Ekonomi
( 40465 )Pemerintah Perlu Atur Kouta Impor GPS Ayam
Pemerintah perlu mengatur kuota impor ayam/bibit induk (grand parent stocks/GPS) guna mengatasi anjloknya harga ayam hidup (live bird/LB) dan telur konsumsi (ayam layer) di Tanah Air. "Jumlah ayam over supply sepanjang 2021, ini dampak kuota impor GPS 2020, sebab ayam GPS menghasilkan ayam parent stock (PS) dan DOC, FS, jadi pemerintah harus cermat menghitung kebutuhan ayam di masyarakat, terutama di masa pandemi Covid-19," kata Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Ali Usman.
Pada senin (11/10) di Jakarta, terjadi demonstrasi peternak rakyat broiler dan layer dengan menggandeng Aliansi Mahasiswa BEM Seluruh Indonesia. Aksi tersebut menyusul anjloknya harga LB dan telur ayam konsumsi. Salah satu tuntutan aksi peternak yaitu ingin SE Ditjen PKH Kementan tersebut dicabut karena tiap dilaksanakan berdampak pada harga DOC final stock (FS) yang melambung tinggi tapi harga LB berfluktuasi cenderung rendah.
Ali Usman menjelaskan, banjirnya pasukan DOC FS pada Oktober ini tidak lepas dari dampak alokasi kuota impor GPS sebanyak 675,999 ekor pada 2020, meskipun realisasi kuota impor 2020 dikurangi 31.001 ekor dari kuota 2019 sebanyak 707.000 ekor. Sedangkan pada 2019 data menunjukkan adanya kelebihan GPS sebanyak 53,229 ekor. BPS mencatat, angka konsumsi ayam masyarakat pada masa normal 12,79 kg/kapita/tahun, konsumsi ayam turun 9,08 kg/kapita/tahun pada masa pandemi. (yetede)
Industri Hilir Kehutanan, Prospek Cerah Ekspor Furnitur
Prospek ekspor furnitur Indonesia, termasuk yang dilakukan oleh industri kecil dan menengah, diyakini kian cerah seiring dengan membaiknya permintaan dari sejumlah negara. Kementerian Perindustrian mencatat pada Januari—Agustus 2021, ekspor produk furnitur dengan kode HS 9401-9403, telah mencapai US$1,61 miliar, tumbuh 36% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Emil Satria mengatakan pertumbuhan itu menunjukkan ketahanan industri furnitur dan kerajinan selama pandemi masih tinggi. “Proyeksi sampai akhir 2021 diharapkan nilai ekspor produk furnitur dapat mencapai angka US$2 miliar,” kata Emil kepada Bisnis, akhir pekan lalu. Sebagai perbandingan, kinerja ekspor furnitur 2020 senilai US$1,91 miliar atau meningkat 7,6% dari 2019 senilai US$1,77 miliar.
Dana Asing Masih Mengalir ke Pasar Saham
Dana asing diperkirakan masih akan mengalir ke pasar saham Indonesia hingga akhir 2021, Sejumlah faktor yang mendorong masuknya dana asing (inflow) diantaranya window dressing pada akhir tahun, valuasi harga saham domestik yang masih murah, penurunan kasus Covid-19, lonjakan harga komoditas serta kinerja perekonomian nasional pada kuartal IV-2021 yang diprediksi naik signifikan. Berdasarkan Bursa Efek Jakarta (BEI), investor asing mencatat beli bersih (net buy) di saham sebesar Rp12,4 triliun selama enam hari berdagang terakhir, sehingga secara year to date (ytd) hingga 8 Oktober 2021 mencapai Rp28,38 triliun.
Aksi beli bersih investor asing sebesar Rp 2,42 triliun pada perdagangan Jum'at (8/10) lalu turut mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 65,37 poin (1,02%) ke posisi 6,481,77 semenetara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,63 point (1,69%) ke posisi 939,88. Secara ytd, IHSG menguat 8,41% dan LQ45 naik 0,53%. Pengamat dan praktisi pasar modal yang juga founder CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto meyakini, dana asing akan mengalir deras ke pasar saham mau pun surat utang negara (SUN) hingga akhir tahun.
Lebih lanjut, hingga akhir tahun, Fendi memprediksikan IHSG bisa tembus level 6.600-7.000. Hal tersebut juga didorong oleh dana asing yang akan menjadi katalis dan kegairahan investor domestik untuk masuk ke pasar saham. Apalagi investor asing cenderung realitas dalam menganalisa saham. Di sisi lain, untuk pasar obligasi, investor asing, menurut Fendi, juga akan melirik untuk menempatkannya di Indonesia. Kenaikan dana asing di pasar surat utang juga akan terjadi hingga akhir tahun ini dengan alasan yang sama dengan pasar saham.
Kepala Riset Henan Putihrai sekuritas Robertus Yanuar Hardy mencermati dana asing yang mengaliar deras ke pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh sentimen global yang cukup stabil terutama setelah adanya kepastian Amerika Serikat tidak akan mengalami goverment shutdown hingga Desember 2021. Meski demikian sentimen regional masih dibayangi ketidakpastian kasus gagal bayar perusahaan property Tiongkok, Evergrande. Sementara dari sisi domestik, aliran dana asing juga disebabkan oleh sistem pembobotan IHSG baru yang sudah diberlakukan berdasarkan free float sehingga penilain indeks semakin lebih objektif. (yetede)
Proyek KA Cepat Bisa Dibiayai APBN
Pemerintah membuka alternatif pembiayaan proyek Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), hal tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No.39 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Perpres 107/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antar Jakarta dan Bandung yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 6 Oktober 2021. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan, dibukanya opsi sumber pendanaan dari APBN lantaran empat BUMN yang terlibat proyek itu terkena dampak pandemi Covid-19 sehingga menghambat kemampuan perusahaan dalam membiayai proyek kerjasama Indonesia dan Tiongkok itu.
"Hal ini yang membuat kondisi mau tidak mau supaya kereta cepat dapat terlaksana dengan baik maka harus meminta pemerintah untuk ikut dalam memberikan pendanaan," kata Arya kepada wartawan dikutip Minggu (10/11). Adapun Perpres 93/2021 menunjuk PT KAI sebagai pimpinan konsorsium Sebelumnya pimpinan konsorsium itu dipegang oleh PT Wijaya Karya. "Jadi ini bukan apa-apa. Ini masalah soal seperti itu (BUMN terkena dampak pandemi). Dan, dimana-mana hampir semua negara itu pemerintah memang ikut campur juga dalam proyek kereta cepat," Terang Arya.
Sebelumnya pemerintah, mengungkapkan rencana menjadikan PT KAI sebagai pemimpin konsorsium BUMN pemodal proyek KA Cepat Jakarta-Bandung, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Adapun dalam menggarap proyek ini PSBI membentuk perusahaan patungan bersama konsorsium perusahaan Tiongkok, Beijing Yawan, yang diberi nama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Porsi masing-masing konsorsium di KCIC adalah PSBI sebanyak 60% dan Beijing Yawan sebesar 40%. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sempat mengungkapkan, ada tiga permasalahan terkait proyek KA Cepat. Pertama, terkait penyetoran modal awal. Menurut dia, rencana penanaman modal oleh PT PTPN VIII dalam bentuk tanah di walini, tidak disetujui oleh konsorsium. (yetede)
BI: Biaya Logistik Masih Mahal
Sektor tranportasi laut dalam negeri masih perlu dibenahi lantaran angkutan laut nasional yang jumlahnya terlalu sedikit, telah memacu ongkos kirim barang domestik menuju daerah terpencil menjadi sangat mahal. "Sebelum pandemi lebih mahal ketimbang eksportir mau ekpor barangnya dari Jakarta ke Tiongkok. Itu biayanya (ekspor ke Tiongkok) lebih murah ketimbang kita kirim barang dari Jakarta ke Indonesia Timur, sehingga ini arus diperbaiki." tutur Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam webinar pekan lalu.
Ia menjelaskan, adanya masalah logistik karena sektor transportasi laut yang belum memadai merupakan pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dengan tujuan untuk mempermudah dan mengefisiensikan biaya logistik dan menjamin semua rantai pasok diseluruh wilayah Indonesia. "Perlu kita waspadai bahwa kita ketahui transportasi ini sangat penting sekali untuk perekonomian suatu negara. (Transportasi) membuka aksebilitas dan konektivitas, apalagi kita negara maritim, tentunya kita harus mempunyai transportasi laut yang kuat dan solid," tegasnya.
"Dengan supply yang sesuai dengan kebutuhan lainnya tentu ini akan mencipatakan pertumbuhan ekonomi yang akan sustainable. Karena dengan supply-demand dari barang itu terjaga kemudian inflasi rendah, sehingga ini akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berlanjut kedepan." ungkapnya. Lebih lanjut, ia menyebut pada kuartal II-2021, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh luar biasa pesat hingga mengalami kenaikan pesat hingga mengalami kenaikan 25,1% secara year on year. Kenaikan ini juga didorong pelonggaran kebijakan pembatasan aktivitas pada periode tersebut. Bahkan kenaikannya dirasakan oleh semua moda transportasi baik angkutan rel, darat, dan laut, bahkan udara. (yetede)
Pacu Ekspor, Kementan Minta Pengusaha Manfaatkan KUR
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para pelaku usaha memanfaatkan kredit usaha rakyat (KUR) demi mendukung program akselerasi ekspor pertanian yakni Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) 2024. Pemerintah mengalokasikan dana KUR pertanian Rp 56 triliun pada 2020 dan Rp71 triliun pada 2021. Dengan KUR, pelaku usaha bisa memaksimalkan produk dan kualitas produk pertanian sehingga kontinuitis pasokan ke pasar ekspor terjaga.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, sektor pertanian mengambil peranan penting saat pandemi Covid-19 melanda, antara lain melalui ekspor produk pertanian yang mampu menyumbang devisa hingga Rp 451,80 triliun spanjang 2020. "Saat banyak sektor tidak bisa mencipatakan uang, pertanian mampu memberikan kontribusi besar bagi negara. Pertanian bisa menghasilkan Rp 450-an triliun hanya dari ekspor, apalagi pada saat era digital seperti ini maka produk pertania bisa dijual keseluruh dunia," kata Mentan.
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan Bambang menyatakan, berkat semangat Gratieks yang terus digelorakan, kini tiap daerah mulai sadar akan potensi pertaniannya dan ikut bergerak menyukseskan Gratieks. "Untuk mengakselerasi ekspor, peluangnya sangat besar, terutama bagi perusahaan yang sudah melaksanakan aktivitas usaha agribisnisnya maupun yang baru merintis. Apalagi pemerintah sudah menyediakan pembiayaan melalui KUR. Kami harap pelaku usaha berani memanfaatkan dana perbankan itu, usaha pertanian kalau diseriusi akan berhasil.
Pada 2020 ekspor pertanian RI telah menjangkau lebih dari 150 negara dan diharapkan terus bertambah. Oleh sebab itu Kementan mengajak semua pemangku kepentingan bahu membahu mewujudkan Gratieks 2024. Peranan Barantan sangatlah penting melalui peningkatan pelayanan fasilitas pertanian khususnya ekspor pertanian, juga bagian dari perlindungan sumber daya alam hayati pertanian dari ancaman hama penyakit berbahaya, "Bagi yang baru mendengar, mungkin tidak masuk akal mewujudkan Gratieks pada 2024. (yetede)
Antisipasi Dampak Krisis
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku dari China terhitung tinggi. Krisis energi di China berpotensi mengganggu pasokan bahan baku bagi industri hilir, tetapi memberi peluang bagi industri hulu dan antara. Krisis energi di China, India, dan Eropa diperkirakan berdampak terhadap industri dalam negeri. Krisis ini dikhawatirkan menghambat produksi akibat kelangkaan bahan baku impor, tetapi sekaligus membawa peluang untuk mengembangkan industri hulu dan antara lokal. Pelaku industri dari hulu ke hilir pun bersiap mengantisipasi dampak krisis tersebut. Saat ini, China, India, dan Eropa tengah mengalami krisis energi akibat imbas kebijakan pengurangan penggunaan energi fosil. Di China, kondisi itu diperparah dengan embargo suplai impor batubara dari Australia. Pabrik-pabrik terpaksa mengurangi produksi, bahkan menutup operasionalnya lantaran terjadi pemadaman listrik bergilir.
PBoC Tidak Akan Berhenti Menindak Tekfin
Otoritas Tiongkok berjanji akan memperkuat pengawasan terhadap industri pembayaran daring dan melanjutkan tindakan keras anti- monopoli. Gubernur bank sentral Tiongkok (PBoC) Yi Gang menyatakan. Pihaknya akan terus menindak keras perusahaan-perusahaan raksasa teknologi lewat regulasi. Selama sekitar setahun pihak berwenang telah menargetkan berbagai raksasa teknologi lokal. Diantaranya raksasa e-commerce Alibaba, layanan tranportasi raksasa Didi Chuxing, dan raksasa pengiriman makanan Meituan, atas dugaan praktik monopoli dan permainan data konsumen secara agresif.
Tindakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas oleh pemerintah untuk memperketat cengkramannya pada ekonomi nomor dua dunia itu, termasuk menargetkan perusahaan pendidikan swasta, properti dan kasino. "Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas anti-monopoli untuk mengekang monopoli dan secara aktif menangani diskriminasi algoritme dan bentuk baru lainnya dari perilaku anti persaingan," kata Yi Gang, Senin (8/10). Ia menyampaikan hal ini dalam pidato utama di konferensi Bank for Internasional Sattlements (BIS) tentang pengaturan atas sektor tersebut.
Regulator Tiongkok pada September 2021 memerintahkan perusahaan besar-besaran pada aplikasi pembayaran terbesar di negara itu, Alipay. Sementara partai komunis yang berkuasa mencoba mengendalikan pertumbuhan yang tidak terkendali dari raksasa teknologi. Alipay diminta untuk memecah unit usaha pinjaman mikro yang menguntungkan. Adapun perusahaan sistem pembayaran pihak ketiga tersebut telah mencatat dari satu milyar pengguna di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya. (yetede)
Tren Mobilitas Masyarakat Naik, BI Waspadai Suplai Sektor Transportasi
Bank Indonesia (BI) mewaspadai suplai tren sektor transportasi ditengah tren peningkatan moblitas orang dan barang akibat akselerasi vaksinasi serta penurunan kasus Covid-19. "Demand yang kembali meningkat, pent-up demand tinggi, tapi kalau diimbangi dengan distribusi barang yang tidak smooth tentunya ini akan menyebabkan terjadinya tekanan harga juga. Dimana, dalam hal ini kalau kami bicara di bank sentral, yang kami konsen adalah inflasi," kata Deputi Senior BI Destry Damayanti dalam seminar nasional bertajuk Analisis Lingkungan Ekonomi dan Bisnis terhadap Distrupsi di Sektor Transportasi secara daring, Jumat (8/10)
"Di Indonesia dengan akselerasi vaksin yang dilakukan pemerintah, juga disiplin orang makin baik, kami melihat mobilitas masyarakat semakin membaik," ungkap Destry. Selain itu, dia melihat bahwa transaksi sistem pembayaran semakin baik, baik itu retail maupun korporasi. Karena itu, Bank Indonesia memprediksikan perekonomian 2021 akan membaik dengan tumbuh 3,5-4,3%. Destry menyebutkan, permintaan saat ini membaiknya terbilang cepat. Untuk konsumsi rumah tangga, lanjut dia, sudah tumbuh hampir 6% pada kuartal 11-2021.
Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, transportasi memang berperan penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. "Transportasi merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi dan tulang punggung proses distribusi barang maupun orang," ungkap Budi. Lebih jauh, dia menyampaikan bahwa keberadaan infrastruktur transportasi juga memiliki peran sebagai pembuka isolasi wilayah sehingga mampu mendorong konektivitas. Selain itu infrastruktur transportasi menjadi salah satu aspek dalam meningkatkan daya saing produk nasional serta menopang perkembangan sebuah kota. (yetede)
Industri Pulp & Kertas, Ketersediaan Bahan Baku Jadi Hambatan Investasi
Kendati rencana realisasi investasi perusahaan asing di industri bubur kertas atau pulp mulai direalisasikan, ketersedian bahan baku masih menjadi tantangan berat yang harus dihadapi. Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Emil Satria mengatakan kendala bahan baku tersebut membuat perusahaan kesulitan untuk memulai proses produksi. Adapun, perusahaan kertas terbesar dari China, Flying Dragon Paper, berencana berinvestasi di industri pulp dan kertas Indonesia senilai US$1 miliar dengan kapasitas produksi 6 juta ton untuk 3 juta produk kemasan dan 3 juta recycle pulp.
"Sebagian besar sudah terealisasi, namun demikian masih terdapat kendala terkait sulitnya mendapatkan bahan baku dan keterbatasan memasukan tenaga ahli untuk memulai proses produksi," katanya kepada Bisnis, Kamis (7/10). Dia melanjutkan, selain flying Dragon Paper, beberapa perusahaan asal Negeri Panda telah bermaksud melakukan investasi di industri kertas. Namun, karena pandemi, rencana tersebut masih tertunda. Sementara itu, volume produksi kertas dan pulp tercatat tumbuh 6% sampai dengan semester 1/2021.
Sekretaris Jendral Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengatakan pertumbuhan produksi tahun ini didorong serapan yang naik di dalam negeri. Hal itu terutama karena tingginya pemakaian kemasan dan kertas tisu. Pertumbuhan produksi pada paruh pertama tahun ini diharapkan dapat bertahan sampai penghujung tahun. Sebelumnya, Liana memproyeksikan pada 2021 volume porduksi industri pulp akan meningkat 1,85% menjadi 11 juta ton, sedangkan volume produksi kertas ditarget naik 5% menjadi 14,28 juta ton. "Dikarenakan kelangkaan kontainer, dari sisi ekspor terjadi permasalahan, yaitu menurunnya (volume) ekspor sebesar 7% pada 2021 dibandingkan dengan 2020," katanya kepada Bisnis. (yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









