Ekonomi
( 40430 )Ekonomi Stagnan, Apa Tantangan Selanjutnya?
Revisi UU BUMN Kembali Bergulir
Optimisme Pasar Modal di Tahun Ular Kayu
Pasar modal Indonesia diprediksi akan mendapatkan momentum pertumbuhan pada Tahun Ular Kayu 2025, meskipun terdapat tantangan dari ketidakpastian global, seperti perlambatan ekonomi China, ketegangan perdagangan, dan dinamika geopolitik. Sektor-sektor unggulan seperti teknologi, energi, dan konsumsi diperkirakan akan mencatatkan performa positif, sementara sektor berbasis logam, seperti tambang dan otomotif, menghadapi risiko tekanan.
Menurut CLSA Feng Shui Index 2025, sektor berbasis elemen kayu (seperti pendidikan, ekonomi baru, dan manajemen dana) dan elemen api (seperti teknologi, minyak, dan gas) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Di sisi lain, sektor berbasis elemen logam, seperti tambang dan kripto, diperkirakan menghadapi tantangan.
Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyarankan investor untuk memanfaatkan penurunan harga saham sebagai peluang, dengan merekomendasikan sektor-sektor unggulan seperti perbankan (BBRI dan BMRI), properti (PWON dan SMRA), serta konsumsi (JPFA dan MYOR). Di sektor energi, saham batu bara (PTBA dan AADI) juga dipandang memiliki prospek cerah, berkat harga komoditas yang stabil dan permintaan domestik yang kuat.
Secara keseluruhan, meskipun pasar modal menghadapi berbagai tantangan global, sektor-sektor tertentu di Indonesia diharapkan dapat mencatatkan pertumbuhan yang positif, memberikan peluang bagi investor yang bijak dalam memilih sektor yang tepat.
Kredit Rumah Berjalan Lambat
Bank Indonesia (BI) mencatat per-tumbuhan kredit konsumsi perbankan RI mencapai se-besar 9,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada De-sember 2024. Kredit pemilik-an rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) tumbuh melambat.Berdasarkan laporan Anali-sis Uang Beredar, nominal kre-dit konsumsi yang disalurkan hingga bulan terakhir 2024 mencapai Rp2.195,1 triliun. Realisasi ini meningkat diban-dingkan dengan bulan sebe-lumnya yang sebesar Rp2.178 triliun, meskipun terdapat pe-lambatan laju pertumbuhan dari level 10,2% YoY.“Peningkatan terutama dido-rong oleh perkembangan KPR, KKB, dan kredit multiguna,” demikian bunyi laporan BI, dikutip Jumat (24/1).Laju pertumbuhan KPR pada Desember 2024 terpantau me-lambat tipis ke angka 10% YoY dibandingkan dengan 10,2% YoY pada November 2024. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp786 triliun.Di sisi lain, pertumbuhan KKB melambat dari 10,3% YoY pada November 2024 menjadi 7,8% YoY pada De-sember 2024, dengan total nilai Rp143,7 triliun.Kredit multiguna juga me-lambat tipis dengan laju se-besar 10% YoY pada bulan terakhir 2024, dibandingkan 10,1% pada bulan sebelum-nya. Total kredit multiguna yang disalurkan mencapai Rp1.265,4 triliun.BI juga mencatat penyaluran kredit sektor properti tumbuh 6,5% YoY per Desember 2024. Angka ini kembali menun-jukkan tren pelambatan dari 7% pada bulan sebelumnya.Dari segi nominal, pem-biayaan properti mencapai Rp1.412,3 triliun sampai de-ngan Desember 2024. Jumlah ini ditopang KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) yang sebesar Rp785,9 triliun, kredit konstruksi Rp393,1 tri-liun, serta kredit real estate (Rp233,2 triliun).Sementara itu, laju pertum-buhan kredit kepada segmen usaha mikro, kecil, dan me-nengah atau UMKM kian melemah hingga pengujung 2024. Kredit UMKM per De-sember 2024 bertumbuh hanya 3% (YoY) hingga mencapai Rp1.405 triliun. Realisasi ini melambat dibandingkan laju pertum-buhan 3,7% pada November 2024, sekaligus menjadi yang terendah sepanjang tahun. “Penyaluran kredit kepada UMKM pada Desember 2024 tumbuh sebesar 3,0% [YoY], setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 3,7% [
Perbaikan Sistem MLFF: Upaya Menekan Kebocoran Tol
Adanya perdebatan mengenai proyek investasi sistem tol nirsentuh atau multilane free flow (MLFF) yang sedang berjalan antara Indonesia dan Hungaria. Anggota Komisi V DPR, Andi Iwan Darmawan Aras, mengusulkan agar proyek tersebut diambil alih oleh BUMN, mengingat adanya kendala dalam pelaksanaannya. Namun, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menanggapi bahwa usulan tersebut sulit dilakukan karena proyek ini merupakan hasil dari kerja sama bilateral yang sudah terjalin dengan Hungaria, dan kontrak sudah ditandatangani.
Dody menegaskan bahwa meskipun ada beberapa kendala, proyek ini masih dalam tahap penyempurnaan sistem dan pihak Kementerian PU terus berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Hungaria untuk memastikan kelancaran proses tersebut. Selain itu, implementasi MLFF sedang dievaluasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk memastikan efektivitas dan efisiensi anggaran ke depan.
Secara keseluruhan, meskipun ada ketidaksesuaian dalam implementasi proyek ini, pemerintah tetap berkomitmen untuk menyelesaikan dan memastikan bahwa sistem ini dapat berjalan dengan baik sesuai dengan perjanjian yang telah ada.
Skandal Fraud E-Commerce Hancurkan Kepercayaan Publik
Momentum Akselerasi Ekonomi
Penerimaan Pajak Kripto Tembus Rp 1,09 Triliun
Siapa Saja Pemain Global yang Mengincar TikTok?
Salah Satu kelemahan Bangsa Indonesia Adalah Sedikitnya Industri yang Dimiliki
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









