Ekonomi
( 40600 )RISIKO NILAI TUKAR : RUANG SEMPIT MANUVER FISKAL
Pelemahan rupiah dan fluktuasi harga minyak mentah dunia semakin menjauh dari asumsi dasar ekonomi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. Pemerintah hampir pasti akan menghadapi tren ruang fiskal yang ketat pada periode ini. Usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada pertengahan April 2024, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan upaya yang akan ditempuh pemerintah menyikapi gejolak geopolitik dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Setidaknya, sampai dengan Juni mendatang, pemerintah terus memonitor dinamika yang terjadi yang berpotensi memengaruhi berbagai indikator ekonomi di dalam negeri.
Menurut Airlangga, pemerintah sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi situasi geopolitik tatkala konflik Rusia-Ukraina. Dalam situasi konflik itu, pemerintah relatif mampu memitigasi dampak konflik. Situasi geopolitik diakui dapat memengaruhi kondisi APBN. Pemerintah berupaya menjaga supaya APBN dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai shock absorber guna meredam berbagai sentimen, termasuk dampak kenaikan harga minyak global akibat konflik Iran dan Israel. Koordinasi lebih lanjut pun akan dilakukan bersama otoritas moneter dan fiskal untuk menghasilkan bauran kebijakan dalam menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyampaikan bahwa proporsi utang pemerintah dalam mata uang asing adalah sebesar 28,08% dari total outstanding utang pemerintah sebesar Rp8.319 triliun tersebut. Jumlah utang dalam denominasi valas tersebut, jelasnya, masih lebih rendah jika dibandingkan dengan proporsi utang dalam mata uang rupiah sebesar 71,92%, sehingga dampak terhadap beban utang atau belanja bunga dapat lebih diminimalisir. Kepala Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov mengatakan bahwa risiko pembengkakan anggaran subsidi dan kompensasi energi sudah berada di depan mata. Saat ini, nilai tukar rupiah masih di sekitar Rp16.200 per dolar Amerika Serikat (AS) kendati otoritas moneter telah mengerek suku bunga. Pada saat bersamaan, fl uktuasi harga minyak dunia makin parah dari hari ke hari, dipengaruhi konfl ik geopolitik di Timur Tengah.
Adapun, asumsi dasar ekonomi makro APBN 2024 dipatok memiliki pertumbuhan ekonomi 5,2%, dengan nilai tukar rupiah Rp15.000/dolar AS, dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$82 per barel, dan lifting minyak sebesar 635.000 barel per hari. Lantas, apabila minyak mentah ICP tembus US$100 per barel ditembah nilai tukar rupiah di level Rp16.000, tambahan belanja subsidi dan kompensasi bisa mencapai Rp156,5 triliun atau rata-rata Rp7,8 triliun setiap kenaikan US$1 per barel. Oleh sebab itu, di tengah keputusan pemerintah yang sudah telanjur berjanji untuk menahan harga BBM tak naik sampai Juni 2024, Abra melihat revisi Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, berkaitan dengan kriteria konsumen yang layak menerima BBM dan LPG bersubsidi makin relevan untuk diwacanakan.
“Survei BPS membuktikan bahwa banyak kelas menengah atas di Indonesia yang ikut menikmati subsidi energi, karena memang BBM dan LPG itu masih dijual secara bebas. Kriteria masyarakat yang bisa mendapat subsidi perlu diwacanakan secara bertahap.,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Rizal Taufi kurahman menyatakan nilai tukar rupiah semakin tertekan walaupun suku bunga telah dikerek, sebab perekonomian Indonesia sangat terintegrasi dengan negara Asia, terutama China dan negara-negara Asean, yang sangat terdampak memanasnya konfl ik Timur Tengah.
Berdasarkan data US Energy Information Administration Analysis, beberapa negara Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, India, dan Filipina tercatat akan sangat terdampak gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Menurut Rizal, kondisi rupiah yang masih lemah juga mencerminkan prospek perekonomian Tanah Air yang kurang menarik, seiring daya saing komoditas ekspor Indonesia yang masih minim.
Menunggu Megamendung Cerah Kembali
Sentra batik di Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Cirebon,
Jabar, Sabtu (30/3) siang, lengang. Tempat parkir sejumlah toko batik pun
tampak kosong. Padahal, hari itu adalah libur panjang akhir pekan. Di toko EB
Batik Traditional Cirebon, hanya ada dua pengunjung yang datang dalam satu jam.
Para karyawan terlihat hanya melipat kain. ”Memang sekarang enggak seramai seperti
sebelum pandemi,” ucap Nurniati, supervisor produksi EB Batik. Pandemi Covid-19
memukul usaha batik di wilayah itu. Nia, sapaan akrab Nurniati, tak menyebut
penurunan jumlah pengunjung atau angka penjualan. Namun, kelompok wisatawan
yang pelesir ke Cirebon tak sesering dulu, termasuk menjelang Idul Fitri saat
orang berbelanja baju Lebaran.
”Kalau Lebaran itu ramainya H plus karena orang cari (kain
batik) buat oleh-oleh,” ujarnya. Upaya mereka menarik perhatian konsumen sudah
maksimal. Tak Cuma menyediakan kain batik tulis dan cap aneka motif, EB Batik juga
memajang gamis, blus, hingga luaran batik model terkini untuk Lebaran. Inovasi
menggabungkan megamendung yang ikonik dengan motif lain pun dilakukan. ”Minat
pada megamendung sudah turun. Makanya, kami coba kombinasi dengan motif lain,”
kata Nia. Ia memperlihatkan contoh batik motif megamendung yang dipadu motif
parang liris, motif keraton seperti kereta paksi naga liman, dan motif khas
Tionghoa berlatar merah berupa angkin. Warna batiknya pun tak melulu cerah.
Adaptasi juga terlihat dari pilihan material kain. Tidak melulu
katun, ada juga dobi, sampai sutra. Perajin pun membuat kain yang sudah berpola
sehingga para pelanggan lebih mudah menjahitnya menjadi kemeja. Mulai tahun
ini, setiap kain yang dijual di EB Batik memiliki kode batang (barcode). Dengan
memindai kode itu, pengunjung terhubung dengan akun Instagram yang menampilkan
aneka produk jadi dari kain batik mulai dari kemeja, kaus, hingga jaket. EB
Batik adalah satu dari sekian banyak jenama batik di Cirebon yang tumbuh bak
cendawan di musim hujan sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia
sejak 2 Oktober 2009. Batik Cirebon, dengan motif megamendungnya yang ikonik,
termasuk di dalamnya.
Tahun 2012, megamendung tampil di halaman depan buku Batik
Design karya Pepin van Roojen (Belanda). Motif ini juga digunakan desainer Inggris,
Julien Macdonald, untuk busana rancangan koleksi musim seminya. Pengakuan pada
batik Cirebon pun terus meningkat. Sayang, popularitas batik Cirebon redup
akibat pukulan pandemi. Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia
(APPBI) Komarudin Kudiya, mengungkapkan, saat ini pemasaran batik makin sepi. Tak
hanya di Cirebon, sentra batik lain seperti Pekalongan pun sama. ”Pascapandemi,
hampir 10-20 showroom tutup. Perajin batik turun 50 % dari kisaran 131.568
perajin. Kini, kalaupun sudah naik lagi, tetapi masih di bawah 75 % dari
kondisi awal,” tuturnya. Barang kali persoalan mendasar yang perlu ditelisik
adalah strategi pemasaran, terutama cara memanggil kembali pelanggan untuk
berbondong-bondong memborong batik motif megamendung. (Yoga)
Tren Sewa Rumah, Antara Bunga KPR dan Gaya Hidup Kekinian
Kabar tentang potensi kenaikan bunga kredit kepemilikan rumah
(KPR) sebagai dampak kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25 % memunculkan
lagi opsi lebih baik menyewa daripada membeli hunian. Mengontrak rumah diperbincangkan
karena dinilai lebih ekonomis daripada membeli rumah baru ataupun bekas. Menjadi
penyewa makin disanjung karena disebut bagian dari gaya hidup hijau dan
berkelanjutan. Terdeteksi naik daun di masa sekarang, tetapi sebenarnya bisnis
penyewaan tempat tinggal dan tempat usaha dipercaya telah ada sejak ratusan hingga
ribuan tahun silam. Di perkotaan, usaha menyewakan tempat untuk berbagai kebutuhan
tak bisa dipisahkan dari ledakan jumlah kelas menengah dari kalangan pekerja.
Saat ini, perekonomian penyewaan menjadi lebih kompleks dan beragam.
Selain penyewaan rumah ataupun hunian vertikal reguler, ada
juga penyewaan jangka pendek untuk liburan atau keperluan singkat lain. Ada
pula konsep ruang hidup berbagi (co-living) yang bisa diterjemahkan dengan
menyewa tempat bersama untuk tinggal ataupun berbisnis. Pertumbuhan perekonomian
penyewaan yang menjadi tren kekinian itu didorong oleh beberapa faktor,
termasuk perubahan demografi, kondisi ekonomi, dan kemajuan teknologi. Salah
satu pendorong utama perekonomian penyewaan adalah meningkatnya jumlah generasi
muda yang menunda kepemilikan rumah karena tingginya harga lahan dan rumah
serta pengaruh gaya hidup baru yang menginginkan fleksibilitas dan mobilitas
yang lebih luas.
Faktor lain yang berkontribusi terhadap pertumbuhan
perekonomian penyewaan adalah bangkitnya gig economy, yaitu membeludaknya pasar
tenaga kerja yang identik dengan karyawan kontrak jangka pendek atau pekerja
lepas (freelancer). Mereka memiliki pendapatan yang tidak dapat diprediksi dan
sering kali harus berpindah-pindah kota untuk bekerja. Menyewa rumah menjadi pilihan
lebih menarik daripada memiliki rumah. Menyewa rumah turut menjadi bagian dari
kampanye hidup hijau di perkotaan. Menyewa berarti memanfaatkan bangunan yang
telah ada dan kecenderungan pelaku mengontrak tempat lebih kecil daripada jika
membeli atau memiliki sendiri. Di samping itu, biasanya penyewa memilih rumah
di pusat kota yang lebih dekat dengan tempat kerja serta sekolah dan pasar.
Akses ke berbagai tujuan bisa dengan berjalan kaki atau memanfaatkan angkutan
umum. Biaya pembelian bahan bakar yang lebih kecil, bahkan tidak ada, ikut mengurangi
polusi udara dan kemacetan kota. Dengan pembayaran sewa secara periodik yang
stabil dan pengeluaran lain lebih kecil, pengontrak dapat mengatur keuangannya
secara lebih baik. (Yoga)
Saat Jam Buka Warung Dibatasi
Munculnya warung yang buka 24 jam sehari di sejumlah tempat
di Tanah Air belakangan telah menjadi sorotan. Bukan hanya karena keberadaannya
yang baru dan langsung mencuri hati masyarakat, melainkan karena ada sebagian
orang yang menolak. Penolakan terbaru muncul di Bali terkait jam operasional 24
jam. Satpol PP Kota Denpasar mengimbau pengelola warung kelontong membatasi jam
buka warung. Usaha berbentuk warung kelontong, yang dibuka selama 24 jam
sehari, dinilai rawan memunculkan gesekan sosial, bahkan rentan terjadi
tindakan kriminalitas. Kepala Satpol PP Kota Denpasar Anak Agung Ngurah Bawa
Nendra mengatakan, pemerintah tidak melarang warga membuat dan membuka usaha
ekonomi asalkan mengikuti peraturan dan memenuhi ketentuan, termasuk perizinan.
”Secara umum, usaha warung, termasuk usaha perdagangan,
memerlukan perizinan, di antaranya SIUP (surat izin usaha perdagangan),” kata Bawa
Nendra, Jumat (26/4). Bawa Nendra menambahkan, meskipun termasuk kategori usaha
mikro, yang tidak wajib memiliki SIUP, warung kelontong tetap harus didaftarkan
izin berusahanya. Pendaftaran izin berusaha bagi usaha mikro itu juga berkaitan
dengan pendataan daerah. Kepala Satpol PP Kabupaten Klungkung I Dewa Putu
Suwarbawa menyampaikan hal senada. Menurut Suwarbawa, Perda Kabupaten Klungkung
No 13 Tahun 2018 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan,
dan Pasar Swalayan hanya mensyaratkan jam kerja usaha minimarket, hypermarket,
department store, dan supermarket.
Ketiganya dibatasi buka sampai pukul 22.00 Wita pada Senin
sampai Jumat atau sam- pai pukul 23.00 Wita pada Sabtu dan Minggu. Ia menambahkan,
keberadaan warung kelontong, yang dibuka selama 24 jam sehari dan dikelola warga
pendatang, memiliki kerawanan dari sisi sosial. ”Munculnya gesekan sosial inilah
yang perlu dicegah dengan membatasi jam buka warung kelontong,” ujar Suwarbawa.
Menanggapi perda tersebut, Sekretaris Kemenkop dan UKM Arif Rahman Hakim, Sabtu
(27/4) mengatakan telah meninjau Perda Kabupaten Klungkung tentang Penataan dan
Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Swalayan. Pihaknya
menyimpulkan tak ada aturan melarang secara spesifik warung 24 jam. (Yoga)
BANDAR UDARA SUPADIO, Warga Kecewa Status Bandara Berubah
Perubahan status Bandara Supadio Pontianak, Kalbar, sangat
disayangkan warga karena penerbangan menuju Kuching, Malaysia, diperlukan,
khususnya untuk hal-hal kedaruratan. Sebelumnya, Kemenhub mengubah status 17 bandara,
salah satunya Bandara Supadio, dari internasional ke domestik. Loren (50), warga
Kelurahan Batu Layang, Pontianak, menuturkan, dengan menutup penerbangan
langsung dari Pontianak ke Kuching dan Kuala Lumpur, akan menimbulkan biaya mahal.
Sebab, warga Kalbar jika ingin ke luar negeri harus ke Jakarta. ”Saya sangat
terbantu saat masih ada penerbangan Pontianak-Kuching untuk pelayanan kesehatan
dan bisnis,” kata Loren, Sabtu (27/4).
Yustinus (46), warga yang berdomisili di Kelurahan Sungai
Bangkong, Pontianak, menuturkan, rute penerbangan internasional dari Pontianak
ke luar negeri justru harus ditambah, misalnya ke Singapura. Dengan demikian,
penumpang dari luar negeri ke Pontianak dan sebaliknya tidak direpotkan dengan
transit. ”Apalagi di Kalbar ada agenda pariwisata budaya, misalnya Cap Go Meh.
Wisatawan dari China bisa langsung ke Kalbar jika ada penerbangan
internasional,” kata Yustinus. Pj Gubernur Kalbar Harisson saat ditemui, Sabtu
(27/4) pagi menuturkan, berdasarkan SK Menhub No 31 Tahun 2024, Bandara Supadio
Pontianak termasuk bandara internasional yang dikembalikan statusnya menjadi
domestik. Harisson telah berdiskusi dengan Menhub Budi Karya Sumadi terkait itu.
Salah satu penyebab bandara internasional dikembalikan
menjadi bandara domestik adalah karena banyak bandara internasional malah mempermudah
warga negara Indonesia ke luar negeri. Hal tersebut dinilai tidak sesuai dengan
amanat presiden bahwa sebenarnya bandara (internasional) dibuka guna mempermudah
wisatawan luar negeri ke Indonesia untuk menginap dan berbelanja di Indonesia. ”Dengan
demikian, uang mereka (wisatawan asing) berputar di kita (dalam negeri). Namun,
yang terjadi kebalikannya. Warga negara kita malah mudah ke luar negeri
sehingga menggerus devisa negara kita,” kata Harisson. (Yoga)
Merdeka Mengonsumsi sampai ke Cirebon
Catur Nugroho (36) supervisor RM Ayam Goreng Bahagia 71 Hj
Sunarti, mengenang saat pertama mengenal baju bermerek internasional. Bukan
dari butik aslinya yang ternama, melainkan di pasar baju second (bekas) di
Cirebon yang dikenal dengan nama Cimol. ”Cimol, ’Cirebon Mal’ bekas gitu. Bukan
jualan barang-barang cacat, tapi barang bekas pakai orang-orang luar yang masih
bagus,” tuturnya, Jumat (29/3) sore, di Cirebon, Jabar. Ia berburu kaus second
branded itu karena tak mungkin membeli di gerai aslinya. Harganya mahal. ”Di sana ada pengepulnya. Jadi, kalau kita
beli, ada satu karung gede terus kita disuruh cari sendiri. Ada Uniqlo, Adidas,
macam-macamlah,” ujar Catur. Ia membeli baju-baju itu dengan harga Rp 15.000
atau Rp 20.000 per potong. Kualitasnya, tak jauh beda dengan produk merek-merek
itu saat ini. ”Saya ngumpulin, dipakai, habis itu dijual. Kalau sudah bosan
tawarin ke teman-teman sendiri,” katanya seraya tertawa.
Uniqlo adalah salah satu produk yang disukai Catur. Menurut
dia, bahannya enak dan modelnya simpel. Saking fanatiknya, ia masih menyimpan
satu jaket dan dua kaus Uniqlo second. ”Enggak nyangka, setelah 10 tahun,
Uniqlo buka juga tokonya di Cirebon. Hari ini pun ramai banget karena pembukaan
Uniqlo. Jalanan sampai macet,” ucap Catur. Waktunya pas karena orang-orang juga
baru saja menerima THR. Tak ayal, hari itu, Cirebon macet laiknya Jakarta.
Pengunjung memadati Mal CSB, parkiran penuh sesak. Jalan Dr Cipto Mangunkusumo
yang berada di depan mal padat kendaraan sejak pagi hingga jelang tengah malam.
Pengunjung, tua, muda, dan anak-anak, antre sejak pagi dan keluar menenteng tas
belanja berlogo Uniqlo. Sebagian mengenakan sarung dan peci, menyuguhkan pemandangan
khas santri ”Kota Udang”.
Sukma (22) pegawai perusahaan konfeksi di Cirebon asal Bekasi
sudah tiba di Mal CSB sejak pukul 08.00. Bersama seorang teman, dua jam sebelum
mal buka untuk menyambut pembukaan gerai Uniqlo. Ia antre panjang di pintu
masuk gerai toko itu bersama pengunjung lain. Wajah-wajah mereka semringah,
berpadu dengan raut penasaran dan antusiasme di tengah hawa Cirebon yang gerah
dan lembab. Sukma mengaku ingin menjadi orang yang pertama menyaksikan
pembukaan gerai merek populer asal Jepang itu di Cirebon. Katanya, biar tak
ketinggalan tren. Rupanya Sukma dijangkiti sindrom FOMO alias fear of missing
out. Takut ketinggalan. Ia juga tak khawatir lagi ketinggalan mode. Sebagai
pencinta mode, ia bisa tetap terlihat keren seperti anak-anak muda di kota
lain.
Ahmad Dailami (20) dan Ibnu (21) tak sungkan berjejalan
dengan ratusan pengunjung lain di toko baru tersebut. Kedua pemuda yang
bermukim di Talun, Cirebon Selatan itu, berangkat pukul 07.00 demi menyambut
pembukaan gerai merek tersebut. ”Bukan karena gengsi, tapi lebih karena
bahannya yang enak, adem, kayak premium gitu. Biarpun harganya enggak murah-murah
banget, tapi worth it sih harganya,” kata Ahmad. Meski antrean di kasir mengular
panjang, Ahmad dan Ibnu tak gentar. Keranjang mereka penuh dengan kemeja untuk
menyambut Lebaran. Lidia Rosdiana (20) datang ke CBS dari rumahnya di Kabupaten
Cirebon bersama kakak dan ibunya, menempuh perjalanan satu jam mengendarai mobil.
Menurut dia, kehadiran merek Uniqlo di
Cirebon menjadi bukti kemajuan Cirebon. Ini juga membuktikan bahwa Cirebon
sudah dikenal banyak orang, sekaligus sebagai tujuan investasi. (Yoga)
Data Ekonomi AS Jadi Sentimen Negatif
Indeks Harga Saham Gabungan kembali tertekan pada hari
terakhir perdagangan pekan ini, Jumat (26/4). Perkembangan ekonomi AS menimbulkan
ketakutan pasar akan dampaknya pada ekonomi global, termasuk Indonesia. IHSG
ditutup ambrol 119 poin atau 1,67 % ke level 7.036. Harga 422 saham turun
dibandingkan dengan 153 harga saham yang mengalami kenaikan. Secara sektoral,
seluruh indeks saham tumbuh negatif dengan sektor teknologi mengalami pelemahan
terdalam sebesar 40,93 poin atau 1,23 %. Penurunan ini menggagalkan tren
kenaikan melewati level 7.100 sejak Selasa (23/4), yang terjadi bersamaan
dengan keluarnya penolakan MK terhadap tuntutan sengketa Pemilihan Presiden
2024 yang disusul penetapan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai
presiden dan wapres terpilih oleh KPU.
Penguatan IHSG di atas 7.150 juga terjadi setelah BI
memutuskan menaikkan suku bunga acuan dari 6 % menjadi 6,25 % pada Rabu (24/4).
Kebijakan ini diputuskan sebagai strategi moneter dalam menghadapi pelemahan
rupiah yang terjadi pada dua minggu belakangan. Phintraco Securitas, dalam
laporan analisisnya, Jumat, membaca bahwa pasar mengkhawatirkan tren perekonomian
di luar negeri, khususnya dari AS. Tren ini terbaca dari rilis terkait indeks
harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang mencapai 3,4 % pada triwulan
pertama 2024.
”Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan inflasi yang lebih
persisten dan memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The
Fed) akan menahan suku bunga acuan lebih lama,” kata mereka. Situasi ini juga
terbaca pada kinerja pasar saham AS yang bergerak melemah sejak Kamis (25/4).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lamban dan tingkat inflasi yang tinggi
menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed. Ekonomi AS tercatat
hanya tumbuh sebesar 1,6 % secara tahunan pada triwulan I-2024 dibandingkan 3,4
% pada triwulan sebelumnya. Angka pertumbuhan di bawah perkiraan sebesar 2,5 %
ini merupakan yang terendah sejak paruh pertama 2022. (Yoga)
PANEN RAYA : Hawa Sejuk Peredam Inflasi
Otoritas fiskal optimistis bahwa musim panen raya pada kuartal II/2024 bakal menjadi kado manis untuk meredakan inflasi akibat gejolak harga pangan terutama beras. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memandang bahwa inflasi Indonesia akan mulai melandai seiring dengan penurunan harga beras pada kuartal II/2024. Dia menjelaskan bahwa meski inflasi pangan sempat meningkat, tetapi ia melihat tren penurunan harga beras terjadi sejalan dengan masuknya musim panen di sentra-sentra produksi beras.
Pasalnya, beras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dalam komponen volatile food (VF). “Inflasi tetap terkendali baik, headline inflation kita adalah di 3,05% per Maret, nanti mengalami penurunan, harga beras sudah mulai menunjukkan tren penurunan,” dalam Konferensi Pers APBN Kita edisi April, Jumat (26/4).
Adapun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri mematok inflasi umum dalam asumsi ekonomi makro 2024 di angka 2,8% YoY. Artinya, capaian inflasi Maret telah meleset dari target yang telah ditetapkan. Dalam paparannya, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa rata-rata harga beras premium menunjukkan tren penurunan sejak mencapai puncaknya pada Februari 2024 hingga Rp15.415 per kilogram (kg). Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni P. Joewono memandang bahwa pada pertengahan April ini sejumlah komoditas penyumbang inflasi mulai mengalami koreksi harga, seperti beras hingga telur ayam.
Bank Sentral juga telah melakukan langkah dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25% guna memastikan inflasi terus terjaga pada rentang sasaran. Direktur Riset Makroekonomi Center of Reform on Economics (Core) Ahmad Akbar Susamto menilai bahwa inflasi pangan yang tinggi pada kuartal I/2024 menggerus daya beli dan memiliki konsekuensi terhadap upah riil.
“Untungnya, inflasi pangan yang tinggi akan mulai mereda pada kuartal II/2024 sesudah lebaran. Dan kuartal III/2024 inflasi akan lebih rendah dari yang sudah terjadi dari kuartal I/2024,” katanya.
Bunga Acuan dan Kebutuhan Stimulus
Kekhawatiran akan dampak kenaikan suku bunga acuan BI pada
pertumbuhan ekonomi memunculkan kebutuhan akan stimulus bagi sektor riil
terdampak. Rapat Dewan Gubernur BI hari Rabu (24/4) menaikkan bunga acuan 25
basis poin menjadi 6,25 %, kenaikan pertama sejak Oktober 2023. Kebijakan
menaikkan BI Rate ditempuh karena kuatnya tekanan terhadap rupiah yang kian
mendekati level Rp 16.500/USD. BI dalam situasi dilematis karena kenaikan suku
bunga acuan ibarat pedang bermata dua: di satu sisi bisa membantu memperkuat
nilai tukar, tetapi di sisi lain akan mengerem laju pertumbuhan ekonomi.
Pertimbangan ekonomi jangka panjang dan stance kebijakan
moneter BI yang pro-stability membuat BI memilih opsi menaikkan BI Rate untuk
meredam gejolak nilai tukar di tengah meningkatnya risiko global. Pelemahan rupiah
berkepanjangan akan memukul ekonomi domestik. Namun, selain menahan eksodus
dana keluar, kenaikan bunga acuan BI juga akan mendorong naiknya suku bunga kredit,
yang akhirnya tertransmisi ke sektor riil dan pertumbuhan ekonomi. Bahkan, ada
kekhawatiran, tanpa stimulus, pertumbuhan bisa di bawah 5 % tahun ini. Di sini
pentingnya kebijakan kenaikan suku bunga acuan dibarengi dengan stimulus atau
insentif fiskal dan nonfiskal lain guna meredam dampaknya pada sektor riil.
Stimulus itu bisa berupa kebijakan untuk mengatasi beban kenaikan
biaya akibat naiknya suku bunga, insentif pajak, atau pengurangan hambatan
impor bahan baku dan penolong. Perlu pula diantisipasi potensi meningkatnya
gagal bayar dan kredit macet UMKM akibat kenaikan suku bunga kredit. Kebijakan
fiskal untuk bantalan sosial masyarakat yang terdampak mungkin juga diperlukan
guna menjaga daya beli. Tak kalah penting, mengurangi ketergantungan pada
penggunaan dollar AS. Pendalaman pasar uang dan penggunaan mata uang lokal dalam
transaksi antarnegara menjadi penting di sini. (Yoga)
KASUS TIMAH, Penyidik Tetapkan Lima Tersangka Baru
Penyidik Kejaksaan Agung menetapkan lima tersangka baru dalam
kasus dugaan korupsi tambang ilegal di wilayah IUP PT Timah Tbk periode
2015-2022. Tiga tersangka di antaranya bekas Kadis ESDM Provinsi Bangka
Belitung. Jadi, total sudah 21 tersangka dalam kasus tersebut. Direktur
Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung Kuntadi,
menyampaikan, penyidik memeriksa 13 dari 14 saksi yang direncanakan diperiksa.
Salah satunya urung hadir karena sakit. ”Setelah dilakukan pemeriksaan, tim
penyidik memandang telah ditemukan alat bukti yang cukup sehingga pada hari ini
kami tetapkan lima tersangka,” kata Kuntadi, dalam jumpa pers pada Jumat (26/4)
malam.
Mereka adalah HL selaku beneficial owner PT Tinindo Inter
Nusa (PT TIN) dan FL selaku pegawai pemasaran PT TIN. Tiga tersangka berikutnya
berinisial SW selaku Kadis ESDM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2015-Maret
2019; BN selaku Plt Kadis ESDM Kepulauan Bangka Belitung pada Maret 2019; dan
AS selaku Plt Kadis ESDM Kepulauan Bangka Belitung yang kini menjadi Kadis ESDM
Bangka Belitung. Kuntadi mengatakan, tersangka SW, BN, dan AS selaku pimpinan
di Dinas ESDM Bangka Belitung diduga sengaja menerbitkan dan menyetujui
Rancangan Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diajukan lima perusahaan pengolah
bijih timah atau smelter meskipun dokumen RKAB itu tak memenuhi syarat.
Kelima perusahaan dimaksud adalah PT Tinindo Inter Nusa, PT
Stanindo Inti Perkasa, PT Refined Bangka Tin, CV Venus Inti Perkasa, dan PT
Sariwiguna Bina Sentosa. ”Selain itu, RKAB tidak digunakan untuk menambang di wilayah
IUP, tetapi sekadar untuk melegalkan aktivitas perdagangan timah yang diperoleh
di wilayah IUP PT Timah Tbk,” katanya. Dua tersangka lainnya, FR dan HL, diduga
turut serta mengondisikan kerja sama penyewaan alat pengolahan timah. Untuk
itu, keduanya membentuk dua perusahaan boneka untuk memperlancar aktivitas
ilegal itu. Menurut Kuntadi, salah seorang tersangka, yakni HL, tidak memenuhi
panggilan penyidik karena sakit. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









