;
Kategori

Ekonomi

( 40814 )

Perbankan : Tak Adalagi Perbedaan Kegiatan Usaha

23 Aug 2021

OJK mengubah pengelompokan bank dari kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) menjadi kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI). Kini, tidak lagi perbedaan kegiatan usaha antara bank modal kecil dan besar.Otoritas Jasa Keuangan membuat aturan baru terkait pengelompokan bank berdasarkan modal inti. Dengan aturan ini, tidak ada lagi perbedaan kegiatan usaha tiap-tiap kelompok bank seperti sebelumnya. Bank dengan modal inti kecil pun kini diperbolehkan melakukan kegiatan usaha yang sebelumnya hanya boleh dilakukan bank bermodal inti besar.Pengelompokan bank dengan kriteria baru ini diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum yang dirilis pada Kamis (19/8/2021). Klasifikasi bank kini diatur dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) yang terbagi dalam empat kelompok.KBMI 1 untuk bank yang memiliki modal inti kurang dari Rp 6 triliun, KBMI 2 untuk bank yang memiliki modal inti Rp 6 triliun sampai Rp 14 triliun, KBMI 3 untuk bank yang memiliki modal inti Rp 14 triliun sampai Rp 70 triliun. Adapun KBMI 4 untuk bank yang memiliki modal inti lebih dari Rp 70 triliun.Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjelaskan, aturan baru ini secara otomatis menggugurkan pengategorian bank umum berdasarkan kegiatan usaha (BUKU) yang diatur dalam POJK Nomor 6 Tahun 2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank.


Industri Mamin, Pebisnis Terus Beradaptasi

23 Aug 2021

Industri minuman dan makanan terus beradaptasi dengan PPKM demi menjaga target pertumbuhan pada tahun ini. Industri olahan daging menyebut sangat merasakan dampak dari pemberlakuan kebijakan PPKM. Alasannya, selain jam operasional ritel yang dibatasi produsen juga harus menyesuaikan dengan daya beli masyarakat saat ini. 

Ketua Umum Nasional Meat Producer Assosoation Ishana Mahisa mengatakan tak hanya penjualan di ritel modern atau mall yang membuat channel pendistribusian menurun, tetapi juga sejumlah pusat penjualan makanan daging olahan yang biasa buka 24 jam harus melakukan penyesuaian jam operasional toko. 

"Di daerah banyak pusat frozen food yang buka sampai malam atau 24 jam. Kemarin di Bandung sampai dijaga aparat, jadi kami cukup terdampak, padahal dulu PSBB tidak seperti ini," katanya kepada Bisnis, Minggu (22/8). Meski demikian pihaknya tetap bersepakat dengan pemberlakuan PPKM yang sudah berjalan hampir 2 bulan ini karena terbukti  berhasil menurunkan kasus aktif Covid-19."Jadi, strategi produsen saat ini mengecilkan kemasannya sampai dijual per 100 gram untuk menyesuaikan dengan kemampuan beli masyarakat.

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syaifrudin mengatakan jika tahun lalu produksi yang dihitung dari komsumsi bahan baku kedelai bisa mencapai 3,3 juta ton, tahun ini kemungkinan hanya akan sekitar 3 juta ton. "Memang tergantung daerahnya juga, ada yang produsen bilang hanya turun 10% ada yang bilang sampai 30%. Namun, lebih karena daya beli, bukan karena pembatasan mall hanya sekitar 10%," tuturnya. (YTD)

BSI Raup Pertumbuhan Transaksi Digital Hingga 97,4 Persen per Juli

23 Aug 2021

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pertumbuhan transaksi layanan digital melalui mobile banking BSI Mobile mencapai 97,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau menembus 46,4 juta transaksi per Juli 2021. “Peningkatan transaksi BSI Mobile ini didorong oleh hadirnya kebiasaan baru masyarakat saat pandemi dan aktivitas transaksi keuangan nasabah dalam berbelanja di e-commerce,” kata Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin. Hery menyebut kontribusi transaksi BSI Mobile mengalami peningkatan setiap tahunnya. Per Juli 2021, kontribusi transaksinya mencapai 46 persen dari jumlah transaksi e-channel BSI.Hingga akhir 2021, Bank syariah yang merupakan penggabungan dari tiga anak usaha syariah perbankan BUMN ini, menargetkan 3 juta pengguna baru BSI Mobile. Jumlah pengguna BSI Mobile, kata Hery, sampai dengan tanggal 17 Agustus 2021 sebanyak lebih dari 2,7 juta pengguna atau meningkat 79,4 persen sejak awal 2021 secara tahunan dengan pertumbuhan pengguna aktif mencapai lebih dari 1,1 juta nasabah atau meningkat sebanyak 92,5 persen secara tahunan.

Aset Kripto Hijau, Bitcoin Tembus Rp722 Juta per Keping

23 Aug 2021

Mayoritas harga aset kripto menguat pada perdagangan Senin (23/8). Sebanyak tujuh dari sepuluh uang kripto utama terpantau perkasa awal pekan, termasuk bitcoin (BTC) yang naik 2,5 persen menembus US$50.129 per koin atau sekitar Rp722,65 juta (asumsi kurs Rp14.416 per dolar AS).

Mengutip coinmarketcap.com, penguatan tertinggi sendiri diraih oleh cardano (ADA) sebesar 11,94 persen dalam 24 jam terakhir menuju ke US$2,83 persen koin. Dalam sepekan, uang kripto ini meroket 30,90 persen.

Selanjutnya, harga ethereum (ETH) berada di level US$3.299 per koin. Harganya naik 2,02 persen dalam 24 jam, namun koreksi 0,49 persen dalam sepekan. Sementara itu, binance coin (BNC) menguat 1,12 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$455,61 per koin. Dalam sepekan, binance coin bertambah 9,43 persen.

Sedangkan, ripple (XRP) diperdagangkan pada level US$1,25 per koin. Harganya naik 1,43 persen dalam 24 jam, namun minus 4,12 persen dalam sepekan. Serupa, polkadot (DOT) juga menguat 1,53 persen menjadi US$28,32 per koin. Dalam sepekan, polkadot menguat tajam 20,87 persen.


IHSG Diramal Loyo Gegara Isu Tapering Off The Fed

23 Aug 2021

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Senin (23/8).

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menilai isu tapering off alias pengetatan moneter oleh The Fed masih akan membayangi pasar modal hari ini. Sementara, secara teknikal, ia menyebut penguatan bakal tertahan oleh resistance moving average 50.

IHSG diprediksi melemah. Pergerakan masih akan dipengaruhi oleh kekhawatiran akan tapering serta perkembangan terkait kasus covid-19 terutama kasus harian di Amerika Serikat yang kembali naik signifikan. Dia memproyeksikan indeks saham bergerak di rentang support 5.907-5.968 dan resistance 6.060-6.091.

Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan indeks hari ini masih akan terkonsolidasi dengan potensi tertekan. Adapun sentimen yang akan mewarnai perdagangan adalah nilai tukar rupiah dan harga komoditas.


Belajar dari Kenangan Buruk Taper Tantrum 2013 Hadapi Tapering Off Fed

23 Aug 2021

Sinyal penarikan stimulus atau tapering off oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve yang mungkin dimulai tahun ini menimbulkan riak di pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun di bawah level 6.000 pada pekan lalu, rupiah juga melemah mendekati Rp 14.500 per dolar AS. Pasar seakan kembali diingatkan pada kenangan buruk dari kebijakan serupa pada 2013 yang dikenal dengan periode taper tantrum. Taper tantrum sebenarnya adalah istilah yang digunakan media ekonomi untuk menggambarkan lonjakan imbal hasil surat berharga AS pada 2013 karena pengumuman The Federal Reserve. Ben Bernanke yang memimpin The Fed pada Juni 2013, mengumumkan rencananya untuk mulai menarik stimulus dengan mengurangi pembelian obligasi dari US$ 85 miliar menjadi US$ 75 miliar, berlaku mulai 2014.

Efeknya, rupiah yang sempat berada di bawah Rp 10 ribu per dolar AS anjlok hingga ke level 12.000 per dolar AS pada 2013. Nasib pasar saham pun tak jauh lebih baik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sebelumnya berada di level 5.200 jatuh ke level 4.200 di akhir 2013 dan bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di bawah 4.000 pada Agustus. Pemerintah mencatat, arus modal yang keluar dari Indonesia saat periode taper tantrum mencapai Rp 36 triliun. Efek kebijakan The Fed tak hanya bertahan pada 2013. Penarikan stimulus yang berlangsung hingga Oktober 2014 dan berlanjut dengan kenaikan bunga The Fed pada 2015 berdampak pada tren panjang pelemahan rupiah. Rupiah terus melemah hingga menyentuh 14.690 per dolar AS pada September 2015, seperti dapat dilihat dalam databoks di bawah ini. Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller pada awal bulan ini mengatakan, The Fed kemungkinan mulai mengurangi pembelian obligasi pada Oktober 2021, tetapi tergantung pada data pengangguran. Adapun data klaim pengangguran yang dirilis Kamis (19/8) semakin memperkuat sinyal ini lantaran berhasil mencetak rekor klaim terendah tahun ini. Ekonomi dianggap telah mencapai tujuannya jika melihat data inflasi dan kemajuan pertumbuhan pekerjaan yang hampir memuaskan.


Tujuh BUMN Akan Disuntik PMN Rp 38 Triliun Tahun Depan, Ini Rinciannya

23 Aug 2021

Pemerintah berencana kembali menginjeksikan dana ke sejumlah BUMN melalui skema penyertaan modal negara (PMN) tahun depan. Besaran PMN yang tertuang dalam RAPBN 2022 mencapai Rp 38,5 triliun, yang akan ditebar kepada tujuh BUMN. Tujuh korporasi yang akan menerima PMN, yakni: 1. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Suntikan dana ke PLN akan dipakai untuk melanjutkan pembangunan proyek transmisi, gardu induk dan distribusi listrik desa. 2. PT Hutama Karya (HK). Suntikan dana akan dipakai untuk menyelesaikan konstruksi ruas-ruas jalan tol trans sumatera (JTTS) terutama di delapan ruas utama. Kedelapan ruas tersebut, yakni Binjai-Langsa, ruas Indralaya-Muara Enim, ruas Kisaran-Indrapura, ruas Kuala Tanjung-Parapat, ruas Penanjung-Bengkulu, ruas Sigli-Banda Aceh, ruas Pangkalan-Pekanbaru, dan ruas Pekanbaru-Dumai. 3. PT Adhi Karya Tbk. PMN diberikan untuk menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur strategis, 4. PT Waskita Karya Tbk. Tambahan dana akan digunakan untuk penguatan struktur permodalan perusahaan di tujuh proyek tol yang tengah dibangun. 5. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), yang akan dipakai untuk mendukung program kredit pemilikan rumah (KPR) melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). 6.  PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). Perusahaan diberi dana oleh pemeintah tahun depan untuk meningkatkan kapasitas usaha dalam rangka memberikan penjaminan pada proyek-proyek infratsruktur pemeirntah tahun depan. 7. Perum Perumnas. Tambahan dana akan diberikan untuk penyelesaian unit hunian landed di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Bappenas: Kebutuhan Dana untuk Ekonomi Hijau dan Rendah Karbon Rp306 T

23 Aug 2021

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas memperkirakan kebutuhan pendanaan untuk transisi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon mencapai Rp 306 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah idealnya harus mengalokasikan 24% atau sebesar Rp 72,2 triliun. Namun, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk transisi menuju ekonomi hijau hanya sekitar Rp 23,45 triliun hingga Rp 34,52 triliun. Artinya masih terdapat kekurangan pendanaan dari pemerintah sebesar 13%. "Kebutuhan pendanaan yang cukup besar, masih ada gap yang besar antara kebutuhan dan pendanaan ini," ujar Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dalam diskusi secara virtual Katadata SAFE 2021, Senin (23/8). Suharso berharap keterlibatan dan partisipasi pihak lain, khususnya dari pihak swasta. Mengingat 76% kebutuhan pendanaan ekonomi hijau dan rendah karbon berasal dari nonpemerintah sebesar Rp 232,56 triliun. Dari sisi bisnis, perlu ahli teknologi untuk mewujudkan industri yang berkelanjutan. Misalnya, tenaga kerja perlu mendapat pelatihan membangun green building yang efisien secara energi. Untuk itu, ia pun mendorong adanya riset dan pengembangan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau.

Rupiah Menguat ke 14.416/US$ Meski Masih Dibayangi Tapering Off Fed

23 Aug 2021

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.435 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah dipengaruhi membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko meski wacana tapering off masih terus membayang-bayangi. Mengutip Bloomberg, rupiah terus menguat ke level Rp 14.416 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga kompak menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,22%, diikuti bath Thailand 0,22%, yuan Tiongkok 0,16%, peso Filipina 0,31%, won Korea Selatan 0,56%, dolar Hong Kong 0,03%, dolar Singapura 0,15% dan dolar Taiwan 0,18%. Sementara yen Jepang dan rupee India melemah masing-masing 0,05% dan 0,20%. Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak menguat di kisara Rp 14.380 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.460. Hal ini didorong membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko. Wacana tapering off alias pengetatan stimulus oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) membayangi pergerakan rupiah yang melemah sepanjang pekan lalu. Pada penutupan hari Jumat (20/8), rupiah melemah 0,45% dari posisi pekan sebelumnya. Notulen rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) yang dirilis Rabu dini hari mendorong wacana Tapering off semakin kencang diperbincangkan.

Juli, Investree Bukukan Fasilitas Pinjaman Rp 11 T

23 Aug 2021

PT Investree Radhika Jaya (Investree) membukukan fasilitas pinjaman hingga Juli 2021 mencapai Rp 11 triliun, tumbuh 32% tahun berjalan (year to date/ytd) dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp 8,3 triliun. Di samping itu, perseroan juga telah menyalurkan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 50,2 miliar. Data Investree memaparkan, dari fasilitas pinjaman mencapai Rp 11 triliun itu, nilai pinjaman tersalurkan sebesar Rp 7,6 triliun dengan rata-rata tingkat pengembalian (return) 16,6% p.a. Adapun rata-rata tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) terjaga di level moderat 98,47%. Sementara itu, Investree turut melangsungkan berbagai upaya dalam hal mendukung percepatan pemulihan negeri. Diantaranya dengan menyalurkan dana PEN sebesar Rp 50,2 miliar kepada UKM melalui platform Investree. Dana itu disalurkan secara cepat dan tepat sasaran kepada UKM atau borrower yang sangat membutuhkan dukungan pendanaan untuk membangkitkan bisnisnya dan mendukung pemulihan tanah air.