Ekonomi
( 40554 )Stimulus Ganda untuk Meningkatkan Daya Beli Konsumen
Tingkat deflasi selama lima bulan beruntun pada tahun ini mengindikasikan daya beli masyarakat lunglai. Karena itu, pemerintah perlu menyuntikkan stimulus untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan terakhir, sejak Mei yang tercatat 0,03% month to month (mtm) per September sebesar 0,12% mtm. Alhasil, inflasi tahunan bulan lalu mendekati batas bawah target, yakni 1,84% year-on-year (yoy). Bahkan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan, deflasi bakal berlanjut hingga bulan ini dengan proyeksi 0,1% mtm dan inflasi tahunan di kisaran 1,5%-2% yoy.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menilai, fenomena deflasi perlu dikaji dari dua sudut pandang ekonomi, yaitu sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, indikator ekonomi menunjukkan daya beli masyarakat sedang menurun. Salah satunya karena menurunnya kelas menengah. Sebelumnya, LPEM UI mencatat bahwa lebih dari 8,5 juta penduduk Indonesia turun kelas sejak tahun 2018. Sedangkan dari sisi penawaran, data ekonomi menunjukkan adanya tekanan.
Beberapa di antaranya, Purchase Manager's Index (PMI), yang terus menurun sejak April 2024 dan terkontraksi sejak Juli 2024. Menurut dia, setidaknya pemerintah harus mengeluarkan tiga kebijakan prioritas untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pertama, kebijakan fiskal. Salah satunya, mempertimbangkan penundaan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% tahun depan. Kedua, kebijakan moneter. Di kuartal keempat ini, dunia usaha mengharapkan BI kembali melakukan penyesuaian suku bunga, misalnya diturunkan 25 basis poin (bps) setelah penurunan ke level 6% pada bulan lalu. Ketiga, menelurkan kebijakan investasi yang lebih berkualitas dan mampu menyerap tenaga kerja.
Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto melihat, daya beli masyarakat masih cukup baik yang tecermin dari perkembangan inflasi inti. Tren inflasi inti secara tahunan cenderung meningkat.
Prospek Cerah Saham BUMN
Setoran dividen emiten pelat merah ke kas negara semakin membaik. Kementerian Keuangan mencatat, hingga Agustus 2024 realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari pos kekayaan negara yang dipisahkan (KND) atau dividen BUMN mencapai Rp 70,29 triliun. Realisasi tersebut sudah mencapai 78,88% dari target yang dipatok pemerintah sebesar 85,84 triliun di sepanjang tahun ini.
Tiga emiten bank pelat merah dalam kumpulan indeks BUMN20 menjadi penyumbang terbesar setoran dividen BUMN. Pertama, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menyetor dividen Rp 25,71 triliun. Kedua, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menyumbang dividen senilai Rp 17,18 triliun. Ketiga, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), yang menyetor dividen sebesar Rp 9,21 triliun. Ironisnya, meski konstituennya jadi penyumbang dividen terbesar ke negara, kinerja saham indeks BUMN20 masih merah.
Senin (7/10), kinerja IDX BUMN20 terkoreksi 0,14% ke 398,44.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, penurunan harga saham sejumlah emiten konstituen, dipicu banyak sentimen negatif dari eksternal. Di antaranya, naiknya tensi geopolitik hingga beralihnya dana investor asing ke pasar keuangan emerging market yang dinilai lebih potensial. Senior Market Chartist
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama sepakat, jika kondisi global mulai kondusif, emiten BUMN bisa genjot kinerjanya hingga akhir tahun ini.
Saham PGAS Siap Menggebrak Pasar
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masih cukup solid di semester pertama 2024. Kabar baiknya, ke depan penjualan Liqufied Natural Gas (LNG) akan mendukung kinerja PGAS di tengah penurunan pasokan gas bumi yang dialirkan melalui pipa. Analis Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman mengatakan laba bersih PGAS masih bertumbuh 28% year on year (yoy) menjadi US$ 187 juta pada semester I-2024. Capaian ini berkat pendapatan yang naik 3,1% yoy menjadi US$ 1.839 juta karena margin distribusi gas yang melebar. Meski begitu penjualan dan laba bersih cukup tertekan selama kuartal kedua 2024. Laba bersih turun 46% secara kuartalan menjadi sebesar US$ 65 juta. Hasil tersebut sejalan dengan pendapatan yang turun 6,3% secara kuartalan menjadi US$ 890 juta.
Dus, Arief melihat kinerja PGAS di semester pertama sejalan dengan perkiraan. Periode semester satu biasanya memang relatif lebih kuat daripada semester kedua, karena PGAS membebankan beberapa biaya ataupun pengeluaran di kuartal keempat. "Kami melihat peningkatan offtake LNG sebagai hal yang positif bagi PGAS, karena akan membantu meningkatkan margin," ujar Arief dalam riset 27 Agustus 2024. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan, PGAS saat ini tengah melanjutkan berbagai pembangunan infrastruktur LNG dan gas di Semarang dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menghubungkan jaringan pipa Cisem-1. Saat ini proyek Cisem-1 hanya berkontribusi sekitar 1,65 mmscfd terhadap volume transmisi gas secara keseluruhan atau sekitar 1% per Agustus 2024. Meski begitu, infrastruktur yang dibangun PGAS ini akan bermanfaat bagi prospek jangka panjang.
Ke depannya, Cisem-2 akan menghubungkan Semarang dengan Cirebon dan direncanakan akan selesai pada kuartal IV-2025.
Namun, manajemen PGAS menegaskan bisnis perdagangan LNG saat ini akan ditangguhkan sementara hingga kasus Gunvor diselesaikan. PGAS memutuskan untuk tidak memasok kargo LNG yang dapat diperoleh PGAS dari Petronas (Malaysia) ke Tiongkok.
Analis Bahana Sekuritas Dimas Wahyu Putra menyarankan
buy on weakness
PGAS dengan target harga Rp 1.700. "Investor dapat
stop loss
, jika PGAS turun di bawah Rp 1.400 per saham," jelas Dimas, Senin (7/10).
Laba BPD Tergerus Akibat Risiko Meningkat
Kinerja laba bersih sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) terlihat sedikit tertekan pada Agustus 2024. Namun, penyaluran kredit BPD masih mampu tumbuh. PT BPD Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih 21% secara tahunan menjadi Rp 787,58 miliar per Agustus 2024 dari Rp 998,975 miliar tahun lalu. Penurunan ini disebabkan kerugian penurunan aset keuangan (impairment) yang naik 44,23% secara tahunan menjadi Rp 542,17 miliar per Agustus 2024. Sementara, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih tumbuh 7,13% secara tahunan menjadi Rp 3,39 triliun per Agustus 2024. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih ini sejalan penyaluran kredit dan pembiayaan syariah yang tumbuh 18,57% secara tahunan menjadi Rp 60,65 triliun. Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim Edi Masrianto mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong seluruh segmen kredit. "Secara eksponensial pertumbuhan kredit ada pada segmen kredit ritel menengah, dengan penyaluran mayoritas di sektor ekonomi jenis perdagangan, pertanian dan peternakan," papar dia, kemarin.
Edi menerangkan, dampak pelemahan ekonomi di kelas menengah ke bawah terefleksi pada peningkatan rasio NPL Bank Jatim di segmen ritel. NPL segmen ritel Bank Jatim di 1,41% per Agustus 2024, naik dari tahun sebelumnya 0,97%. Untuk itu Bank Jatim memitigasi kualitas kredit dengan selektif menyalurkan kredit bagi nasabah baru.
PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga mencatatkan penurunan laba bersih secara bank only sebesar 21,69% secara tahunan menjadi Rp 954,390 miliar per Agustus 2024. Ini disebabkan menurunnya NII sebesar 10,93% secara tahunan menjadi Rp 4,14 triliun. Beban bunga Bank BJB juga meningkat 25,24% secara tahunan menjadi Rp 5,04 triliun.
Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan target tahun ini, yang diprediksi 6%-8%. Kualitas kredit juga terjaga baik pada level 1,5% per Agustus 2024.
Fintech Semakin Efisien, Laba Terus Meningkat
Prospek bisnis fintech peer to peer (P2P) lending nampaknya masih cukup cerah. Hal ini tercermin dari keuntungan yang didapat pelaku industri fintech lending yang kian menggemuk. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman bilang hingga Agustus 2024, perusahaan fintech lending membukukan laba sebesar Rp 656,8 miliar. Bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun lalu yang sebanyak Rp 521,1 miliar, keuntungan pemain fintech lending meningkat 26%. "Peningkatan laba ini antara lain karena adanya peningkatan pendapatan operasional yang disertai dengan efisiensi dari beban operasional," kata Agusman. Strategi tersebut juga dijalankan oleh Akseleran untuk mendapat keuntungan. Di satu sisi, Group CEO Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengatakan pihaknya berhasil menggenjot pendapatan dari kenaikan volume penyaluran pinjaman sekaligus meningkatnya fee yang didapat.
Di sisi yang lain, pihaknya terus meningkatkan efisiensi sehingga beban pengeluaran perusahaan berhasil ditekan sekitar 40%. Meski tak menyebut angka pasti, namun Ivan bilang Akseleran mampu konsisten mengantongi laba sejak awal tahun lewat cara ini.
Pemain
fintech lending
lain yakni Modalku juga optimistis bisa mendorong perolehan laba hingga tutup tahun nanti. Country Head Modalku Indonesia Arthur Adisusanto bilang ada sejumlah upaya yang akan diterapkan untuk bisa mencapainya.
Di antaranya, Modalku akan berupaya mendorong strategi pemasaran produk pinjaman yang lebih luas dan ekspansif.Tentunya dengan tetap menjaga kehati-hatian. Selain itu, Modalku juga akan berfokus pada optimalisasi proses bisnis untuk memastikan pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
Ditambah lagi, perseroan juga disebut Arthur akan terus melanjutkan upaya efisiensi yang sudah dilakukan sebelumnya. Dimana sepanjang 2023, Modalku berhasil mengurangi beban operasional sekitar 31% dibandingkan tahun sebelumnya.
TOTL Tetap Optimis Capai Target
Emiten jasa konstruksi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berkomitmen mengejar target pendapatan yang telah ditetapkan pada sisa tahun 2024. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 112,65 miliar, meningkat 66,6% secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 67,61 miliar. Kenaikan ini juga tercermin dalam laba per saham yang naik jadi Rp 33,04 dari sebelumnya Rp 19,83. Adapun untuk pendapatan usaha mencapai Rp 1,43 triliun, atau naik 18,32% yoy. TOTL menunjukkan kinerja yang solid. Hingga Agustus 2024, perusahaan berhasil meraih nilai kontrak baru sebesar Rp 4,1 triliun. Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S. Sidharta bilang, meskipun perusahaan telah membukukan kontrak sebesar Rp 3,3 triliun pada semester pertama, target kontrak baru tetap mengacu pada revisi sebelumnya. TOTL berfokus pada beberapa sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian kontrak baru. Saat ini, sektor yang paling berkembang meliputi pembangunan gedung hotel, industri, dan pendidikan. Namun, tantangan tetap ada di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. TOTL berkomitmen untuk menjaga arus kas agar tetap positif, terutama di tengah gejolak politik domestik dan isu geopolitik yang masih menjadi perhatian.
"Kami akan tetap waspada dan
prudent
dalam strategi kami," kata Anggie.
Terkait belanja modal atau
capital expenditure
(capex), sampai kuartal kedua 2024, TOTL telah menyerap sekitar 30,4% dari total anggaran Rp 10 miliar, yaitu sebesar Rp 3,04 miliar. Anggie menjelaskan, sisa anggaran akan difokuskan untuk pengadaan peralatan proyek, serta produk informasi teknologi (IT) dan
software IT.
Namun, Anggie berharap adanya regulasi dan insentif yang mendukung pengembang dapat memperlancar proses penyelesaian proyek. "Namun tentunya Perusahaan akan tetap menjalankan bisnis dengan kehati-hatian dan terus mengupayakan
cash flow
tetap positif," ujarnya.
Sebelumnya, di semester I 2024, TOTL telah melakukan revisi atas nilai target kontrak baru pada tahun ini, yakni dari Rp 3,5 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Alhasil, efek dari pemangkasan suku bunga The Fed akan menjadi salah satu faktor dalam penentuan target kinerja TOTL untuk tahun 2025.
Industri Pionir: Menghadapi Tekanan dan Tantangan
Industri pionir tengah ketar-ketir. Tarik ulur pembahasan soal perpanjangan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Badan berbentuk tax holiday yang akan berakhir pada pekan ini menempatkan sektor pelopor ini di persimpangan. Sayangnya, internal pemerintah pun terbelah. Beberapa institusi negara menginginkan perpanjangan, sedangkan segelintir instansi meminta penghentian. Ruang perpanjangan memang terbuka, itu pun dengan skema yang jauh lebih ketat lantaran dinilai berbenturan dengan konsensus pajak global. Pemangku kebijakan pun diharapkan mendengar suara dunia usaha yang menginginkan tambahan insentif fiskal.
Survei Bisnis: Permintaan Pebisnis Akan Badan Logistik
Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka diharapkan membentuk kementerian atau lembaga khusus yang menangani logistik nasional sebagai langkah penting dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Angga Purnama, anggota tim peneliti National Logistics Community, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei terhadap 117 pelaku usaha logistik, mayoritas responden mendukung pembentukan kementerian atau lembaga ini untuk memperbaiki sistem logistik Indonesia. Menurutnya, saat ini fungsi logistik masih terpecah di beberapa kementerian/lembaga (K/L), seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, Ditjen Bea Cukai, Kementerian Perhubungan, dan Kemenko Bidang Perekonomian.
Angga juga menyatakan bahwa 78% responden menganggap pembentukan K/L khusus logistik dalam kabinet Prabowo-Gibran sebagai hal mendesak. Menurutnya, masalah utama logistik di Indonesia meliputi tarif yang tidak seragam, koordinasi antar-K/L yang kurang baik, dan tingginya biaya logistik. Tantangan regulasi dan perizinan yang rumit serta luasnya geografi Indonesia juga menghambat daya saing nasional. Angga menekankan pentingnya peran negara untuk hadir lebih kuat dalam sektor logistik guna mengatasi kendala ini dan mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.
PDIP Semakin Dekat Bergabung dengan Koalisi KIM?
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diprediksi akan bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Pengamat politik Ujang Komarudin dari Universitas Al-Azhar Indonesia menilai berbagai kompromi politik belakangan ini, termasuk rencana pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo, sebagai indikasi kuat PDIP akan masuk ke koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurut Ujang, bergabungnya PDIP akan menjadi keuntungan bagi kedua pihak, mengingat PDIP, meskipun kalah di Pilpres 2024, masih memiliki posisi tawar kuat sebagai pemenang Pemilu Legislatif dan fraksi terbesar di DPR periode 2024-2029.
Selain itu, Ujang menyoroti tradisi kompromi baru di antara elite politik, yang terlihat dari penunjukkan Puan Maharani sebagai Ketua DPR dan Ahmad Muzani sebagai Ketua MPR tanpa adanya konflik. Situasi ini berbeda dengan transisi kepemimpinan dari Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo pada 2014, di mana terjadi pembelahan di parlemen, dengan Koalisi Merah Putih (pendukung Prabowo-Hatta) berusaha menghalangi PDIP mendapatkan posisi pimpinan DPR.
Sentimen Negatif Terus Mengguncang Bursa Saham
Pekan pertama bulan Oktober kurang menggembirakan bagi pasar saham dalam negeri. Beragam sentimen negatif, mulai dari konflik geopolitik yang memanas hingga pelemahan nilai tukar rupiah, kembali membombardir bursa saham. Tak heran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian menjauhi level tertinggi yang dicapai tiga pekan lalu dan kembali ke bawah 7.500. Dalam tiga perdagangan beruntun, IHSG berkubang di zona merah, turun 2,61% sepekan ke 7.496,09, Jumat (4/10). Koreksi IHSG sejalan posisi jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp 4,87 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, sentimen signifikan dari faktor eksternal. Terutama efek kucuran stimulus ekonomi di China serta ketegangan di Timur Tengah. Stimulus ekonomi menarik arus dana investor asing ke bursa China. Sebaliknya, langkah China ini memicu arus keluar dari bursa Indonesia sehingga menekan bursa saham lokal. Kombinasi berbagai sentimen itu berpotensi menekan pasar saham beberapa pekan ke depan. "Setidaknya hingga rilis kinerja kuartal ketiga dan dapat menjadi penopang pergerakan IHSG di tengah sentimen di atas," kata Audi kepada KONTAN, Minggu (6/10).
Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia, Wisnu Prambudi Wibowo melihat, konflik di Timur Tengah bisa mengerek harga komoditas, terutama minyak mentah. Pada penutupan akhir pekan lalu, harga minyak West Texas Intermedate (WTI) naik 0,91% menjadi US$ 74,38 per barel. Dalam sepekan, harga minyak naik 9,4%.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, selain kombinasi sentimen domestik dan global, aksi profit taking dan jenuh beli turut menekan IHSG usai menyentuh rekor tertinggi (all time high)
di level 7.910,86 pada bulan lalu. Pelemahan IHSG juga sejalan koreksi saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya saham bank.
Ratih melihat, IHSG masih berpeluang
rebound
dalam perdagangan sepekan ke depan jika bisa bertahan di atas support 7.450, dengan resistance 7.650. Jika IHSG breakout 7.450, support selanjutnya berada di level 7.300.
Praktisi Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto sepakat, pelemahan IHSG juga akibat profit taking dan efek jenuh beli. William melihat, IHSG bergerak di 7.430-7.550. Menurut dia, saat ini masih menarik menerapkan buy on weakness.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









