Ekonomi
( 40473 )Salah Arah Mengatasi Masalah Beras
Pemerintah hendaknya lebih serius lagi dalam memitigasi dampak El Nino yang mempengaruhi anjloknya produksi beras nasional. Musim kering akibat perubahan iklim tersebut menyebabkan mundurnya masa tanam padi yang berimbas bergesernya masa panen raya kali ini. Hal itu berpotensi membuat defisit beras pada 2024 lebih panjang. Sebagai dampak El Nino, musim tanam yang biasanya dimulai pada Oktober-November kini mundur ke Desember 2023, bahkan Januari mendatang. Akibatnya, masa panen ikut mundur dari seharusnya dimulai pada Februari bergeser menjadi Maret atau April 2024.
Konsekuensinya, defisit kebutuhan beras pun bisa menjadi lebih panjang daripada biasanya karena panen raya mundur dari Maret-April menjadi April-Mei atau bahkan Mei-Juni 2024. Kerangka Sampel Area amatan Badan Pusat Statistik pada November 2023 memproyeksikan produksi beras pada Januari dan Februari 2024 hanya sebesar 0,93 juta ton dan 1,32 juta ton. Dengan tingkat konsumsi masing-masing 2,54 juta ton dalam dua bulan tersebut, diprediksi Indonesia mengalami defisit beras 1,61 juta ton pada Januari 2024 dan 1,22 juta ton pada Februari 2024. Bila tidak ada mitigasi yang memadai, stok yang terus menipis itu akan membuat paceklik beras jadi lebih panjang. Harga beras akan terus melambung. Kondisi pangan saat ini akan makin sempoyongan. Ancaman inflasi pun mengintai. (Yetede)
Petani Sawit Berharap Syarat PSR Ditempuh
Disnakertrans Akui Lemah Awasi Smelter
Korban tewas akibat ledakan tungku peleburan nikel di
Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, bertambah lima orang. Total korban tewas
menjadi 18 orang dan puluhan lainnya dirawat secara intensif. Disnakertrans
Sulteng mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan keselamatan dan kesehatan
kerja. Ledakan tungku smelter itu terjadi di PT Indonesia Tsingshan Stainless
Steel (ITSS), Minggu (24/12), salah satu tenant atau penyewa yang beroperasi di
kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kadisnakertrans
Sulteng Arnold Firdaus mengatakan, pihaknya cukup rutin mengawasi dan memantau
lokasi industri, termasuk di wilayah IMIP. Terbaru, tim telah ditugasi
melakukan pengecekan berkala pada awal Desember lalu. ”Berdasarkan pemantauan
dan pengawasan selama ini, sistem K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) di IMIP
lumayan bagus, tidak ada masalah dan berjalan sesuai aturan. Hanya saja, harus
diakui juga pengawasan kami belum sempurna,” kata Arnold, dihubungi Selasa
(26/12) petang dari Kendari, Sultra.
Menurut Arnold, pemantauan dan pengawasan di wilayah
Morowali dilakukan UPT Wilayah II. Unit kerja yang beranggotakan lima orang ini
mengawasi tujuh kabupaten. Di sisi lain, kawasan industri dan fasilitas
pemurnian nikel di beberapa kabupaten tersebut tidak hanya IMIP. ”Untuk IMIP saja
itu tidak cukup satu hari untuk pantau semua. Jadi, memang ada keterbatasan
dari kami juga, baik operasional maupun anggaran,” ucapnya. Saat ini Disnakertrans
Sulteng fokus pada pemantauan bersama tim Kemenaker yang telah tiba di lokasi
kejadian. Hal itu untuk mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja yang merenggut banyak nyawa itu. ”Ke depan, agar kawasan industri
besar seperti IMIP diawasi secara terpadu bersama pemerintah pusat karena kami di
daerah memiliki banyak keterbatasan untuk memantau kawasan, apalagi yang masuk dalam
kategori Proyek Strategis Nasional,” ujarnya. (Yoga)
Aksi untuk Transisi Energi
Transisi energi merupakan cara menjaga kelangsungan
bumi demi masa depan kehidupan yang lebih baik. Di sela-sela dialog bisnis
dalam pertemuan G20 pada 2022 di Bali, Kementerian ESDM memperkirakan,
percepatan transisi energi di Indonesia memerlukan investasi 1 triliun USD, setara
Rp 15.489 triliun, yang dialokasikan guna membangun pembangkit energi baru
terbarukan dan transmisinya hingga 2060. Kebutuhan dana ini masih bisa
bertambah karena ada rencana Indonesia mengakhiri operasi PLTU lebih dini. Transisi
energi, mengutip S&P, merujuk pada peralihan energy global, dari produksi
dan konsumsi berbasis energi fosil menjadi sumber energi terbarukan. Transisi
energi akan terus meningkat seiring prioritas investor terhadap faktor
lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and
governance/ESG). Hal ini didukung kesadaran yang mulai muncul di kalangan
pebisnis dan investor perihal ESG. Mulai banyak pebisnis dan investor yang mempertimbangkan
faktor ESG saat akan berekspansi bisnis atau menambah portofolio investasi.
Namun, kebutuhan dana yang cukup besar dalam transisi energi
tak serta-merta bisa dipenuhi. Perlu upaya guna menggerakkan berbagai pihak
untuk berkomitmen dan merealisasikan komitmen pendanaan itu. Aturan yang mendukung
pembiayaan bisa diterbitkan dan insentif bisa diberikan sebagai penarik, yang akan
memicu pemilik dana mengucurkan pinjaman atau dananya ke proyek transisi
energi. Salah satu insentif, misalnya, diberikan pemerintah melalui bank-bank
BUMN kepada pengusaha yang bergerak di bidang usaha pembangkit listrik.
Insentif berupa pinjaman bersuku bunga rendah akan diberikan kepada pengusaha
yang akan menurunkan emisi atau menerapkan transisi energi dalam kegiatan
bisnisnya. Untuk memperluas transisi energi ke berbagai jenjang, insentif bisa
diberikan kepada publik. Misalnya, memberi kemudahan bagi masyarakat yang ingin
memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di rumah mereka. (Yoga)
Fase Paceklik Beras dan Gula
Indonesia tengah memasuki fase paceklik produksi beras dan
gula. Fase itu dibayangi anomali beras dan gula dunia yang mencerminkan
produksi berlimpah, tetapi harga justru naik. Padahal, Pemerintah Indonesia
tengah membutuhkan kedua komoditas itu sebagai cadangan pangan di tengah
penurunan produksi pada tahun ini. Fase
paceklik produksi beras dan gula di Indonesia diperkirakan terjadi berbarengan,
pada November 2023-Mei 2024. Musim tanam (MT) I padi di sejumlah daerah
produsen beras nasional baru mulai pada November dan Desember 2023 akibat
dampak El Nino, yang menyebabkan panen raya hasil MT I mundur dari Maret-April
2024 menjadi April-Mei 2024. Meskipun tetap ada panen pada Januari-Maret 2024,
hasilnya masih belum berlimpah. Sementara musim giling tebu yang selesai pada November
2023 baru akan dimulai Mei 2024. Pada bulan tersebut, produksi gula belum
banyak sehingga masih mengandalkan sisa stok produksi gula 2023. Karena itu,
penambahan cadangan beras pemerintah (CBP) dan cadangan gula pemerintah (CGP)
sangat diperlukan tahun depan, mengingat produksi beras dan gula pada 2023
diperkirakan anjlok. Kementan memperkirakan produksi beras turun 650.000 ton
hingga 1,2 juta ton.
Asosiasi Gula Indonesia memproyeksikan produksi gula konsumsi turun 120.000 ton. Selain itu, harga beras dan gula masih cukup tinggi. Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, per 22 Desember 2023, harga rata-rata nasional beras medium dan gula konsumsi masing-masing Rp 13.190 per kg dan Rp 17.260 per kg. Dalam setahun, harga beras naik 14,02 % dan gula 17,26 %. Khusus beras, pemerintah berencana memberikan bantuan beras 10 kg bagi setiap keluarga berpenghasilan rendah pada Januari-Juni 2024. Jumlah keluarga penerima manfaat bantuan beras itu bertambah dari 21,3 juta keluarga menjadi 22 juta keluarga. Untuk itu, pemerintah mengalokasikan kuota impor beras 3,5 juta ton pada 2023. Per pekan I Desember 2023, impor beras baru terealisasi 61,91 %. Belum semua kuota impor beras terealisasi, pemerintah telah menetapkan kuota impor beras 2024 sebanyak 2 juta ton guna menambah CBP yang awal tahun depan diperkirakan tinggal 1,2 juta ton. Selain itu, Presiden Jokowi meminta CBP pada tahun depan bisa mencapai 3 juta ton. Terkait CGP, pada tahun ini pemerintah telah meminta perusahaan swasta dan milik negara mengimpor 990.000 ton gula mentah dan 215.000 gula konsumsi. Per pekan I Desember 2023, impor gula mentah baru terealisasi 79,15 % dan gula konsumsi 57,82 %. (Yoga)
Industri Asuransi Dukung Penerapan PSAK 74
Pedagang Pasar Mardika Telantar karena Permasalahan Sewa Kios
Rencana relokasi pedagang Pasar Mardika di Ambon, Maluku, ke
gedung baru masih menghadapi kendala karena persoalan data dan harga sewa kios
pasar yang dinilai terlalu mahal. Pedagang pun terpaksa berjualan di luar pasar.
DPRD Maluku membentuk panitia khusus guna mengungkap persoalan relokasi tersebut.
Pasar Mardika menurut rencana menjadi pasar modern pertama di Maluku. Revitalisasi
pasar ini jadi salah satu program modernisasi pasar yang dilakukan oleh
pemerintah pusat di provinsi tersebut. Dari pantauan di lapangan, Selasa (26/12)
pembatas berupa seng yang sebelumnya menutupi gedung baru Pasar Mardika sudah
dibongkar. Pedagang Pasar Mardika, Fatimah Maraban (40), menjelaskan, dirinya
menjadi salah satu pedagang yang akan pindah ke pasar baru ini. Fatimah yang masih
berdagang tepat di luar Pasar Mardika berharap dirinya dan puluhan pedagang
lain bisa segera menempati gedung baru tersebut.
Proses relokasi dari sisi jalan ke dalam gedung terhambat akibat
adanya permasalahan biaya sewa dan sengkarut pendaftaran kios. Adanya perbedaan
data penyewa membuat pemerintah melakukan pendataan uang. ”Belum ada jadwal pasti
mengenai penempatan pedagang karena sempat ada penundaan registrasi dan
verifikasi data ulang. Dalam waktu dekat akan pendataan ulang lagi. Harapannya,
bisa segera ditempati karena beberapa pedagang juga sudah membayar sewa untuk masuk
ke dalam,” tuturnya. Pengelola Pasar Mardika menetapkan biaya sewa sebesarRp 600.000
per bulan untuk sewa kios buah dan sayur serta Rp 1,2 juta per bulan untuk kios
bahan-bahan kebutuhan pokok. Menurut rencana, puluhan pedagang yang masih
berjualan di sisi jalan akan dipindahkan ke gedung baru ini. Halimah Kailulu
(42), pedagang buah, mengatakan, biaya sewa tersebut masih terlalu besar untuk
dirinya yang memiliki penghasilan tidak tetap. Ia berharap pemerintah dan
pengelola dapat memberikan harga yang sesuai nilai keekonomian pedagang. (Yoga)
Petani Manfaatkan Lahan Sisa di Kampung Susun Bayam
Sebanyak 27 petani di Kampung Susun Bayam, Kelurahan
Papanggo, Tanjung Priok, Jakut, mulai menanam sejumlah komoditas pangan di
lahan tersisa di tempat tinggal mereka. Walau tak sebanyak kala Kampung Bayam
masih berdiri sebelum digusur untuk proyek Jakarta International Stadium (JIS),
cara ini dianggap solusi untuk menyambung hidup. Ketua Kelompok Tani Kampung
Bayam Madani Muhammad Furkon, Selasa (26/12) menyebutkan, 27 petani memanfaatkan
lahan yang ada di Kampung Susun Bayam sekitar 1 hektar untuk menanam cabai,
bayam, dan timun suri. ”Komoditas ini kami persiapkan untuk menyambut bulan puasa,”
kata Furkon. Luas lahan tersisa di Kampung Susun Bayam memang tidak sebanding
ketika Kampung Bayam belum dialihfungsikan menjadi stadion. Ketika Kampung
Bayam masih berdiri, ada 26 hektar lahan yang bisa digunakan sebagai lahan pertanian
dan tambak. Kini, jumlah lahan yang bisa dimanfaatkan hanya 1 hektar.
Furkon menuturkan, ilmu dari pelatihan pertanian yang
dimulai 2017 menjadi bekal mengolah lahan telantar menjadi lahan yang lebih produktif.
Kala itu, mereka diajari untuk membuat pupuk cair, pakan ternak dan ikan, serta
pola penanaman lahan sehingga bisa mendongkrak produktivitas di tengah
keterbatasan lahan. Termasuk memasarkan produk hasil pertanian. ”Dengan adanya
lahan (walau sangat terbatas), kami bisa memperoleh penghidupan,” ucap Cecep,
anggota Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, yang masuk ke Kampung Bayam pada
2006. Cecep meyakini, hasil yang diperoleh tidak sebanyak ketika mereka tinggal
di Kampung Bayam. Sebelum digusur, ia memperoleh hingga Rp 5 juta per bulan
dari tambak dan bertani. ”Karena dipindah dan tidak memiliki ruang bertani,
pendapatan merosot Rp 700.000 hingga Rp 2 juta per bulan,” ujar Cecep. Untuk menambah
pendapatan, beberapa petani terpaksa mencari pendapatan lain, seperti menjadi penjual
minuman dan buruh lepas. (Yoga)
Siasat Bertahan Hidup di Jakarta
Biaya hidup tinggi memaksa warga Jakarta bersiasat agar bisa
bertahan. Ada yang mencari cuan tambahan dengan mencari pekerjaan sampingan
hingga memilih hidup prihatin guna menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran. Noer
(50), penjual rujak ulek di Pasar Rawajati, Pancoran, Jaksel, menjual tiap
porsi rujak ulek Rp 15.000. Sudah 35 tahun Noer menjadi pedagang rujak ulek.
Dari sana ia membiayai hidupnya dan keluarga. Ia memilih hidup sendiri,
sementara istri dan anak di Brebes, Jateng. ”Biaya hidup di Brebes lebih murah
dibanding harus tinggal di Jakarta,” kata ayah tiga anak ini, Selasa (26/12). Penghasilannya
per hari berkisar Rp 100.000-Rp 150.000 per hari, tergantung jumlah pelanggan
yang datang. Agar bisa mengirim uang ke keluarganya, Noer memilih hidup dengan
biaya makan tak lebih dari Rp 50.000 per hari dan tinggal di kosan kecil Rp 1,5
juta per bulan. Noer merasa biaya hidup di Jakarta setiap tahun kian tinggi.
”Jika menjual rujak tidak lagi cukup, saya memilih pulang ke Brebes,” ucapnya. Yeski
Kelsederi (31), warga Pancoran, Jaksel, juga harus mengelola keuangan agar gajinya
sebagai ASN cukup untuk sebulan. Dalam sebulan, ia mengeluarkan uang Rp 15
juta-Rp 20 juta. ”Beruntung suami saya juga bekerja sehingga kami bisa berbagi
beban,” lanjutnya. Melihat dari komposisi kebutuhan, biaya tertinggi adala
untuk makan dan biaya transpor sehari-hari, biaya untuk sekolah bagi anak
tunggalnya, sewa rumah, dan tagihan listrik.
”Terkadang, untuk memenuhi kebutuhan, suami saya mencari
pekerjaan tambahan di luar kantornya,” ujar Yeski. Di kawasan padat penduduk,
sejumlah warga memilih tinggal berdesakan di satu rumah. Fenomena ini terlihat
di Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakpus. Irma Suryani (55) tinggal bersama
11 anggota keluarganya di rumah dua lantai dengan luas 22 meter persegi dengan
kamar mandi 1 x 1 meter yang digunakan bersama empat tetangga. Mereka memilih
hidup berdesakan guna menekan biaya. Di wilayah itu, sebagian besar warga bekerja
sebagai pedagang, pengamen, dan tukang parkir. Berdasarkan Survei Biaya Hidup
Tahun 2022 yang dikeluarkan BPS, kebutuhan biaya hidup rumah tangga di Jakarta
mencapai Rp 14,88 juta per bulan., tertinggi di Tanah Air. Anggota Fraksi PKS
DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, meminta Pemprov DKI Jakarta mencermati kenaikan
biaya hidup itu karena tidak sebanding dengan upah minimum provinsi (UMP) 2024
sebesar Rp 5.067.381. Biaya hidup di Jakarta bertambah Rp 1,43 juta dari survei
tahun 2018 sehingga menjadi Rp 14,88 juta, sedangkan UMP bertambah Rp 1.419.346
dari tahun 2018 sehingga menjadi Rp 5.067.381. ”Perlu ditinjau lagi besaran
upah di Jakarta. Harus ada penyesuaian dengan tuntutan biaya hidup. (Yoga)
Hilirisasi Nikel Morowali Terus Memakan Korban
Proyek smelter nikel yang dibanggakan pemerintah terus dibayangi masalah. Tak hanya masalah minimnya penciptaan lapangan kerja, kini penerapan standar keselamatan kerja (K3) yang menyebabkan maraknya kecelakaan kerja di pabrik pengolahan nikel yang ada di Indonesia disoal.
Insiden ini pula yang kerap terjadi di sejumlah pabrik smelter nikel di kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Sejauh ini, sudah tiga kali terjadi kecelakaan kerja fatal di smelter nikel yang menghuni kawasan industri IMIP. Semuanya menelan korban jiwa dari kalangan pekerja.
Desakan itu salah satunya datang dari Komisi VII DPR RI. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno mendesak dilakukannya audit fasilitas smelter ITSS, serta seluruh fasilitas smelter yang ada di kawasan IMIP.
Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi juga menyampaikan, insiden ITSS menunjukkan lemahnya perhatian investor smelter terhadap standar K3. Perhatian pemerintah terhadap aspek ini juga dinilai rendah.
Menurut Fahmy, penerapan standar K3 harusnya mengacu pada standar internasional, bukan standar nasional maupun standar negara investor. Untuk itu, Fahmy juga mendesak pemerintah untuk tidak mengabaikan aspek keamanan dalam hal investasi.
Pemerintah memang tak tinggal diam. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemperin), Febri Hendri Antoni Arif bilang, pihaknya akan mengirim tim untuk melakukan audit langsung ke lokasi smelter.
Walhi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan, dari beberapa peristiwa kecelakaan kerja di lingkungan smelter nikel yang ada di Morowali, tak satupun perusahaan yang dijatuhi sanksi atas kejadian yang merenggut nyawa para pekerjanya itu.
"Tapi tak ada yang disanksi. Sebaliknya, perusahaan malah memberi sanksi ke para pekerja yang menuntut hak mereka," ujar Aulia Hakim, Kepala Advokasi dan Kampanye Walhi Sulteng, Selasa (26/12).
Di sisi lain, keberadaan belasan smelter nikel di wilayah itu juga dinilai belum bisa mengangkat kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Riset yang dilakukan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) mengungkap fakta, pertumbuhan ekonomi di Morowali tidak seluruhnya dinikmati warga lokal.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









