Ekonomi
( 40554 )Logam Emiten: Katalis Baru untuk Permintaan Pasar
Paket stimulus People’s Bank of China (PBOC) diprediksi membawa dampak positif pada saham-saham emiten tambang logam, seperti yang disampaikan oleh Gubernur PBOC Pan Gongsheng. Stimulus ini melibatkan pemangkasan suku bunga reverse repo dan giro wajib minimum (GWM), yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan komoditas logam dari China.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus, memperkirakan stimulus ini akan mendorong permintaan logam, termasuk timah dan nikel. Mereka merekomendasikan beli untuk saham PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL). Analis Ciptradana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, juga memperkirakan kenaikan harga logam hingga 2026, terutama untuk nikel dan timah.
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas dan Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas melihat sentimen positif ini akan mendorong kinerja emiten tambang logam pada paruh kedua 2024. Nafan menyarankan akumulasi beli untuk saham ANTM dan MDKA. Namun, Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas berpendapat bahwa penguatan harga logam mungkin tidak akan signifikan hingga akhir tahun.
General Manager Corporate Communication MDKA, Tom Malik, mengonfirmasi bahwa stimulus PBOC telah meningkatkan permintaan dan harga logam, terutama emas, perak, dan tembaga. Selain itu, VP Tiger Warrior Maybank Sekuritas, Doni Setiowibowo, menilai bahwa sektor properti China yang didorong oleh stimulus ini akan meningkatkan permintaan nikel, memberikan keuntungan bagi saham-saham seperti INCO dan ANTM.
FSPO Marlin Natuna: Penggerak Baru Industri Hulu Migas
Proyek pembangunan unit penyimpanan dan pembongkaran migas terapung (FPSO) Marlin Natuna, yang dikembangkan sejak 2022, telah berhasil diselesaikan. Proyek ini bertujuan untuk mendukung produksi minyak dari proyek Forel di Laut Natuna, Kepulauan Riau. FPSO Marlin Natuna, dengan kapasitas 250.000 barel, akan menampung minyak dari proyek tersebut, yang diharapkan mulai onstream pada akhir 2024 dengan produksi sekitar 10.000 barel per hari.
Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo, menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian penting dari Wilayah Kerja South Natuna Sea Block B, dengan total investasi mencapai US$236 juta (Rp3,5 triliun). Ia berharap proyek ini tidak hanya mendukung fasilitas produksi hulu migas tetapi juga menciptakan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Direktur Utama Medco E&P, Ronald Gunawan, menegaskan bahwa FPSO Marlin Natuna akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2024, dan proyek ini merupakan bukti kemampuan Medco dalam menangani proyek kompleks serta komitmennya terhadap industri migas Indonesia. Muhammad Darwin, Kepala Dinas ESDM Provinsi Kepulauan Riau, juga mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah daerah, SKK Migas, dan Medco E&P, serta menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam kemudahan perizinan.
Memperindah Destinasi Wisata Taka Bonerate
Taman Nasional Taka Bonerate berpotensi menjadi magnet wisatawan domestik dan mancanegara karena pesona baharinya yang menakjubkan. Namun, akses ke taman nasional ini masih perlu diperbaiki. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Arafah, menyatakan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan akses, termasuk melalui pelayaran langsung dari Makassar ke Taka Bonerate. Hal ini diprediksi akan meningkatkan kunjungan wisatawan. Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Syaiful Arif, menambahkan bahwa Festival Taka Bonerate, yang akan diadakan pada Oktober 2024, dirancang untuk mempromosikan pariwisata dan budaya lokal. PT Pelni juga mendukung acara ini dengan membuka rute pelayaran sementara ke Pulau Bonerate selama festival berlangsung, meskipun belum ada rencana untuk membuat rute reguler karena kendala infrastruktur.
Optimisme Pebisnis Tergerus Kekhawatiran Daya Beli
Optimisme pebisnis masih berkibar pada kuartal terakhir 2024 ini. Periode ujung tahun, saat terjadi pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Joko Widodo ke Presiden 2024-2029 Prabowo Subianto. Kondisi ini tecermin dari hasil survei Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal IV-2024. Survei KONTAN atas persepsi Chief Executive Officer (CEO) dari puluhan perusahaan menyebutkan para nakhoda korporasi di level optimistis di kuartal terakhir 2024. Meski begitu, optimisme itu dibayangi dengan sejumlah masalah yang dikhawatirkan masih menjadi bandul berat yang bisa membuat keyakinan para CEO memudar. Kekhawatiran tersebut menyangkut pelambatan ekonomi global, efek ke ekonomi dalam negeri serta daya beli masyarakat yang tak kunjung naik. Hasil survei, keyakinan para CEO secara umum memang menurun. Ini ditunjukkan keyakinan mereka ke level 3,29 di kuartal IV-2024, turun dari level kuartal III-2024 yang sebesar 3,39. Dari enam indikator survei, penilaian terhadap perekonomian global di zona pesimis. Dalam survei ICCI periode ini, para CEO masih menyoroti persoalan daya beli dan kondisi global yang masih menantang pada akhir tahun.
Mereka menilai, daya beli masih lemah di tengah kuatnya tekanan harga komoditas pangan. "Daya beli masyarakat masih lemah," ujar Sandra Sunanto, Presiden Direktur PT Hartadinata (HRTA).
Sinyal kuat pelemahan daya beli juga nampak dari anjloknya pembelian barang-barang berdaya tahan lama atau durable goods. Penjualan mobil, anjlok 17,1% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi 560.619 unit pada Januari-Agustus 2024.
Meski begitu, daya beli di penghujung tahun diharapkan membaik seiring turunnya bunga acuan BI sebesar 25 basis poin (bps) dari 6,25% menjadi 6% pada pertengahan September lalu. "Semoga penurunan suku bunga akan menjadi stimulus kuartal IV ini," ujar Santosa, Direktur Utama PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
"Konflik geopolitik, inflasi tinggi, fluktuasi nilai tukar, dan ancaman resesi global dapat memberikan dampak negatif terhadap bisnis dan menjadi faktor yang perlu diwaspadai," ungkap Direktur Utama PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, David Hidayat
"Sejauh ini situasi politik paska pemilu cukup kondusif, harapannya transisi pemerintahan ini bisa berjalan lancar sampai tuntas," ujar Setyono Djuandi Darmono, Direktur Utama PT Jababeka Tbk (KIJA).
IHSG Merana di Tengah Arus Dana Asing ke China
Dana investor asing menguap dari bursa saham dalam negeri. Pada perdagangan Senin (30/9), investor asing mencatat penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp 3,10 triliun di seluruh pasar. Dalam lima hari terakhir, net sell asing sudah mencapai Rp 7,7 triliun. Investor asing terpantau banyak melepas kepemilikannya di saham blue chip, terutama sektor perbankan. Aliran dana asing paling deras keluar dari saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net foreign sell Rp 3,99 triliun dalam lima hari terakhir. Menyusul saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan net sell lebih dari Rp 1 triliun. Dana asing di sejumlah negara termasuk Indonesia, ditengarai memang sedang pindah haluan ke bursa saham China. Investor global melihat kesempatan berburu saham-saham undervalue di China yang akan terdorong kebijakan stimulus. Hal ini juga terlihat dari pergerakan indeks saham di China yang menguat signifikan. Shanghai Composite Index (SSEC) melonjak 8,06% dalam satu hari ke 3.336,5. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah mengatakan, efek stimulus yang digelontorkan oleh People Bank of China (PBoC) memang cukup signifikan memengaruhi pasar saham regional belakangan ini. "Namun, kalau perekonomian China pulih, Indonesia yang akan diuntungkan karena pasar ekspor Indonesia ke China besar," jelasnya kepada KONTAN, Senin (30/9). Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan, penurunan indeks di pasar China selama ini telah membuat valuasi saham di Negeri Tirai Bambu semakin murah.
Selain itu, saat IHSG bulan September sudah naik kencang, pasar China yang masih berada di level bawah akan lebih menarik bagi investor asing. Menurut Nico, perlu kekuatan baru bagi China untuk bisa bangkit. "Namun ini hanya sentimen sesaat karena fundamental China belum membaik," katanya.
Nico menilai, saham-saham yang dilego investor asing masih menarik dan murah sehingga bisa dilirik. Saham pilihannya jatuh pada BBRI dengan target harga di Rp 5.750, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI ) dengan target harga Rp 7.850 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 11.550. Investor juga bisa mencermati saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Sedangkan saham pilihan Fath ialah saham perbankan
blue chip. Selain itu, saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) juga bisa dicermati.
Senior Investment Strategist
Bank DBS Joanne Goh menilai, aliran modal bisa kembali masuk, jika pemangkasan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves kembali berlanjut di bulan November dan Desember 2024.
Dividen: Peluang Cuan Bagi Investor
Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera membagikan sebagian laba bersihnya dalam bentuk dividen tunai dan interim. Sejauh ini ada lima emiten yang mengumumkan jadwal pembagian dividen di bulan Oktober 2024. Salah satunya PT United Tractors Tbk (UNTR) yang akan membayar dividen interim Rp 2,42 triliun dari buku tahun 2024. Total dividen interim ini setara 25,39% dari laba bersih UNTR per Juni 2024 Rp 9,53 triliun. Tiap pemegang saham akan mengantongi bagian Rp 667 per saham. Selain UNTR, emiten Grup Astra yang juga siap menyebar dividen adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Emiten perkebunan ini akan menebar dividen interim tahun buku 2024 Rp 161,67 miliar. Dividen ini setara 32,27% dari laba bersih AALI per 30 Juni 2024 yang mencapai Rp 501,04 miliar. Equity Analyst PT Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty melihat, pembagian dividen interim menarik minat para pelaku pasar serta meningkatkan pendapatan bagi emiten pengendalinya.
Arinda melihat imbal hasil dividen HEXA cukup menarik. Namun, UNTR dan AALI paling cocok untuk investasi jangka panjang jika menilik kinerja keuangan. Sebab, laba bersih UNTR per kuartal II-2024 tumbuh 9,63% dan AALI naik 17,31% secara kuartalan.
Vinko Satrio Pekerti, Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat, pembagian dividen interim mengirimkan sinyal optimisme emiten terkait kinerja ke depan.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama sepakat, investor harus memperhatikan harga saham emiten pembagi dividen.
Nafan melihat, ada beberapa sentimen pendorong kinerja untuk para emiten di sisa tahun 2024. Di antaranya, konsumsi domestik yang relatif terjaga, sehingga akan memengaruhi permintaan.
Keduanya diuntungkan bila sentimen harga komoditas berdampak pada pertumbuhan penjualan alat berat untuk sektor pertambangan.
Mengandalkan Kelas Atas untuk Stabilitas Ekonomi
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) diproyeksi masih bisa mencetak pertumbuhan kinerja di semester II-2024. Proyeksi ini muncul di tengah sentimen boikot sejumlah produk food & beverages (F&B) MAPI yang masih berlanjut. Daya beli yang tangguh dari kelas menengah atas hingga meningkatnya gaya hidup yang aktif menjadi pendorong. Sejauh ini pendapatan di semester I-2024 naik 15% secara tahunan atau year on year (yoy). Adapun laba bersih terkontraksi sebesar 14,4% YoY. Margin laba kotor dan EBIT MAPI juga menunjukkan tren penurunan di semester I-2024. Margin laba kotor di semester I-2024 turun menjadi 43,3% dari 45,4% pada semester I 2023. Demikian pula, marjin EBIT turun menjadi 9% dari 11,1%. Dari sisi operasional, Natalia Sutanto, Analis PT BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan, dengan total 228 toko baru yang dibuka pada semester I-2024, pendapatan MAPI didorong kinerja segmen active yang tumbuh 32% yoy dan fashion 15% yoy. Meski begitu, penundaan pembukaan toko di Vietnam menyebabkan penumpukan persediaan. Penguatan rupiah dan koleksi baru untuk musim gugur serta musim dingin akan jadi sentimen positif bagi MAPI.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menimpali, kinerja MAPI mampu bertumbuh, baik pendapatan maupun laba bersih.
Sementara Analis OCBC Sekuritas William Siregar menilai makin banyak masyarakat Indonesia yang mengadopsi gaya hidup aktif mendorong kinerja MAPI. Gaya hidup aktif seperti olahraga lari yang popularitasnya melonjak meningkatkan penjualan produk-produk penunjang.
Selain itu konflik berkepanjangan di Timur Tengah menimbulkan risiko yang semakin besar bagi MAPI, terutama karena meningkatnya gerakan boikot yang dapat merusak citra perusahaan, terutama di segmen F&B.
MAPI berkonsentrasi pada lokasi-lokasi utama seperti Sogo (Plaza Senayan Mall Jakarta, Lippo Mall Puri Jakarta), Seibu (Grand Indonesia Mall Jakarta), dan Galeries Lafayette (Pacific Place Mall Jakarta).
Era Prabowo: Potensi Pertumbuhan Kredit
Prospek bisnis perbankan di era pemerintahan Prabowo-Gibran berpotensi lebih cerah. Pasalnya, pemerintahan baru itu menjanjikan bisa membawa ekonomi Indonesia tumbuh 8% per tahun. Sejumlah program telah disiapkan untuk bisa merealisasikan janji tersebut. Sektor perumahan akan menjadi salah satu program prioritas pemerintahan periode 2024-2029 itu. Tak tanggung-tanggung, Prabowo-Gibran menjanjikan program pembangunan 3 juta rumah per tahun, naik tiga kali lipat dari program sejuta rumah pemerintahan Jokowi. Sebelumnya, Ketua Satgas Perumahan Presiden terpilih Prabowo Subianto, Hashim S. Djojohadikusumo, mengatakan sektor properti akan didorong bisa berkontribusi 25% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia ke depan, naik signifikan dari 3% saat ini. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kredit perbankan akan tumbuh 10%-12%. Adapun realisasi per Agustus 2024 tercatat tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan atau year on year (YoY). Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga memperkirakan kegiatan ekonomi, termasuk bisnis perbankan, akan tumbuh positif bisa transisi pemerintahan dari presiden Jokowi ke presiden Prabowo berjalan dengan baik. “Kita semua berharap transisi di pemerintahan bisa berjalan dengan mulus,” ujarnya kepala KONTAN, Senin (30/1).
Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, optimistis kredit Bank Oke akan tumbuh positif pada 2025. Ia memprediksi pertumbuhannya bisa tumbuh lebih kencang dari tahun ini jika kebijakan pemerintahan Prabowo pro bisnis.
Sementara Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, mengungkapkan penyaluran kredit BNI masih dijalur target yang sudah ditetapkan. Perseroan menargtekan kredit tumbuh 10%-12% tahun ini. Per Juni sudah tumbuh 11,7% secara tahunan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat, ekspansi kredit perbankan akan meningkat ke sektor-sektor yang menjadi program prioritas pemerintahan baru. “Infrastruktur konstruksi yang berkaitan dengan irigasi, bendungan, ini menjadi salah satu poin dari kenaikan proyeksi kredit tahun 2025 ke depan,” ujarnya.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto memperkirakan pertumbuhan kredit tahun depan bisa lebih kencang. Namun, menurutnya pertumbuhan itu lebih ditopang tren penurunan suku bunga. “Laju pertumbuhan kredit bisa sedikit naik, di kisaran 13%-15%,” ujarnya.
Dapen Alihkan Dana di Tengah Penurunan Bunga
Penurunan suku bunga acuan menekan prospek investasi deposito. Dengan kondisi ini, industri dana pensiun (dapen) mencari peluang investasi yang lebih baik dari instrumen investasi lain. Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan penurunan suku bunga acuan akan diikuti oleh penurunan bunga deposito perbankan. Dus, instrumen ini jadi kurang menarik dibandingkan alternatif lain. Nah salah satu instrumen yang cocok untuk dijadikan tempat switching dari deposito adalah produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia alias SRBI. Selain menawarkan imbal lebih tinggi, karakteristik SRBI juga serupa dengan deposito yang cocok untuk liabilitas jangka pendek. "Dapen BCA sendiri mengalihkan sebagian investasi deposito ke instrumen SRBI sekitar 30% mulai sejak April 2024," kata Budi. Saat ini porsi investasi Dapen BCA di deposito mencapai 13,4%.
Senada, Direktur Utama Dana Pensiun Bank Mandiri Abdul Hadie bilang SRBI jadi instrumen yang menarik di tengah potensi layunya bunga deposito. Meski begitu, Hadie mengatakan penurunan suku bunga BI tidak akan mengubah strategi investasi Dana Pensiun Bank Mandiri secara signifikan.
Industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) juga melihat potensi penurunan suku bunga bunga deposito berpotensi membuat porsi investasi di instrumen tersebut terkikis. Padahal, deposito kerap menjadi salah satu keranjang terbesar bagi DPLK saat menaruh dana investasi. Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK Syarif Yunus bilang pengelola DPLK harus menjaga pilihan investasi dari peserta untuk mendapatkan tingkat imbal hasil pengembangan yang layak dan optimal.
Bila menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DPLK tercatat mengoleksi surat berharga Bank Indonesia, terutama SRBI, pada Oktober 2023 senilai Rp 28,5 miliar. Namun nilainya terus naik hingga menembus Rp 4,9 triliun pada Juni 2024.
PRDA Genjot Kinerja di Sisa Tahun
Emiten laboratorium dan klinik kesehatan, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) terus menjalankan berbagai strategi yang telah disiapkan guna memacu pertumbuhan kinerja tahun ini. Direktur Utama PRDA Dewi Muliaty mengatakan, di sisa tahun 2024, beberapa startegi yang telah disiapkan adalah fokus meningkatkan pelayanan, serta fokus membidik klien korporasi. "Untuk pembukaan cabang kelihatannya juga telah selesai semua per September 2024, dan tentunya kami terus melakukan pengembangan bisnis dan kemudahannya melalui aplikasi U by Prodia. Kami berharap, dengan langkah-langkah ini dapat menambah pertumbuhan kinerja Perseroan," papar Dewi, Senin (30/9). Menurutnya, PRDA kini tengah menuntaskan sejumlah perizinan klinik di berbagai daerah. Hingga saat ini, sudah 152 perizinan klinik yang berhasil diselesaikam. Dewi menuturkan, melalui klinik ini Perusahaan akan melakukan segmentasi dan kategorisasi pasar berdasarkan kekhasan di tiap daerah.
Dengan berbagai upaya itu, Dewi mengklaim, PRDA tetap bisa mencetak pertumbuhan kinerja hingga kuartal III-2024. Namun demikian, diakuinya, tren pertumbuhan sepanjang tahun ini tidak begitu tinggi.
Melihat hal ini, Dewi mengatakan target pendapatan yang dipasang sebesar
low double digit
di awal tahun ini yang sebesar Rp 2 triliun, terpaksa direvisi.
Perusahaan awalnya cukup optimistis dengan dinamika pertumbuhan ekonomi dan kebiasaan masyarakat. Namun, tiap kuartal memiliki tantangan tersendiri. Namun demikian, PRDA tetap berusaha memperjuangkan kinerjanya bisa tumbuh lebih tinggi.
"Harapannya pertumbuhan kinerja masih tetap positif atau paling tidak ada pertumbuhan sebesar 2%. Awalnya kami berbicara target sebesar 7%, bahkan melihat perkembangan di kuartal II sempat mematok di 9%. Namun, melihat kuartal III-2024 yang pergerakannya tidak tinggi, kami pasang di 2%. Tapi, secara pertumbuhan semua masih positif," paparnya.
Prodia juga mencatat adanya penurunan jumlah kunjungan sebesar 4,8% menjadi 1,2 kunjungan. Adapun volume tes yang dilakukan sebesar 8,4 juta dengan pangsa pasar berada di level 40,1%.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









