;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Pengangguran Meningkat akibat Ekonomi Melambat

06 May 2025

Adanya stagnasi pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 melambat dibanding pertumbuhan pada triwulan I-2024. Perlambatan ini turut dibayangi kenaikan jumlah penganggur yang semakin mengancam pelemahan konsumsi masyarakat. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan pada triwulan I-2025 adalah 4,87 %, lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi secara tahunan pada triwulan I-2024 di 5,11 %. Dalam konferensi pers secara hibrida, Senin (5/5) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyebut pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 ditopang oleh pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga dan ekspor yang tumbuh secara tahunan sebesar 4,89 % dan 6,78 %.

”Komponen pengeluaran yang tumbuh tinggi adalah ekspor, didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas dan kunjungan wisatawan mancanegara. Konsumsi rumah tangga tumbuh didorong momen Ramadhan dan liburan Idul Fitri di akhir Maret 2025,” ujarnya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2025 sejalan dengan stagnasi pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga triwulan I-2025 berbanding pada triwulan I-2024. BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada triwulanI-2025 tumbuh 4,89 % secara tahunan. Sementara pada triwulan I-2024, pertumbuhan tahunan konsumsi rumah tangga sedikit lebih tinggi, di level 4,91 %.

Secara historis, konsumsi rumah tangga memang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai, perlambatan kinerja konsumsi masyarakat sebelumnya telah terindikasi dari hasil Survei Konsumen BI pada Maret 2025 yang menunjukkan pelemahan indeks pendapatan dan pembelian barang tahan lama, terutama dari kelompok pendapatan menengah bawah. ”Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap daya beli,” ujarnya. Stagnasi pada pertumbuhan konsumsi masyarakat sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja pemerintah secara tahunan yang pada triwulan I-2025 terkontraksi 1,38 %. (Yoga)


Pamit Mundurnya ”Sang Penyihir Wall Street”

06 May 2025

Warren Buffett (94), miliarder pemilik konglomerasi Berkshire Hathaway, mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Sabtu (3/5) waktu Omaha, Nebraska, AS. Pengumuman ini mengejutkan publik karena semua orang menduga Buffett akan memimpin perusahaan itu sampai akhir hayat. ”Saya akan mundur per akhir 2025. Setelah itu, Greg yang akan mengambil alih,” kata Buffett ketika memimpin rapat perusahaan. Greg ialah Greg Abel (62), Wakil Dirut Berkshire Hathaway, alias orang nomor dua di perusahaan itu. Ketika pengumuman disampaikan Buffett, bahkan Abel tak mengetahui rencana itu. Buffett hanya mengungkapkannya kepada anak-anaknya, Susie dan Howard.

Buffett adalah penanam modal paling sukses di AS. Ia dijuluki ”penyihir Wall Street” dan ”peramal dari Omaha” saking hampir semua investasinya berhasil. Ia membeli Berkshire Hathaway, perusahaan tekstil berukuran menengah pada 1962, dan menyulapnya menjadi konglomerasi sukses. Nilai Berkshire Hathaway sekarang 1 triliun USD. Perusahaan ini memiliki aset liquid sebesar 300 miliar USD. Buffett menjabat direktur utama Berkshire Hathaway, juga memiliki 30 % saham konglomerasi. ”Semua harta saya tetap akan diinvestasikan di Berkshire Hathaway,” ujarnya.

Satu bulan terakhir, Buffett keras mengkritik kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump kepada semua negara. Akibatnya, perdagangan internasional tersendat. Ia mengatakan, perdagangan internasional bukan soal menang-kalah, melainkan soal sama-sama mencapai kesejahteraan. Di AS, ada banyak miliarder, tetapi Buffett berbeda dari mereka. Hidup Buffett bisa dibilang sederhana jika dibandingkan dengan miliarder lain. Ia kemana-mana menyetir mobil sendiri. Buffett setiap hari masih makan siang di restoran langganannya sejak muda. Menu yang wajib ada adalah minuman soda Coca-Cola. (Yoga)


Tren Optimistis IHSG

06 May 2025

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan kedua Mei 2025 melanjutkan tren kenaikan harga atau bullish sejak pertengahan April lalu. Tren ini terjadi di tengah banyaknya tantangan ekonomi dari dalam dan luar negeri, dari potensi penurunan suku bunga The Fed yang tidak signifikan hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. IHSG, Senin (5/5) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan. Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, mengatakan, IHSG mulai menunjukkan kenaikan sejak minggu lalu ketika berhasil menguat 2 % ke level 6.815.

Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, asing kembali melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total Rp 300 miliar. Pada waktu bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menguat selama pekan lalu, dengan ditutup pada angka Rp 16.400 per USD, posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025. ”Faktor penggerak IHSG pada minggu ini salah satunya dari aliran dana asing yang tercatat mulai masuk ke bursa saham Indonesia pada minggu lalu. Aliran dana asing tercatat net buy (melakukan pembelian bersih) sebesar Rp 292 miliar dalam kurun waktu seminggu terakhir,” tuturnya kepada Kompas. (Yoga)


Kredit Pemilikan Rumah Terdampak Melemahnya Ekonomi

06 May 2025

Pelemahan daya beli masyarakat kian kentara dan tampak dari melambatnya laju pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2025. Kondisi ini turut dirasakan industri perbankan dalam penyaluran kredit konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR). Bank akan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi makro dan global dalam menentukan suku bunga kredit. Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 jauh di bawah perkiraan dan ekspektasi pasar yang masih berada dalam kisaran 4,9 %.

”Perlambatan yang signifikan dari 5,02 % pada triwulan IV-2024 dan laju paling lambat sejak triwulan III-2023 menggaris bawahi tantangan yang terus berlanjut saatini dan mencerminkan permintaan domestik yang kurang optimal,” katanya, Senin (5/5). Porsi konsumsi rumah tangga juga menyusut dari triwulan I-2024 di 54,9 % menjadi 54,5 % pada triwulan I-2025. Perlambatan tersebut turut berdampak terhadap kinerja industri perbankan, khususnya penyaluran kredit konsumtif. Ini telah terefleksi dari pertumbuhan kredit konsumsi rumah tangga oleh perbankan yang turut melambat, khususnya KPR.

Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI), kredit rumah tangga oleh perbankan per Maret 2025 mencapai Rp 1.868,55 triliun atau tumbuh 9,49 % secara tahunan, melambat dibanding Februari 2025 di 10,52 % dan Maret 2024 sebesar 10,35 %. Pertumbuhan KPR sebagai komposisi terbesar dalam kredit rumah tangga pun ikut merosot, dari tumbuh dua digit sepanjang setahun terakhir menjadi 8,9 % pada Maret 2025. Adapun porsi penyaluran KPR rumah tangga mencapai 42,99 % dari total kredit rumah tangga perbankan. (Yoga)


Nasib RI di Tengah Perang Otomotif

06 May 2025

Kebijakan Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur membuat produsen mobil asing harus mendirikan pabriknya di AS dan menggunakan konten lokal AS. Proklamasi itu mengubah tarif terhadap mobil dan suku cadang dengan mendorong produsen merakit mobil di AS. Lewat kebijakan itu, semua impor mobil dikenai tarif 25 %. Meski begitu, jika produsen membuat mobil di AS dengan 85 % konten AS, produsen itu tidak dikenai tarif atas produksi kendaraan untuk tahun pertama. Selanjutnya, jika produsen membuat mobil di AS dengan 50 % konten lokal berasal dari AS dan 50 % diimpor dari tempat lain, produsen hanya membayar 35 % untuk tahun pertama.

Sejumlah ekonom menilai, tarif Trump itu dapat menyebabkan produksi otomotif AS lebih tinggi dalam jangka panjang. Namun, kebijakan itu menyakitkan bagi konsumen AS dan ekonomi untuk jangka pendek. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin Minggu (4/50, menilai tarif Trump akan membuat harga mobil impor di AS meningkat sehingga mengurangi permintaan mobil. Trump berharap produsen AS bisa melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan produksi. Indonesia tidak akan terlalu terdampak langsung karena pasar otomotif di AS dan di Indonesia sangat berbeda. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menuturkan, tarif Trump tetap perlu diperhatikan karena adanya gangguan rantai pasok global dan risiko perang dagang yang dapat mengurangi permintaan produk komponen mobil Indonesia di pasar AS.

Berkurangnya permintaan itu akibat semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan para importir suku cadang tersebut di AS. Di sisi lain, tarif Trump itu akan membuka peluang hilirisasi industri lokal Indonesia, terutama ban dan bagian komponen lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. Celah ini harus dilihat sebagai peluang oleh Indonesia karena industri mobil Jepang dan Korsel di pasar AS memerlukan komponen elektrik dan transmisi dari Thailand dan Vietnam yang akan merasakan dampak ganda karena tarif tinggi dari AS. ”Peluang ekspor ke AS tetap terbuka jika Indonesia mampu bersaing dengan kualitas dan harga dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam,” katanya. (Yoga)


RI Hadapi Tantangan Baru dalam Pemulihan Ekonomi

06 May 2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 4,87% pada kuartal I/2025 menunjukkan tren perlambatan sejak 2023, sehingga membuat target ambisius 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin sulit tercapai. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan ini masih relatif kuat dibanding negara-negara G20, namun pelaku usaha seperti yang disampaikan oleh Ketua Apindo Shinta W. Kamdani masih cenderung wait and see akibat tingginya ketidakpastian investasi.

Ekonom Fithra Faisal Hastiadi dari Samuel Sekuritas memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 hanya tumbuh 4,8%, disebabkan oleh daya beli rendah, suku bunga tinggi, serta regulasi yang belum mendukung. Sementara itu, Mohammad Faisal dari Core Indonesia menilai pertumbuhan 8% tak realistis, tapi angka di atas 6% masih mungkin asal investasi dan konsumsi masyarakat meningkat signifikan. Semua pihak menekankan pentingnya reformasi struktural, penyederhanaan regulasi, dan percepatan belanja pemerintah sebagai kunci pemulihan ekonomi.

Merancang Arah Kebijakan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

06 May 2025
Di tengah meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang ekonomi yang signifikan. Aksi saling balas tarif antara dua kekuatan global itu telah mendorong pergeseran arus perdagangan dan investasi ke kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi potensial.

Meski Presiden Xi Jinping tidak menyertakan Indonesia dalam kunjungannya ke beberapa negara ASEAN baru-baru ini, hal itu dinilai bukan penolakan diplomatik, melainkan karena hubungan bilateral Indonesia–China telah terjalin erat dan stabil.

Di dalam negeri, pemerintah merespons lonjakan barang impor dari China akibat redireksi pasar dengan menerapkan bea masuk tambahan seperti BMTP dan BMAD untuk melindungi sektor industri dalam negeri, terutama tekstil. Namun, di sisi lain, Indonesia juga berhasil menarik investasi manufaktur dari China, seperti pembangunan pabrik tekstil besar di Jawa Barat yang akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Tokoh penting seperti Pratama Persada (CISSREC) sebelumnya menyoroti pentingnya keamanan data dalam konteks digitalisasi, namun dalam konteks artikel ini, fokusnya lebih pada strategi ekonomi nasional. Pemerintah, melalui kebijakan penghiliran industri yang dipimpin oleh Presiden dan jajarannya, berhasil mendorong peningkatan ekspor produk olahan seperti nikel dan kelapa sawit, yang terbukti lebih tahan terhadap guncangan global.

Namun demikian, agar tidak tertinggal dari negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia, Indonesia harus segera menyederhanakan regulasi investasi, memperkuat kepastian hukum, dan menyesuaikan pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan rantai pasok global. Dalam kondisi global yang semakin kompetitif, arah kebijakan jangka panjang seperti penguatan industri berbasis inovasi dan reformasi struktural menjadi sangat krusial untuk meningkatkan daya saing nasional.

Energi Terbarukan Jadi Pilar Cegah Krisis Listrik

06 May 2025
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang dipimpin Eniya Listiani Dewi mendorong kelanjutan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bedugul sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya insiden pemadaman listrik total (blackout) di Bali. Insiden blackout sebelumnya terjadi akibat gangguan pada kabel laut tegangan tinggi (SKLT) yang menghubungkan sistem kelistrikan Jawa-Bali, sehingga membuat pasokan daya ke Bali terputus total.

PLTP Bedugul dinilai strategis karena mampu memperkuat kemandirian energi Bali dengan sumber energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik dari Jawa. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi geografis Bali yang rentan terhadap gangguan jaringan lintas pulau.

Sementara itu, Helmy Rosadi, Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, menegaskan bahwa pembangkitnya tidak terlibat dalam penyebab blackout, yang murni berasal dari gangguan transmisi eksternal. Ia menyebut gangguan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Jawa Timur sebagai pemicu utama yang menyebabkan ketidakseimbangan daya dan anjloknya frekuensi listrik di Bali.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga menugaskan PT PLN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem operasional dan prosedur penanganan gangguan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Keseluruhan upaya ini menunjukkan pentingnya diversifikasi dan penguatan infrastruktur energi lokal, terutama berbasis sumber daya terbarukan.

Digital ID: Inovatif, Tapi Perlu Pengawasan Ketat

06 May 2025
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menghentikan sementara layanan Worldcoin dan WorldID karena tidak sesuai perizinan dan minimnya sosialisasi publik. Dirjen Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar menyatakan bahwa langkah ini bersifat preventif untuk melindungi masyarakat dari potensi risiko. Layanan ini dioperasikan oleh PT Terang Bulan Abadi dan PT Sandina Abadi Nusantara, yang belum memiliki TDPSE yang sah.

Perusahaan induk Tools for Humanity (TfH) menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan pemerintah dan menegaskan bahwa teknologinya aman serta tidak menyimpan data pribadi pengguna. Namun, muncul kekhawatiran dari para pakar, seperti Pratama Persada dari CISSREC, yang menyoroti risiko serius terhadap privasi akibat pengumpulan data iris mata yang bersifat permanen. Ia menekankan pentingnya regulasi dan transparansi dalam pengelolaan data biometrik.

Di sisi lain, Alfons Tanujaya, pemerhati keamanan siber, menilai bahwa jika dikelola dengan baik dan transparan, WorldID dapat menjadi solusi untuk mengatasi bot, buzzer, serta penyalahgunaan identitas di ranah digital. Namun, ia juga menggarisbawahi perlunya enkripsi kuat dan audit independen untuk menjaga kepercayaan publik.

Meskipun WorldID menjanjikan manfaat dalam keamanan digital dan identitas, pelaksanaannya di Indonesia perlu disertai kepatuhan hukum, edukasi publik, dan pengawasan ketat guna mencegah potensi penyalahgunaan data pribadi.

Penyelundupan Narkoba Lintas Negara Berhasil Digagalkan

06 May 2025
Bareskrim Polri, di bawah pimpinan Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 38 kilogram asal Malaysia yang masuk melalui perairan Aceh. Pengungkapan ini merupakan hasil operasi gabungan Satgas Narcotic Investigation Center (NIC) bersama Polda Aceh, Polres Langsa, dan Bea Cukai. Salah satu pelaku berinisial S berhasil ditangkap di Aceh Timur dengan barang bukti 18 bungkus sabu siap edar. Eko menegaskan bahwa Satgas NIC akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap bandar besar di balik jaringan narkotika lintas negara tersebut.