Ekonomi
( 40473 )Capres Kembali Sapa Pemilih di Wilayah Basis Dukungan
Ketiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden
kembali menyapa pemilih di wilayah-wilayah yang berpotensi menjadi penyumbang
suara. Daerah-daerah itu, antara lain, menjadi basis suara partai politik
pengusung, basis suara pada pemilu presiden sebelumnya, dan memiliki kantong-kantong
komunitas pendukung yang kuat. Pada Sabtu-Senin (23-25/12) pasangan calon presiden
dan calon wakil presiden nomor urut 1, Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar,
memulai kampanye di Jateng. Muhaimin berkampanye di Kudus, Demak, Kabupaten
Semarang, dan Kota Semarang, sedangkan Anies berkampanye di Brebes, Kabupaten
Semarang, Kota Semarang, dan Rembang. Anies-Muhaimin juga mendapatkan dukungan pengasuh Popes Lirboyo,
Kediri; Ponpes Al Falah Ploso, Kediri; Ponpes Asrama Perguruan Islam Tegalrejo,
Magelang; dan Ponpes Ma’hadul ’Ulum Asy-Syar’iyyah Rembang.
Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo, berkampanye
pula di Jateng, khususnya di SoloRaya. Ganjar menghadiri apel siaga kader PDI-P
di Surakarta, Minggu (24/12). Mantan Gubernur Jateng itu juga menggelar
pertemuan dengan tim pemenangan cabang, calon anggota legislatif, partai
koalisi, dan sukarelawan se-Sragen, Senin (25/12). Calon presiden-calon wakil
presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, tidak melakukan
kampanye dua hari terakhir. Seusai debat cawapres, Gibran berkampanye di DKI
Jakarta dan Manado, Sabtu (23/12). Sementara itu, Prabowo diagendakan kampanye
di Aceh, Selasa (26/12), salah satu wilayah yang memenangkannya di Pilpres
2019. Dalam pidatonya di Sragen, Ganjar meminta pendukungnya untuk
mempertahankan suara pemilih di Solo Raya guna mendukung kandidat yang diusung
PDI-P. Seluruh pengurus, kader, dan simpatisan diminta mengunci ”kandang
banteng” bersama parpol koalisi.
Pada Pemilu 2019, PDI-P menjadi parpol pemenang di Jateng
dengan raihan 5,8 juta suara, diikuti PKB yang menempati urutan kedua dengan
raihan 2,7 juta suara. Anies mengatakan, suara pemilih Jateng tak hanya didominasi
satu parpol. PKB yang menjadi salah satu parpol pengusung Anies-Muhaimin (AMIN)
juga memiliki kekuatan yang tak kalah dengan PDI-P di Jateng karena berada di
urutan kedua. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Juri Ardiantoro, mengatakan, semua daerah ingin
dikunjungi karena memiliki prioritas yang sama. Namun, ada keterbatasan waktu
kampanye yang singkat dan tugas negara yang masih dijalankan Prabowo-Gibran. (Yoga)
”Sek-sek”... Kami Hidup dan Berguru dari Tenun
Tenun tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga jadi
pegangan hidup warga Pringgasela Selatan. Pada motif indahnya tersirat pesan
kehidupan yang berharga. Tonggak budaya itu terus diwariskan secara
turun-temurun dan dijaga bersama-sama. Kalimat ”Mun Ndek Ta Belajar Lekan
Nengka, Punah Tenun Ta” (jika tidak belajar dari sekarang, punah tenun kita)
tertulis pada spanduk di dinding rumah di Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela
Selatan, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (17/12). Di bawahnya, Halwa (10) dan
belasan anak perempuan antusias belajar menenun. Suara ”sek-sek” yang terdengar
saat Halwa mengentakkan belida bercampur riuh suara anak-anak. Ada yang
berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, hingga mencoba berbagai proses
menenun. Para guru yang juga petenun senior dengan sabar mendampingi, jika ada
kesalahan, mereka memberi solusi dan menunjukkan teknik yang benar. Sekolah
tenun itu diinisiasi oleh Kelompok Nina Penenun (perempuan petenun) sejak 2017.
”Tak mungkin orang-orang tua yang umurnya sudah 60-70 tahun
terus kita harapkan untuk menenun. Jadi, kalau bukan dari kita yang regenerasi,
tenun ini tidak ada yang meneruskan, pasti akan punah,” kata Sri Hartini (45),
Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Nina Penenun Pringgasela Selatan. Saat ini,
sudah ada 25 siswa di Sekolah Tenun Kelompok Nina Penenun. Mereka adalah
anak-anak Pringgasela Selatan yang rata-rata masih duduk di bangku SD hingga
SMP. Sekolah tenun berlangsung dua kali seminggu dari pukul 14.00 sampai 17.00.
Saat ini, ada 700 petenun di desa yang berada 40 km timur Mataram, ibu kota
NTB, itu. ”Saya sedang menenun ragi (motif) Bayanan,” kata Raehan (48), warga
Gubuk Lauk, Pringgasela Selatan, Selasa siang.
Selain menenun sendiri, petenun di Pringgasela Selatan mulai
tergabung dalam Kelompok Nina Penenun yang dibentuk sejak 2017. Berkat kelompok
ini, mereka semakin mendapat akses ke pasar sehingga produk mereka semakin
bernilai. Sebelumnya, mereka harus melepas tenunnya dengan harga murah karena
kebutuhan hidup. Bahkan sampai terjerat rentenir. Harga tenun bisa jatuh hingga
Rp 150.000 per lembar. Kini, tenun mereka bernilai Rp 400.000 hingga jutaan
rupiah per lembar. Pesan kehidupan yang tergambar di motif tenun Pringgasela
Selatan adalah warisan berharga yang harus dijaga, sama seperti menjaga tenun
itu sendiri. Ini adalah ikhtiar agar tenun Pringgasela Selatan yang menjadi
sumber ekonomi dan pegangan hidup tidak punah. Dari tenun, mereka hidup dan
berguru. (Yoga)
Ketika Pringgasela Selatan Bangkit dari Tidur
Setelah puluhan tahun tertidur, Desa Pringgasela Selatan
bangkit. Lewat tangan-tangan anak mudanya, berbagai kekayaan yang dulu pernah
terkubur dibangunkan lagi untuk kembali ke identitas sejati warga sebagai
penjaga budaya. Pringgasela Selatan berada di kaki Gunung Rinjani yang subur.
Masyarakatnya mayoritas petani dengan hasil panen tiga kali setahun. Kekayaan
yang melimpah cukup bagi warga untuk hidup sejahtera. Kenyataannya, desa yang
berada di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, ini lebih kaya dari itu.
Desa yang dihuni tiga trah besar, yakni Tanaq Gadang, Sumbawa atau Rempung, dan
Masbage, ini memiliki sejarah dan tradisi kuat. Nizar Azhari (39), pemuda asli
Pringgasela Selatan yang mengenyam pendidikan di Yogyakarta, menemukan kisah
ini saat menggali kembali kekayaan lokal desanya. Nizar adalah daya desa atau
pendamping kebudayaan desa. Ia dan kawan-kawannya dari daya warga dengan
dukungan Kemendikbudristek mencoba menggali kisah lalu Pringgasela Selatan.
Pringga berarti prajurit, Sela berarti batu atau bisa berasal dari kata
Selaparang, nama kerajaan di Lombok.
Leluhur desa ini, lanjut Nizar, dikenal sebagai penjaga,
tetapi bukan penjaga kerajaan, melainkan tanah tempat hidup mereka. Mereka
melawan berbagai invasi, termasuk penjajah yang hendak menguasai wilayah itu.
Kisah heroik mereka diabadikan di sebuah tugu penanda jalan desa. Kuda-kuda
pacu jadi warisan yang pernah ada di desa-desa tersebut. ”Dulu ada banyak kuda
di sini. Setelah kami pelajari sejarah desa, kuda-kuda itu ternyata bagian dari
pasukan kavaleri desa,” kata Nizar. Sayangnya, keberadaan kuda-kuda kavaleri
itu sudah hilang tergeser alat transportasi lain. Pringgasela Selatan juga memiliki
tradisi blanjakan atau bertarung di tengah sawah berlumpur seusai panen padi. Blanjakan
mengandalkan ketangkasan adu kaki, mirip olahraga muay thai. Dari
kepingan-kepingan sejarah itu, para pemuda desa mencoba untuk merekonstruksi
kekayaan lampau mereka. Mereka menemukan musik sejenis gamelan yang dikenal dengan
nama klenang nunggal.
Amak Maisur, sesepuh Pancur Kopong yang ahli bermusik dan sesepuh
lain merangkai melodi menjadi alunan gending dari 23 klenang yang berhasil ditemukan.
Tenun Pringgasela tetap terawetkan hingga kini. Masih ada 600-700 penenun di
Desa Pringgasela Selatan. Temuan-temuan lama dan berbagai kekayaan budaya itu
diangkat dalam Festival Dongdala atau pelangi yang digelar 19-21 Desember.
Festival ini membangkitkan kebanggaan warga Pringgasela Selatan akan kekayaan
budaya mereka. Puncak festival yang berupa pawai Nyiru Jaja Bejangkongan, Rabu
(20/12) mergambarkan semanga warga berpartisipasi dalam mengangkat kekayaan
budayanya. Ribuan orang tanpa diminta turut datang mengikuti pawai memakai baju
terbaiknya untuk tampil. Nizar dan rekan-rekannya masih punya banyak pekerjaan rumah.
Hingga kini, proses temu dan kenali kebudayaan Pringgasela Selatan masih
berjalan, begitu pula pengembangan dan pemanfaatannya. Mereka tak hanya
menggali, tetapi juga menjaga budaya desanya. Jika berhasil, Pringgasela Selatan
bisa menjadi desa yang mandiri dan berdaya. (Yoga)
Menunggu Suara Peluit di Pasar Barter Wulandoni
Suatu pagi pertengahan Agustus 2023 di Lamalera. Matahari
mulai naik saat perjalanan sejauh 7 km melewati jalan rusak menyisir jalan di
pinggir pantai menuju Pasar Barter Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT. Puluhan
pedagang dari pegunungan mempersiapkan dagangan berupa hasil bumi, seperti
pisang, singkong, umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, dan jagung. Sementara
istri-istri nelayan mempersiapkan ikan segar di ember plastik. Sebagian
menggelar ikan belelang, ikan kering yang berbentuk seperti gelang yang terbuat
dari paus, lumba-lumba, ataupun pari manta. Lapak beton yang melingkar mulai
penuh terisi dagangan. Kosmas Dua (64) ditemani seorang petugas linmas mulai
memungut retribusi berupa sedikit hasil bumi dan ikan asin. Retribusi yang
dimasukkan ke karung tersebut akan dilelang setelah penutupan pasar untuk kas
desa. Kosmas mengitari pasar, memastikan semua pedagang sudah siap. Tepat pukul
10.00, peluit ditiup.. pritttt, prittttt.
Suara peluit dijadikan penanda kegiatan pasar barter bisa
dilakukan. Istri nelayan menyerbu lapak, menukar ikan dengan hasil bumi.
Tawar-menawar hanya menunjukkan barang. Kalau kesepakatan pertukaran disetujui
bersama, maka barang akan segera berganti pemilik. Pasar Wulandoni hanya buka
sepekan sekali setiap hari Sabtu. Pasar barter terbesar di Pulau Lembata yang
sudah ada sejak tahun 1830-an ini mempertemukan orang-orang pesisir dan
pegunungan yang saling membutuhkan. Semua hasil barter untuk kebutuhan hidup
sehari-hari, bukan untuk dijual kembali. Pasar barter tak hanya ajang menukar
barang. Selain memangkas rantai pasok, pasar juga mempertemukan dan
mengakrabkan orang-orang pesisir yang sebagian besar Muslim dan orang-orang
gunung yang mayoritas Kristen. Pasar Barter Wulandoni melibatkan warga dari
puluhan kampung yang tersebar dan lebih dari 100 orang dalam transaksi barter
tiap hari Sabtu. (Yoga)
NATAL BERSAMA KELUARGA, SEDERHANA DAN BERMAKNA
Pilihan aktivitas masyarakat untuk merayakan libur Natal dan
Tahun Baru terekam dalam hasil jajak pendapat Kompas 7-9 Desember. Hasilnya,
berkumpul bersama keluarga menjadi kegiatan favorit pengisi libur akhir tahun.
Pengumpulan pendapat dilakukan melalui telepon. Sebanyak 514 responden dari 34
provinsi berhasil diwawancara. Tim Litbang memilih responden secara acak sesuai
proporsi jumlah penduduk di tiap provinsi. Menggunakan metode ini, pada tingkat
kepercayaan 95 %, margin of error penelitian ± 4,35 % dalam kondisi penarikan
sampel acak sederhana. Sebagian besar responden (34,1 %) berencana menjalani
momen Natal ber sama keluarga. Salah satu agenda yang disiapkan ialah menonton
acara hiburan khusus.
Sebanyak 5,1 % responden berencana berlibur ke luar kota
atau ke tempat wisata di sekitar tempat tinggal mereka. Pilihan untuk merayakan
libur Natal dengan sederhana ini terjadi merata di masyarakat, baik yang
tinggal di perkotaan maupun di perdesaan. Kesederhanaan dalam merayakan Natal
juga tercermin dari biaya yang disiapkan oleh masyarakat. Sekitar 22 % responden
menyiapkan dana di bawah Rp 1 juta untuk merayakan Natal. Namun 12 % responden
menyiapkan biaya cukup besar hingga di atas Rp 3 juta. Pilihan publik merayakan
Natal dan akhir tahun bersama keluarga dalam momen kesederhanaan tidak lepas
dari tekanan situasi ekonomi. Kenaikan harga barang-barang, terutama bahan
kebutuhan pokok, membuat publik menghitung ulang dampak daya belinya. (Yoga)
”Pesta Rasa” di Ujung Lidah Bersama RujakNatsepa dan Ikan Asar Pantai Maluku
Pantai Natsepa berada di kawasan Suli, Kabupaten Maluku
Tengah, terkenal sebagai tujuan wisata. Sepanjang jalan dekat pantai ini,
berdiri puluhan kios, menawarkan buah dan kudapan rujak Natsepa yang jadi
kudapan wajib dinikmati di pinggir pantai. Rujak natsepa berisi potongan nanas,
mangga, jambu diguyur saus kacang yang dicampur gula aren, tapi ada yang beda
dengan rujak ini. Pada Rabu (20/12) Ellen Sitanala (42), salah satu penjual,
mengatakan, pembeda utama rujak asal Maluku ini adalah buah tomi-tomi (Flacourtia
inermis) atau lobi-lobi. Rasa kecut dari tomi-tomi menambah kekayaaan rasa
rujak natsepa. Rasa manis mangga ditambah rasa asam tomi-tomi bikin mata ”merem
melek”. Rujak Natsepa juga menggunakan pala dan cengkeh di dalam sambal. Ivona
Tanlain (26), pengunjung Pantai Natsepa asal Langgur, Maluku Tenggara,
menjelaskan, rujak natsepa menjadi salah satu kesukaanya karena berbeda dengan
rujak lain yang hanya mengandalkan manis dan pedas saja. Harganya terjangkau di
kisaran Rp 20.000-Rp 30.000 per porsi. Ke Pantai Natsepa, pelancong bisa
menggunakan transportasi umum atau daring, dari Bandara Internasional Pattimura
dapat ditempuh dalam 20-30 menit.
Selain mencicipi kudapan, Ikan asar jadi favorit di Ambon.
Makanan berbahan dasar ikan cakalang atau tuna ini merupakan ikan yang diasap hingga
kering di atas kayu bakar selama 2-3 jam. Lamanya proses pengasapan untuk
menurunkan kadar air sehingga tekstur ikan menjadi kering tetapi tetap empuk di
bagian dalam. Penjual ikan asar, Stela Sopacua (45), menyebut, kadar air yang
hilang dari ikan membuat makanan ini bisa bertahan 3-4 hari atau bisa lebih
lama apabila disimpan di lemari pendingin. Makanan ini lezat disantap langsung.
Pengunjung juga bisa hanya membeli sambal atau bumbu lainnya. ”Dimakan langsung
sudah enak, tanpa bahan pengawet,” ucap Stela yang berjualan di kawasan Pusat
Oleh-oleh Galala, Ambon, Maluku. Harga ikan asar bervariasi sesuai ukuran dan harga
beli ikan di pasar. Jika ikan sedang murah, satu ikan Asar dijual mulai Rp 90.000
hingga Rp 100.000 per porsi, atau Rp 30.000 per potong. Wisatawan bisa membeli ikan
asar di Pusat Oleh-oleh Galala, Ambon, ataupun di kawasan Batu Meja, Ambon.
Jarak tempuh dari tengah Kota Ambon ke dua lokasi ini hanya 5-10 menit. Ikan
ini jadi oleh-oleh karena bisa bertahan beberapa hari. (Yoga)
Masyarakat Gandrungi Obligasi Negara pada 2023
Masyarakat pada 2023 semakin berminat berinvestasi di
obligasi pemerintah. Peminat obligasi ini mengalami kenaikan paling tinggi
dibandingkan investasi aset keuangan lainnya. Kebanyakan investor adalah
kelompok tabungan menengah. Pertumbuhan dana simpanan nasabah bank yang terbaca
dalam data dana pihak ketiga (DPK) dalam dua bulan terakhir terus menurun. BI
mencatat, total dana masyarakat di bank hanya naik 3,04 % secara tahunan pada
November, turun dari 3,9 % pada Oktober 2023. Pertumbuhan itu hampir hanya sepertiga
dibandingkan dengan 8,08 % pada November 2022 dan 9,01 % pada Desember 2022. Ketua
Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, pada acara Outlook Perekonomian
Indonesia 2024 oleh Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jumat (22/12) mengatakan,
lonjakan kenaikan DPK pada tahun lalu adalah anomali karena kebangkitan ekonomi
pascapandemi. Angka DPK tahun ini justru disebut mendekati tren sebelum pandemi.
Meski demikian, ia melihat, saat ini masyarakat cenderung lebih
berminat menyimpan uangnya di instrumen keuangan lain yang lebih bervariasi. ”Termasuk
dengan kemungkinan investasi di SBN atau juga di pasar modal, atau berkaitan dengan
deposito,” ujarnya dalam acara yang disiarkan secara daring. Gubernur BI Perry
Warjiyo pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (21/12),
juga menyebut rendahnya pertumbuhan penyimpanan uang nasabah di perbankan
dipengaruhi pergeseran ke investasi berupa pembelian obligasi pemerintah.
Pergeseran initerjadi terutama pada kelompok tabungan menengah. ”Ada alternatif
investasi lain, yang dulunya DPK di tabungan perbankan, sekarang bisa beli SBN,
ritel, ataupun investasi-investasi yang lain. Jadi, komponennya di dalam neraca
bank bukan lagi DPK, melainkan ke net claim to government, itu ada perpindahan-perpindahan,”
kata Perry. (Yoga)
”Kerja Rodi” Lahan Pangan
Sektor pertanian pangan Indonesia sedang tidak baik-baik
saja. Permasalahan dan tantangan yang muncul tak hanya mencakup aktor utama, kebijakan,
dan produksi pangan. Tanah sebagai wadah hidup tanaman pangan juga terus dipaksa
”kerja rodi” demi mengejar peningkatan produksi. Sepanjang 2023, La Nina dan El
Nino menampakkan kerapuhan sektor pertanian pangan nasional, terutama pada
sumber pangan utama masyarakat, yakni beras. Berdasarkan hasil penghitungan kerangka
sampel area, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada 2023 turun 650.000
ton, berbeda dengan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) yang
memproyeksikan produksi beras anjlok 1,5 juta ton. Situasi itu memicu kenaikan harga
gabah dan beras. Panel harga Bapanas mencatat, harga rata-rata nasional beras medium
tertinggi terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg, naik 16,24 %
secara tahunan dan 17,49 % di atas HET beras medium di tingkat konsumen di zona
I.
Untuk menstabilkan stok dan harga beras, pemerintah semula
mengalokasikan kuota impor beras sebanyak 2 juta ton, yang kemudian ditambah
1,5 juta ton menjadi 3,5 juta ton. Pada 2024, pemerintah sudah berancang-ancang
akan mengimpor lagi beras sebanyak 2 juta ton. Wajah rapuh sektor pertanian tak
berhenti di situ. Petani yang merupakan aktor utama penyedia pangan masyarakat
juga semakin menua dan mengalami guremisasi.”Hal ini perlu menjadi perhatian
bersama. Pekerja di sektor pertanian yang semakin menua membutuhkan regenerasi
petani yang berkelanjutan. Bertambahnya petani gurem juga dapat menurunkan
kesejahteraan petani,” kata PLT Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin
(4/12). Kini, pola tanam padi (musim tanam/MTI)-padi(MT II)-palawija (MT III)
mulai banyak ditinggalkan daerah-daerah sentra penghasil beras.
Padahal, pola tanam itu bertujuan untuk mengendalikan hama dan
penyakit serta menjaga kesuburan tanah. Kini, pola tanam itu berubah menjadi
padi-padi-padi. Bahkan, pola tanam itu didukung dengan penyediaan sumur-sUmur
bor berbasis listrik di areal persawahan, seperti di Sragen, Jateng (Kompas,
19/9). Sawah yang dipaksa ”kerja rodi” menghasilkan gabah sepanjang tahun itu
dapat menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Apalagi jika tidak diikuti dengan
pola pemupukan yang seimbang, hal itu akan mempercepat berkurangnya ”kesehatan”
tanah. Sebagian besar sawah di Jawa bahan organiknya di bawah 1 persen. ”Lahan
dengan bahan organik di bawah 1 persen merupakan lahan sakit. Kalaupun
ditingkatkan produktivitasnya, hasilnya tetap tidak akan maksimal. Untuk itu,
upaya-upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian juga sangat penting
dilakukan,” katanya. (Yoga)
Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)
”Financial Check Up” di Akhir Tahun
Sebelum tahun 2023 berakhir, perlu dilakukan financial check
up atau pengecekan kondisi keuangan pribadi untuk melihat efektivitas strategi
pengelolaan keuangan yang telah dilakukan dan posisi aset serta utang yang
dimiliki untuk menyusun strategi perencanaan keuangan di tahun 2024, termasuk
mengubah portofolio investasi jika dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu
perhatikan : 1. Menetapkan tujuan keuangan untuk menentukan strategi pengelolaan
keuangan yang akan digunakan, jangka waktu, dan sebagai tolok ukur efektivitas
langkah yang dilakukan.
2. Cek arus kas, pemasukan dan pengeluaran di tahun berjalan
untuk menilai kembali apakah penggunaan dana di tahun berjalan sudah sesuai tujuan
investasi atau terjadi pengeluaran yang tidak tepat sasaran. 3. Evaluasi utang,
termasuk evaluasi jenis utang, dana yang dibutuhkan, dan jangka waktu
pelunasan. Pembayaran utang, khususnya utang berbunga tinggi akan mengurangi
beban keuangan di masa mendatang. 4. Pastikan memiliki dana darurat dan
asuransi. 5. Evaluasi aset dan instrumen investasi untuk mengetahui total
kekayaan yang dimiliki. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









