Ekonomi
( 40460 )Kembangkan UMKM, RI Bercermin Dari Korea Selatan
Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan (Korsel) Umar Hadi, Rabu (14/10/2020), mengatakan, arah dan dukungan Pemerintah Korsel terhadap para pelaku UMKM sangat jelas. Salah satunya adalah mendorong kolaborasi antara korporasi besar dan UMKM dengan menyiapkan insentif bagi korporasi yang turut mengembangkan UMKM.
Pemerintah Korsel mengategorikan usaha mikro sebagai perusahaan yang memiliki jumlah karyawan di bawah 10 orang atau kalau di sektor jasa kurang dari empat orang. Usaha kecil ini beromzet 800.000 dollar AS sampai 9,8 juta dollar AS per tahun.
Perusahaan menengah beromzet 30 juta dollar AS sampai 125 juta dollar AS per tahun. Jika bergerak di sektor manufaktur, perusahaan tersebut dalam tiga tahun berturut-turut beromzet di bawah 130 juta dollar AS.
Menurut Umar, Pemerintah Korsel juga mendorong UMKM sebagai motor penggerak transformasi ekonomi. Kebijakan itu diwujudkan melalui program Smart SMEs (UKM Cerdas), penguatan merek produk, perusahaan inklusif, dan kerja sama global.
Sejak 2017 hingga 2019, Korsel telah mendirikan 12.660 pabrik cerdas. Hasilnya, terjadi peningkatan produktivitas hingga 30 persen, ketepatan waktu 15,5 persen, efisiensi biaya produksi 15,9 persen, dan pengurangan kecelakaan kerja hingga 18,3 persen.
Founder CORE Indonesia Hendri Saparini mengatakan, UMKM di Indonesia menyumbang sekitar 14 persen terhadap ekspor nasional. Sementara itu, kontribusi sektor UMKM di Korsel mencapai 38 persen terhadap ekspor nasional. “Ini karena UKM di Korsel sangat memiliki keterikatan terhadap rantai nilai global,” katanya.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki berpendapat, UU Cipta Kerja dapat menjawab beberapa permasalahan UMKM. Permasalahan itu antara lain perizinan, akses rantai pasok, pengembangan usaha, pembiayaan, dan pemasaran.
UMKM perlu mendapatkan penguatan dan proteksi terhadap persaingan dengan usaha besar. “Pengaturan investasi kami dorong agar ada kemitraan dengan UMKM. Sebab, kalau investasi hanya diarahkan pada korporasi besar, nanti akan mempertajam gap antara UMKM, koperasi, dan korporasi,” ujarnya dalam siaran pers.
Pandemi Tahan Negara Berkembang
Dalam laporan proyeksi ekonomi global yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF), Rabu (14/10/2020), perekonomian negara-negara berkembang di luar China tumbuh negatif 5,7 persen. Proyeksi kali ini lebih buruk ketimbang proyeksi Juni 2020 yang negatif 5 persen.
Adapun pertumbuhan ekonomi kelompok negara maju pada 2020 diproyeksikan negatif 5,8 persen atau lebih baik daripada proyeksi Juni 2020 yang negatif 8,1 persen. Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi negatif 4,4 persen atau lebih baik daripada proyeksi Juni 2020 yang terkontraksi 5,2 persen.
Konselor Ekonomi dan Direktur Riset IMF Gita Gopinath menuturkan, proyeksi perekonomian global membaik akibat sejumlah hal. Salah satunya kontraksi ekonomi triwulan II-2020 yang lebih rendah dari perkiraan dan tanda-tanda pemulihan ekonomi pada triwulan III-2020.
Pada 2021, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan 5,2 persen. Pemulihan negara-negara yang mengandalkan kontak, seperti pariwisata, dan ekspor minyak akan lebih lambat daripada yang berorientasi pada sektor manufaktur.
Dalam laporan yang sama, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 menjadi negatif 1,5 persen. Dalam Juni 2020, Indonesia diproyeksikan tumbuh negatif 0,3 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, Indonesia menerapkan bauran kebijakan untuk menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19. Bauran kebijakan itu untuk menjaga volatilitas nilai tukar dan aliran modal serta konsistensi target inflasi.
Proses Merger Bank Syariah BUMN Dimulai
Tiga bank umum syariah milik pemerintah menandatangani Perjanjian Penggabungan Bersyarat. Ketiga bank itu adalah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, perwakilan dari perusahaan induk setiap bank juga turut menandatangani perjanjian. Ketiga perusahaan induk itu dalam laporan disebutkan, Direktur Utama PT Bank BRI Syariah Tbk Ngatari telah mengirimkan surat kepada Otoritas Jasa Keuangan perihal penandatanganan perjanjian itu.
Di sisi lain, penggabungan ketiga bank itu dapat menjadi katalis dan akselerator bagi pertumbuhan perekonomian syariah nasional sepanjang pemerintah turut membuat kebijakan afirmatif. Kebijakan itu, misalnya, transaksi pelaku usaha di kawasan industri halal mesti dilakukan di bank syariah dan pemerintah melibatkan ketiga bank syariah negara dalam program-program terkait penyaluran anggaran, seperti kredit usaha rakyat.
Ketiga bank syariah juga berkomitmen tidak akan ada pemutusan hubungan kerja dalam proses penggabungan ini. Selama proses persiapan integrasi, tak ada perubahan operasional dari ketiga bank syariah.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi menyatakan, penandatanganan perjanjian itu menandakan persiapan proses penggabungan tiga bank umum syariah BUMN resmi dimulai.
Menurut Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, integrasi ketiga bank syariah turut menciptakan sarana, sumber daya, skala ekonomi, dan jangkauan pasar yang lebih besar. Diharapkan, potensi ekonomi dan keuangan syariah nasional dapat dioptimalkan secara berkelanjutan.
Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto menambahkan, bank syariah nasional masih memiliki ruang untuk berkembang karena pangsa pasarnya masih relatif kecil.
Batubara Dihadang Isu China – Australia
Hubungan China dengan Australia memanas. China dikabarkan memboikot impor batubara dari Australia. Bahkan, operator pembangkit listrik dan pabrik baja di China telah diberitahukan untuk menghentikan penggunaan batubara dari Negeri Kanguru tersebut. Hal ini bakal mempengaruhi pasar batubara global.
PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengakui tak bisa langsung menambah volume ekspor ke China. Pasalnya, penjualan ADRO merupakan kontrak jangka panjang. “Volume penjualan kami juga sudah disesuaikan dengan produksi,” ujar Mahardika Putranto, Head of Corporate Secretary Investor Relations kepada KONTAN, Rabu (14/10).
Boikot yang dilakukan China ini justru bisa berdampak negatif bagi emiten batubara. Pasalnya, aksi ini membuat harga batubara turun. “Sangat masuk akal jika larangan batubara Australia di China menyebabkan harga spot batubara acuan Newcastle terkoreksi 3,6% pekan ini,” ujar Analis Phillip Sekuritas Indonesia Debbie Naomi Panjaitan.
Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia Anggaraksa Arismunandar juga mengatakan, boikot batubara Australia akan semakin menekan harga batubara. Saat ini harga acuan batubara ICE Newcastle untuk pengiriman November 2020 sudah berada di bawah level US$ 55 per ton. Wajar saja, kontribusi Australia mencapai 35% dari total impor batubara China.
Analis MNC Sekuritas Catherina Vincentia mengatakan, emiten batubara masih akan mendapat angin segar dari beleid omnibus law yang akan mendorong masuknya investor asing. Beberapa poin beleid juga memudahkan perusahaan tambang memperpanjang izin operasional. Di sektor ini, ia menjagokan ADRO, PTBA dan ITMG.
Salurkan PEN, Perbankan Menggandeng Fintech
Industri financial technology (fintech) ikut serta dalam penyaluran kredit program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sejumlah bank pelat merah melakukan kerjasama channeling dengan perusahaan fintech dan platform digital lainnya.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rully Setiawan mengatakan, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan beberapa fintech untuk penyaluran kredit program PEN. Di antaranya Investree, Koinworks, Akseleran, Amartha dan Crowde. “Bank Mandiri akan melakukan penyaluran kredit kepada fintech dengan skema chaneling dalam rangka PEN dengan penyediaan plafon sampai Rp 400 miliar hingga Desember 2020,” kata Rully pada KONTAN, Rabu (14/10).
Co-Founder & CEO Investree, Adrian Gunadi menyebutkan, sejak dimulainya kerjasama penyaluran dana PEN sejumlah Rp 40,1 miliar ke UMKM. Beberapa peminjam yang sudah menerima dana PEN bergerak di sektor esensial seperti penyedia alat kesehatan dan pengadaan barang atau jasa pelaksanaan proyek pemerintah.
Sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) bekerjasama dengan fintech lending PT Modal Rakyat. BRI akan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 30 miliar untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Modal Rakyat. “Hingga saat ini, penyaluran KUR Digital dalam rangka PEN lebih dari Rp 4 miliar,” Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto.
Sedangkan Bank BNI memilih berkolaborasi dengan Grab, Gojek, Tokopedia dan Shopee untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) dari program PEN. Bank ini menerima dana PEN sebesar Rp 5 triliun dan mendapatkan tambahan Rp 2,5 triliun. Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Sis Apik Wijayanto menjelaskan sedang menjajaki chanelling dengan fintech. “Kami masih penjajakan Amartha, Tani Fund, Crowde, Danapala, Dompet Kilat,” ujarnya.
Cina dan Korea Incar Investasi Baterai Mobil Listrik
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan perusahaan asing asal Cina dan Korea berencana bergabung dalam proyek pengembangan baterai kendaraan bermotor listrik atau electric vehicle (EV) di Tanah Air. Sebagai bagian dari proyek tersebut, PT Mining and Industry Indonesia (MIND ID) bersama PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) membentuk Indonesia Battery Holding (IBH).
Erick berujar, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari Cina dan LG Chem Ltd asal Korea akan bergabung dalam proyek senilai US$ 20 miliar untuk pengembangan rantai pasok nikel di Tanah Air. Bahan baku utama baterai kendaraan listrik dari Indonesia ini menguasai 27 persen kebutuhan pasar global.
MIND ID, yang merupakan holding BUMN tambang, telah menuntaskan transaksi pembelian 20 persen saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (PT VI). CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan perusahaan akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku bagi industri hilir nikel Indonesia, baik untuk stainless steel maupun baterai kendaraan listrik.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang menjadi perwakilan MIND ID, akan berkontribusi di sektor hulu. Kemudian dari sektor intermediate (tengah) akan dijalankan oleh PT Pertamina (Persero). Adapun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) akan menggarap di sektor hilir.
Menurut Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, baterai lithium ion yang akan diproduksi tidak hanya ditujukan untuk transportasi juga bisa digunakan di remote area untuk perumahan atau wilayah yang tidak perlu storage besar, yaitu semacam cadangan sistem kelistrikan yang bersifat modular.
Vice President Public Relations PLN Arsyadani Ghana Akmalaputri menambahkan, PLN akan berpartisipasi minor dalam pembuatan bahan dasar. PLN akan mendapat porsi lebih besar dalam pengembangan sistem penyimpanan daya (energy storage system), tempat pengisian daya (charging station), dan kualitas daya.
Bank Syariah Swasta Andalkan Teknologi untuk Bersaing
Bank syariah swasta berupaya meningkatkan layanannya pasca-merger tiga bank syariah anak usaha bank milik negara. Presiden Direktur PT Bank BCA Syariah, John Kosasih, mengatakan bank menata ulang strategi bisnis dengan mengedepankan teknologi serta adaptasi digital untuk memacu pertumbuhan kinerja.
Pemutakhiran layanan perbankan digital juga dilakukan oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Head of IT Governance & Security Bank Muamalat Indonesia, Dahnulbahri Noor, mengatakan sudah bekerja sama dengan perusahaan pengembang sistem manajemen basis data terkemuka, Oracle. Infrastruktur digital berbasis komputasi awan atau cloud dipilih untuk mendorong inovasi fitur produk, hingga memberikan akses layanan perbankan yang lebih cepat dan mudah melalui aplikasi Muamalat Mobile.
Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) yang juga Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri, Toni E.B. Subari, menuturkan, untuk berkembang pesat, perbankan syariah harus terus melakukan transformasi bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital.
Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, berujar pemahaman masyarakat akan konsep perbankan syariah yang masih rendah menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama-sama oleh industri dan pemerintah.
Menurut Avi, bank syariah nasional belum memiliki segmen yang jelas dalam menjalankan bisnisnya, khususnya dalam penyaluran pembiayaan.
Mengapa Unicorn Minim di Jepang
Jepang tertinggal jauh dari AS dan China dalam memproduksi unicorn. Merujuk pada daftar terbaru yang disusun platform analitik asal AS, CB Insights, dari 100 unicorn hanya ada 4 (empat) perusahaan rintisan asal Jepang yang nilai kapitalisasiya lebih dari 1 miliar dollar AS. Total terdapat 490 perusahaan unicorn di dunia saat ini dengan total valuasi mencapai 1.550 miliar dollar AS.
Perusahaan rintisan Jepang yang masuk dalam daftar itu adalah preferred networks dengan kapitalisasi pasar 2 miliar dollar AS, lalu SmartNews (1,2 miliar dollar AS) dan dua lainnya adalah Liquid dan Playco dengan valuasi masing-masing 1 miliar dollar AS. Untuk perbandingan, ada lima perusahaan Indonesia masuk daftar unicorn antara lain Gojek, Tokopedia, Traveloka, Ovo dan Bukalapak. Nilai valuasi beberapa unicorn Indonesia juga diatas unicorn Jepang. Valuasi masing-masing dari lima unicorn asal Indonesia berada dalam rentang 2,5-10 miliar dollar AS.
Menurut Kepala World Inovation Lab Gen Isayama jika dikaitkan dengan PDB Jepang harus punta setidaknya 50 hingga 60 unicorn. Di Jepang upaya inovasi selalu dipimpin perusahaan besar. Kurangnya modal swasta untuk ekspansi dapat memaksa perusahaan baru Jepang untuk go public lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan sejenis di negara lain.
OJK Dukung Merger Bank Syariah
OJK mendukung rencana Kementerian BUMN yang akan menggabungkan PT Bank BRi Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM). Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, upaya merger dan akuisisi ini akan meningkatkan efisiensi, daya saing serta perananya dalam menumbuhkan ekonomi nasional dan syariah. OJK telah menerima informasi awal dan akan memfasilitasi dengan berbagai kebijakan dan ketentuan agar aksi korporasi ini berjalan sesuai dengan tahapan waktu yang telah direncanakan.
Mengapa Unicorn Minim di Jepang?
Jepang tertinggal jauh dari Amerika Serikat dan China dalam “memproduksi” unicorn. Merujuk pada daftar terbaru yang disusun platform analitik asal AS, CB Insights, dan dikutip pada Selasa (13/10/2020), dari 100 unicorn hanya ada empat perusahaan rintisan asal Jepang yang nilai kapitalisasinya lebih dari 1 miliar dollar AS. Total terdapat 490 perusahaan unicorn di dunia saat ini dengan total valuasi mencapai 1.550 miliar dollar AS.
Di barisan lima terbesar unicorn, dua terbesar adalah perusahaan asal China dan menyusul tiga di bawahnya asal AS. Perusahaan rintisan Jepang yang masuk dalam daftar itu adalah Preferred Networks dengan kapitalisasi pasar 2 miliar dollar AS, lalu SmartNews (1,2 miliar dollar AS), dan dua lainnya adalah Liquid dan Playco dengan valuasi masing-masing 1 miliar dollar AS.
Untuk perbandingan, ada lima perusahaan Indonesia masuk daftar itu, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, Ovo, dan Bukalapak. Nilai valuasi unicorn-unicorn Indonesia juga di atas unicorn Jepang. Valuasi masing-masing dari lima unicorn asal Indonesia berada dalam rentang 2,5-10 miliar dollar AS.
Nilai pasar modal ventura Jepang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan AS dan China. Sejumlah penelitian menunjukkan, besaran pasar modal ventura AS mencapai 137 miliar dollar AS. Adapun nilai pasar modal ventura China adalah 52 miliar dollar AS.
Kurangnya modal swasta untuk ekspansi dapat memaksa perusahaan baru Jepang untuk go public lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan sejenis di negara lain. “Namun, jika go public (dengan ukuran) terlalu kecil, Anda tidak akan pernah bisa tumbuh,” kata Isayama.
Standar perusahaan tercatat juga menjadi sorotan. “ Di Jepang, standar pencatatan sangat rendah. Jadi, ada banyak perusahaan kecil dan banyak dari mereka puas dengan kondisi itu,” kata Takeshi Aida, pendiri dan CEO RevComm, perusahaan rintisan AI yang berbasis di Tokyo dan berharap dapat segera diluncurkan di Asia Tenggara.
Para pelaku industri juga merujuk pada faktor budaya di Negeri Sakura. Sistem pendidikan Jepang dinilai masih dirancang untuk menghasilkan calon pekerjaan yang stabil di perusahaan besar. “Dibutuhkan banyak nyali untuk mematahkan kebiasaan dalam masyarakat yang terkenal akan konformitasnya,” kata Isayama.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









