Ekonomi
( 40430 )Sucor Asset Menagement Terus Memperkuat Jaringan Distribusi
RUU BUMN Diminta Akomodasi Aturan
DeepSeek Bisa Menggeser Dominasi AS di Industri Kripto
HGBT Perkuat Daya Saing Industri Keramik
Ekonomi RI Naik Kelas, Tapi Masih Banyak PR
Saham BCA Mengalami Peningkatan
BCA berhasil menutup tahun 2024 dengan laba sebesar Rp54,8 triliun, tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 13,8% menjadi Rp922 triliun. Perseroan berhasil mengelola beban dana dengan mengurangi porsi deposito dan meningkatkan dana murah berupa giro dan tabungan, yang berkontribusi pada pertumbuhan bunga bersih sebesar 9,5% YoY. Selain itu, pendapatan non-bunga BCA juga tercatat tumbuh 10,2% YoY.
Meski demikian, saham BBCA mengalami penurunan, yang diindikasikan sebagai efek dari "sell on news," namun beberapa analis seperti Phintraco Sekuritas dan Sucor Sekuritas memproyeksikan kinerja saham BBCA akan tetap positif berkat fundamental yang kuat dan likuiditas yang terjaga. Ke depan, BCA diharapkan dapat terus meningkatkan imbal hasil kredit, terutama di segmen konsumen, dan dihadapkan pada tantangan pertumbuhan kredit yang melambat serta potensi cost of credit yang lebih tinggi.
BCA juga berencana untuk menebar dividen kepada pemegang saham, dengan tujuan untuk terus meningkatkan nominal dividen setiap tahunnya, sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan oleh Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja. Besaran dividen tahun buku 2024 akan diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Dampak Trump terhadap Rupiah dan Pasar Modal
Pasar modal Indonesia memulai tahun 2025 dengan kinerja yang sangat positif, tercermin dari kenaikan IHSG lebih dari 2% dan IDX30 yang naik 2,5% year-to-date (YtD). Selain itu, indeks saham dan reksa dana yang mayoritas konstituennya adalah emiten perbankan juga menunjukkan kinerja yang solid, dengan reksa dana indeks seperti IDX Pefindo Prime Bank dan IDX Pefindo I-Grade masing-masing mengalami kenaikan sekitar 3% YtD.
Kinerja positif ini didukung oleh beberapa faktor eksternal dan domestik. Faktor eksternal seperti penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS, serta faktor domestik berupa kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan, turut mendukung likuiditas pasar keuangan Indonesia. Kebijakan tersebut juga menguntungkan saham-saham perbankan yang undervalued, seperti Bank BNI dan BRI.
Pasar obligasi dan pasar uang juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan reksa dana pasar uang mencatatkan hasil positif sekitar 0,45%—0,50% YtD dan reksa dana pendapatan tetap dengan durasi pendek mencatatkan kinerja positif sekitar 0,5%—0,8% YtD.
Dengan valuasi pasar yang rendah, rasio price to earnings (P/E) yang berada di bawah rata-rata historis, dan dividend yield yang relatif tinggi, prospek pasar saham Indonesia di tahun 2025 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi return IHSG diperkirakan mencapai 13%—18% dengan estimasi pertumbuhan laba bersih sekitar 8%. Selain itu, imbal hasil dari instrumen pendapatan tetap dan pasar uang juga diperkirakan akan memberikan potensi keuntungan yang baik.
Secara keseluruhan, kinerja investasi di pasar modal Indonesia pada awal tahun 2025 memperlihatkan prospek yang menjanjikan, meskipun investor perlu memperhatikan strategi investasi yang tepat dan memperhitungkan risiko serta imbal hasil yang dapat dicapai dalam jangka panjang.
Peluang Keuntungan dari SBN Ritel
Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel ORI027 memberikan peluang investasi yang menarik bagi investor ritel di tengah volatilitas pasar modal yang terjadi belakangan ini. Dengan kupon yang relatif tinggi, yaitu 6,65% untuk tenor 3 tahun dan 6,75% untuk tenor 6 tahun, ORI027 menjadi alternatif investasi yang menarik, terutama setelah penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia. Kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen investasi lain, seperti deposito, serta pajak yang lebih rendah (10%) menjadi faktor tambahan yang menarik bagi investor.
Handy Yunianto, Kepala Divisi Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, menilai kupon ORI027 sangat menarik karena suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk simpanan lainnya dan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut. Secara historis, obligasi ritel memiliki return yang lebih baik dibandingkan saham dalam 6 tahun terakhir.
Reza Fahmi dari Henan Putihrai Asset Management menekankan bahwa meskipun ada potensi penurunan suku bunga lebih lanjut, pemerintah tetap menargetkan penerbitan SBN ritel hingga Rp 150 triliun, dengan kebijakan Bank Indonesia yang mendukung prospek tersebut.
SBN ritel ini juga berkontribusi dalam memperdalam pasar keuangan Indonesia, memperluas basis investor, serta meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat dalam investasi. Dengan adanya ORI027, pemerintah berharap dapat menarik lebih banyak investor ritel untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan, seperti yang terlihat dari penjualan yang sudah mencapai sejumlah besar kuota yang ditargetkan.
Kenaikan Konsumsi Jadi Harapan Pemulihan
Pendapatan Bunga Tertekan, Bank Mencari Solusi
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









