketidakpastian
suku bunga masih bertahan tinggi. Setelah melandai di 2024, pada 2025 ekonomi
dunia diprediksi tumbuh 3,0 %. Pertumbuhan di 38 negara anggota OECD
diperkirakan mengalami soft landing. AS diperkirakan bertahan lebih baik dengan
prediksi pertumbuhan melambat dari 2,4 % tahun ini menjadi 1,5 % di 2024. Proyeksi
ini naik dari 2,2 % pada 2023 dan 1,3 % pada 2024 dalam outlook edisi September
2023.
OECD memandang risiko resesi tidak hilang begitu saja,
karena lemahnya pasar perumahan, harga minyak yang tinggi, dan lesunya
penyaluran pinjaman. China, perekonomian terbesar di Asia, diperkirakan
melambat karena terus bergulat dengan gelembung real estat yang pecah dan
rendahnya pengeluaran konsumen menghadapi meningkatnya ketidakpastian prospek
ekonomi. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun dari 5,2 % (2023)
menjadi 4,7 % (2024) meski naik tipis dari proyeksi September 2023 sebesar 5,1 %
dan 4,2 %. Dizona euro, pertumbuhan ekonomi diproyeksi meningkat dari 0,6 % (2023)
menjadi 0,9 % (2024) dan 1,1 % (2025) karena Jerman sebagai ekonomi terbesar di
Eropa mampu keluar dari resesi tahun ini. OECD memperingatkan, dampak dari
kenaikan suku bunga acuan masih belum pasti karena tingginya tingkat pembiayaan
bank di zona euro. Hal ini dapat membebani pertumbuhan yang eksesif dari yang
diekspektasikan
Perkiraan OECD lebih kompromis ketimbang perkiraan Bank Dunia
yang memproyeksikan pertumbuhan global melambat secara signifikan dari 3,1 %
pada 2022 menjadi 2,1 % tahun ini, sebelum mengalami pemulihan moderat pada
2024 menjadi 2,4 %. Perlambatan ini dipicu oleh kebijakan moneter yang terus
diperketat guna mengendalikan inflasi tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) juga
memberikan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah, menurun dari 3,5 % (2022)
menjadi 3 % (2023) dan 2,9 % (2024), di bawah rata-rata historis 3,8 %
(2000-2019). Secara umum, meskipun prospek pertumbuhan negara-negara berbeda damembentuk
fragmentasi atau divergensi, hampir seluruhnya memiliki tekanan fiskal yang
sama dengan beban utang negara-negara maju (termasuk G7) dan negara-negara
berkembang diproyeksikan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Inilah
yang menjadi concern IMF yang menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang
kredibel, berkelanjutan dan inklusif, disertai kolaborasi antarnegara dalam
memulihkan ekonomi dunia yang divergen. (Yoga)
2024, Rupiah Bakal Kian Perkasa
Ditengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami apresiasi 0,8% secara year to date (ytd) yakni dalam rentang akhir 2022 hingga Rabu (27/12/2023). Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS itu diperkirakan berlanjut pada tahun depan, bahkan kurs rupiah berpeluang menjadi kian perkasa. Disamping kebijakan stabilitas yang dilakukan bank Indonesia (BI), berlanjutnya apresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh aliran masuk portfolio asing, imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi yang positif. Dua faktor lain yang juga diyakini bakal memberi dampak positif adalah persepsi perilaku pasar atas sentimen davish kebijakan The Fed, serta pemilu bisa berlangsung damai. Berdasarkan data yang dihimpun B-Universe Research, kondisi kurs rupiah pada tahun ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kurs mata uang sejumlah negara seperti rupee India yang mengalami depresiasi sebesar 0,7%, yuan Cina (-2,8%), dong Vietnam (-3,1%), ringgit Malaysia (-5,1%) dan yen Jepang (-8,8%). Bahkan, pada periode tersebut, kurs lira Turki terhadap dolar AS terjun bebas hingga 57,3%. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









