Ekonomi
( 40447 )BUMN Sambut The New Normal
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengeluarkan surat edaran nomor S- 336/MBU/05/2020 tentang antisipasi skenario the new normal BUMN pada Jumat (15/5) lalu. Erick menyebutkan, pemulihan kegiatan perusahaan pelat merah dilakukan dalam lima fase.
Fase pertama akan dimulai pada 25 Mei 2020. Erick mengatakan, karyawan berusia di bawah 45 tahun mulai berkantor dan bekerja dari rumah bagi yang berusia di atas 45 tahun sesuai batasan operasi.
Pada fase kedua, Erick meminta para direktur utama BUMN mengantisipasi secara lebih dini skenario the new normal di BUMN dengan membentuk task force penanganan Covid-19. Erick meminta setiap BUMN mengampanyekan gerakan optimisme dalam menghadapi the new normal, melalui penggunaan tagar #CovidSafe BUMN pada setiap momentum/media yang relevan. Erick menyebutkan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan skenario the new normal pada masing-masing BUMN menjadi tanggung jawab direktur utama dan dilaporkan secara berkala kepada wakil menteri BUMN terkait.
Pada fase ketiga (8 Juni 2020) ini diperuntukkan bagi sektor jasa wisata di mana mulai dilakukan pembukaan tempat wisata, online ticket dan sistem scan, juga ditujukan untuk sektor jasa pendidikan, dimana mulai pembukaan tempat pendidikan.
Pada fase keempat (29 Juni 2020), akan dilakukan pembukaan kegiatan ekonomi untuk seluruh sektor sesuai dengan kondisi fase ketiga dengan tambahan evaluasi untuk penambahan kapasitas operasi menuju normal dengan protokol kesehatan ketat.
Fase terakhir, yakni fase kelima (13 dan 20 Juli), dimana akan dilakukan evaluasi fase keempat untuk seluruh sektor dan pembukaan tempat atau kegiatan ekonomi lainnya menuju skala normal.
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga berujar, jika di tanggal-tanggal tersebut di wilayah tersebut masih PSBB, kita akan mematuhinya. Namun, jika PSBB di suatu wilayah sudah tidak berlaku, maka protokol tersebut otomatis berlaku. Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin mengatakan, perusahaan sudah menerima surat edaran menteri BUMN. Sambil menunggu kapan akan dimulai, kami menyiapkan protokol Covid-19 untuk menerapkan skenario the new normal di BUMN ini. Arviyan menambahkan, skenario protokol ini juga akan disesuaikan dengan keunikan yang dimiliki perusahaan, seperti lokasi usaha, jenis usaha, dan lain-lain. Direktur Utama PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri atau Taspen (Persero) ANS Kosasih mengatakan, Taspen sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan protokol PSBB untuk menangkal penyebaran Covid-19 dan membentuk task force untuk menyambut the new normal. Kementerian BUMN menyampaikan kepada kami bahwa berbagai masukan skenario dari masing-masing sektor BUMN akan dijadikan pertimbangan pada saat penyusunan kebijakan mengantisipasi the new normal.
LADANG STARTUP MAKIN SUBUR
Beberapa vertical startup alias perusahaan rintisan berbasis teknologi diprediksi masih mampu menorehkan pendanaan dan kinerja yang moncer di tengah tantangan kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani memprediksi vertikal (startup) sektor pendidikan, kesehatan, teknologi finansial (tekfin), gim, agrobisnis, dan logistik memiliki prospek moncer pada saat dan pascapandemi virus corona.
Dia menilai makin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap platform teknologi pada masa pandemi membuat berbagai vertikal startup memperbaiki kualitas layanan mereka.
Setelah pandemi berakhir pun, lanjutnya, kinerja beberapa vertikal seperti tekfin justru akan makin berjaya. Pasalnya, dia memprediksi perbankan bakal kian ketat memberikan kredit sehingga menjadi peluang bagi startup tekfin untuk mengisi kebutuhan pendanaan atau permodalan.
Dia lantas mengimbau pelaku startup melakukan tiga langkah agar bisa tetap bertahan setelah pandemi Covid-19 usai. Pertama, meminimalisasi pengeluaran. Kedua, mendata kembali kebiasaan setiap pelanggan yang telah beralih ke digital semasa pandemi. Ketiga, membuat peta jalan baru untuk strategi bisnis mereka ke depan.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Astindo) Handito Joewono mengatakan pendanaan yang masuk kuartal I/2020 senilai US$1,3 miliar merupakan keistimewaan yang patut disyukuri sehingga akan memberi optimisme lebih besar bagi pengembangan perusahaan rintisan Tanah Air ke depan.
Menurutnya, vertikal pertanian, perikanan, dan kehutanan, akan menjadi primadona pada masa depan. Di sisi lain, dia juga berpendapat Indonesia memerlukan vertikal-vertikal startup baru yang harus dikembangkan untuk menyokong perekonomian nasional, tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengembangan startup yang eksis.
Partner East Ventures Melissa Irene melihat ada dorongan transformasi digital yang makin cepat setelah pandemi usai karena masyarakat mulai terbiasa dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar melalui pendekatan daring. Para pelaku industri startup di Indonesia harus sigap memantau pergeseran apa saja yang akan terjadi di masyarakar agar rencana bisnis tetap sesuai dengan target pasar.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi berpendapat ke depan, industri startup akan lebih mengarah pada pengembangan digital 4.0 dan industri kreatif.
KEUANGAN ASURANSI MULAI TERGANGGU
Direktur Utama Kresna Life Kurniadi Sastrawinata dalam surat tersebut menjelaskan bahwa saat ini terjadi keadaan kahar di luar kendali perusahaan, yakni pandemi Covid-19 yang menimbulkan krisis global. Hal tersebut menurutnya membuat kemampuan finansial perseroan terganggu.
Kurniadi menjelaskan bahwa pihaknya tidak mampu memenuhi kewajiban polis K-LITA dan PIK karena terdapat masalah likuiditas portofolio investasi (underlying investments). Menurutnya, hal tersebut sebagai imbas krisis perekonomian dan pasar modal di Indonesia.
Dijelaskan Kresna Life akan menunda setiap transaksi penebusan polis yang akan dan/ atau telah jatuh tempo dan akan menunda pembayaran manfaat investasi sesuai ketentuan polis yang telah jatuh tempo. Periode penundaan transaksi penebusan polis dan pembayaran manfaat investasi itu akan disesuaikan oleh Kresna Life melalui pemberitahuan lebih lanjut.
Menurut Dosen Program MM-Fakuktas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Kepler A. Marpaung, kondisi tersebut harus menjadi alarm yang sangat nyaring bagi industri asuransi, yang dinilai belum melakukan kajian dan analisa sejauh mana dampak Covid-19 bagi bisnis. Kepler menjelaskan bahwa yang ada saat ini masih sebatas kebijakan countercyclical.
Kepler pun menyampaikan bahwa salah satu perusahaan reasuransi terbesar di dunia telah melakukan riset dan analisa dengan membuat skenario-skenario dampak Covid-19 bagi industri asuransi. Namun, belum dipublikasikan secara resmi. Perusahaan tersebut membuat skenario optimistis, moderat, dan serius.
SEKTOR SEMEN PENUH RINTANGAN
Sepanjang kuartal I/2020, data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan penjualan semen di pasar domestik dan luar negeri mengalami penurunan sebesar 4,71% secara tahunan.
Meski begitu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dan anak usahanya PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB) masih dapat mencatatkan kinerja positif di tengah tren penurunan itu. Keduanya masih mencatatkan pertumbuhan penjualan yang kemudian menjadi penopang laba.
Direktur Solusi Bangun Indonesia Agung Wiharto menuturkan bahwa perolehan laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan perseroan. Efisiensi pada sejumlah pos beban seperti beban pokok, dan beban usaha turut berkontribusi terhadap profit perseroan.
Menurutnya, guncangan terhadap pasar konsumsi semen pada kuartal I/2020, lebih banyak disebabkan oleh curah hujan tinggi dan kebijakan pembatasan sosial.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) Oey Marcos mengatakan bahwa meski alokasi berkurang, perseroan akan tetap melakukan menjalankan proyek-proyek investasi sesuai rencana. Namun, pelaksanaannya sebagian ditunda ke tahun depan. Perseroan juga memperkirakan penjualan akan mengalami penurunan.
Analis PT Reliance Indonesia Sekuritas Tbk. Anissa Septiwijaya menyatakan meski masih ada sejumlah emiten yang mampu mencatatkan kinerja positif, hal itu diperkirakan tak akan bertahan berlanjut pada kuartal II/2020.
BANK SYARIAH TETAP SOLID
Perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat menghadapi Covid-19. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tiga potensi risiko kredit, pasar, dan likuiditas juga tidak terkecuali untuk bank syariah. Meskipun demikian, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni E.B. Subari mengatakan bank syariah sebenarnya memiliki keuntungan dalam menghadapi risiko pandemi Covid-19, karena konsep bisnis yang berbeda dari bank konvensional.
Penerapan konsep bagi hasil misalnya, secara natural bisa memitigasi dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19. Dia menjelaskan, ada beberapa produk bank syariah yang tidak sensitif terhadap pricing sehingga tidak terdampak, misalnya simpanan dengan akad wadiah atau tanpa bunga. Simpanan jenis ini trennya terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data OJK, kinerja aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga (DPK) bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (BUS) masih tumbuh dua digit secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga awal tahun ini.
Toni, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) mengungkapkan dampak yang akan terlihat akibat Covid-19 adalah dari sisi pendapatan, yang akan mengalami penurunan dikarenakan bank harus secara masif melakukan restrukturisasi. Toni memaparkan, skema restrukturisasi yang dilakukan Mandiri Syariah adalah membagi nasabah terdampak Covid-19 ke dalam empat kuadran, yaitu nasabah yang pendapatannya turun 20%-25%, 25%-50%, 50%-75%, dan 75% ke atas. Perseroan memberikan perlakuan berbeda bagi keempatnya.
Strategi lainnya adalah mencari sumber pendapatan lain, yaitu melalui pendapatan berbasis komisi dengan memperkuat divisi digital dengan mobile banking dan bisnis gadai emas. Perseroan juga menghemat biaya operasional. Direktur Utama PT Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) Indra Falatehan mengatakan perseroan akan mengoptimalkan stimulus-stimulus yang diberikan oleh otoritas serta mempercepat proses restrukturisasi bagi nasabah yang terdampak wabah Covid-19. BJBS akan tetap mempertahankan pertumbuhan bisnis secara selektif dan prudent dengan mengoptimalkan nasabah existing yang masih potensial.
Polemik Distribusi Mempengaruhi Suplai Gula
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto mengakui ada polemik mengenai jumlah gula yang seharusnya didistribusikan ke konsumen, yang tidak sesuai dengan perencanaan, yang menyebabkan seretnya pasokan gula pada Ramadan sehingga harga tak kunjung turun.
Dalam rapat koordinasi untuk mengamankan pasokan pangan selama Ramadan yang digelar beberapa waktu lalu, Suhanto mengatakan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sudah sepakat bakal menyalurkan 160 ribu ton gula rafinasi, yang merupakan merupakan subtitusi gula pasir.
Namun, Ketua Aprindo Roy Mandey mengatakan jumlah 93 ribu ton tak cukup lantaran pasokan harus dipotong untuk memenuhi kebutuhan rekanan peretail. Walhasil, kata Roy, gula yang bisa disalurkan oleh peretail ke konsumen cuma 30 ribu ton mengakibatkan permintaan yang meningkat sehingga harga gula melesat menjadi Rp 19 ribu per kilogram.
Untuk meningkatkan pasokan, AGRI didorong untuk memperbanyak kanal penjualan ke dinas pangan pemerintah daerah.
Selain persoalan koordinasi antara AGRI dan Aprindo, lambatnya proses importisasi, seperti yang Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh keluhkan, menjadi pemicu kelangkaan gula di pasar.
Bulog pun sudah ancar-ancar membuka lelang pengadaan impor raw sugar sejak Desember lalu melalui anak usaha PT Gendhis Multi Manis. Pemerintah juga memutuskan mempercepat eksekusi impor gula kristal mentah sebanyak 495 ton dari India.
Pemilihan rekanan negara impor dari India merupakan bagian dari perjanjian bilateral pertukaran dagang kedua negara, yakni impor gula mentah dan ekspor CPO.
Belakangan, lantaran mewabahnya virus corona dan penerapan lockdown di India, importasi terhambat hingga April 2020. Pemerintah hanya mendapat pasokan 150 ribu ton. Adapun realisasi impor yang dilakukan Kementerian Perdagangan per 20 April hanya sebesar 283 ribu ton dengan surat persetujuan impor untuk 683 ribu ton.
Direktur Utama Bulog Budi Waseso memastikan pasokan gula pasir bakal aman pada Juni.
Kementan: Pabrik Gula Langgar Komitmen
Kementerian Pertanian menemukan sejumlah pabrik belum menjual gula sesuai komitmen. Kepala Distribusi Cadangan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Inti Pertiwi meminta pabrik gula yang mendapatkan tugas mengolah gula rafinasi milik industri untuk menjual gula sesuai kesepakatan guna menekan harga jual komoditas tersebut. Inti mengatakan, pemerintah telah menugaskan sejumlah pabrik gula untuk mengolah gula rafinasi milik industri menjadi gula kristal putih (GKP) demi memenuhi kebutuhan gula masyarakat. Kebijakan itu ditempuh karena pasar dalam negeri membutuhkan tambahan pasok an GKP dalam waktu cepat sembari menunggu kedatangan gula impor dan panen gula tebu petani lokal. Inti mengatakan, sesuai aturan, harga gula dari pabrik sebesar Rp 11.900 per kilogram (kg). Selanjutnya, seiring dengan rantai distribusi, harga gula meningkat menjadi Rp 12 ribu per kg di tingkat distributor dan Rp 12.500 di tingkat eceran yang diterima konsumen. Kementan menyatakan akan segera melakukan operasi pasar gula lewat Toko Tani Indonesia Centre atau Pasar Mitra Tani (PTM) mulai pekan depan. Kementan akan menggunakan pasokan gula kristal putih (GKP) yang dikonversi dari gula rafinasi milik industri makanan-minuman.Inti menjelaskan, khusus di wilayah Jabodetabek, pabrik gula yang ditugaskan pemerintah akan memasok gula sekitar tiga hingga lima ton per hari untuk 12 PTM. Volume itu di nilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula masyarakat.
Sekretaris Perusahaan Bulog Awaluddin Iqbal mengatakan, pasokan gula impor tersebut telah tiba pada pekan lalu di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Namun, gula belum dapat langsung didistribusikan ke pasar lantaran harus melalui proses pengemasan 1 kilogram. Awaluddin menuturkan, Bulog juga berencana melakukan operasi pasar gula ke beberapa wilayah di Jabodetabek yang mengalami kenaikan harga tertinggi, yang saat ini dihargai lebih dari Rp 16 ribu per kilogram.
ASDP Potong Rencana Investasi
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) harus memotong anggaran investasi sebesar Rp 500 miliar atau 30 persen dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 900 miliar pada 2020 demi bertahan dalam masa sulit akibat pandemi Covid-19.
Investasi yang ditunda, Ira mengatakan, yakni investasi yang tidak menyumbang kepada pendapatan langsung. Namun, pihaknya tidak mengurangi investasi untuk aspek keselamatan.
Investasi yang tidak dipotong adalah soal safety (keselamatan) dan hal-hal sifatnya mandatori atau peraturan, yang juga program besar kita, seperti Labuan Bajo, ada beberapa hal program nasional untuk mendatangkan tamu internasional 2020, Padang Bai akan kita touch up lagi.
Berdasarkan data ASDP, terjadi penurunan volume angkutan barang (R4) sebesar delapan persen, penumpang dengan kendaraan pribadi (R4) sebesar 44 persen. Kemudian, penumpang turun sebesar 39 persen.
Ira menambahkan, efisiensi tersebut di antaranya hal-hal yang bersifat operasional dan estetis, seperti penghematan penggunaan BBM dan perawatan yang bersifat keindahan.
ASDP saat ini juga memperketat akses masuk menuju Pelabuhan, untuk menambah pengawasan setelah diterbitkannya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun.
Sebelum pelabuhan sudah ada buffer zone tenaga pengamanan dan petugas juga sekaligus check point, kata Direktur Komersial dan Pelayanan ASDP Yusuf Hadi.
Proyeksi Neraca Dagang April 2020 - Impor Diprediksi Terjun Bebas
Kalangan ekonom memprediksi kinerja impor sepanjang bulan lalu terjun bebas akibat pandemi Covid-19 yang melumpuhkan aktivitas manufaktur di Tanah Air. Kondisi ini diyakini akan mendorong neraca dagang pada April 2020 mencatatkan surplus.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, kuartal II/2020 menjadi periode terberat bagi manufaktur menyusul diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Dia memprediksi, ekspor pada April 2020 mencatatkan penurunan sebesar 6,38% (year-on-year/ yoy) dan jeblok 12,74% (month to-month/mtm). Adapun impor diperkirakan turun 23,91% (yoy) dan 12,24% (mtm).
Kepala Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto menambahkan, penurunan impor pada bulan lalu terjadi terhadap migas maupun nonmigas. Demikian juga pada industri transportasi yang menurun, sejak pemerintah membatasi pergerakan sosial dan melarang pulang kampung.
Untuk kinerja ekspor, menurutnya masih tertahan oleh penurunan permintaan di negara-negara terdampak Covid-19. Di sisi lain, koreksi harga komoditas belum menunjukkan adanya perbaikan.
Penurunan laju impor menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede disebabkan oleh harga minyak dunia disertai dengan penurunan aktivitas manufaktur di Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat oleh kecenderungan penurunan impor barang konsumsi seiring dengan lemahnya permintaan dalam negeri pada April yang ditandai dengan perlambatan tingkat inflasi inti.
Di sisi lain, penurunan ekspor cenderung diakibatkan oleh menurunnya harga komoditas utama Indonesia disertai oleh perlambatan aktivitas negara mitra dagang.
BKPM Prioritaskan Investasi pada 3 Sektor
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan, sektor yang menjadi prioritas pihaknya dalam 6 bulan kedepan dalam mendatangkan investasi yaitu manufaktur, hilirisasi, dan alat kesehatan. Terkait dengan sektor alat kesehatan, BKPM telah mengadakan rapat dengan Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB) serta Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI).
Menurutnya, wabah Covid-19 ini akan berdampak sistemik, masif, dan terstruktur terhadap investasi di Indonesia, sehingga realisasi investasi pada triwulan II akan turun. Dalam menghadapi kondisi ini BKPM memiliki strategi 3+1, yaitu mengoptimalkan realisasi investasi yang sudah ada, menyelesaikan investasi mangkrak, melakukan promosi investasi, serta membangun konsolidasi yang melibatkan 3 pihak yaitu masyarakat, pemerintah, dan pengusaha untuk bersiap menghadapi kondisi pasca Covid-19. Dalam hal ini BKPM tidak hanya mencari investasi dari luar negeri. Namun juga mengoptimalkan potensi investasi domestik. Misalnya dengan memperhatikan ekspansi perusahaan dan insentif apa yang dapat difasilitasi.
Ia mengatakan lebih lanjut, pada periode ini pertama kalinya investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) lebih besar dibandingkan Penanaman Modal Asing (PMA) hal ini dikarenakan reschedule untuk implementasi realisasi investasinya akibat wabah Covid-19.
Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya juga menyarankan agar BKPM mengubah strategi dan target investasi ditengah kondisi pandemi Covid-19 ini. Sebab banyak perusahaan sudah melakukan relokasi dari Tiongkok. Ia mengingatkan agar pemerintah harus mendorong sektor manufaktur saat ini. Sebab investasi yang banyak masuk di sektor jasa, tidak terlalu banyak menciptakan lapangan kerja
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









