Ekonomi
( 40554 )Kasus dugaan korupsi lelang tender pengadaan barang dan jasa di ULP
Kejaksaan Negeri Bandung menahan seorang pegawai negeri sipil berinisial RA di Unit Layanan Pengadaan atau ULP Kota Bandung terkait kasus dugaan korupsi lelang tender pengadaan barang dan jasa tahun anggaran 2024. Pegawai itu diduga menerima uang dari calon peserta lelang hingga Rp 200 juta. ”RA terungkap dirinya diduga menerima uang Rp 200 juta dari pengusaha sebagai calon peserta lelang secara tunai dan rekening bank,” kata Kasi Intel Kejari Bandung Wawan Setiawan, Selasa (13/8). Wawan mengatakan, RA menerima gratifikasi hingga Rp 200 juta sebagai imbalan atas bantuan data informasi 14 tender yang disediakan Pemkot Bandung pada 2024.
Dimana RA berperan sebagai anggota Kelompok Kerja (Pokja) ULP Kota Bandung, yang bertugas menetapkan penyedia tender pengadaan barang dan jasa pemerintah. Modus dalam kasus ini, RA memberikan data terkait tender yang meliputi dokumen desain teknis bangunan, rancangan anggaran belanja, dan harga perkiraan sendiri. Pemberian data informasi ini untuk menguntungkan calon peserta lelang yang akan mengikuti tender proyek pengadaan barang dan jasa yang diselenggarakan pemerintah. ”Para pengusaha yang merupakan calon penyedia tender terindikasi dipaksa untuk membeli data yang diberikan RA.
Dari temuan kami, para pengusaha menyetorkan uang dengan nilai yang bervariasi dari Rp 7 juta hingga Rp 90 juta,” ungkap Wawan. RA telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan Bandung. RA dijerat dengan Pasal 11 dan Pasal 12 E UU No 20 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Tipikor. Pasal 11 UU No 20/2021 mengatur soal tindak pidana korupsi oleh penyelenggara negara, sedangkan Pasal 12 E mengenai penerimaan gratifikasi dengan unsur paksaan. Akibat perbuatannya, RA terancam pidana penjara maksimal seumur hidup dan denda Rp 1 miliar. (Yoga)
Optimalisasi Kinerja Ekspor
Melindungi Lahan Pertanian Menjaga Ketahanan Pangan
Meneropong Prospek Antam
Era Pertumbuhan Tinggi Laba Bank Berakhir
Anjloknya Laju Manufaktur
Bayangan Kasus di Balik Mundurnya Airlangga Hartarto
Peran Penting UMKM
Rapat Darurat soal Mobil Listrik di Korsel
Pemerintah Korsel menggelar rapat darurat pada Senin (12/8). Hangusnya 140 mobil yang dipicu kebakaran mobil listrik Mercedes-Benz EQE dan Kia EV6 menjadi bahasan rapat. Keamanan baterai mobil listrik dipertanyakan. Wakil Menteri Lingkungan Hidup Lee Byung-hwa memimpin rapat itu. Hari ini, pemerintah dijadwalkan memanggil perwakilan Hyundai Motor Group, Mercedes-Benz Korea, dan Volkswagen Group Korea. Insiden yang terjadi pada Kamis (8/8) menjadi pembahasan karena menghanguskan 140 mobil dan satu blok apartemen tempat mobil terparkir di Incheon. Insiden dimulai dari satu unit Mercedes-Benz EQE yang terbakar di tempat parkir bawah tanah.
Sejumlah pakar otomotif menyebut, saat kendaraan listrik terbakar, proses terbakar hingga padam berlangsung lebih lama. Pemadaman kebakaran lebih sulit karena cenderung menyala kembali. Sebelumnya, Selasa (6/8), di Geumsan, Chungcheong Selatan, Kia EV6 terbakar kala diparkir. Merujuk kantor berita Yonhap, saksi mata mengatakan, kebakaran bermula dari bawah kendaraan, tempat baterai berada. Saat itu, mobil tersebut dalam proses pengisian baterai. Proses pemadaman berlangsung 90 menit. Sebelum insiden Incheon dan Chungcheong Selatan, Korsel mencatat sejumlah insiden lain soal kebakaran mobil listrik. Korsel disebut akan membuat aturan baru soal baterai bagi kendaraan, baik roda dua maupun mobil, juga aturan soal perlindungan konsumen.
Pekan lalu, surat kabar Chosun Ilbo melaporkan, Korsel berencana mengharuskan produsen kendaraan listrik mengungkap merek baterai yang digunakan produk mereka. Sejauh ini, produsen mobil memberi rincian terbatas baterai yang digunakan, tanpa menyebutkan nama produsen. Moon Hak-hoon, profesor teknik otomotif Universitas Osan, mengatakan, mengharuskan perusahaan mobil memberi merek baterai EV tidak akan mencegah kebakaran. Pemerintah wajib menstandardisasi dan memberi sertifikasi keamanan setiap merek baterai yang digunakan kendaraan listrik berbasis baterai.
Sabtu (10/8) Hyundai mengungkapkan, baterai yang mereka gunakan di 13 model kendaraan listrik berasal dari LG Energy Solution Ltd atau SK On Co. Khusus untuk Kona Electric, perusahaan ini menggunakan produk baterai buatan perusahaan China, CATL. Mengutip Yonhap, sebagian besar dari tujuh model mobil listrik buatan KIA termasuk EV3, EV6, dan EV9, menggunakan baterai buatan LG Energy Solution Ltd dan SK On Co. Sementara untuk model terbaru, Ray EV segmen A, dan beberapa model crossover, seperti Niro EV, dipakai baterai CATL. (Yoga)
Target Penurunan Kemiskinan
BPS merilis statistik jumlah penduduk miskin Indonesia ”tinggal” 25,2 juta pada Maret 2024, lebih rendah dari Maret 2023, di 25,9 juta jiwa. Artinya 700.000 penduduk Indonesia berhasil ”keluar” dari jurang kemiskinan. Tingkat kemiskinan juga turun dari 9,36 % pada Maret 2023 menjadi 9,03 persen pada Maret 2024, atau turun 0,33 % poin. Penurunan ini diikuti makin sedikitnya penduduk yang miskin ekstrem. BPS mencatat tingkat kemiskinan ekstrem Maret 2024 sebesar 0,83 %. Turun 0,29 % poin dibanding Maret 2023 di 1,12 %. Berbagai upaya yang dilakukan, termasuk kucuran anggaran superbesar oleh pemerintah, memberi hasil positif bagi program penghapusan kemiskinan.
Sayangnya, angka-angka itu sekaligus mengungkapkan bahwa target pemerintah dalam menurunkan kemiskinan tidak tercapai. Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf menargetkan tingkat kemiskinan turun hingga 7,5 % pada akhir masa pemerintahannya. Masih ada sisa waktu beberapa bulan ini untuk menurunkan angka kemiskinan dari 9,03 % pada Maret 2024 menjadi 7,5 % pada Oktober 2024, tapi, mengacu tren penurunan angka kemiskinan yang hanya 0,2-0,3 % poin per tahun, penurunan 1,5 % poin dalam enam bulan hampir mustahil. Demikian juga angka kemiskinan ekstrem.
Hampir mustahil angka yang masih 0,83 % pada Maret 2024 menjadi nol % pada Oktober 2024. Tidak tercapainya target penghapusan kemiskinan pada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf menjadi PR bagi pemerintahan mendatang, terutama karena presiden dan wapres terpilih menggunakan label ”lanjutkan”. Pemerintahan mendatang menetapkan target tingkat kemiskinan turun menjadi 6 % pada 2029 dan kemiskinan ekstrem hilang pada tahun 2026. Namun, untuk menurunkan angka kemiskinan sebesar 3 poin % selama lima tahun, dibutuhkan kerja ekstra dan berbagai terobosan, setidaknya mempertahankan anggaran yang superbesar.
Ada tiga strategi yang ditempuh untuk menghapus kemiskinan. Pertama, pengurangan beban pengeluaran masyarakat, dengan BLT, bansos, Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Pintar, Kartu Sehat, ditambah lagi dengan program prioritas makan bergizi gratis, yang berdampak pada penurunan angka kemiskinan. Kedua, peningkatan pendapatan dan pemberdayaan masyaPilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









