Ekonomi
( 40733 )Ilusi Sukses di Masa Muda yang Menyuburkan Diskriminasi Umur
Bryan Johnson menolak menjadi tua. Ia membangun program dengan slogan ”Jangan Mati” (Don’t Die) dan bereksperimen pada dirinya sendiri. Pengusaha kaya raya pertengahan 40 tahun itu mengatur makan, berolah raga rutin, pola tidur teratur, mengonsumsi suplemen, dan menjalani program lain dengan biaya Rp 29 miliar per tahun. Tiga tahun melakukan Blue-print-nya, Johnson menyatakan dirinya memuda. Dari hasil tes kebugaran dan kesehatan, beberapa fungsi organ tubuhnya bekerja sangat baik setara remaja 18 tahun. Klaim itu disebut hasil dari eksperimen berbasis sains. Ujung-ujungnya, Johnson menghasilkan berbagai produk terkait gaya hidup barunya lalu dijual ke khalayak ramai. Selain Johnson, sederet multimiliarder dunia berlomba menemukan formula penangkal proses penuaan, pencegah penyakit mematikan, dan pembuat awet muda tanpa takut mati, seperti Jeff Bezoz, Elon Musk, dan pendiri Google, Larry Page.
Keinginan senantiasa hidup dalam keemasan masa muda mengendap dalam benak manusia sejak dulu. Tujuannya agar bisa mengulang kesukesan dan kesenangan saat kondisi tubuh sangat fit. Sebagian lagi ingin mendapat kesempatan kedua untuk berbuat hal berbeda dan mencapai impian terpendam. Pemuja masa muda tak surut. Muncullah target pencapaian di usia tertentu. Usia sekian harus lulus sarjana, bekerja mapan, punya rumah, menikah, dan berkeluarga. Perempuan menikah sebelum usia 30 tahun dan segera punya anak. Dengan persiapan matang di usia muda, masa tua tak perlu bekerja. Orang di usia 50-60 tahun ke atas seakan hanya ditakdirkan menunggu waktunya berakhir. Mengikuti tren umum itu, ada tren orangtua menetapkan standar tinggi bagi anak-anak yang mengorbankan keceriaan masa kecil mereka.
Dunia kerja melihat orang muda sebagai aset utama. Di Indonesia, lowongan pekerjaan memasukkan batas usia pelamar sebagai salah satu syarat utama. Untuk menjadi pekerja di gerai minimarket saja harus di bawah 25 tahun. Pemilihan 30 pengusaha atau CEO perusahaan top dunia di bawah 30 tahun berlangsung setiap tahun. Seakan menjadi patokan kesuksesan yang pantas diikuti kaum muda lain. Dunia industri mengapitalisasi dan menjual mimpi awet muda lewat kampanye produknya, misalnya, iklan kosmetik atau perawatan tubuh, suplemen, alat olahraga, produk busana, bahkan paket wisata. Menjadi ironi ketika pemujaan pada usia muda itu tidak disertai sokongan penuh agar kaum muda bisa benar-benar sukses.
Di Indonesia, belum semua anak usia sekolah dapat ditampung di sekolah negeri yang dibiayai pemerintah. Saat hendak meraih sarjana, uang kuliah tunggal (UKT) kampus negeri makin mahal. Menepis ilusi sukses di usia muda yang menyesatkan perlu lebih banyak kebijakan hingga rekayasa sosial yang merekonstruksi ulang pola pikir masyarakat. Hidup tidak selalu bisa dianalogikan bak jenjang anak tangga yang selalu berorientasi naik ke atas menjadi makin baik, makin mapan. Hidup kadang terpaksa kembali menuruni tangga, bak jalan bergelombang, dan kadang berombak besar. Keinginan mencapai hidup bermakna inilah yang berarti seseorang berhasil menjaga nyala hasrat berapi-api layaknya anak muda. Bukan sekadar ilusi semu untuk hidup abadi, ia pun tetap muda secara nyata dengan sendirinya. (Yoga)
Selidiki Kecelakaan Berulang di IMIP, Pemerintah Harus Tegas
Kepolisian menyelidiki semburan uap panas yang menyebabkan terlukanya dua karyawan di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMP), Morowali, Sulteng, pada Kamis (13/6). Kecelakaan di area tungku itu juga terjadi pada Desember 2023. Hingga kini, penyebabnya masih didalami. ”Sampai hari ini, kami masih melakukan penyelidikan mendalam. Tim masih berada di lapangan untuk melakukan olah TKP dipimpin Kasat Reskrim. Mereka mengecek TKP dan mengumpulkan barang bukti,” kata Kapolres Morowali AKBP Suprianto, Sabtu (15/6). Berdasarkan keterangan sementara, kecelakaan terjadi pukul 22.00 Wita. Saat itu pekerja sedang membersihkan kerak baja di lantai tungku PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS). Tungku tersebut adalah lokasi sama yang meledak pada Desember 2023. Menurut dia, polisi belum bisa menyimpulkan faktor penyebab utama hingga semburan terjadi.
”Apakah ini murni kecelakaan atau kelalaian, semuanya masih berproses. Kami masih memeriksa saksi-saksi dan tentunya pihak manajemen, mulai dari pengawas, yang bertanggung jawab terhadap keamanan, dan manajemen,” tuturnya. Kecelakaan yang menyebabkan dua pekerja terluka ini terjadi kurang dari enam bulan dari ledakan dahsyat pada Desember 2023. Saat itu, 21 orang tewas dan 30 orang lainnya terluka. Pasca insiden, polisi menetapkan dua tenaga kerja asal China sebagai tersangka, yaitu ZG (41), pengawas keuangan sekaligus supervisor furnace (tungku pembakaran di PT Zhao Hui Nikel), dan Z (35), wakil supervisor di PT Ocean Sky Metal Indonesia (OSMI). Dalam hal ini, PT ITSS meminta keduanya untuk membantu di PT ITSS. Adapun PT ITSS adalah salah satu penyewa dan rekanan yang beroperasi di kawasan PT IMIP.
Juru kampanye energi Trend Asia, Arko Tarigan, menyampaikan, insiden berulang ini seharusnya tidak terjadi jika mekanisme keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ditegakkan. Seharusnya kecelakaan kerja di PT ITSS sebelumnya memberikan pelajaran yang cukup untuk perbaikan kinerja keselamatan di lapangan. Trend Asia mencatat, selama 2015-2023 terjadi 93 insiden kecelakaan kerja di semua smelter nikel di Indonesia. PT ITSS penyumbang tertinggi angka kematian pekerja. ”Hal ini menitikberatkan masalah impunitas yang dialami perusahaan dalam isu keamanan, termasuk atas insiden-insiden yang lalu. Peme- rintah seharusnya membuat perusahaan jera,” katanya. Ia mendesak agar kepolisian, kementerian, dan dinas terkait harus mampu memaksa ada perubahan praktik industri yang lebih baik dan dilakukan secara transparan. (Yoga)
Kuliner Viral Penambah Denyut Pasar
Di era media sosial, kuliner legendaris di pasar-pasar tradisional Yogyakarta Berjaya berkat fenomena viral. Hubungan transaksional antara penjual dan pembeli menjadi lebih beraneka ragam. Denyut pasar pun terus hidup, tanpa putus. Bu Sirep (75) sibuk menggarit tumpukan tempe untuk digoreng di depan warung makannya di Pasar Ngasem, Yogyakarta, Sabtu (8/6). Jam menunjukkan pukul 07.30, tapi antrean pembeli terus mengular panjang. Puluhan orang yang kelaparan tidak sabar menyendokkan bubur atau nasi hangat beserta lauk pilihan ke piring untuk sarapan. ”Saya tidak kebayang warung saya akan seramai ini, mikirnya santai gitu. Dulu memang saya minta sama Allah agar warung saya laris, tapi maksudnya yang biasa-biasa aja, enggak seperti ini,” kata Sirep dengan wajah bahagia. Warung Makan Bu Sirep merupakan salah satu tujuan wisata kuliner untuk sarapan yang populer di kota pelajar ini. Tersedia lebih dari 30 menu masakan tradisional Jawa, mulai dari ayam goreng, lele mangut, tempe gembus, hingga berbagai macam sayur.
Selain lezat, harga makanannya murah meriah. Menu termurah seharga Rp 10.000. Sirep sudah berjualan di sana sejak 2011. Dulu ia cukup memasak 10 kg beras sehari, sekarang ia membutuhkan sekitar 30-40 kg beras sehari. Bahkan, 50 kg sehari saat akhir pekan. Soalnya, bukan hanya warga lokal saja yang datang, tetapi juga wisatawan luar daerah. Titik puncak keramaian baru terasa tiga tahun belakangan ini. Dia sampai bingung sendiri kenapa hal ini bisa terjadi. ”Pembeli-pembeli ada yang ngasih tahu kalau tahu warung dari Tiktok. Katanya viral dan sampai sekarang juga banyak yang sering datang rekam,” tutur Sirep yang mempekerjakan 10 orang untuk membantunya. Setelah doa Sirep terjawab, rezekinya bertambah. Dalam sebulan, ibu empat anak ini mampu meraup keuntungan bersih sedikitnya Rp 10 juta setiap bulan. Setimpal dengan pengorbanannya yang harus bangun pukul 02.00 setiap hari untuk memasak.
Viralnya warung Bu Sirep di medsos masih terasa sekarang. Setiawati (48), warga Yogyakarta, untuk kali pertama menginjakkan kaki di Pasar Ngasem pagi itu demi menyantap bubur yang dia lihat di Tiktok beberapa bulan lalu. ”Saya penasaran yang mana sih warungnya. Ternyata rasanya enak karena saya juga senang bubur dan masakan Jawa,” kata Wati bersemangat. Medsos membuat relasi timbal balik antara penjual dan pembeli semakin bervariasi. Penjual dan pembeli di masa lalu hanya bertransaksi dalam bentuk penukaran makanan dan uang. Sekarang, penjual mendapat keuntungan promosi di medsos pembeli, sedang pembeli menggunakan penjual dan makanan untuk kebutuhan konten. Kadis Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, kuliner legendaris di pasar tradisional berkontribusi besar pada keberlangsungan pasar. Hampir setiap pasar di Yogyakarta punya kuliner tradisional. (Yoga)
Gelanggang Keras Mal Jakarta
Gerai sayap ayam cepat saji yang enak dan beberapa toko gawai di Ratu Plaza sudah hengkang April lalu. Sedih melihat makin ditinggalnya Ratu Plaza. Dulu Ratu Plaza adalah pusat perbelanjaan termewah di Jakarta, menggeser Duta Merlin yang berhulu ke hotel zaman Belanda. Saat dicuitkan di X, ramai yang menanggapi. Diskusi berkembang tentang pemilik gedung yang konon hanya memegang hak guna bangunan dari lahan pemerintah, seperti konon gedung lain di ujung berbeda Jalan Jenderal Sudirman yang ia miliki. Ini menjelaskan mengapa kedua gedung dibiarkan ”merana”, walau strategis berada pada jalur MRT dan Transjakarta. Itu sebabnya Kompas bersemangat menyambangi Brightspot Market, bazar populer Jakarta yang didedikasikan untuk jenama lokal, bertempat di Ratu Plaza minggu lalu.
Brightspot punya sejarah bereksperimen dengan lokasi nyeleneh, dua lantai kosong di Plaza Senayan tahun lalu, atau Ashta sebelum resmi dibuka. Cynthia Wirjono, salah satu pemrakarsa dan penyelenggara Brightspot, bercerita bahwa nostalgia 1980-an, saat Ratu Plaza jaya-jayanya, sengaja diambil sebagai tema. Dan benar, tersebar di tiga lantai selama dua akhir pekan kemarin, terdapat musik, dekor, bahkan mesin dingdong khas dekade itu. Ratu Plaza juga kembali disesaki pengunjung baik generas “old” yang ingat masa keemasannya dan generasi muda yang penasaran. Bukannya tanpa tantangan menggelar acara dengan ribuan pengunjung di lokasi yang sudah lama tak beroperasi penuh. Kendala muncul dari parkir, AC, sampai eskalator yang tak semua bisa dioperasikan.
Tapi pengunjung terlihat menikmati. Terlepas legalitas kepemlikan, Ratu Plaza hanya perlu sedikit renovasi dan pemasaran kreatif bila mau dikembalikan optimal. Persoalan mal di Jakarta memang kompleks. Terlalu banyak jumlahnya, tapi sedikit pembedanya. Untuk Jakarta, mal dikelompokkan menjadi mal tengah kota (seputar Senayan dan Bundaran HI), yang didatangi pengunjung dari seluruh penjuru kota, dan mal ”setempat” yang dipadati warga sekitar. Banyak mal dan trade center yang tersengal-sengal terlepas keriuhan saat diresmikan. Bahkan, beberapa mal di pusat kota hidup segan, mati tak mau. Bukan karena konsumen lebih suka berbelanja daring, banyak pusat perbelanjaan yang masih ramai, seperti juga banyak e-marketplace yang kolaps. Mal masih bisa bertahan walau memang gelanggangnya keras, tak semua jadi penyintas. Kecuali bila jeli membidik ceruk baru. (Yoga)
Memboyong Kampung Halaman untuk Kaum Urban
Hidangan tradisional yang diusung untuk dinikmati kaum urban semakin menjadi tren di kota besar. Aneka makanan yang menggoda selera terhidang di atas nampan bercorak retro. Ayam bakar, pepes ikan mas, pecel pincuk, mi goreng jawa, dan sate kulit hanya sekelumit hidangan di Omah Yung Ginah. Sejumlah pengunjung mengantre dan membayar dengan tertib, lalu duduk dengan santai di bangku lawas yang dilengkapi meja kayu kuno. Pegawai berpakaian lurik dipadu celana hitam sigap membereskan piring kotor, menyingkirkan sampah, hingga berbincang dengan konsumen. Bangunan joglo menguarkan nuansa tradisional dengan kayu jatinya. Sajian pun bertambah nikmat dinaungi keteduhan pohon abar,wali songo, dan beringin kuning. Mangut lele, sungguh lezat dengan rasa asap yang mencolok karena begitu meresap.
Ikan itu ditusuk batang kayu dengan daging renyah, tetapi lembut yang spontan lumat saat dikunyah. Kuah sedikit manis tercecap mantap dengan selintas asam dan paduan pedas. Masakan itu bertambah sedap dengan sambal terong. Ditambah taburan teri yang menambah gurih, asin, dan pedas dengan klop. Sementara itu, garang asem ati ampela dibungkus daun pisang tak kalah nikmat. Andalan Omah Yung Ginah lain, telur krispi, tergigit renyah dan gurih. Sekejap bumbu balado, maizena, dan garam terjejak pula dalam indera pengecap. Di Omah Yung Ginah tersedia sekitar 15 makanan. Harga setiap porsi mangut lele Rp 25.000, telur krispi Rp 13.000, dan garang asem hati ampela Rp 14.000. Konsumen bisa memilih 10 minuman. Es dawet yang difavoritkan dibanderol Rp 15.000 per porsi.
Omah Yung Ginah dikunjungi 400 pengunjung pada hari kerja, dan membeludak hingga 900 pengunjung pada akhir pekan. ”Lokasinya di Rumpin, Bogor (Jabar). Bisa dibilang juga di Cisauk, Tangerang, (Banten),” ujar Manajer Omah Yung Ginah, M Nur Qudsi, Rabu (12/6/2024). Luas OmahYung Ginah 3.000 meter persegi dengan pelataran parkir yang mampu menampung 100 mobil dan 40 sepeda motor. Tujuan wisata kuliner itu baru dibuka setahun lalu, tetapi sudah sangat ramai. Omah Yung Ginah menyajikan masakan khas Kediri. ”Pemiliknya, Roby Sugiarto, suatu hari kangen masakan mendiang neneknya, Ginah,” kata Kukut, sapaannya. Jadilah hidangan itu dibawa Roby sebagai menu Omah Yung Ginah. Tak hanya makanannya yang dibawa, juga nuansa bangunan tradisional jawanya. Bahan baku bangunan pun didatangkan dari Kediri. Keorisinilan kuliner kampung halaman diboyong pemilik rumah makan untuk kaum urban yang menambah khazanah mereka dengan mencicipinya. (Yoga)
Menarik Pemuda China ke Kota Kecil
Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou mulai kehilangan daya tarik terhadap anak muda. Semakin banyak anak muda China ke ”kota lapis kedua” ketimbang berjuang keras di empat kota itu. Ada 31 kota China kini disebut ”kota lapis kedua”. Pemerintah menilai positif pertumbuhan ekonomi dan populasi di kota-kota yang semula tidak dikenal di China itu. Majalah The Economist, 6 Juni 2024, memperkirakan ada 12 juta lulusan perguruan tinggi China pada Juni itu saja. Setelah lulus, biasanya mereka akan mengadu nasib ke Beijing, kota pusat keuangan Shanghai, pusat teknologi Shenzhen, dan pusat ekspor Guangzhou yang dianggap menawarkan banyak peluang hidup lebih baik. Kekuatan ekonomi dan pelayanan publik di empat kota itu lebih baik dibandingkan dengan kota lain. Namun, gula-gula empat kota itu kini dianggap sudah kehilangan rasa manisnya. Calon tenaga kerja melimpah, sementara lapangan kerja terbatas.
Demi mencari pekerjaan impian, beberapa tahun terakhir ini kota-kota yang dulu kurang dikenal menjadi semakin menarik bagi anak muda China. Ada 31 kota sedang naik daun. Belum semuanya berkembang pesat. Akan tetapi, banyak yang menonjol karena faktor dinamisme, budaya, dan kualitas hidupnya. Kota-kota yang mulai banyak dilirik anak muda itu adalah Xi’an, Chengdu, dan Chongqing. Kota-kota itu menarik para pekerja muda di bidang teknologi dan pemengaruh media sosial. Ada juga Wuhan, Hefei, dan Changsha yang menjadi pusat perusahaan hiburan dan produsen kendaraan listrik. Kota Nanjing dan Hangzhou menjadi ”markas” perusahaan modal ventura dan perusahaan rintisan.
Survei perusahaan perekrutan Zhaopin baru-baru ini menunjukkan pekerja kantoran lebih memilih kota-kota lapis kedua ketimbang kota lain yang lebih besar atau lebih kecil, karena infrastruktur yang sudah berkualitas tinggi. Penuh dengan gedung pencakar langit, kedelapan kota baru ini sedang membangun empat dari 10 gedung tertinggi di dunia. Selama lima tahun terakhir, total panjang jaringan kereta bawah tanah mereka meningkat dua kali lipat. Kota-kota lapis kedua membuka pintu lebar-lebar bagi pendatang dengan menghapus sebagian besar pembatasan hukou, bahkan menawarkan insentif agar orang mau datang. Changsa memberikan insentif hingga 1,5 juta yuan atau Rp 3,4 miliar kepada ”talenta terbaik nasional” jika mau pindah ke sana. Hangzhou juga menawarkan 15 juta yuan atau Rp 34 miliar kepada pendiri perusahaan rintisan yang bergelar doktor. Harga rumah dijanjikan jauh lebih terjangkau. (Yoga)
Manusia Bukan Mesin
Teknologi dan digitalisasi diyakini jadi mesin pertumbuhan baru ekonomi. Namun, apalah artinya mesin yang berputar cepat jika hak pekerja tak diperjuangkan. Peran ekonomi yang menggunakan infrastruktur teknologi dan digital, yang kerap disebut sebagai ekonomi baru, kian membesar. Ekonomi digital memudahkan sekaligus menimbulkan berbagai konsekuensi, dalam hal kecepatan, aksesibilitas, ketepatan, dan kemudahan menghitung peranannya. Perusahaan yang menggunakan infrastruktur digital bisa cepat mengevaluasi kinerja, lantas memutuskan kelanjutan bisnis: berhenti atau terus.
Artikel di laman Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada 2021 menyebut istilah ekonomi gig. Ekonomi gig menggunakan platform digital untuk menghubungkan pekerja lepas dengan konsumen dalam menyediakan layanan jasa jangka pendek atau berbagi aset. Contoh ekonomi gig adalah layanan pengemudi berbasis aplikasi atau ride hailing dan layanan pengantaran makanan berbasis aplikasi. WEF menekankan, perkembangan ekonomi gig menimbulkan pertanyaan perihal tingkat perlindungan konsumen dan pekerja. Tantangannya adalah menyeimbangkan antara inovasi dan kesepakatan yang adil bagi pekerja. Ada peran manusia di dalam ekonomi gig yang tidak boleh dinafikan. Peran pengemudi kendaraan yang mengantar konsumen maupun mengantar makanan sangat besar.
Tanpa mereka, peran aplikasi layanan jasa itu bisa merosot. Berdasar data BPS, pada Februari 2024, ada 142,18 juta orang bekerja di Indonesia, 59,17 % di antaranya bekerja di sektor informal, termasuk pengemudi di perusahaan penyedia aplikasi. Peran pengemudi yang besar itu mestinya diiringi perlindungan memadai, bukan hanya proteksi saat mengalami kejadian tertentu, melainkan harus bisa membuat pengemudi bersedia tetap bergabung dengan perusahaan penyedia aplikasi. Hak-hak dasar sebagai pekerja mesti dipenuhi. Status mereka, yang disebut sebagai mitra atau pekerja lepas, mestinya tidak menghapus hak sebagai pekerja. Mereka adalah manusia yang wajib diperjuangkan, bukan mesin. (Yoga)
Jelang Libur Idul Adha, IHSG Berada di Zona Merah
Aktivitas kesibukan para pekerja terlihat di Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (14/6/2024). Pada sesi perdagangan terakhir menjelang libur panjang Idul Adha tahun 2024 ditutup di zona merah dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,42 persen atau 96.73 poin ke level 6.734.831. (Yoga)
Awas, Jangan Tertipu Ikan Koi yang Ditato
Koi merupakan salah satu komoditas ikan hias eksotik paling favorit di Indonesia. Ikan hias air tawar ini mendominasi ekspor ikan hias, selain ikan arwana super red, cupang, dan mas koki. Ikan koi yang asalnya dari Jepang, mampu dikembangbiakkan secara masif oleh pembudidaya lokal. Indonesia berambisi jadi eksportir ikan hias terbesar di dunia pada tahun 2025. Ikan koi jadi salah satu komoditas yang diandalkan. Tak pelak, kualitas dan mutu ikan hias menjadi target yang harus digapai untuk mendorong perdagangan dan nilai jualnya.
Merujuk data ITC Trademap, pada 2017-2022, pertumbuhan nilai impor ikan hias global mencapai 2,63 % per tahun. Impor ikan hias dunia didominasi ikan hias air tawar dengan porsi 77,3 %. Pada 2022, Indonesia mampu mencapai pangsa pasar ikan hias global sebesar 11,1 % dan menempati posisi ke-2 eksportir ikan hias terbesar dunia setelah Jepang. Menjelang akhir 2023, Blitar, Jatim, dihebohkan dengan kasus ikan koi ditato. Ikan koi tubuhnya dipoles dan sisiknya ditato sedemikian rupa agar motif dan warnanya ciamik sehingga harganya melonjak menjadi puluhan juta rupiah.
Modus penipuan dengan memodifikasi tubuh ikan koi itu menggemparkan jagat pelaku koi di Blitar yang lekat sebagai sentra budidaya koi dan menuai kecaman dari pehobi koi. Salah satu pegiat koi, Solaris Koi Media, dalam kanal Youtubenya, turut mengangkat kasus itu dan mengingatkan pelaku penipuan untuk tidak mengulangi perbuatannya. ”Kita ancam pelakunya, berhenti segera. Jangan jual (koi ditato) lagi. Kalau tidak, kita perdalam dan akan kita pidanakan,” ujar Hendri Solaris, dalam tayangan Youtube ”Heboh Ikan Koi Tatto! Kreatif atau Penipuan?” pada Oktober 2023. Gilang, pedagang koi di Blitar, menyatakan, terungkapnya kasus koi ditato pengujung tahun lalu itu sangat meresahkan dan menipu banyak orang.
Tubuh dan sisik yang ditato serta penambahan warna membuat koi secara fisik semakin menarik dan mendongkrak nilai jual. Namun, imbasnya citra unggul ikan koi tercemar akibat kasus tersebut. Ia pernah menjadi salah satu korbannya. Seekor ikan koi dengan pola tubuh dan sisik hitam yang unik dia beli seharga Rp 3 juta, lalu ia jual ke konsumen Rp 8 juta. Ternyata, warna hitam di tubuh koi itu luntur. Kecurigaan bahwa ikan koi itu ditato pun mencuat setelah viralnya kasus koi ditato. ”Ini jelas merugikan dan mengabaikan perikehewanan. Pelanggar harus dikejar sampai ketemu,” ujar Gilang. Meski perilaku membuat pola pada tubuh ikan dinilai kreatif, hal ini sangat terlarang dan merugikan konsumen. (Yoga)
Pusat Data Perlu Banyak Tenaga Kerja Terampil
Tenaga kerja terampil semakin banyak dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas pusat data. Di Indonesia, Batam dan Jabodetabek menjadi wilayah target pembangunan pusat data. ”Industri fasilitas pusat data kekurangan suplai tenaga kerja. Pada saat pandemi Covid-19, kebiasaan warga bergeser ke digital dan berbagai industri mengikuti tren itu dengan gencar melakukan transformasi digital,” ujar CEO NeutraDC Nxera Batam Indrama YM Purba seusai sharing session di Jakarta, Jumat (14/6). Transformasi digital terus berlanjut setelah pandemi dan membutuhkan fasilitas pusat data. Kebutuhan talenta terampil untuk pusat data berasal dari berbagai latar pendidikan.
Ini mengikuti komponen-komponen di pusat data, antara lain, bangunan fisik, jaringan, keamanan siber, dan UPS. ”Talenta untuk fasilitas pusat data itu banyak, dari konsultan, tenaga konstruksi, hingga operasional. Baik di Batam atau Jabodetabek sedang (marak) pembangunan pusat data. Ketika ditanya apakah kekurangan talenta, ya, jawabannya kurang,” kata Indrama. Mengutip laporan riset Uptime Institute, 53 % operator fasilitas pusat data di dunia pada 2022 melaporkan kesulitan menemukan karyawan yang memenuhi syarat. Padahal, pada 2021, hanya 47 % operator pusat data yang melaporkan susahnya mencari talenta terampil. Pada 2018, hanya 38 % operator yang kesulitan.
Laporan yang sama menyebut, setidaknya 2,3 juta pekerja penuh waktu akan dibutuhkan untuk menjaga pusat data tetap beroperasi secara global pada 2025. Permintaan itu terutama datang dari raksasa internet dan penyedia kolokasi pusat data di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika. Guna mengatasi kekurangan talenta fasilitas pusat data, Uptime Institute menyarankan, para pemimpin industri harus bekerja sama meningkatkan perekrutan dan pelatihan. Strategi perekrutan dan pendampingan tradisional harus diganti dengan pendekatan baru yang memanfaatkan transformasi digital dan tren inovasi terkini. NeutraDC Nxera Batam, kata Indrama, akan mengombinasikan tenaga kerja dari dalam dan luar Batam dengan harapan supaya ada transfer ilmu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









