;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Listing via SPAC, Traveloka Incar Dana US$ 400 Juta

06 Aug 2021

Peruasahaan penyedia tiket pesawat dan hotel, Traveloka mengincar dana sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,7 trilliun dari pencatatan saham di bursa efek Amerika Serikat. Pencatatan saham ini dilakukan melalui merger pencatatan dengan special purpose acquisition company, Bridgetown Holdings ltd. Adapun Bridgetown Holdings merupakan SPAC yang disokong oleh taigon Richard Li dan Peter Thiel. Sementara itu Deelstreet Asia melaporkan , Traveloka mencatat valuasi sebesar US$ 4 milliar sebelum pendemi namun valuasi ini menurun menjadi US$ 2,75 milliar ketika dilakukan negosiasi dengan investor.

Ditengah Pandemi, Traveloka masih bisa menghimpun dana sekitar US$ 250 juta, Traveloka sudah melakukan ekspansi ke tujuh negara dan mengakuisisi tiga perusahaan yang merupakan kompetitor langsung seperti Pegipergi di Indonesia, MYtour di Vietnam, dan TravelBook di Philipina. Dengan dilakukannya merger tersebuit Traveloka akan bersaing dengan Grab Holdings untuk mencapai Unicorn terbesar di Asia Tenggara. Adapun Grab Holdings berencana mencatatkan sahamnya di Bursa AS pada tahun dan ini berpotensi menghasilkan valuasi sekitar US$ 39,5 milliar.

Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akan listing di Bursa Efek Indonesia, hari ini. Perseroan meraup dana 21,9 trilliun dari IPO. Adapun jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 25,76 milliar saham setara 25% harga IPO sebesar RP 850 persaham. Sementara itu, GoTo. perusahaan hasil merger Gojek dan Toko Pedia, juga dikabarkan akan listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini. GoTo salah satu merupakan perusahaan teknologi yang berkembang di kawasan Asia Tenggara. Hingga akhir 2020, GoTo mencatat total gross transanction ralve lebih dari dua juta pengendara dan 11 juta mitra merchant per Desember 2020. Sementara pengguna aktif bulanan mencapai 100 juta orang. (YTD)

Pengusaha Enggan Tinggalkan Dolar AS

06 Aug 2021

Pengusaha nasional masih enggan meninggalkan dolar AS dalam bertransaksi perdagangan internasional dengan negara mitra yang sudah menyepakati Local Current Settlement (LCS). Alasannya, likuidasi mata uang terkait rendah, dibandingkan dollar AS dan penentuan harga tidak effisien, karena belum terdapat Direct Qoutation antar mata uang local. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, Indonesia sudah menekan kesepakatan, LCS dengan Malaysia dan Thailand sejak 2017 dan Jepang.

“LCS dengan Malaysia dan Thailand berlum terlihat hasilnya di lapangan. Sebab, pengusaha masih mengingkan dolar AS, karena hegemoninya masih dianggap belum turun. Artinya, semua Negara beranggapan devisa itu menggunakan dolar.” Ujar Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno, kamis (5/8/2021). Dia menuturkan, terdapat regulasi yang membatasi non-internasionalisasi mata uang local. Kewajiban pengusaha dalam pembayaran hutang juga masih membutuhkan dolar.

Meski begitu, Apindo dan Menteri Perdagangan menyambut baik LCS dengan Tiongkok. Benny Soetrisno meyakini, sejak dua tahun terakhir Apindo telah menjalin serangkaian pertukaran gagasan dengan BI, perbankan, dan pelaku usaha untuk mendorong LCS Indonesia-Tiongkok. “Tentu kita membutuhkan system kirling RMB di Indonesia sebagai infrastruktur dan menciptakan likuiditas RMD, dan mendorong bank untuk menggunakan direct settlement untuk mengurangi depensi terhadap US$,” ujar Benny. (YTD)


Bank Asing Menguasai Bisnis Kustodian Lokal

06 Aug 2021

Pembatasan sosial menyebabkan masyarakat memiliki kelebihan likuiditas sehingga gemar menempatkan dana di pasar modal. Maka, bisnis bank kustodian ketiban berkah. Lihat saja, data harian bank kustodian mencatatkan nilai aktiva bersih industri reksadana senilai Rp 536,1 triliun pada Juni 2021. Naik 11,1% year on year (yoy) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu senilai Rp 482,54 triliun.

Head of Investment Research Infovesta, Wawan Hendrayana menyatakan, pada tahun 2018 terdapat 15 bank kustodian, per 30 Juni sudah tumbuh menjadi 18 bank. Bank HSBC Indonesia dan Standard Chartered bersaing menjadi bank kustodian terbesar. Dari lima besar, empat di antaranya adalah bank asing.

(Oleh - HR1)

Bisnis Esport Indonesia Pimpin Asia Tenggara

06 Aug 2021

Di masa pandemi Covid-19, aktivitas berbasis digital semakin digandrungi, bahkan bisa mendatangkan keuntungan. Salah satunya adalah Esport alias olahraga elektronik. Saat ini, komunitas Esports Indonesia memimpin pasar dan menyumbang pendapatan hingga US$ 1,9 miliar atau senilai Rp 27 triliun. Angka tersebut setara dengan 32,42% pendapatan Esport Asia Tenggara yang mencapai US$ 5,86 miliar. Pertumbuhan dan perkembangan game di indonesia saat ini cukup stabil dan cenderung cepat. Pada tahun 2025 mendatang, Indonesia diproyeksikan memiliki 142 juta gamers. "Dari sisi penonton, Esports Indonesia tahun 2025 nanti akan memiliki 29 juta audiens", ungkap Michael dalam siaran pers virtual, kemarin. 

(Oleh - HR1) 

Pengusaha Indonesia Setuju Transakasi Pakai Rupiah-Yuan

06 Aug 2021

Jakarta - Indonesia dan China sudah menyepakati penggunaan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam melakukan perdagangan serta investasi di antara kedua negara tersebut. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga sudah membuat kesepakatan serupa dengan Jepang, Malaysia, dan Thailand. Khusus untuk perdagangan dengan China, menurut Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kementrian Perdagangan, negara ini merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Salah pertimbangan BI untuk melakukan kebiijakan LCS adalah volume perdagangan RI-China cukup besar.

Faktanya, selama beberapa tahun terakhir volume perdagangan Indonesia dengan China terus mengalami peningkatan baik dari sisi ekspor maupun impornya. Pada paruh pertama 2021, transaksi ekspor dan impor dengan China mendekati US$ 50 miliar. Untuk itu, Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bakal mendorong anggota Apindo untuk menggunakan yuan sebagai mata uang utama transaksi perdagangan Internasional antara Indonesia China. Lantas meminta mitra dagang dari China untuk memakai mata uang mereka. 

Geliat dan Prospek Otomotif di Masa Pandemi

06 Aug 2021

Bangkitnya industri otomotif nasional pada semester pertama tahun ini memberikan harapan dan angin segar bagi tumbuhnya ekonomi nasional. Januari hingga Juni 2021 ini, penjualan mobil dari pabrikan ke diler mencapai 393.469 unit atau naik 50,79 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 260.932 unit. Penjualan dari diler kepada konsumen pada semester pertama tahun ini berjumlah 387.873 unit atau meningkat 33,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yakni 290.580 unit. Bukan hanya di dalam negeri, penjualan secara ekspor turut meningkat. Semester pertama tahun ini, ekspor mobil secara utuh tercatat 146.985 unit, naik jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 105.229 unit. Sementara ekspor mobil secara terurai sebesar 52.816 unit. 

Berbeda dengan tahun ini yang mulai tumbuh, pada tahun 2020 lalu, penjualan mobil turun drastis terimbas pandemi Covid19 yang diikuti sejumlah pembatasan. Unit pada 2019 menjadi 532.407 unit pada tahun 2020. Mulai pulihnya industri otomotif pada semester pertama tahun ini tak lepas dari kebijakan stimulus untuk sektor ini.

Data Kemenperin menunjukkan, terdapat 22 perusahaan yang bergerak dalam industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Terdapat pula sekitar 1.550 perusahaan industri bahan baku dan komponen otomotif dalam negeri yang terdiri dari 550 perusahaan industri tier 1 serta 1.000 perusahaan industri tier 2 dan 3. Sektor ini menyumbangkan nilai investasi sebesar Rp 99,16 triliun dengan total kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit per tahun.

Sementara itu,terdapat 120 juta penduduk lain yang tergolong sebagai aspiring middle class atau kelas menengah harapan. Mereka ini adalah kelompok yang tak lagi miskin dan sedang beranjak menuju kondisi ekonomi yang lebih mapan. Kelas menengah dicirikan dengan perilaku konsumsinya yang cenderung berorientasi pa da pemenuhan kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Dengan rasio kepemilikan kendaraan ber motor roda empat di Indonesia yang masih relatif rendah, yaitu 99 kendaraan per 1.

Ketenagakerjaan Kian Terbebani

06 Aug 2021

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, pada Agustus 2020, total pekerja yang terdampak pandemi Covid-19 mencapai 29 juta orang. Jumlah pengangguran terbuka 9,7 juta orang.Pada Februari 2021, jumlah pengangguran terbuka turun menjadi 8,7 juta orang. Sementara jumlah pekerja yang terdampak pandemi turun menjadi 19 juta orang. 

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban mengatakan, Dampak pandemi dirasakan semua pihak, terutama pekerja dan buruh. "Namun, tanpa empati dan sikap mau bekerja sama dengan pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pengusaha, sulit rasanya bisa keluar dari situasi berat ini," Elly Rosita Silaban mengatakan, komitmen gotong royong memerlukan perjuangan yang tidak gampang bagi pekerja.

Sekretaris Daerah NTB Lalu Gita Ariadi mengikuti konferensi video bersama Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono. Dari pertemuan daring itu diketahui, 70.000 pekerja migran akan dipulangkan dari Malaysia secara bertahap pada 2021. Hingga 20 Juli 2021, sejumlah 50.482 pekerja migran tiba di Indonesia, 11.454 orang di antaranya berasal dari NTB.

Tantangan Bisnis Properti Untuk Akomodasi

06 Aug 2021

Di tengah pandemi Covid19, tantangan bisnis pengelolaan bersama properti untuk penginapan ataupun hunian tempat tinggal bukan hanya menyangkut soal pembatasan sosial atau standar kebersihan. Keamanan, transparansi biaya, dan manajemen internal juga tetap menjadi tantangan besar bagi perusahaan rintisan bidang teknologi yang berkiprah di bisnis ini. Baru-baru ini, OYO mengumumkan meraih pendanaan kredit berjangka dalam bentuk Term Loan B sebesar 600 juta dollar AS dari sejumlah investor institusi global. Total pendanaan yang diraih ini lebih tinggi 1,7 kali lipat dari target awal OYO.

Deutsche Bank, dan Mizuho Securities merupakan pengatur utama dalam pendanaan kredit yang diterima OYO. Chief Financial Officer OYO Global Abhisek Gupta kepada Kompas, Jumat malam, menjelaskan, sebelum memperoleh pendanaan kredit berjangka itu, OYO telah memiliki dana kas yang cukup untuk mengelola utang-utang yang ada sebelumnya. Pembiayaan baru dimaksudkan untuk menyederhanakan struktur permodalan perusahaan serta memungkinkan perusahaan bisa terus tumbuh dalam jangka panjang. ''Pendanaan yang kami terima ini akan menggantikan berbagai struktur permodalan perusahaan yang saat ini terdiri atas berbagai komponen pendanaan dengan syarat berbeda-beda untuk disatukan menjadi fasilitas jangka panjang. Pendanaan ini juga akan membantu kami untuk mengelola neraca keuangan internal,'' ujarnya.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pariwisata (UNWTO) memprediksi kedatangan wisatawan mancanegara pada 2021 turun 87 persen dibandingkan dengan tahun 2020. Pada pandemi Covid19 tahun 2020, perusahaan teknologi yang punya bisnis pengelolaan bersama untuk penginapan ataupun hunian tempat tinggal dikabarkan turut melakukan pemutusan hubungan kerja. Pada bulan yang sama, OYO merumahkan karyawan di Amerika Serikat dan tempat lainnya tanpa menyebut detail jumlah karyawan. Untuk bertahan di tengah ketidakpastian pandemi Covid19, RedDoorz dan OYO berusaha mengoptimalkan potensi wisatawan domestik serta fenomena staycation.

Kinerja Industri Asuransi, Ruang Tumbuh Masih Terbuka

06 Aug 2021

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Hastanto Sri Margi Widodo mengatakan bahwa penurunan Purchasing Manager’s Index dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian industri asuransi. Widodo menilai bahwa jika manufaktur tertekan hingga 3 bulan, pemulihan ulang aktivitasnya akan cukup sulit dan memerlukan waktu.Widodo menjabarkan bahwa selama pandemi Covid19, kontraksi besar terjadi di asuransi kendaraan bermotor seiring anjloknya penjualan kendaraan. Meski sempat terperosok, arus kas lini bisnis ini masih bisa bertumpu dari kontrak berdurasi beberapa tahun, tapi kemudian tertolong oleh penjualan mobil yang meningkat pada 2021.Lini bisnis asuransi properti, yang cukup mendominasi portofolio industri asuransi umum, saat ini masih menghadapi tekanan akibat terbatasnya aktivitas masyarakat. Pertumbuhan ekuitas dinilai dapat membuat industri asuransi semakin kokoh dalam menyediakan proteksi bagi masyarakat.Budi meyakini ketahanan keuangan dan pembayaran manfaat dapat meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap asuransi jiwa. Hal itu dapat menunjang pertumbuhan bisnis pada sisa tahun berjalan, didorong oleh tingginya kebutuhan proteksi di tengah pandemi Covid19.Pengamat asuransi dan pengajar Sekolah Tinggi Asuransi Trisakti Azuarini Diah Parwati menjelaskan bahwa dalam kondisi penyebaran virus corona yang sangat cepat, keberadaan asuransi kesehatan menjadi sangat penting.

Permodalan Fintech, Platform Doku Dapat Kucuran Dana dari Apis Growth

06 Aug 2021

PT Nusa Satu Inti Artha, pengembang platform layanan pembayaran dan dompet digital DOKU mendapat kucuran pendanaan sebesar US$32 juta dari Apis Growth Fund II yang disponsori Apis Partners LLP.Manajer aset berbasis di Inggris yang khusus menanamkankan modalnya ke layanan finansial dalam tahap bertumbuh itu, pertama kalinya mengguyurkan dana ke wilayah Indonesia melalui DOKU.Co-Founder dan Chief Operating Officer DOKU Nabilah Alsagoff menjelaskan bahwa dana investasi ini akan digunakan untuk mempercepat pengembangan produk dan layanan, serta memperluas jangkauan geografis perusahaan."Bersama Apis Partners, yang berpengalaman dan memiliki banyak portofolio di bidang payment, kami berencana memperluas akses. Terutama untuk berinvestasi dalam engineering dan pengembangan produk mitra UKM, serta mendorong literasi pembayaran digital mereka," ujarnya, Kamis (5/8).

Managing Partner dan Co-Founder Apis Partners Matteo Stefanel menjelaskan pihaknya terpukau oleh tim manajemen DOKU yang luar biasa dan kemampuan inovasi produknya dalam ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara.Dengan beragam portofolio perusahaan yang bergerak di layanan keuangan yang berfokus pada efisiensi modal (capital-light), Apis Partners membangun keahlian kelembagaan yang kuat pada seluruh rantai nilai pembayaran digital dan berkeinginan besar untuk bekerja dengan tim DOKU serta mendorong fase pertumbuhan mereka berikutnya di pasar yang besar dan tumbuh dengan cepat ini.Selain itu, sebagai investor asli ESGI, Apis Partners juga akan fokus untuk memastikan keberlanjutan dan dampak sosial dari investasinya di DOKU secara maksimal. Dengan misinya sendiri untuk mendorong akses ke solusi pembayaran di segmen ekonomi Indonesia yang belum memiliki akses pembayaran atau underserved segment, di mana DOKU juga menjunjung tinggi nilai-nilai yang sama dan mengharapkan kolaborasi yang sinergis.

(Oleh - HR1)