;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

TOTL Tetap Optimis Capai Target

08 Oct 2024

Emiten jasa konstruksi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berkomitmen mengejar target pendapatan yang telah ditetapkan pada sisa tahun 2024. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 112,65 miliar, meningkat 66,6% secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 67,61 miliar. Kenaikan ini juga tercermin dalam laba per saham yang naik jadi Rp 33,04 dari sebelumnya Rp 19,83. Adapun untuk pendapatan usaha mencapai Rp 1,43 triliun, atau naik 18,32% yoy. TOTL menunjukkan kinerja yang solid. Hingga Agustus 2024, perusahaan berhasil meraih nilai kontrak baru sebesar Rp 4,1 triliun. Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S. Sidharta bilang, meskipun perusahaan telah membukukan kontrak sebesar Rp 3,3 triliun pada semester pertama, target kontrak baru tetap mengacu pada revisi sebelumnya. TOTL berfokus pada beberapa sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian kontrak baru. Saat ini, sektor yang paling berkembang meliputi pembangunan gedung hotel, industri, dan pendidikan. Namun, tantangan tetap ada di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. TOTL berkomitmen untuk menjaga arus kas agar tetap positif, terutama di tengah gejolak politik domestik dan isu geopolitik yang masih menjadi perhatian. 

"Kami akan tetap waspada dan prudent dalam strategi kami," kata Anggie. Terkait belanja modal atau capital expenditure (capex), sampai kuartal kedua 2024, TOTL telah menyerap sekitar 30,4% dari total anggaran Rp 10 miliar, yaitu sebesar Rp 3,04 miliar. Anggie menjelaskan, sisa anggaran akan difokuskan untuk pengadaan peralatan proyek, serta produk informasi teknologi (IT) dan software IT. Namun, Anggie berharap adanya regulasi dan insentif yang mendukung pengembang dapat memperlancar proses penyelesaian proyek. "Namun tentunya Perusahaan akan tetap menjalankan bisnis dengan kehati-hatian dan terus mengupayakan cash flow tetap positif," ujarnya. Sebelumnya, di semester I 2024, TOTL telah melakukan revisi atas nilai target kontrak baru pada tahun ini, yakni dari Rp 3,5 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Alhasil, efek dari pemangkasan suku bunga The Fed akan menjadi salah satu faktor dalam penentuan target kinerja TOTL untuk tahun 2025.

Industri Pionir: Menghadapi Tekanan dan Tantangan

07 Oct 2024

Industri pionir tengah ketar-ketir. Tarik ulur pembahasan soal perpanjangan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Badan berbentuk tax holiday yang akan berakhir pada pekan ini menempatkan sektor pelopor ini di persimpangan. Sayangnya, internal pemerintah pun terbelah. Beberapa institusi negara menginginkan perpanjangan, sedangkan segelintir instansi meminta penghentian. Ruang perpanjangan memang terbuka, itu pun dengan skema yang jauh lebih ketat lantaran dinilai berbenturan dengan konsensus pajak global. Pemangku kebijakan pun diharapkan mendengar suara dunia usaha yang menginginkan tambahan insentif fiskal.

Survei Bisnis: Permintaan Pebisnis Akan Badan Logistik

07 Oct 2024

Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka diharapkan membentuk kementerian atau lembaga khusus yang menangani logistik nasional sebagai langkah penting dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Angga Purnama, anggota tim peneliti National Logistics Community, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei terhadap 117 pelaku usaha logistik, mayoritas responden mendukung pembentukan kementerian atau lembaga ini untuk memperbaiki sistem logistik Indonesia. Menurutnya, saat ini fungsi logistik masih terpecah di beberapa kementerian/lembaga (K/L), seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, Ditjen Bea Cukai, Kementerian Perhubungan, dan Kemenko Bidang Perekonomian.

Angga juga menyatakan bahwa 78% responden menganggap pembentukan K/L khusus logistik dalam kabinet Prabowo-Gibran sebagai hal mendesak. Menurutnya, masalah utama logistik di Indonesia meliputi tarif yang tidak seragam, koordinasi antar-K/L yang kurang baik, dan tingginya biaya logistik. Tantangan regulasi dan perizinan yang rumit serta luasnya geografi Indonesia juga menghambat daya saing nasional. Angga menekankan pentingnya peran negara untuk hadir lebih kuat dalam sektor logistik guna mengatasi kendala ini dan mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.

PDIP Semakin Dekat Bergabung dengan Koalisi KIM?

07 Oct 2024

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diprediksi akan bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Pengamat politik Ujang Komarudin dari Universitas Al-Azhar Indonesia menilai berbagai kompromi politik belakangan ini, termasuk rencana pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo, sebagai indikasi kuat PDIP akan masuk ke koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurut Ujang, bergabungnya PDIP akan menjadi keuntungan bagi kedua pihak, mengingat PDIP, meskipun kalah di Pilpres 2024, masih memiliki posisi tawar kuat sebagai pemenang Pemilu Legislatif dan fraksi terbesar di DPR periode 2024-2029.

Selain itu, Ujang menyoroti tradisi kompromi baru di antara elite politik, yang terlihat dari penunjukkan Puan Maharani sebagai Ketua DPR dan Ahmad Muzani sebagai Ketua MPR tanpa adanya konflik. Situasi ini berbeda dengan transisi kepemimpinan dari Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo pada 2014, di mana terjadi pembelahan di parlemen, dengan Koalisi Merah Putih (pendukung Prabowo-Hatta) berusaha menghalangi PDIP mendapatkan posisi pimpinan DPR.

Sentimen Negatif Terus Mengguncang Bursa Saham

07 Oct 2024

Pekan pertama bulan Oktober kurang menggembirakan bagi pasar saham dalam negeri. Beragam sentimen negatif, mulai dari konflik geopolitik yang memanas hingga pelemahan nilai tukar rupiah, kembali membombardir bursa saham. Tak heran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian menjauhi level tertinggi yang dicapai tiga pekan lalu dan kembali ke bawah 7.500. Dalam tiga perdagangan beruntun, IHSG berkubang di zona merah, turun 2,61% sepekan ke 7.496,09, Jumat (4/10). Koreksi IHSG sejalan posisi jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp 4,87 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, sentimen signifikan dari faktor eksternal. Terutama efek kucuran stimulus ekonomi di China serta ketegangan di Timur Tengah. Stimulus ekonomi menarik arus dana investor asing ke bursa China. Sebaliknya, langkah China ini memicu arus keluar dari bursa Indonesia sehingga menekan bursa saham lokal. Kombinasi berbagai sentimen itu berpotensi menekan pasar saham beberapa pekan ke depan. "Setidaknya hingga rilis kinerja kuartal ketiga dan dapat menjadi penopang pergerakan IHSG di tengah sentimen di atas," kata Audi kepada KONTAN, Minggu (6/10). 

Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia, Wisnu Prambudi Wibowo melihat, konflik di Timur Tengah bisa mengerek harga komoditas, terutama minyak mentah. Pada penutupan akhir pekan lalu, harga minyak West Texas Intermedate (WTI) naik 0,91% menjadi US$ 74,38 per barel. Dalam sepekan, harga minyak naik 9,4%. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, selain kombinasi sentimen domestik dan global, aksi profit taking dan jenuh beli turut menekan IHSG usai menyentuh rekor tertinggi (all time high) di level 7.910,86 pada bulan lalu. Pelemahan IHSG juga sejalan koreksi saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya saham bank. Ratih melihat, IHSG masih berpeluang rebound dalam perdagangan sepekan ke depan jika bisa bertahan di atas support 7.450, dengan resistance 7.650. Jika IHSG breakout 7.450, support selanjutnya berada di level 7.300. Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto sepakat, pelemahan IHSG juga akibat profit taking dan efek jenuh beli. William melihat, IHSG bergerak di 7.430-7.550. Menurut dia, saat ini masih menarik menerapkan buy on weakness.

Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Cadangan Devisa

07 Oct 2024

Cadangan devisa Indonesia pada September tahun ini diprediksikan meningkat. Estimasi tersebut sejalan dengan tren nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS selama September dibandingkan bulan sebelumnya. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada September 2024 menguat di atas US$ 150 miliar. Jumlah tersebut tetap terjaga dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar US$ 150,24 miliar. Selama September 2024, rata-rata nilai tukar rupiah di level Rp 15.325 per dolar AS. Angka tersebut menguat 2,74% dibandingkan rata-rata kurs rupiah selama Agustus tahun ini yang berada di kisaran Rp 15.756 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga meramal, cadangan devisa pada periode September 2024 akan berada di rentang antara US$ 148 miliar sampai dengan US$ 153 miliar. "Kemungkinan (cadangan devisa) September 2024 naik. Ini karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, investor cenderung risk on masuk ke aset-aset emerging market termasuk Indonesia," tutur David, Jumat (4/10). Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan, cadangan devisa pada September tahun ini meningkat ke kisaran US$ 150 miliar hingga US$ 152 miliar. Kenaikan ini lantaran rupiah stabil dan menguat pada September 2024. 

"Juga adanya penerbitan sukuk global oleh pemerintah sekitar US$ 2 miliar," ucap dia. Di samping itu, tekanan eksternal terhadap rupiah juga datang dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang mengguyur insentif fiskal bazooka sebesar US$ 1,4 triliun untuk mendorong perekonomian di negara tersebut. "Sentimen ini direspons positif oleh pasar, sehingga memberikan ruang pergeseran aset dari emerging market ke China pada bulan ini," ungkap Banjaran. Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia juga melihat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi menekan cadangan devisa Indonesia pada Oktober tahun ini. Dia memprediksikan, cadangan devisa pada Oktober senilai US$ 143,2 miliar, atau lebih rendah dari estimasi September yang sebesar US$ 153,2 miliar.

Konflik Timur Tengah: Saham Migas Ikut Terbakar

07 Oct 2024

Eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Dalam sepekan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent kompak menanjak lebih dari 9%. Dikutip dari Bloomberg , harga minyak WTI kontrak November 2024 meningkat 9,09% ke level US$ 74,38 per barel, Jumat (4/10). Pada periode yang sama, harga Brent menguat 9,10% ke posisi US$ 78,05 per barel. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa mengatakan, sebagai produsen terbesar di dunia, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah bakal memengaruhi harga komoditas minyak global. Jika eskalasi konflik berlanjut, pasokan minyak akan terganggu, sehingga harga akan lanjut menanjak. "Di sisi lain, rencana OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak di Desember nanti dapat meredam kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan," jelas Heru kepada KONTAN, Minggu (6/10). Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya turut menyoroti kekhawatiran pasar jika serangan menyasar infrastuktur minyak di Iran atau negara-negara produsen lain Arinda memprediksi, dalam jangka pendek harga minyak mentah dunia bisa menyentuh level US$ 80 - US$ 90 per barel atau lebih, 

jika situasi konflik semakin memburuk. Pasar akan mencermati bagaimana langkah OPEC+ untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia. "Meskipun penguatan harga dalam jangka pendek bisa terjadi, pasar tetap akan bergantung pada perkembangan konflik serta kebijakan yang diambil oleh OPEC+," katanya. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengamati, situasi pasar dan harga saat ini bisa mengangkat kinerja mayoritas emiten minyak dan gas (migas) di sisa tahun 2024, atau minimal tidak menyusut dibandingkan periode tengah tahun. Toh, pelaku pasar pun telah merespons positif dengan kenaikan harga saham emiten migas dalam beberapa hari terakhir. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengingatkan, seberapa signifikan dan lama sentimen ini berlangsung akan bergantung pada dinamika geopolitik yang terjadi di sana. Namun, pelaku pasar tetap bisa memanfaatkan situasi ini untuk trading pada saham komoditas yang terdampak positif. Bagi saham yang terkait industri migas, Rizkia melirik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Sedangkan secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyodorkan saham ELSA dan MEDC.

Akhir Tahun: Waktu Emas untuk Belanja

07 Oct 2024

Emiten sektor ritel diproyeksi mampu mencatatkan kinerja positif hingga akhir tahun 2024 ini. Daya beli masyarakat diharapkan masih cukup baik, didukung potensi pemangkasan suku bunga dan ragam diskon akhir tahun. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta menilai, prospek emiten ritel di semester kedua masih relatif bagus. Apalagi akan banyak diskon bertebaran seiring perayaan natal dan tahun baru. Di sisi lain, tingkat konsumsi masyarakat diharapkan meningkat karena suku bunga acuan berpotensi kembali dipangkas. Kebijakan suku bunga rendah dapat memacu permintaan kredit dan mendorong daya beli masyarakat. Deflasi selama lima bulan berturut-turut dinilai masih terkendali dan diperkirakan hanya sementara. Nafan mengatakan, daya beli masyarakat masih cukup positif, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di atas level 100. Selain itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2024, diprediksi mencapai 215,9 atau tumbuh 5,8% year on year (yoy). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto menilai, sektor penjualan ritel diperkirakan terus meningkat. 

Natalia menjelaskan, Indeks Penjualan Ritel Juli 2024 naik sebesar 4,5% yoy, melampaui bulan Juni 2024 sebesar 2,7% dan ekspektasi Bank Indonesia sebesar 4,3% yoy. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi mengatakan, belanja ritel akan didukung masyarakat segmen menengah ke atas dan juga dibantu stimulus pemerintah untuk meningkatkan permintaan segmen menengah ke bawah. Namun, potensi pengenaan pajak impor 200% pada produk-produk China dapat merugikan para pengecer yang memiliki paparan tinggi terhadap inventaris China, termasuk PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbjk (RALS) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Sementara itu, PT Sumber Alfaria Trijaua Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) kemungkinan terkena dampak yang minimal. Di sisi lain, investor secara bertahap meningkatkan kepemilikannya di saham MAPI dan MIDI. Terkait ACES, kekhawatiran investor berkaitan dengan penghentian perjanjian lisensi dengan Ace Hardware Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran minat menuju MAPI dan MIDI, terutama dari investor domestik.

Kredit Bermasalah Bank Digital Kembali Meningkat

07 Oct 2024

Kualitas aset perbankan digital mengalami pemburukan. Sebagian besar bank di kelompok ini mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), kendati portofolio kredit tumbuh pesat. Berdasarkan laporan keuangan sejumlah bank digital, dari sembilan bank yang ditelisik, enam di antaranya mengalami kenaikan NPL. Tapi, dari jumlah tersebut, lima di antaranya masih mencetak pertumbuhan kredit. Kendati begitu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae memandang, kondisi NPL bank-bank dengan layanan digital secara umum masih dalam batas wajar. "Bank digital yang bermitra dengan fintech harus menerapkan kebijakan manajemen risiko yang lebih ketat dan inovasi teknologi untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional," kata Dian, baru-baru ini. Rasio NPL paling tinggi dicatat Bank Amar Indonesia, mencapai 8% per Juni 2024, naik dari 7,33% pada Juni 2023. 

Adapun kredit bank ini tumbuh 25,26% pada periode tersebut jadi Rp 8,028. Artinya, nilai portofolio bermasalah Bank Amar semakin banyak. Krom Bank Indonesia mencatat rasio NPL naik dari 0,77% jadi 3,93%. Portofolio kreditnya tumbuh 113,19%. Ini menunjukkan banyak kredit bank afiliasi Kredivo ini masuk kategori bermasalah. Sementara Allo Bank mengalami kenaikan rasio NPL dari 0,05% jadi 0,42% per Juni 2024. Kreditnya tumbuh 7,95% jadi Rp 8,02 triliun. Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, untuk menjaga kualitas aset, Allo Bank masih fokus menyalurkan kredit secara langsung. Sementara rasio NPL Bank Raya masih tinggi, yakni 4,14% per Juni 2024. Tapi, NPL sudah susut dari 4,35% pada Juni 2023. Penyusutan terjadi saat kreditnya tumbuh 12,15%. Direktur Keuangan Bank Raya Rustarti Suri Pertiwi mengatakan, pihaknya akan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dalam ekspansi, guna menjaga kualitas aset.

CTRA Meraih Manfaat dari Subsidi Pajak

07 Oct 2024

Emiten saham properti, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), tengah memacu kinerja di akhir tahun ini. CTRA masih mengandalkan penjualan rumah tapak ketimbang apartemen. Hal itu merupakan bagian dari strategi CTRA dalam memanfaatkan subsidi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% yang diperpanjang hingga akhir tahun ini. "Hingga saat ini, kontribusi penjualan apartemen sebesar 3,3% dari total keseluruhan penjualan. Tapi, kami menargetkan mudah-mudahan bisa mencapai 4% dari total penjualan di akhir 2024," papar Direktur CTRA Harun Hajadi kepada KONTAN, pekan lalu. Harun menuturkan, manfaat insentif PPN DTP 100% sektor properti belum begitu terasa dalam memacu penjualan apartemen hingga periode kuartal IV ini. Dia menyebutkan, PPN DTP 100% memang membantu penjualan apartemen, tetapi belum mampu melonjakkan angka pembelian apartemen. Asal tahu saja, insentif PPN DTP yang sudah diberlakukan sejak akhir tahun lalu memang memudahkan penjualan stok properti, dengan pembayaran yang harus sudah lunas sebelum Desember 2024 dan bangunan sudah harus tersedia sebelum Desember 2024. 

Adapun, proyek apartemen yang menjadi andalan CTRA adalah Apartemen The Newton 1 dan 2, Apartemen The Orchard, dan Apartemen Ciputra World Jakarta. Pada paruh pertama 2024, CTRA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,02 triliun, atau melonjak 32,12% year on year (yoy) dibandingkan dengan pencapaian di semester I-2023 yang senilai Rp 778,99 miliar.
Sedangkan penjualan apartemen CTRA di semester I-2024 hanya sebesar Rp 176,12 miliar, anjlok 41,8% yoy dibandingkan paruh pertama tahun lalu yang mencapai sebesar Rp 303,02 miliar. Meski begitu, Manajemen CTRA tidak mau terburu-buru menyebut tren penjualan apartemen akan terus lesu hingga penghujung tahun. Pasalnya, potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) bisa memberikan harapan bakal membaiknya penjualan apartemen ke depannya.