Ekonomi
( 40460 )Masa Depan Investasi PetroKimia: Ke Mana Arahnya?
Kekhawatiran industri petrokimia Indonesia terkait kurangnya perlindungan dari pemerintah dan dampak dari membanjirnya produk impor, yang dapat mengancam investasi besar dalam sektor tersebut. Saat ini, pemerintah telah menerima komitmen investasi senilai Rp29,91 triliun hingga Rp31,41 triliun dari beberapa perusahaan petrokimia, termasuk PT Lotte Chemical Indonesia dan Pertamina-Polytama Propindo 2. Namun, perusahaan-perusahaan lain, seperti Chandra Asri Perkasa 2 dan Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), mengkaji ulang rencana investasi mereka karena belum adanya penyesuaian kebijakan impor plastik dalam Permendag No. 8/2024.
Wakil Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai, memperingatkan bahwa tanpa proteksi yang kuat dari pemerintah, potensi investasi sebesar US$27 miliar bisa hilang dan target swasembada petrokimia pada 2030 dapat meleset. Meskipun Deputi BKPM, Dedi Latip, menegaskan bahwa Permendag No. 8/2024 tidak mempengaruhi rencana investasi dan sektor petrokimia tetap menarik bagi investor asing, sejumlah ekonom tetap mengkritisi lambannya akselerasi industri petrokimia domestik.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho, menyoroti tiga kendala utama, yakni kurangnya perlindungan pasar, tingginya biaya utilitas, dan kebijakan hilirisasi yang kurang mendukung sektor petrokimia. Andry juga menekankan pentingnya proteksi pasar dan insentif khusus untuk meningkatkan daya tarik investasi di sektor ini.
Peluang IPO BUMN Semakin Terbuka Lebar
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan bahwa tidak ada perusahaan BUMN yang akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar modal tahun ini. Namun, peluang IPO terbuka pada tahun depan di bawah pemerintahan baru. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menjelaskan bahwa tahun ini minim perusahaan baru yang melantai di bursa karena banyak perusahaan yang bersikap "wait and see" terhadap situasi politik. Salah satu BUMN yang dirumorkan akan segera melakukan IPO adalah holding pertambangan Mind ID. Martha Christina, Head of Investment Information di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga mengonfirmasi bahwa pasar masih menunggu untuk melihat peluang IPO, dan kemungkinan besar akan lebih pasti tahun depan.
Investor Asing Mengejar Keuntungan di China
China tengah sibuk menebar paket stimulus jumbo demi mendongkrak perekonomiannya. Sejumlah kebijakan terbaru negara ini turut berimbas ke pasar keuangan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Stimulus yang digelontorkan Bank Sentral China alias People's Bank of China (PBoC) mulai memangkas suku bunga hingga menyuntik likuiditas di sistem perbankan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5%. Selama ini, Negeri Panda tertekan deflasi akibat penurunan pasar properti dan melemahnya kepercayaan konsumen. Bursa saham Tiongkok menyambut rancangan kebijakan ini dengan gembira. Sejumlah indeks di bursa saham China melesat sepekan terakhir. Pasar saham Tanah Air terkena imbasnya. Dalam jangka pendek, gelontoran stimulus China cenderung menjadi sentimen negatif untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengatakan, kombinasi pelonggaran kebijakan dan valuasi saham indeks-indeks di China yang murah, di jangka pandek, investor asing menarik dana dari emerging market ke pasar China. "Apalagi IHSG juga riskan terkoreksi karena masih di kisaran rekor tertinggi sepanjang masa," katanya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Namun stimulus China, dinilai masih belum sepadan dengan ekonomi. Cheril bilang memang akan terjadi potensi perpindahan dana asing dari Indonesia ke China. Hanya saja, aliran dana investor asing yang keluar dari pasar Indonesia relatif terbatas.
Mengingat data ekonomi China masih lemah.
Adrian Joezer,
Head of Equity Research & Strategy
Mandiri Sekuritas menambahkan, koreksi IHSG belakangan ini memang disebabkan aksi profit taking dibarengi kebijakan Pemerintah China.
Instrumen pertama PBoC akan menggelontorkan dana sebesar CNY 500 miliar. Fasilitas ini memungkinkan perusahaan asuransi dan pialang mendapatkan akses lebih mudah untuk membeli saham. Kemudian, kedua, PBoC juga akan menyediakan dana sebesar CNY 300 miliar berbentuk pinjaman murah ke bank-bank komersial sebagai pendanaan untuk membeli saham atau menggelar program buyback.
Direktur Infovesta Utama, Edbert Suryajaya mengatakan, adanya stimulus seharusnya berdampak positif kepada pasar saham Indonesia. Jika aktivitas ekonomi di China tumbuh, akan menguntungkan emiten-emiten yang berorientasi ekspor.
Cheril menimpali, kenaikan harga komoditas logam, seperti emas, nikel dan timah dapat dimanfaatkan investor. Secara tidak langsung, kenaikan harga komoditas menguntungkan emiten ekspor di sektor tersebut. Cheril merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham produsen emas. Cermati juga saham yang diuntungkan pelonggaran suku bunga seperti properti dan teknologi.
La Nina Berpotensi Menekan Margin Emiten Poultry
Fenomena La Nina tampaknya bakal menjadi sentimen negatif bagi emiten poultry atau unggas. Sebab, fenomena ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku pakan ternak seperti jagung. Dus, dapat meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan sektor ini. Harga jagung domestik pada September 2024 tercatat naik 2,3% secara bulanan, terutama disebabkan oleh curah hujan sedang di luar Jawa, yang dapat memengaruhi hasil panen. Sementara itu, harga bungkil kedelai juga naik meningkat 4,4% secara bulanan. "Ke depan, kami mengantisipasi kenaikan harga bahan baku lebih lanjut didorong oleh musim hujan dan potensi efek La Nina," tulis tim riset Samuel Sekuritas, dalam riset 25 September 2024. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, dalam jangka pendek hingga menengah, tekanan terhadap margin keuntungan emiten poultry akan meningkat imbas La Nina. Emiten yang tidak memiliki strategi hedging atau diversifikasi bahan baku yang baik akan lebih merasakan dampak dari fenomena ini. Hendra menilai, emiten seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dianggap lebih tangguh dalam menghadapi fenomena ini.
JPFA memiliki skala ekonomi yang besar serta akses pasar yang luas, sedangkan CPIN dikenal dengan efisiensi operasional yang tinggi.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengamini, fenomena La Nina berpotensi meningkatkan harga bahan baku untuk pakan ternak dan akhirnya menekan margin keuntungan dari emiten unggas.
Sementara, Tim Riset Samuel Sekuritas menilai, di antara emiten sektor unggas JPFA dan MAIN memiliki valuasi harga paling menarik. Kedua emiten ini juga mendapat dorongan dari program pemusnahan sukarela (
culling
), termasuk adanya sentimen positif dari kebijakan pemerintah soal makan bergizi gratis. Berdasarkan konsensus, Samuel Sekuritas melihat saham CPIN dan JPFA masih mendapatkan peringkat beli dengan target harga masing-masing Rp 5.900 dan Rp 1.910. Sedangkan rekomendasi
ORI026 Tetap Menarik bagi Investor
Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI026 sudah bisa dipesan mulai hari ini (30/9) hingga 24 Oktober 2024. Di tengah suku bunga Bank Indonesia (BI) yang terpangkas dari 6,25% menjadi 6%, ORI026 menetapkan bunga lebih tinggi dengan sistem fixed rate. Bunga seri ORI026T3 atau tenor tiga tahun sebesar 6,3%, dan tenor enam tahun atau ORI026T6 menawarkan bunga 6,4%. Ini akan menjadi penerbitan ORI terakhir di tahun ini. Sebelum tahun 2024 ditutup dengan penerbitan ST013 pada November mendatang. Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin menilai, potensi penawaran dana untuk ORI ini akan besar, walaupun sedang ada tren penurunan suku bunga. Selama yield yang ditawarkan obligasi ritel lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito, maka investor masih akan tetap tertarik membeli obligasi ritel.
Selain itu, ORI026 merupakan kesempatan bagi investor untuk berburu kupon tinggi sebelum semakin langka seiring dengan pemangkasan suku bunga yang diperkirakan masih akan dilakukan oleh bank sentral ke depan.
Associate Director Fixed Income
Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto memperkirakan penyerapan ORI026 akan mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun. Ditambah pemotongan pajak obligasi ritel ini akan lebih rendah yakni 10% dibanding deposito yang sebesar 20% "Jadi instrumen ini tetap menarik bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan likuiditas untuk berinvestasi di pasar modal," kata, Jumat (27/9).
Head of Business Development Division
Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi optimistis, penjualan ORI026 tetap menarik. Meskipun pemerintah belum mengumumkan target penjualan ORI026. Reza meyakini penjualannya akan tetap tinggi mengingat minat yang konsisten dari investor ritel terhadap instrumen ini.
Penurunan Beban Dana Jadi Angin Segar bagi Bank
Era suku bunga tinggi resmi berakhir dengan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Hal itu diperkirakan dapat mendongkrak kinerja emiten, khususnya sektor perbankan. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, untuk jangka pendek saham sektor perbankan masih akan bergerak fluktuatif. Sebab terdapat sentimen yang mempengaruhi gerak pasar. Pertama, pasar menantikan pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih. Kedua, rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2024 yang diperkirakan tidak setinggi pada kuartal II. Sementara untuk jangka panjang, pemangkasan suku bunga ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan. Sebab berpotensi meningkatkan kinerja kredit perbankan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano sepakat, efek pemangkasan suku bunga tidak akan berlangsung instan. Ia memperkirakan perbaikan likuiditas yang akan mengurangi tekanan biaya dana perbankan baru akan terjadi paling cepat di kuartal I 2025. Dari sejumlah emiten bank dalam cakupannya, Victor menilai, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan mendapatkan keuntungan yang paling besar seiring dengan pemangkasan suku bunga.
Sebab BBNI paling terdampak saat kenaikan suku bunga. Tercermin dengan penurunan net interest margin (NIM) sebesar 80 basis poin (bps) secara tahunan atay year on year (yoy) pada Juli 2024.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan menjadi yang paling sedikit diuntungkan karena NIM yang tahan banting.
Berdasarkan analisis Victor, semua bank kecuali BBCA mengalami transmisi kenaikan suku bunga lebih tinggi di biaya dana mereka pada kenaikan suku bunga sebelumnya dibandingkan rata-rata historis.
Secara keseluruhan, Victor mempertahankan peringat overweight untuk sektor perbankan. Adapun BBCA menjadi pilihan utamanya dan menyematkan rating buy dengan target harga yang ditingkatkan menjadi Rp 12.400 dari sebelumnya Rp 11.300.
Sementara itu, analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi mempertahankan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utamanya. Ini menyusul momentum laba per saham (EPS) yang positif. "Kami memperkirakan pertumbuhan EPS sekitar 17% pada 2025 dan 2026 setelah EPS yang datar tahun ini," sebut Harsh.
Penurunan Beban Provisi Dorong Laba Perbankan
Tantangan perbankan untuk mencetak pertumbuhan laba bersih tahun ini memang berat. Tingginya biaya dana membuat pendapatan bunga bersih alias
net interest income
(NII) tak bisa melaju kencang.
Untungnya, biaya kredit mulai turun dan beban provisi mulai menyusut. Penyusutan ini membantu menahan tekanan laba dari tigginya biaya dana.
Menilik laporan bulanan Agustus, sejumlah bank mampu membukukan pertumbuhan laba bersih meski pendapatan bunga bersih turun. Pertumbuhan ini didongkrak penurunan biaya provisi. Bank yang mencetak kenaikan NII dan penurunan beban provisi sekaligus mencetak pertumbuhan laba lebih apik.
Ambil contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Di delapan bulan pertama 2024, bank ini mencetak laba bersih secara bank only Rp 14,22 triliun, naik 4,25% secara tahunan. Padahal, pendapatan bunga bersih BNI terkoreksi 6,82% jadi Rp 25,56 triliun.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar bilang, biaya pencadangan dibentuk sesuai kebutuhan berdasarkan proyeksi kualitas aset ke depan. Saat ini, manajemen BNI yakin kualitas aset akan terus membaik.
Royke melihat penurunan suku bunga acuan akan berdampak positif pada pendapatan bunga yang diraih bank berlogo 46 ini. Terlebih, NIM di Agustus 2024 berjalan mencapai 4.4%. ”NIM kita sudah jauh di atas rata-rata bulanan semester satu yang hanya 4.0%,” tambah Royke.
Bank Central Asia (BCA) mencatat beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau beban provisi turun 25% jadi Rp 1,29 triliun. Sedang pendapatan bunga bersih tumbuh 8,78% jadi Rp 50,55 triliun. Alhasil, laba tumbuh 13,5% jadi Rp 35,99 triliun.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, pihaknya selalu menerapkan prinsip kehati-hatian di setiap aspek operasional, agar sejalan dengan profil risiko yang telah ditetapkan manajemen. "Dengan begitu, kualitas aset tetap terjaga, dengan cadangan aset memadai,” ujarnya.
Obligasi Multifinance Diprediksi Semakin Semarak
Dimulainya musim pemotongan suku bunga acuan membuat penerbitan obligasi multifinance diramal bakal makin semarak. Pemain leasing bisa mengurangi beban pendanaan lewat refinancing surat utang. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menyebut suku bunga yang lebih rendah memberi momentum bagi perusahaan pembiayaan untuk merilis surat utang. Tapi untuk fase awal pelonggaran moneter seperti saat ini, dia menilai penerbitan obligasi kemungkinan lebih didorong oleh kebutuhan refinancing daripada untuk modal kerja pembiayaan. Sementara penerbitan obligasi untuk modal kerja nampaknya masih akan terbatas. Ahmad memprediksi dibutuhkan waktu setidaknya tiga bulan guna merangsang permintaan jasa pembiayaan.
Ketika prospek pertumbuhan terlihat lebih jelas, barulah
multifinance
akan lebih banyak mengakses pasar surat utang untuk meraih pendanaan sebagai modal kerja.
Yang pasti, penurunan suku bunga ini tetap bisa membuat penerbitan obligasi di tiga bulan terakhir 2024 lebih semarak. Maklum, pasar pembiayaan yang tersendat membuat penerbitan surat utang perusahaan pembiayaan turun cukup dalam.
Sejumlah
multifinance
pun masih memantau pasar untuk merilis surat utang lagi. Presiden Direktur CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman bilang perusahaannya telah menerbitkan Sukuk Berkelanjutan I Wakalah Bi Al Ististmar sebesar Rp 1 triliun pada Juli lalu. CNAF berencana merilis Sukuk Berkelanjutan Tahap II pada tahun 2025.
Senada, Direktur BRI Finance, Willy Halim Sugiardi menyebut penurunan suku bunga akan dimanfaatkan untuk memperkuat pendanaan. Sedangkan untuk penerbitan obligasi di sisa 2024, BRI Finance masih mengkaji kebutuhan pendanaan sembari memantau ekonomi global dan kondisi pasar.
Pengakuan terhadap Palestina di PBB
Permohonan Indonesia Gabung Blok Dagang Besar
Pada awalnya, CPTPP bernama Trans Pacific Partnership (TPP) yang digagas Amerika Serikat (AS). Dimotori Presiden Barack Obama, TPP dinilai merupakan instrumen bagi Washington guna berperan dalam dinamika Asia-Pasifik yang berkontribusi besar bagi perekonomian dunia. Sebagai ilustrasi, pada 2015-2021,Asia menyumbang 57 persen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global. Selain itu, pada 2021, sebanyak 42 persen PDB global (berdasarkan purchasing power parity) disumbangkan oleh Asia. Akan tetapi, TPP menjadi bulan-bulanan dalam kampanye Pilpres AS tahun 2016. Upaya Obama menancapkan kuku AS di Asia melalui TPP akhirnya dikandaskan Presiden Donald Trump.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









