;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Bank Besar Royal Bagi Dividen

06 Feb 2025
Sejumlah bank besar telah mengumumkan perolehan laba bersih sepanjang tahun 2024. Dengan pencapaian kinerja yang solid, terdapat indikasi pembagian dividen dalam nominal jumbo kepada para pemegang saham. Seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbak (BMRI) dan entitas anak yang membukukan laba bersih yang dapat diartikulasikan kepada pemilik senilai Rp55,78 triliun pada 2024, tumbuh mini 1,31% secara tahunan (year on year/yoy). Perolehan tersebut didukung dari pertumbuhan kredit yang tinggi. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan, Bank Mandiri terus memperkuat perannnya dalam mengoptimalkan ekosistem wholesale untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yan berkelanjutan. "Hingga akhir tahun 2024, realisasi kredit Bank Mandiri secara konsolidadi mencapai Rp1.670,55 triliun naik 19,5% (yoy), dengan pertumbuhan yang tetap solid di beberapa segmen utama.  Kredit wholesale yang menjadi core business perseroan terus menjadi pendorong utama penyaluran kredit," tutur Darmawan. Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan bahwa perseroan selalu menjaga rasio pembayaran dividen di level 60% dari laba bersih. (Yetede)

Harga Emas yang Menanjak dan Terus Mencatatkan Rekor Baru

06 Feb 2025

Harga emas yang menanjak dan terus mencatatkan rekor baru, membawa angin segar pada saham-saham komoditas tersebut di lantai bursa. Saham-saham emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) kompak menguat pada perdagangan Rabu (5/2/2025), di saat harga komoditas logam mulia kembali memecah rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.869 per troi ons. Tercatat, saham ANTM menguat 3,57% ke level Rp1.450, disusul AMMN melesat 5,07% ke posisi Rp7.250, BRMS menanjak 3,19% ke Rp388, dan UNTR naik 0,6% ke Rp25.150, dan HRTA melonjak 7,31% ke Rp 470.

Kinerja positif saham-saham itu terjadi ditengah memerahnya IHSG sepanjang perdagangan kemarin, yang akhirnya ditutup turun 0,7% ke level 7.024. "Penguatan sebagian besar saham emas tersebut sebagai dampak dari kenaikan harga komoditasnya," kata Senior Market Charist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan memperkirakan, harga komoditas emas masih akan terius menanjak hingga US$ 3.000 per trai ons di tahun ini. Reli emas yang berkelanjutan disebabkan oleh kuatnya permintaan produk safe haven ini. Ditengah ketidakpastian kebijakan perdaangan Trump, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah, dan konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. (Yetede)

Rupiah Melemah, Transaksi Valas Meningkat

06 Feb 2025
Tren pelemahan rupiah terus berlanjut hingga awal 2025, setelah melemah 4,16% sepanjang 2024, dengan nilai tukar mencapai Rp 16.293 per dollar AS pada 5 Februari 2025.

Pelemahan ini mendorong kenaikan transaksi jual beli valuta asing (valas) di bank, seperti yang dialami Bank Jatim, yang mencatat peningkatan transaksi valas sebesar 48,43% secara tahunan pada 2024. Direktur Keuangan, Treasury & Global Service Bank Jatim, Edi Masrianto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menguntungkan pekerja migran Indonesia, karena gaji yang diterima dalam dollar AS menghasilkan konversi rupiah yang lebih besar. Selain itu, pengusaha ekspor-impor juga banyak menjual dollar AS untuk membayar kebutuhan dalam rupiah dan investasi.

Menurut Edi, nasabah korporasi yang memiliki pendapatan dalam dollar AS tetap membutuhkan rupiah untuk berbagai keperluan operasional seperti pembayaran gaji, pajak, dan biaya operasional. Selain itu, tren diversifikasi aset juga menyebabkan sebagian nasabah mengalihkan investasi ke instrumen lain dengan kurs berbeda.

Kebijakan pemerintah, seperti kewajiban konversi devisa hasil ekspor (DHE) SDA menjadi rupiah, turut meningkatkan transaksi valas. Bank Mandiri juga mencatatkan kenaikan transaksi valas hingga dua kali lipat sepanjang 2024.

Namun, Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa pelemahan rupiah juga menjadi tantangan bagi perbankan, terutama dalam pembiayaan ekspor-impor yang membutuhkan valas. Bank Mandiri akan terus beradaptasi untuk menjaga likuiditas di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak.

Meskipun pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi pekerja migran dan pengusaha ekspor, kondisi ini juga membawa tantangan bagi sektor perbankan dan industri yang bergantung pada valuta asing.

Harga Batubara Anjlok, Kinerja Tertekan

06 Feb 2025
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diperkirakan mengalami penurunan pada 2025 akibat turunnya harga batubara, meskipun produksi meningkat.

Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memperkirakan ITMG akan meningkatkan produksi hingga 21,8 juta ton berkat kontribusi tambang Graha Panca Karsa (GPK) dan Tepian Indah Sukses (TIS). Namun, harga batubara yang telah terkoreksi 10% sejak awal 2025 menjadi US$ 115,25 per ton membuat prospek bisnis ITMG tetap menantang. Hasan juga merevisi asumsi harga jual rata-rata (ASP) batubara 2025 turun 13,3% menjadi US$ 91 per ton, yang berdampak pada penurunan ekspektasi laba bersih sebesar 21,6% menjadi US$ 355 juta.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai peningkatan produksi tidak akan banyak membantu karena harga batubara yang terus melemah. Ia memperkirakan ASP ITMG bisa berada di kisaran US$ 75-80 per ton, menyebabkan proyeksi pendapatan turun 13% dan laba turun 26% pada 2025.

Meski begitu, ITMG tetap berkomitmen mempertahankan dividen payout ratio di 70% untuk periode 2024-2026, yang menawarkan imbal hasil dividen di atas 12%. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan, memperkirakan pendapatan ITMG pada 2025 mencapai US$ 2,31 miliar dan laba bersih US$ 497 juta, menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menilai manajemen biaya yang disiplin dapat membantu mempertahankan profitabilitas perusahaan.

Dalam rekomendasi saham, Hasan dan Sukarno menyaranakan hold, dengan target harga masing-masing Rp 25.000 dan Rp 28.000 per saham, sedangkan Rizkia mempertahankan peringkat trading buy dengan target harga Rp 29.150 per saham.

BPJS Kesehatan Bakal Naik, Waspadai Dampaknya

06 Feb 2025
Pemerintah berpotensi menaikkan iuran BPJS Kesehatan pada 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa saat ini pemerintah, termasuk Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, dan BPJS Kesehatan, masih mengkaji besaran kenaikan yang akan disesuaikan dengan meningkatnya klaim pelayanan kesehatan, terutama untuk penyakit seperti jantung dan stroke. Setelah kajian selesai, Budi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani akan melaporkan hasilnya kepada Presiden Prabowo Subianto.

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Mahlil Ruby, memperingatkan bahwa tanpa penyesuaian iuran, gagal bayar BPJS Kesehatan bisa terjadi pada Juni 2026. Oleh karena itu, penyesuaian tarif direncanakan paling lambat pada 1 Januari 2026, sesuai Perpres 59/2024.

Di sisi lain, Ombudsman RI, melalui anggotanya Robert Na Endi Jaweng, menyoroti bahwa meskipun cakupan Universal Health Coverage (UHC) diklaim telah mencapai 98%, masih terdapat 56,8 juta peserta non-aktif. Ombudsman meminta pemerintah untuk mengecek ulang data kepesertaan hingga tingkat RT dan desa, karena masih ada masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Robert juga menegaskan bahwa peserta BPJS yang tergolong kurang mampu dan mantan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) harus diaktifkan kembali tanpa prosedur birokrasi yang rumit.

Dengan demikian, rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan bertujuan untuk menjaga stabilitas keuangan JKN, tetapi pemerintah juga perlu memastikan bahwa masyarakat tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal, terutama bagi mereka yang tidak mampu.

Sektor Andalan Mengalami Perlambatan

06 Feb 2025
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Indonesia masih belum kembali ke level sebelum pandemi Covid-19, yang sebelumnya stabil di kisaran 5% per tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2024, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,94%, stagnan dibandingkan 2022, meskipun sedikit meningkat dari 2023 (4,82%).

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi 54,04% sepanjang 2024. Konsumsi di sektor transportasi dan komunikasi mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu 6,56%, diikuti oleh konsumsi di sektor restoran dan hotel yang tumbuh 6,53%, didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat dan kegiatan wisata.

Namun, pola konsumsi kelas menengah menunjukkan tren peningkatan kebiasaan menabung dibanding belanja. Chief Economist PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), I Kadek Dian Sutrisna Artha, menilai bahwa perubahan perilaku ini mencerminkan ketidakpastian ekonomi, sehingga masyarakat lebih berhati-hati dalam pengeluaran. Jika tren ini terus berlanjut, bisa berdampak negatif pada konsumsi rumah tangga, yang merupakan penggerak utama perekonomian nasional.

Meskipun konsumsi rumah tangga masih tumbuh, lajunya tetap tertinggal dibanding pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Tren menabung yang meningkat di kalangan kelas menengah dan melemahnya daya beli di segmen consumer goods, kebutuhan medis, dan mobilitas, menjadi tantangan bagi pemulihan konsumsi domestik.

Perlu Pemicu Baru agar Ekonomi Lebih Kencang

06 Feb 2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 tidak mencapai target 5,2% yang ditetapkan pemerintah, hanya 5,03%, bahkan lebih rendah dari 5,05% pada 2023. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut ketidakpastian ekonomi, pemilu, dan penurunan harga komoditas sebagai penyebab utama perlambatan ini.

Pemerintahan Presiden Prabowo menghadapi tantangan besar untuk mencapai target pertumbuhan 8%. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai program stimulus, termasuk diskon tiket pesawat, program Harbolnas 2025, Epic Sales, diskon tol, insentif sektor properti dan kendaraan listrik, serta program makan bergizi gratis (MBG). Selain itu, dilakukan penghematan anggaran, termasuk pemangkasan dana transfer ke daerah dan anggaran kementerian.

Namun, Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 hanya sekitar 4,98%-5%, karena konsumsi masyarakat masih stagnan meskipun ada momentum Imlek. Ia juga menilai dampak program MBG terhadap ekonomi masih kecil, hanya menyumbang sekitar 0,1% pada kuartal I-2025.

Sebaliknya, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, lebih optimis dan memproyeksikan pertumbuhan 5,11% pada 2025. Menurutnya, momentum Ramadan akan mendorong konsumsi rumah tangga, sementara inisiatif pro-pertumbuhan pemerintah dapat meningkatkan investasi dan aktivitas ekonomi.

Meskipun pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, dampaknya masih perlu waktu untuk benar-benar terasa, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan konsumsi domestik yang belum pulih sepenuhnya.

Kejagung Ungkap Dugaan Korupsi Besar

06 Feb 2025

Kejaksaan Agung menemukan aliran dana ilegal terkait aset kripto yang menyebabkan kerugian negara hingga mencapai Rp1,3 triliun. Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung, Asep Nana Mulyana, menyatakan bahwa pelaku penipuan investasi berbasis kripto kini semakin mahir menggunakan teknologi digital, seperti metode mixer dan tumbler, untuk menyembunyikan jejak transaksi dan memindahkan aset antar-blockchain tanpa terdeteksi.

Asep menekankan pentingnya bagi jajaran Kejaksaan Agung untuk memiliki kompetensi khusus dan kapasitas teknis dalam memahami mekanisme transaksi digital agar bisa menelusuri aliran dana, khususnya dalam kasus kripto, mengingat metode konvensional tidak lagi cukup untuk menangani masalah ini.

Selain itu, Indonesia kini berada di peringkat ketiga dalam transaksi kripto global dengan nilai US$157,1 miliar, yang berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap inovasi digital, tetapi juga menambah risiko penyalahgunaan teknologi. Di sisi lain, Polri menjelaskan modus operandi penipuan kripto, di mana pelaku menggunakan media sosial untuk menyebarkan tautan dan mengarahkan korban untuk bergabung dalam grup aplikasi pesan singkat yang disamarkan sebagai forum edukasi investasi.

Secara keseluruhan, fenomena penipuan berbasis kripto di Indonesia menunjukkan kebutuhan mendesak bagi aparat penegak hukum untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar dapat melacak dan mengatasi aliran dana ilegal yang merugikan negara.

Strategi Mendorong Daya Beli Masyarakat

06 Feb 2025

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 mengalami pelambatan, hanya mencapai 5,03%, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 5,05% pada tahun sebelumnya. Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang belum pulih ke level prapandemi dan sektor industri pengolahan yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Meskipun konsumsi rumah tangga mengalami akselerasi, pertumbuhannya masih di bawah rata-rata historis dan terhambat oleh inflasi tinggi serta ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadapi tantangan besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, yaitu 8%. Untuk mengatasi perlambatan, langkah strategis perlu diambil, seperti memberikan insentif bagi masyarakat dan memperkuat program yang mendorong investasi serta penciptaan lapangan kerja. Evaluasi terhadap target pertumbuhan dan kebijakan yang lebih konkret untuk mendukung pelaku usaha juga diperlukan.

Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa depan, mengingat tantangan global yang mempengaruhi prospek ekonomi Indonesia. Dukungan konkret dari pemerintah serta adaptasi sektor swasta akan sangat penting dalam mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.

Pembengkakan Kredit Bank

06 Feb 2025

Bank-Bank besar di Indonesia, seperti PT Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (BNI), dan PT Bank Central Asia (BCA), berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang signifikan sepanjang tahun 2024, meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi global dan domestik yang tak menentu. Bank-bank ini menunjukkan ketangguhan dan stabilitas bisnis yang solid. Meskipun pertumbuhan kredit yang tinggi tercatat, bank-bank tersebut menghadapi tekanan pada margin keuntungan akibat tingginya biaya dana (CoF) dan suku bunga acuan Bank Indonesia yang tinggi. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan laba yang lebih terbatas.

PT Bank Mandiri melaporkan pertumbuhan kredit sebesar 19,5% YoY, namun hanya mencatatkan laba yang tipis, naik 1,31% YoY. PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid, namun DPK turun dan NIM tergerus. Sementara itu, PT Bank Central Asia (BCA) mencatatkan pertumbuhan kredit 13,8% YoY dengan DPK yang tumbuh lebih rendah, tetapi mereka mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) berkat porsi CASA yang tinggi.

Ke depan, bank-bank besar ini diprediksi akan terus mengungguli industri perbankan dalam hal pertumbuhan kredit, mengingat posisi likuiditas mereka yang lebih baik dan strategi digitalisasi yang efektif. Analis memperkirakan bahwa meskipun industri perbankan secara keseluruhan diperkirakan akan mengalami pertumbuhan moderat sekitar 9,9% YoY, bank-bank besar kemungkinan akan mencatatkan angka pertumbuhan yang lebih tinggi.