Ekonomi
( 40465 )Presiden Minta Pernyataan soal Kampanye Tidak Ditarik Kemana-mana
Mitra Pack Masuk LQ45, Penilaian BEI Dipertanyakan
Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor sejumlah indeks pada bulan ini. Salah satu rebalancing indeks yang cukup menyita perhatian pelaku pasar adalah LQ45. Sebab, Saham PT Mitra Pack Tbk (PTPM) tiba-tiba merangsek masuk menggeser emitan milik Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan emiten menara, PT Towers Bersama Infrastucture Tbk (TBIG). Selain dua emiten tersebut, rebalancing indeks LQ45 juga mendepak PT Indika Energy Tbk (IND) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dari daftar saham likuid. Sebagai gantinya, BEI kemudian memasukkan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MTEL), dan PT Pertamina Geothormal Energy Tbk (PGEO), disamping PTMP. Masuknya PTMP sebagai konstituen LQ45 layaknya kuda hitam yang mendadak memunculkan perbincangan di kalangan para pelaku pasar. Sebab, diukur dari sisi likuiditas dan fundamental, PTPM dinilai tidak layak menjadi penghuni indeks LQ45. Bahkan yang paling ekstrem, kehadiran PTPM dibarisan saham-saham unggulan dipandang seabagai pesenan. (Yetede)
Gandeng Fintech, Bank Mandiri Kuncurkan Kredit Rp 3,58 Triliun
Ada Saham Lapis Tiga Masuk LQ45
SAMF Memupuk Kinerja Tumbuh 7%
TENAGA BARU INDEKS UTAMA
Perubahan konstituen sejumlah indeks utama di Bursa Efek Indonesia pada awal Februari 2024 menjadi angin segar bagi para pelaku pasar modal di tengah tren kinerja yang terlihat mulai melemah seiring dengan kian dekatnya momentum Pemilu 2024.Pasar modal Indonesia cukup lesu pada pekan ini. IHSG turun 3 hari beruntun dan ditutup di level 7.137,09 kemarin. Gerak IHSG yang berbalik melemah 1,25% dalam sepekan bertolak belakang dengan kinerja awal tahun yang sempat mencetak rekor di posisi 7.359,76.Di tengah tren ini, BEI mengumumkan hasil evaluasi mayor tiga indeks besar, yakni LQ45, IDX30, dan IDX80 pada Kamis (25/1). BEI mengganti sejumlah emiten di ketiga indeks tersebut dengan nama-nama baru, yang tentu dinilai lebih layak menjadi penghuni.
Di LQ45, misalnya, akan kedatangan empat emiten baru, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), dan PT Mitra Pack Tbk. (PTMP).
Keempat emiten ini juga turut menjadi penghuni di IDX30 dan IDX80. PGEO menjadi pendatang baru di kedua indeks tersebut, sedangkan MBMA dan PTMP hanya masuk di IDX80. Sementara itu, MTEL sudah lebih dahulu menjadi penghuni lama di IDX80.
Sementara itu, di IDX80, saham AUTO justru turun 3,88% ke level Rp2.230. Lalu GJTL turun 1,42% ke level Rp1.045, TRON turun 0,82% menjadi Rp242, dan WIFI turun 1,29% menjadi Rp153.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan besar kecilnya daya dongkrak emiten-emiten baru ini terhadap kinerja setiap indeks akan bergantung pada bobot emiten masing-masing dalam indeks tersebut.
Secara khusus, dia menyoroti MBMA, MTEL, dan PGEO di LQ45 yang menurutnya memiliki potensi kenaikan valuasi di masa depan. Sementara itu, ACES dan ICBP menjadi dua emiten baru yang positif di IDX30.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai saham-saham calon penghuni baru ketiga indeks tersebut tergolong undervalue dan menarik untuk menjadi watchlist trading maupun investasi.
Sementara itu, BEI memastikan penetapan konstituen indeks ini sudah mengikuti parameter kuantitatif dan kualitatif yang ketat guna memastikan ketiga indeks ini dapat menopang pertumbuhan portofolio manajer investasi yang lebih optimal.Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, secara khusus menyoroti polemik yang beredar ihwal masuknya saham PTMP ke dalam jajaran penghuni indeks LQ45 dan IDX80, padahal emiten ini relatif kecil di pasar, baik secara valuasi maupun aktivitas transaksinya.
Terkait dengan saham PTMP ini, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pergerakannya sedang berada di fase uptrend. Kabar masuknya PTMP ke dalam dua indeks utama sekaligus menjadikan volume transaksinya memang meningkat signifikan.
Tsunami Impor, ”Reseller” Marak
Hampir seluruh UMKM di lokapasar berstatus sebagai mitra penjual
alias reseller. Barang yang mereka jual, 90 % adalah produk impor. Jika
struktur ini dibiarkan, nilai ekonomi digital di Indonesia yang diproyeksi
mencapai 210 miliar USD atau Rp 3.323 triliun pada 2030 tidak akan memberikan
nilai tambah pada perekonomian nasional. Berdasarkan riset oleh Continuum Data
Indonesia dan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) 98,2 %
toko yang ada di lokapasar Indonesia adalah UMKM, dan hanya 6,28 % UMKM yang
melakukan aktivitas produksi. Mayoritas, 93,72 %, adalah UMKM sebagai mitra penjual
alias reseller. Berdasarkan data dari Google, Temasek, dan Bain yang diolah
Indef, sejak 2019 hingga proyeksi 2025, penopang pertumbuhan nilai ekonomi
digital di Indonesia adalah lokapasar dengan nilai 62 miliar USD atau Rp 984
triliun pada 2023.
Nilai ekonomi dari sektor lokapasar jauh di atas nilai
ekonomi dari sektor-sektor digital lain di pasar nasional, seperti transportasi
dan makanan, perjalanan dan pariwisata, serta media daring. Staf Khusus Menkop
UKM, Muhammad Riza Damanik, menilai data itu menunjukkan digitalisasi UMKM di
sektor produktif masih rendah. Jika kondisi ini tidak dibenahi, nilai pasar
ekonomi digital nasional yang besar tidak akan berdampak signifikan pada
pembukaan lapangan pekerjaan hingga penurunan angka kemiskinan dalam negeri. ”Digitalisasi
UMKM yang kami bayangkan dan tuju adalah UMKM tidak sekadar masuk dalam
lokapasar menjadi reseller, tetapi bagaimana UMKM bisa menjadi bagian dari
ekosistem produksi dalam negeri,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk
”Transformasi UMKM Menggenggam Peluang Digital di Tahun 2024” yang berlangsung
daring, Kamis (25/1).
Produk impor, yang kebanyakan berasal dari China, mendominasi
lokapasar Tanah Air karena adanya praktik predatory pricing yang menyebabkan
harga produk impor berada jauh di bawah harga produk lokal. Saat ini, terdapat
sejumlah strategi yang sedang dilakukan pemerintah untuk menggenjot kapasitas
dan jumlah UMKM di sektor produktif dalam rantai ekonomi digital nasional.
Salah satunya penguatan regulasi untuk menghilangkan praktik predatory pricing
lewat Permendag No 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan,
Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan. (Yoga)
Dunia Usaha Akan Lebih Aktif Rekrut Karyawan
Sebanyak 45 % dari 1.180 orang perekrutan profesional yang
disurvei penyedia laman lowongan kerja Jobstreet by Seek meyakini aktivitas
perekrutan tenaga kerja pada paruh pertama 2024 lebih aktif dibandingkan tahun
sebelumnya. Perusahaan skala kecil dan menengah memimpin rencana perekrutan
pegawai tetap dan kontrak pada semester I-2024. ”Kepercayaan terhadap pasar
tenaga kerja masih tinggi. Iklim ekonomi di Indonesia dipandang masih
menjanjikan,” ujar Country Marketing Manager Jobstreet by Seek untuk Indonesia,
Sawitri, saat peluncuran laporan survei Rekrutmen, Kompensasi, dan Manfaat
2024, Kamis (25/1) di Jakarta. Survei Jobstreet by Seek dilakukan pada
September 2023. Jumlah responden yang mencapai 1.180 orang perekrutan profesional
itu datang dari perusahaan besar atau mempunyai 100 karyawan lebih (49 %), perusahaan
skala menengah atau memiliki 51-99 karyawan (16 %), dan perusahaan kecil atau
memiliki karyawan hingga 50 orang (35 %).
Latar belakang perusahaan responden beragam, dari manufaktur;
teknologi informasi, listrik, elektronik, dan telekomunikasi; serta ritel dan perdagangan.
Dilihat dari latar belakang sektornya, Sawitri menyebutkan, perusahaan yang
akan aktif merekrut berasal dari makanan dan minuman; manufaktur; ritel dan
penjualan; serta teknologi. Ada beberapa fungsi bidang pekerjaan yang tren jumlah
perekrutannya berkurang ataupun bertambah karena perusahaan selalu berusaha menyesuaikan
bisnis. ”Perekonomian Indonesia yang masih dipandang positif membuat sejumlah
perusahaan ingin bertumbuh pada 2024.
Jika ingin bertumbuh, perusahaan harus mempunyai aset sumber daya manusia,”
kata Sawitri. Sales Director Jobstreet by Seek untuk Indonesia, Wisnu Dharmawan,
mengatakan, jika pada paruh I-2024 terdapat 45 % yang percaya aktivitas
perekrutan lebih aktif, maka pada paruh II-2024 terdapat 44 % dari total
responden yang meyakini perekrutan lebih aktif. Ini berarti ada konsistensi kepercayaan
terhadap perekrutan yang lebih baik. (Yoga)
Perbankan Berpeluang Sesuaikan Bunga Kredit
Sebatik Miliki Dermaga Khusus
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









