Ekonomi
( 40733 )Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti 4 di luar PT Bank Mandiri
Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 di luar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencetak laba bersih sebesar Rp86,42 triliun per Agustus 2024. Perolehan ini tumbuh 7,79% dibandingkan Agustus 2023 sebesar Rp80,17 triliun. Adapun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengantongi laba bersih bank only Rp36,12 triliun, tumbh 3,96% secara tahunan (year on year/yoy). Didukung dengan pendapatan bunga bersih (net interest incoming/NII) sebesar Rp73,63, naik 2,89% (yoy).
Kemudian, posisi kedua ada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan pertumbuhan laba bersih bank only tertinggi 13,5% (yoy) menjadi Rp35,99 triliun, angka ini tidak jauh berbeda dari BRI. Pertumbuhan laba BCA ditopang dari NII yang meningkat 8,78% (yoy) menjadi Rp50,55. Karena Bank Mandiri belum merilis laporan keuangan Agustus, peringkat selanjutnya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dengan laba bersih Rp14,22 triliun, tumbuh 4,33% (yoy), didukung NII sebesar Rp25,56 triliun, terkontraksi 6,82% (yoy). (Yetede)
PT Green Power Group Tbk Langsung Tancap Gas Menggarap Bisnis Baterai Kendaraan Listrik
PT Green Power Group Tbk (LABA) langsung tancap gas dalam menggarap bisnis baterai kendaraan listrik (elektric vehicle/EV) setelah berganti pemegang saham pengendali pada akhir Juni 2024. Emiten yang sebelumnyu bernama PT Ladang Baja Murni Tbk dan bergerak di bidang produksi baja tersebut, memutus untuk mengganti care business dari produksi baja ke bisnis baterai EV setelah diakuisisi PT Nev Stored dan bergerak di bidang kepemilikan saham sebanyak 50,75%.
Langkah itu tampaknya mendapat responn positif dari pasar, yang terlihat dari lonjakan sahamnya sehingga 1.000% ke level Rp550. Manajemen Green Power menegaskan bisnis perseroan ke depannya akan mengacu pada produksi baterai lithium, penyewaan baterai, pembangunan jaringan stasiun penukaran baterai, serta investasi dan pengoperasian stasiun tenaga surya. Terbaru, perseroan membentuk tiga perusahaan dengan mitra strategis untuk pengembangan ekosistem baterai EV. (Yetede)
BSI Mengadopsi Sistem Payroll
PT Bank Muamalat Indonesia Mencatat Kinerja Solid dalam Pembiayaan Emas Melalui Produk Solusi Emas Hijrah
Janji Tinggal Janji Jokowi
Jokowi pada Pekan ini Meresmikan Produksi Awal dari Tiga Smelter Sekaligus
Jokowi Meresmikan Produksi Awal Tiga Fasilitas Pengolahan atau Smelter
IHSG Menunggu Katalis Penggerak Baru
Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve dan Bank Indonesia, serta sentimen positif yang diharapkan muncul dari faktor domestik dan global. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menyebutkan bahwa aksi profit-taking di pasar adalah wajar dan tetap ada potensi penguatan IHSG jika aliran modal asing berlanjut. Selain itu, stimulus dari pemerintah China diperkirakan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti agenda politik di kuartal IV/2024, seperti pelantikan Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan pembentukan kabinet baru yang bisa mempengaruhi pasar. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo, juga optimis bahwa stabilitas politik akan mendorong penguatan IHSG, dengan prediksi IHSG bisa mencapai level 7.920 hingga 8.080 hingga akhir tahun. Selain itu, sektor-sektor potensial seperti perbankan, properti, dan ritel diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari situasi politik dan ekonomi tersebut.
Perusahaan Tingkatkan Kapasitas PLTP untuk Energi Baru Terbarukan
Sejumlah perusahaan Indonesia sedang gencar mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sejalan dengan upaya pemerintah dalam transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Target dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN adalah mencapai 60% bauran EBT pada 2025-2035.
Beberapa perusahaan besar berkomitmen dalam investasi panas bumi, termasuk Star Energy Geothermal, bagian dari Grup Barito melalui PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), yang berencana meningkatkan kapasitas dari 886 MW menjadi 988,6 MW. PT Ormat Geothermal Indonesia dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga sedang mengejar izin panas bumi untuk proyek di Toka Tindung dengan kapasitas 40 MW.
Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), bersama dengan Chevron New Energies Holdings Indonesia Ltd., telah memulai eksplorasi panas bumi di wilayah Way Ratai, Lampung, dengan komitmen investasi sekitar Rp437,22 miliar. Menurut Direktur Utama PGEO Julfi Hadi, perusahaan ini berkomitmen mengejar target kapasitas 1 GW dalam dua tahun ke depan melalui berbagai proyek panas bumi, termasuk PLTP Lumut Balai Unit 2.
Sementara itu, PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), bagian dari Grup Sinar Mas, menyiapkan investasi sebesar US$400 juta untuk pengembangan dua blok panas bumi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. CEO Barito Renewables Hendra Tan menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi pembangkit panas bumi guna memastikan masa depan energi bersih di Indonesia.
Industri Halal Nasional Terancam oleh Gempuran Produk Impor
Tantangan yang dihadapi industri halal Indonesia dalam menghadapi gempuran produk impor yang berpotensi mengurangi pangsa pasar domestik, meskipun Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi pasar halal. Eko S. Cahyanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, menggarisbawahi bahwa ekosistem syariah yang berkembang pesat di Indonesia adalah peluang besar bagi pelaku industri halal domestik. Namun, mereka harus siap bersaing dengan produsen halal global.
Terdapat tiga tantangan utama yang harus segera diatasi. Pertama, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) masih rendah, hanya mencapai US$13,38 miliar. Kedua, kewajiban sertifikasi halal yang berlaku mulai Oktober 2024 untuk produk makanan, minuman, hasil sembelihan, dan jasa penyembelihan. Ketiga, membanjirnya produk halal impor yang dapat masuk ke pasar Indonesia dengan sertifikasi halal dari luar negeri, sehingga meningkatkan persaingan dengan produk lokal. Eko S. Cahyanto juga menekankan bahwa preferensi konsumen terhadap produk luar negeri masih menjadi tantangan bagi industri halal lokal, mengingat banyak yang lebih memilih produk impor daripada produk dalam negeri.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









