;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Langkah Nyata untuk Menurunkan Harga Tiket

12 Nov 2024

Masalah tingginya harga tiket penerbangan domestik di Indonesia kembali mencuat dan belum menemukan solusi yang efektif. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, serta pihak terkait lainnya sudah berupaya dengan berbagai langkah, termasuk pembentukan satuan tugas penurunan harga tiket pesawat, harga tiket pesawat masih dianggap terlalu tinggi. Bahkan, Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhinmenyatakan perlunya kajian lebih dalam untuk menurunkan harga tiket lebih dari 10%, meskipun sudah ada koordinasi dengan kementerian terkait.

Tingginya harga tiket pesawat memberikan dampak negatif yang cukup signifikan, terutama pada sektor pariwisata, yang mengalami penurunan minat wisatawan domestik dan kehilangan devisa. Selain itu, sektor logistik, perdagangan, pendidikan, bisnis, dan investasi juga terdampak, menghambat mobilitas masyarakat dan barang. Beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab utama mahalnya harga tiket pesawat adalah tingginya harga avtur (bahan bakar pesawat) yang mencapai 38%-45% dari harga tiket, serta biaya pemeliharaan pesawat yang juga cukup besar. Selain itu, pajak berganda pada suku cadang pesawat dan biaya lainnya yang tinggi juga memperburuk kondisi.

Meski penyebab masalah telah teridentifikasi dengan jelas, seperti tingginya biaya bahan bakar dan pajak, serta usulan solusi untuk menurunkan harga tiket, masyarakat masih menunggu langkah konkret yang melibatkan semua pihak terkait. Beberapa usulan yang sudah ada mencakup insentif fiskal terhadap biaya avtur dan suku cadang pesawat, subsidi untuk biaya pelayanan jasa pendaratan, serta penghapusan pajak tiket pesawat, agar tercipta kesetaraan perlakuan dengan moda transportasi lainnya. Kini, masyarakat dan industri menantikan solusi yang dapat menurunkan harga tiket secara signifikan dan mendorong pemulihan sektor-sektor yang terdampak.


KAI Catat Peningkatan Signifikan Muatan Barang

12 Nov 2024

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengalami peningkatan signifikan dalam angkutan barang sepanjang Januari hingga Oktober 2024, dengan kenaikan sebesar 9,14% menjadi 57,14 juta ton dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023 yang tercatat 52,35 juta ton. Kenaikan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk penambahan frekuensi perjalanan, rute baru, dan penambahan gerbong batu bara, khususnya di wilayah KAI Divre III Palembang dan KAI Divre IV Tanjungkarang.

Angkutan batu bara menjadi dominasi utama, mencatatkan 45,76 juta ton atau 80,12% dari total angkutan barang, yang sebagian besar terjadi di Sumatra bagian selatan, mendukung pasokan energi nasional. Selain batu bara, hampir seluruh komoditas yang diangkut juga mengalami pertumbuhan positif, dengan peningkatan berkisar antara 5% hingga 71%. Ini mencerminkan adanya peningkatan kebutuhan pelaku ekonomi untuk mendistribusikan barang melalui moda transportasi kereta api.

Dalam hal ketepatan waktu, PT KAI juga mencatatkan performa yang baik. Pada periode Januari hingga Oktober 2024, tingkat ketepatan waktu keberangkatan (on time performance/OTP) tercatat mencapai 97,95%, meningkat dibandingkan dengan 96,87% pada tahun 2023. Begitu pula dengan ketepatan waktu kedatangan, yang tercatat mencapai 94,68%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 82,52% pada tahun sebelumnya.

VP Public Relation PT KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa perusahaan terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan angkutan barang dengan menjaga ketepatan waktu, keamanan, dan kapasitas angkut yang besar. KAI juga terus melayani berbagai komoditas, seperti peti kemas, batu bara, semen, BBM, CPO, pupuk, dan lainnya, dengan keunggulan berupa ketepatan waktu, bebas pungutan liar, serta dikelola oleh SDM yang profesional.



Kunjungan Prabowo ke China: Emiten Jalin Kerja Sama Strategis

12 Nov 2024

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China membuahkan sejumlah kesepakatan strategis di berbagai sektor antara perusahaan Indonesia dan mitra internasional, yang mencerminkan visi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan transformasi digital di Indonesia.

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjalin kerja sama dengan GEM Co., Ltd. untuk membangun smelter berbasis teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) senilai US$1,4 miliar. Smelter ini akan memproduksi nikel ramah lingkungan dengan kapasitas 60.000 ton MHP per tahun dan mencakup investasi pada pusat penelitian, ESG, serta pembangunan masyarakat. CEO INCO, Febriany Eddy, menegaskan bahwa proyek ini akan menjadi model global untuk pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.

GoTo Group menggandeng Tencent Cloud dan Alibaba Cloud untuk memperkuat infrastruktur komputasi awan dan pengembangan talenta digital. Direktur Utama GoTo, Patrick Walujo, menyatakan kemitraan ini akan mendukung ekonomi digital dan kedaulatan data nasional. Tencent Cloud berkomitmen membangun pusat data baru di Indonesia dengan investasi US$500 juta hingga 2030, sedangkan Alibaba Cloud akan menggandakan pelatihan talenta digital hingga 800.000 individu pada 2033.

PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) bersama Envision Energy International Ltd. merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas total 200 MW. Proyek ini mendukung pengembangan energi hijau di wilayah timur Indonesia, sejalan dengan program pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi asing pada energi berkelanjutan.

Kesepakatan ini, yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Forum Bisnis Indonesia-China, menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong investasi hijau, transformasi digital, dan kemandirian energi guna memperkuat daya saing nasional di kancah global.

Kesempatan Emas Indonesia Menyambut Relokasi Industri

12 Nov 2024

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berpotensi menambah tantangan ekonomi global, Indonesia dapat melihatnya sebagai peluang untuk menarik investasi dan relokasi perusahaan. Sejak 2019, Indonesia telah menerima investasi senilai US$14,7 miliar dari perusahaan-perusahaan yang terdampak perang dagang, yang berasal dari AS, Eropa, dan Asia. Pemerintah Indonesia, melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kini berfokus pada peningkatan daya saing dan iklim investasi dengan memperbaiki sistem perizinan dan menargetkan sektor-sektor prioritas seperti penghiliran sumber daya alam, riset dan inovasi, serta sektor pendidikan dan kesehatan.

Namun, meskipun peluang investasi ini ada, beberapa analisis, seperti yang disampaikan oleh Moody's Analytics, menunjukkan bahwa Indonesia mungkin tidak mendapat banyak manfaat dari pergeseran rantai pasok, karena basis ekonominya lebih berfokus pada komoditas dan bukan manufaktur berbasis elektronik. Ekonom lain, seperti Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia, juga menyarankan bahwa negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia yang memiliki sektor manufaktur yang lebih kuat mungkin lebih diuntungkan dari perang dagang ini.

Di sisi lain, Indonesia tetap berpeluang menerima relokasi industri tertentu, seperti pabrik tekstil dari Vietnam, dan upaya diplomatik Presiden Prabowo Subianto, seperti kunjungannya ke China dan AS, turut memperkuat komitmen investasi kedua negara tersebut di Indonesia. Indonesia juga telah mengamankan kerja sama investasi senilai US$10,07 miliar dengan China, yang mencakup pengembangan sektor perikanan, sumber daya mineral, dan energi hijau.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan dalam bersaing dengan negara-negara lain, Indonesia masih memiliki potensi untuk memanfaatkan dampak perang dagang AS-China sebagai peluang untuk menarik lebih banyak investasi dan memperkuat industrinya.


Langkah Nyata untuk Menurunkan Harga Tiket

12 Nov 2024

Persoalan mahalnya harga tiket penerbangan domestik di Indonesia masih menjadi isu yang belum menemukan solusi konkret meskipun telah menjadi perhatian pemerintah sejak akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo. Beberapa upaya telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata, termasuk pembentukan satuan tugas untuk menurunkan harga tiket, namun hasilnya belum efektif. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengungkapkan bahwa meskipun telah ada koordinasi dengan berbagai pihak terkait, masih dibutuhkan kajian lebih mendalam untuk menurunkan harga tiket pesawat secara signifikan.

Tingginya harga tiket pesawat berdampak negatif pada berbagai sektor, terutama pariwisata, yang mengalami penurunan minat dan daya beli wisatawan. Selain itu, sektor logistik dan perdagangan serta mobilitas masyarakat juga terhambat, yang mengarah pada kerugian tidak langsung di bidang pendidikan, bisnis, dan investasi. Beberapa faktor penyebab mahalnya harga tiket telah diidentifikasi, seperti tingginya harga avtur (bahan bakar pesawat) yang mencapai 38%—45% dari harga tiket, serta biaya pemeliharaan pesawat yang cukup besar. Ada juga masalah pajak berganda pada suku cadang pesawat yang didatangkan dari luar negeri.

Berbagai rekomendasi solusi telah diusulkan, seperti pemberian insentif fiskal untuk biaya avtur dan suku cadang pesawat, subsidi untuk biaya pelayanan jasa pendaratan dan ground handling, serta penghapusan pajak tiket pesawat. Meskipun telah banyak usulan dan kajian yang dilakukan, masyarakat masih menunggu langkah konkret untuk mengatasi masalah ini dengan melibatkan semua pihak terkait.



Yandex Lirik Indonesia: Peluang Baru di Infrastruktur Digital

12 Nov 2024

Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), mengungkapkan bahwa perusahaan teknologi asal Rusia, Yandex, berencana untuk berinvestasi di Indonesia. Yandex tertarik untuk membangun infrastruktur digital, seperti pusat data (data center) dan menjajaki kolaborasi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta pembinaan talenta digital. Meski nilai investasinya belum diumumkan, Nezar menilai minat ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menjanjikan.

Nezar menegaskan bahwa perusahaan asing, termasuk Yandex, harus mematuhi regulasi Indonesia jika ingin berinvestasi. Selain itu, ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menjadi target investasi berbagai perusahaan global dari Rusia, China, Amerika, hingga Eropa.

Dalam upaya lain, Hokky Situngkir, Dirjen Aplikasi Informatika Komdigi, menyoroti langkah pemerintah dalam memberantas judi online. Hingga 9 November 2024, lebih dari 5,1 juta situs judi online telah berhasil diblokir oleh kementerian, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman.

Instrumen Bank Sentral Tekan Daya Tarik Aset Lain

12 Nov 2024
Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik likuiditas dari pasar uang. Per Oktober 2024, total nilai operasi moneter BI melonjak menjadi Rp 1,08 kuadriliun, naik signifikan dari Rp 763,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh outstanding SRBI yang mencapai Rp 960,66 triliun, meningkat 638% dibandingkan Oktober 2023.

SRBI menarik perhatian berbagai institusi, termasuk bank, dana pensiun, dan asuransi. Direktur SME & Retail Funding BTN, Muhammad Iqbal, menyebut imbal hasil SRBI lebih menarik dibandingkan instrumen BI lainnya. BTN sendiri meningkatkan penempatan di SRBI menjadi Rp 57,56 triliun per Agustus 2024, naik dari Rp 43,32 triliun tahun lalu. Budi Sutrisno, Direktur Utama Dana Pensiun BCA, menilai SRBI sebagai alternatif yang kompetitif dibanding deposito, terutama dalam kondisi suku bunga tinggi.

Namun, ada dampak negatif dari penerbitan SRBI yang jumbo. Ekonom Indo Premier Sekuritas, Luthfi Ridho, mengkritik bahwa penyerapan likuiditas yang besar oleh SRBI berisiko memperketat likuiditas bank, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang naik menjadi 86,91% per September 2024. Perbankan lebih memilih memarkir dana di SRBI yang aman ketimbang menyalurkan kredit, sehingga mengurangi multiplier effect ekonomi. Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan bahwa SRBI juga mengurangi minat bank terhadap obligasi korporasi, dengan penyerapan turun menjadi Rp 107,04 triliun pada Oktober 2024.

Meskipun demikian, dengan imbal hasil yang mencapai 7,04% untuk tenor 12 bulan, SRBI tetap menjadi pilihan utama bagi investor. Namun, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, perlu kebijakan yang mendorong perbankan agar lebih aktif menyalurkan kredit, bukan sekadar memanfaatkan instrumen moneter seperti SRBI.

Kepercayaan Konsumen Merosot, Tabungan Terancam

12 Nov 2024
Momentum pilkada serentak yang diharapkan mendongkrak optimisme konsumen belum berhasil mengangkat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di awal kuartal IV-2024. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), IKK Oktober 2024 turun ke level 121,1, terendah sejak Desember 2022. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini (IKE) dan ekspektasi enam bulan ke depan (IEK). Indeks penghasilan saat ini, pembelian barang tahan lama, serta ketersediaan lapangan kerja menjadi penyumbang utama pelemahan.

Meskipun konsumsi masyarakat meningkat dengan proporsi pengeluaran untuk konsumsi naik ke 74,5%, hal ini mengorbankan tabungan yang turun ke level 15%, terendah sejak Desember 2021. Hasil survei ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2024 oleh UOB juga mencatat bahwa 76% responden di Indonesia khawatir terhadap kondisi keuangan mereka. Kecemasan ini mencakup kemampuan menabung (49%), memenuhi kebutuhan pokok (35%), dan merencanakan masa pensiun (28%).

Menurut Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (Core), penurunan optimisme konsumen ini mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, yang dipengaruhi inflasi, ketidakpastian politik, dan dinamika pasar tenaga kerja. Yusuf menambahkan bahwa ekspektasi negatif terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha menunjukkan pesimisme masyarakat terhadap tantangan ekonomi ke depan, seperti ketatnya kebijakan moneter dan ketidakpastian global.

Untuk memulihkan keyakinan konsumen, Yusuf menekankan pentingnya sinyal kebijakan dari pemerintah. Langkah ini diperlukan agar masyarakat lebih percaya terhadap stabilitas ekonomi, khususnya menjelang akhir tahun yang krusial bagi pertumbuhan ekonomi.

Investasi China Dorong Optimisme Pasar

12 Nov 2024
Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke China pada 8-10 November 2024 membawa dampak positif bagi investasi Indonesia, dengan total investasi yang berhasil diraih mencapai US$ 10,7 miliar atau sekitar Rp 156 triliun. Kunjungan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis antara emiten Indonesia dan perusahaan China, termasuk kerjasama PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dengan Envision Energy untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), serta kerjasama PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan Tencent Cloud dan Alibaba Cloud dalam penguatan infrastruktur komputasi awan.

Selain itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan GEM Co Ltd juga menjalin kolaborasi untuk pembangunan smelter nikel dengan teknologi HPAL di Sulawesi Tengah, yang akan meningkatkan produksi nikel untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik. Kerjasama ini menunjukkan potensi besar bagi emiten yang terlibat, dengan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan industri energi hijau dan teknologi di Indonesia.

Menurut Miftahul Khaer, analis Kiwoom Sekuritas, kunjungan Prabowo ini menjadi katalis yang menjanjikan bagi pertumbuhan emiten, terutama yang terlibat dalam sektor energi dan teknologi. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas juga menilai bahwa kerjasama ini bisa mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, meski memerlukan waktu untuk terealisasi. Untuk itu, investor disarankan mencermati kinerja fundamental emiten-emiten yang terlibat, dengan rekomendasi akumulasi beli untuk GOTO dan trading buy untuk INCO.

Persaingan Ketat Emiten Farmasi Tingkatkan Kinerja

12 Nov 2024
Mayoritas emiten farmasi mencatatkan kinerja positif selama sembilan bulan pertama tahun 2024, dengan pertumbuhan laba bersih hingga dua digit. PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) mencatatkan kenaikan laba tertinggi sebesar 47,65% secara tahunan, sementara emiten farmasi lain seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga mengalami peningkatan signifikan. Sebaliknya, emiten farmasi BUMN masih tertekan akibat beban utang yang tinggi.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan produk kesehatan pasca pandemi, inovasi produk baru, dan ekspansi distribusi menjadi pendorong utama kinerja positif emiten farmasi. Selain itu, efisiensi operasional juga menjadi faktor penting, khususnya pada emiten seperti SIDO dan DVLA yang fokus pada peningkatan margin keuntungan.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Researcher Kiwoom Sekuritas, menambahkan bahwa pertumbuhan volume penjualan menjadi motor utama laba bersih emiten farmasi. Ia juga mencatat bahwa meskipun fluktuasi rupiah dapat memengaruhi beban operasional, volume penjualan produk farmasi diperkirakan tetap tumbuh, terutama menjelang musim hujan dan libur akhir tahun.

Hendra dan Azis sama-sama melihat potensi positif dari stimulus pemerintah terhadap sektor kesehatan, yang dapat memberikan dukungan jangka panjang bagi emiten farmasi. Dalam hal investasi, Hendra merekomendasikan buy untuk KLBF dan TSPC, dengan target harga masing-masing Rp 1.770 dan Rp 2.850, serta buy on weakness untuk SIDO di Rp 520 dengan target Rp 625. Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy untuk TSPC dengan target harga Rp 2.760–Rp 2.770 per saham.