;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Adaptasi Kebiasaan Baru, Jasa Kurir Lokal Ketiban Berkah

03 Dec 2020

Jasa Kurir ramai bermunculan di Kota Palembang selama masa Pandemi Covid-19. Sebanyak 13 kurir JKP Express secara bersamaan menerima pesan dari perusahaan. Manajer JKP Express Ridho Andi Sucipto pada hari itu membagikan 50 order anter-jemput pesanan kepada awak kurir. Satu jam kemudian, para kurir harus sudah siap pick-up barang untuk diantarkan kepada konsumen sesuai alamat.

Seiring aktivitas di luar rumah yang terbatas sejak pandemi mengepung Kota Palembang, masyarakat cenderung membeli makanan hingga produk fesyen dari rumah. Fenomena belanja tak langsung itulah yang kemudian ditangkap sebagi celah bisnis oleh para pemain baru di layanan kurir. Kekuatan sosil media untuk pemasaran dan promosi jasa cukup ampuh, meskipun tak menampik pendekatan door to door ke calon pengguna jasa tetap ditekuni. 

Sejak awal mendirikan JKP Express, pasar yang dibidik adalah UMKM yang dinilai dari penjualan UMKM secara online di kota itu masih terkendala ongkos kirim. JKP Express melayani pengantaran 50 hingga 100 paket per hari. Dengan begitu omzet yang dikantongi berkisar Rp 15 juta per bulan dengan menerapkan konsep bagi hasil dengan mitra pengemudi dengan sistem 30% untuk JKP Express dan 70% untuk awak kurir.

Pemilik usaha Jasa Kurir Antar Pasti Pas (APP), Susmaini juga meraup berkah di balik pandemi Covid-19 dengan mendapat peningkatan pesanan hingga 60% dibandingkan dengan kondisi normal, Jasa kurir tersebut melayani 80 paket setiap hari. Wara-wiri kurir online juga dihadapi jasa kurir Nak Cepet Bae yang bisa melayani hingga 100 pesanan per hari. jumlah itu telah meningkat drastis dibandingkan dengan sebelum wabah virus corona melanda. 

Tak seperti layanan on demand yang populer, seperti Gojek dan Grab, pelaku usaha kurir lokal hanya memanfaatkan aplikasi pesan Whatsapp (WA). Namun, bukan berarti pelaku usaha tak punya usaha untuk menyelami teknologi untuk kemajuan usaha kelak. Hal tersebut tidak lebih daripada keinginan pemilik usaha untuk naik kelas dengan mengikuti perkembangan teknologi terkini.

Prospek Pembiayaan dan Tekfin, Konsumsi Akhir Tahun Tetap Ramai

03 Dec 2020

Adapun  kenaikan konsumsi tecermin pada data penyaluran pinjaman perusahaan teknologi finansial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pada Oktober 2020, penyaluran dana dari perusahaan pemberi pinjaman online mencapai Rp8,59 triliun atau naik 17,98% (year on year/ yoy) dari Rp7,59 triliun. Angka ini tercatat memecahkan rekor sepanjang periode 2020. Sinyal perbaikan realisasi pinjaman telah tampak secara bertahap sejak Juni hingga September yang terus mencetak pertumbuhan secara bulanan. Dengan torehan ini, akumulasi penyaluran pinjaman 155 fintech lending terdaftar dan berizin OJK hingga Oktober 2020 mencapai Rp137,65 triliun.

Head of Business Development PT FinAccel Finance Indonesia, Lily Suriani mengatakan permintaan pembiayaan sektor konsumsi pada akhir tahun tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya kendati tahun ini ekonomi tertekan pandemi. Adapun, riset dilakukan dengan melibatkan sekira 1 juta pengguna Kredivo dengan transaksi yang dilakukan di enam situs dagang elektronik.

Berdasarkan survei perilaku konsumen yang diungkap Kredivo bersama Katadata Insight Center, setiap orang tercatat memiliki rata-rata transaksi 17-20 kali selama setahun. Adapun, mengacu pada riwayat transaksi pada 2019, jumlah transaksi tertinggi terjadi pada 12 Desember atau momen belanja dengan lonjakan 5,3 kali dari ratarata transaksi harian. Sementara itu, pada momen Natal mampu menaikkan 1,9 kali nilai transaksi dibandingkan nilai rata-rata transaksi harian.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno menilai pandemi Covid-19 masih menjadi penekan akselerasi sektor konsumsi sehingga pembiayaan pada momen akhir tahun kali ini tak semarak.

Menurutnya, salah satu indikasi belum pulihnya penyaluran kredit konsumtif terlihat pada proyeksi penjualan kendaraan bermotor. Industri otomotif memperkirakan penjualan akan berkisar 540.000 unit, sekitar separuh dari capaian tahun 2019.  

Sebelumnya, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK, Bambang W. Budiawan menjelaskan momen akhir tahun menjadi penentuan. Pasalnya, kenaikan piutang pembiayaan dalam sebulan belum bisa menjadi basis kesimpulan pemulihan pembiayaan produktif. “Harus dilihat dulu sampai Desember 2020. Baru bisa dikatakan pulih atau belum,” katanya. Dia mengakui kinerja industri pembiayaan turut terkontraksi akibat lesunya ekonomi. Alasannya, daya beli masyarakat melemah sehingga kemampuan kredit pun turun. Dia menjelaskan bahwa masih lambannya pertumbuhan pembiayaan, bahkan cenderung kontraktif, karena terpengaruh tekanan pada pertumbuhan ekonomi.  

Kompetisi Dompet Digital, Peleburan Platform Jadi Solusi

03 Dec 2020

Ketua Umum Asosiasi Startup Indonesia Handito Joewono menilai jumlah platform dompet digital di Indonesia saat ini sudah kelewat banyak. Idealnya, pasar domestik hanya membutuhkan 3 pemain besar yang masing-masing berasal dari ekosistem badan usaha milik negara (BUMN), perbankan, dan nonperbankan. Dompet digital adalah model bisnis yang mengandalkan kompetisi padat modal. Dengan kata lain, dibutuhkan kapital yang besar untuk mengembangkan ekosistem dan teknologi andal dalam industri pembiayaan elektronik. platform paling masif pun berpeluang lebih besar untuk memenangi persaingan. Terbukti, dari belasan platform dompet digital yang ada di indonesia saat ini, hanya segelintir yang menjadi dominator.

Ekonom Senior Indef Aviliani pun sepakat persaingan ketat di industri dompet digital saat ini berisiko membuat pasar jenuh. Dia menyarankan agar platform dompet digital memperkuat ekosistem yang dimilikinya atau melebur dengn perusahaan dompet digital lain. Bertarung dengan mengandalkan perang promo dinilai hanya akan membuat umur platform dompet digital makin pendek. Ekosistem yang luas merupakan syarat mutlak bagi bisnis dompet digital, seperti model bisnis kartu kredit.

Berdasarkan laporan terbaru Google, Temasek, dan Bain & Company, terjadi peralihan metode pembayaran selama pandemi, dimana porsi transaksi pembayaran uang tunai turun dari 48% saat prapandemi menjadi 37% selama pandemi. Pada waktu yang sama, porsi pembayaran lewat dompet digital meningkat dari 18% sebelum pandemi menjadi 25% sepanjang pandemi. 

Chief Marketing Officer Linkaja Edward Kilian Suwignyo mengatakan dalam bersaingan dengan platform dompet digital lainnya, perseroan lebih memilih fokus pada pengembangan ekosistem digital. Linkaja memberi nilai produk yang berbeda kepada penggunanya, melalui kerjasama yang telah terjalin dengan perusahaan ritel raksasa seperti Indomaret dan Alfamart. Linkaja juga memperkuat ekosistemnya di sektor transportasi dan sektor-sektor BUMN lainnya. Head of Corporate Communications OVO Harumi Supit dalam menghadapi ketatnya persaingan, perseroan menerapkan strategi ekosistem terbuka atau berkolaborasi dengan banyak platformagar dapat bersama-sama mendorong transformasi digital di seluruh sektor. OVO terus mengembangkan kemitraan agar bisa menjadi penyedia layanan keuangan digital paling terintegrasi di Indonesia melalui kemitraan strategis dalam layanan asuransi, investasi dan pinjaman modal. 

Sementara itu, CEO and Co-Founder DANA menjelaskan tetap fokus untuk mengembangkan teknologi yang akan menjadi jembatan bagi masyarakat Indonesia menuju transformasi keuangan digital yang makin inklusif di Indonesia. Marketing Manager Shopeepay Cindy Candiawan menilai pasar untuk pembayaran digital di Indonesia masih cukup besar dan belum jenuh. Kendati demikian, 52% masyarakat tidak memiliki akses ke layanan perbankan dan 76% transaksi masih dilakukan secara tunai. 

Perikanan : Ekspor ke China Terancam Embargo

03 Dec 2020

Otoritas Bea dan Cukai China (GACC) kembali mendeteksi dua kasus kontaminasi virus penyebab Covid-19 pada kemasan produk ikan asal Indonesia pada 2 Desember 2020. Akibatnya, ekspor produk perikanan beku Indonesia terancam dihentikan sementara atau diembargo oleh otoritas China.

Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM-KKP) Widodo Sumiyanto menjelaskan, pihaknya menerima notifikasi dari GACC terkait jejak virus SARS-CoV-2 pada sampel kemasan produk ikan yang dikirim PT CKA yang berdomisili di Sumatera Utara dan PT SFI yang berlokasi di Jawa Timur. Setiap perusahaan itu mengirim satu kontainer berkapasitas 25 ton.

Dalam perundingan RI-China yang alot, Rabu (2/12/2020), China masih memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mengekspor ikan ke negeri tirai bambu itu dengan sejumlah persyaratan ketat. Adapun Indonesia menjanjikan pengendalian hulu-hilir perikanan.

Widodo menambahkan, persyaratan ketat yang ditetapkan otoritas China antara lain standar keamanan pangan dan pengendalian perikanan hulu-hilir. Standar itu meliputi proses produksi perikanan tangkap dan budidaya, pengolahan, pengemasan, distribusi, serta logistik.

Selain itu, seluruh produk perikanan yang dikirim ke China wajib dievaluasi dengan uji Covid-19. Hanya produk perikanan yang sudah dikendalikan di hulu-hilir yang boleh dikirim ke China.

 


Efek Domino Korona, Biaya Kontainer Meningkat

03 Dec 2020

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyebutkan, tarif pengiriman barang ke luar negeri mengalami kenaikan cukup tinggi, yakni 30%-40%. Hal tersebut antara lain akibat volume ekspor impor menyusut di hampir semua negara. Kenaikan itu untuk mengompensasi penurunan volume transaksi, baik di pelabuhan hingga bandara.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita kepada KONTAN, Selasa (2/11). Menurut dia, kapasitas logistik di seluruh dunia menjadi terbatas dan menyebabkan biaya naik. Kenaikan itu untuk menutupi biaya operasional lainnya lantaran belum normalnya perdagangan. Selain itu, Zaldy menyebutkan, kenaikan harga pengiriman memakai kontainer karena keterbatasan jumlah kontainer di seluruh dunia.

Informasi yang diterima KONTAN menyebutkan, banyak kontainer yang berangkat ke China tetapi tak banyak kontainer yang datang kembali. Alhasil, kontainer di Indonesia tidak banyak beredar dan menyebabkan biaya pengiriman kontainer untuk ekspor menjadi naik.


Batubara : Kontraktor Mencuil Peluang Pasar China

03 Dec 2020

Di tengah tekanan industri batubara saat ini, pelaku usaha jasa pertambangan berharap bisa ikut mencuil cuan dari peluang tersebut.

Adanya nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) untuk meningkatkan ekspor batubara termal menjadi prospek positif untuk pemulihan industri pertambangan pada tahun depan. Namun, sentimen positif itu tak otomatis berefek terhadap sektor jasa pertambangan.  

Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir juga berharap MoU Indonesia dan China bisa membawa imbas positif terhadap kontraktor jasa pertambangan. Namun mereka masih wait and see terkait peluang yang bisa diraih dari kerjasama itu.

Corporate Secretary PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Mukson Arif Rosyidi menyambut optimistis MoU APBI dan CCTDA. Menurut dia, pasar telah merespons positif kesepakatan ini. “Pelaku pertambangan batubara merespons positif setelah ada pandemi yang ditandai kontraksi ekonomi di kuartal kedua dan ketiga 2020”, ungkap dia.


Pukulan Bertubi-Tubi bagi Pebisnis Pariwisata

03 Dec 2020

Hingga kuartal III-2020, rata-rata okupansi hotel secara nasional di level 30%. Angka ini sudah lumayan ketimbang saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan pada Maret lalu. Waktu itu, tingkat okupansi hotel berada di bawah 30%, bahkan menyentuh 5%-10%.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai, kebijakan pengurangan cuti sangat mendadak. Konsekuensinya, pelaku industri pariwisata akan kehilangan potensi pendapatan. Banyak tamu yang menuntut uang kembali. “Nah, mengembalikan uang konsumen itu bukan perkara mudah di bisnis perhotelan, karena prosesnya cukup panjang,” ungkap Maulana, kemarin (2/12).

Bukan hanya itu, para pengelola hotel harus membanting tarif sewa kamar. Menurut survei PHRI, harga jual kamar atau average room rate (ARR) pada periode long weekend umumnya naik 20%-30% dari tarif reguler menjadi Rp 600.000-Rp 650.000. Namun di lapangan, rata-rata ARR justru merosot hingga level Rp 350.000.



Indikator Pemulihan Ekonomi Menguat

02 Dec 2020

Tren pemulihan ekonomi nasional semakin menguat terefleksi dari sejumlah indikator, terutama dari PMI sektor industri manufaktur yang mulai ekspansif. Indikator lain terlihat pada membaiknya bisnis pariwisata. Kunjungan wisatawan manca negara (wisman) pada Oktober meningkat 5% dan jumlah penumpang udara naik 17,7% dibanding September. Tingkat hunian (occupancy rate) hotel berbintang pun meningkat. Di lain sisi, November yang mencatat inflasi 0,28% (month to month/mtm) juga merupakan indikasi perbaikan daya beli, meski inflasi inti sangat rendah.

Menurut Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw, kenaikan PMI atau indeks manufaktur Indonesia didorong oleh peningkatkan output produksi, sejalan dengan peningkatan pesanan baru untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Bernard menjelaskan, peningkatan kinerja manufaktur juga didorong oleh Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga meningkatkan output produksi pada November.

PMI merupakan hasil survei terhadap para manajer pembelian di perusahaan manufaktur Indonesia. PMI di atas 50 menunjukkan industri manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menggambarkan manufaktur mengalami kontraksi.

Bernard menjelaskan, peningkatan kinerja manufaktur juga didorong oleh Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga meningkatkan output produksi pada November   


Kembali ke Level Pra-Pandemi pada 2021

02 Dec 2020

Laporan OECD menunjukkan bahwa produksi dunia pada tahun ini mengalami penurunan 4,2% karena terdampak aturan karantina (lockdown) yang diterapkan selama berbulan-bulan. Aturan tersebut memperlambat penyebaran virus corona, tetapi telah menganggu perekonomian global. OECD memprediksi ekonomi dunia pulih dengan tingkat pertumbuhan 4,2% pada 2021. Dia mengatakan bahwa dukungan akan membuahkan hasil yang baik dalam beberapa bulan mendatang. 

Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia yang lolos dari kontraksi tahun ini Negeri Tirai Bambu itu membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,8% dan diperkirakan melonjak 8,0% pada 2021.        Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akan berkontraksi sebesar 3,7% dan hanya tumbuh 3,2% pada 2021. Sementara itu, zona euro akan mengurangi kerugiannya setelah sempat kontraksi 7,5% pada 2020 dan diprediksi tumbuh 3,6% pada 2021. Jepang diperkirakan mengalami hal yang sama yakni kontraksi 5,3% pada 2020, kemudian diikuti dengan kenaikan 2,3% pada 2021. 

OECD pun mendesak pemerintah untuk memfokuskan upaya-upayanya pada barang dan jasa penting, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur fisik dan digital sebagai dasar untuk pertumbuhan. Mereka juga menyerukan tindakan tegas untuk membalikkan peningkatan kemiskinan dan ketidaksetaraan pendapatan dan kembali ke kerja sama internasional

Pasar Domestik Berpotensi Diserbu Barang Tiongkok

02 Dec 2020

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menuturkan, banjir produk impor Tiongkok membuat produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersungkur, sehingga defisit neraca dagang dengan Negeri Tirai Bambu itu makin lebar.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, RCEP berpotensi mempercepat normalisasi arus perdagangan yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, Indonesia bisa lebih mudah mengundang masuk investasi dari negara-negara RCEP. Namun, untuk mendapat hasil positif dari perjanjian kerja sama ini, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara anggota lain.

Pemerintah Indonesia, kata Shinta, perlu terus menerus memastikan iklim usaha di sektor-sektor tersebut tetap baik sehingga produktifivitas, efisiensi, dan keunggulan ekspor sektor tersebut bisa terus dipertahankan. Pada saat yang sama, RCEP menciptakan persaingan yang lebih tinggi bagi sektor telekomunikasi, teknologi informasi, dan sektor padat karya nasional seperti sektor garmen, sepatu, dan otomotif