Ekonomi
( 40554 )Emiten Perkebunan Sawit, SIMP & LSIP Petik Berkah CPO
Tren kenaikan harga crude palm oil (CPO) yang berlanjut pada kuartal IV/2021 diyakini dapat berdampak positif terhadap kinerja dua emiten sawit milik Grup Salim, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk. (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP). Berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Senin (25/10), harga CPO kontrak Januari 2022 sempat menyentuh level setelmen 5.071 ringgit per ton pada pekan lalu. Level harga tersebut kemudian menurun pada perdagangan hari ini di 4.924 ringgit per ton. Salah seorang trader David Ng menyebutkan kenaikan harga pada minyak biji kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) dan minyak mentah juga menopang kenaikan harga CPO. “Sentimen tetap bullish yang didukung oleh fundamental yang kuat. Sebelumnya, level harga CPO tertinggi adalah pada 5.066 ringgit per ton. Kami perkirakan level support CPO berada di 4.900 ringgit dan resistance pada 5.150 ringgit per ton,” jelasnya dikutip dari The Edge Markets.
Lonjakan harga CPO turut berdampak positif bagi perusahaan terkait, tidak terkecuali kedua emiten sawit di bawah Salim Group. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Lonsum mencatatkan laba bersih senilai Rp501 miliar pada semester I/2021. Jumlah tersebut meroket 445% dibandingkan dengan laba bersih pada semester I/2020 lalu yang hanya Rp92 miliar. Kenaikan laba emiten bersandi saham LSIP tersebut ditopang oleh pertumbuhan penerimaan perusahaan. Lonsum tercatat membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp2,17 triliun, naik 39,1% year-on-year (YoY). Sementara itu, SIMP yang merupakan emiten produsen minyak goreng Bimoli berhasil membalikkan kondisi rugi menjadi laba pada paruh pertama tahun 2021. SIMP membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp219 miliar pada semester I/2021, kontras dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp301 miliar pada semester I/ 2020. “Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berbalik positif menjadi Rp219 miliar, terutama terutama berasal dari naiknya laba usaha dan penurunan beban keuangan yang sebagian diimbangi oleh kenaikan beban pajak penghasilan,” tulis Manajemen Salim Ivomas Pratama dikutip dari keterangannya.
Produk Olahan Hortikultura, Produsen Tingkatkan Volume
Permintaan pasar terhadap produk olahan hasil hortikultura Jawa Timur kian meningkat seiring dengan mulai bergeraknya aktivitas ekonomi setelah level pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM menjadi level 1. Ketua Asosiasi Pengolahan Hasil Hortikultura (Asperhorti) Jatim M. Maulud mengatakan bahwa untuk memenuhi permintaan pasar, pelaku usaha makanan olahan hortikultura pun mulai meningkatkan volume produksi. “Kondisi saat ini makin membaik, karena sebagian besar di Jatim sudah tidak lagi PPKM sehingga kami berusaha menambah pasar, juga volume produksi serta meningkatkan. Terkait dengan produksi produk olahan hortikultura, Maulud menjelaskan bahan baku ini melimpah sehingga perlu dilakukan pengolahan yang optimal agar memiliki nilai tambah.
Terus Cari Sumber Pertumbuhan Baru, BRI Siapkan Roadmap Pemberdayaan UMKM
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus mencari sumber pertumbuhan baru di segmen Ultra Mikro (UMi) dan UMKM untuk menjadi lokomotif perekonomian nasional. Perseroan telah merancang strategi pemberdayaan segmen tersebut, tidak hanya dari sisi pembiayan semata. Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan pembiayaan menjadi fase pemberdayaan itu menjadi layer yang ke-empat dalam fase pemberdayaan segmen UMi dan UMKM.
"Ke depannya kita tidak hanya melayani pembiayaan saja. Pembiayaan itu mungkin layer yang ke-empat, sekalipun nanti di fase dasar, BRI punya peran disitu. Contohnya adalah bagaimana masyarakat bisa menjangkau layanan dengan menabung, pencatatan keuangan itu fase-fase yang dasar. Kemudian (fase kedua) meningkat nanti menjadi literasi bisnis. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas mereka, berjualan lebih banyak, kemudian juga menambah tenaga kerja lebih banyak." ujara Supari
Fase ketiga dari pembayaran yang dilakukan BRI yakni fase pemberdayaan digital, dimana tidak hanya mendorong pelaku usaha go digital, namun juga BRI mampu menunjukkan pekerjanya untuk menjadi "penyuluh digital". Supari pun memberikan gambaran "Sampai dengan sekarang kemampuan menabungnya telah mencapai 50% dari kemampuan menabung saat sebelum pandemi. Ini adalah indikator terbaik, tinggal bagaimana kita semua menjaga ini, setidaknya dengan disiplin protokol kesehatan baik oleh masyarakat maupun pihak UMKM," tambahnya. (Yetede)
Ekonomi Kuartal III Diperkirakan Tumbuh 4,5%
Kementerian Keuangan Kemenkeu Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 akan berada diangka 4,5%, sedangkan sepanjang 2021 di angka 4%. Perkiraan ini didasarkan pada kinerja perekonomian yang menunjukkan perbaikan. Apalagi, kasus Covid-19 mengalami penurunan signifikan yang berdampak pada pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat. Pada Kuartal ke III-2021, kata Menkeu, kinerja permintaan domestik sempat tertahan akibat penerapan restriksi mobilitas di Juli-Agustus.
"Outlook dari pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 membaik jadi 4,5%. Memang dibandingkan kuartal II-2021 (7,1%) angka ini menurun. Tetapi kalau dilihat pada kuartal ke III kita mengalami kenaikan kasus karena varian Delta yang sangat tinggi yang menyebabkan adanya koneksi terhadap pemulihan ekonomi di kuartal III," ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta (KiTa) secara daring, di Jakarta, Senin (25/10).
Sementara itu, pada September 2021 purchasing Manufacture Index (PMI) Indonesia mencapai 52,2 Sektor Manufakatur kembali berekspansi setelah dua bulan berada pada kontraksi cukup dalam. Pelonggaran restriksi di tengah penurunan Covid-19 menjadi faktor utama dalam peningkatan aktivitas manufaktur. Petumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2021 menunjukkan pemulihan gradual. Menurut Menkeu hal ini perlu terus dipertahankan dengan upaya pengendalian Coviid-19 yang komperhensif. (Yetede)
Tabrakan LRT Diduga Akibat Laju Kereta saat Langsir Terlalu Cepat
PT Industri Kereta Api (persero) menyebutkan indikasi awal tabrakan dua trainset atau rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek akibat laju trainset nomer 29 yang terlalu cepat saat langsir sehingga menabrak trainset nomor 20. Direktur Utama PT Inka Budi Noviantoro menjelaskan, kecelakaan tersebut terjadi saat trainset 29 menabrak dari belakang pada pukul 12.45 KM 12+800 antara Harjamukti-Ciracas. Ia menambahkan terdapat satu korban luka atas nama Faisal (masinis trainset 29) dan telah dibawa ke Rumah Sakit Melia Cibubur.
"Ini terindikasi, nanti KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) yang menentukan. Ini terindikasi langsiran yang cepat. Masinisnya Alhamdulillah tidak apa-apa. Luka ringan di Rumah Sakit lalu sadar," kata Budi Noviantoro dalam konferensi pers disaksikan secara daring, Senin (25/10). Budi menuturkan, kejadian ini terdampak pada trainset lainnya yang sedang parkir berjajar di dekat stasiun Harjamukti. Adapun dampak kerusakan pada prasarana masih dilakukan investigasi.
Dalam kesempatan tersebut, Budi memohon maaf kepada Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Menteri Perhubungan, Menteri BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya. "Ini indikasi awal karena memang ini proses pengujian LRT yang sekarang hampir selesai sebetulnya," pungkas Budi. Di sisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyayangkan insiden tabrakan yang menimpa LRT Jabodetabek saat uji coba di Cibubur, Jakarta Timut pada siang Senin kemarin. (Yetede)
Pengaduan Konsumen E-Commerce Marak
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat sebanyak 7.368 pengaduan konsumen sektor niaga elektronik (e-commerce) pada Januari -September 2021. Pengaduan di dominasi oleh parameter cara menjual yang tidak mengikuti kaidah-kaidah perlindungan konsumen. Kemendag meminta semua pelaku usaha mematuhi semua standarisasi dan regulasi sebagai jaminan perlindungan konsumen. Demi melindungi konsumen, supremasi hukum akan diberlakukan secara tegas. Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Veri Anggrijono menerangkan, melalui Ditjen PKTN, Kemendag berkomitmen melindungi konsumen melalui upaya konsistensi pengawasan, penanganan, pengaduan terkait kerugian konsumen, regulasi dan edukasi konsumen berupa webinar bertema 'Redifining Comitmen for Consumer Protection' yang digelar Kamis, (21/10).
Dia menyampaikan, transaksi perdagangan konvensional mulai bergeser ke format transaksi digital. Sebanyak 88,1% pengguna internet di Indonesia memakai layanan niaga elektronik. Pada 2020, terdapat kenaikan nominal transaksi niaga elektronik sebesar 29,6% menjadi Rp 266,3 triliun pada 2019. "Tingginya pemanfaatan niaga eletronik memberikan dampak positif sekaligus memberikan resiko kerugian konsumen," ucap Very dalam keterangan tertulis, Senin (25/10) Webinar yang digelar dalam format dialog tersebut bertujuan mendefinisikan kembali komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan upaya yang berkesinambungan guna menegakkan perlindungan konsumen. Webinar digelar dalam rangka menyongsong puncak peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkornas) ke 9 pada 28 Oktober 2021 mendatang. (Yetede)
Laba Bersih BSI Capai Rp 1,48 T
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi mengatakan, masyarakat melihat perbankan syariah sebagai alternatif layanan jasa keuangan karena lebih transparan.
Hery yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menjelaskan, di tengah kondisi ekonomi yang menantang karena pandemi Covid-19, total aset perbankan syariah secara nasional tetap tumbuh.
Sedangkan kinerja BSI di semester I/2021, mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,48 trillun, atau naik sekitar 34,29% secara year on year (yoy). Kenaikan laba tersebut dipicu pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) berkualitas.
Perdagangan Kripto Segera Diatur Pemerintah
Perdagangan aset kripto akan segera diatur pemerintah. Aset yang satu ini dinilai cukup potensial perkembangannya dan harus dibuatkan satu ekosistem terintegrasi pada transaksinya.
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan pemerintah bakal mengatur perdagangan aset kripto dengan cara membentuk bursa kripto. Negara melihat potensi besar dan value tinggi dari kripto, kami di Kemendag berencana membuat dan me-launching bursa untuk kripto.
Jerry mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan validasi, verifikasi, menyusun prosedur administrasi dan teknis dari bursa ini. Paling cepat, bursa bakal di-launching di sisi tahun 2021 ini.
Kami dari pemerintah ingin atur dan meregulasi dengan lebih sistematis, integrated, dan komprehensif. Semua itu dilakukan dengan bursa yang akan di-launching dalam waktu dekat di sisa tahun ini.
Paket Hemat Bank Digital
Tempo, Jakarta - Rencana PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengakuisisi Bank Mayora dan mengubah bank tersebut menjadi bank digital dinilai sebagai aksi korporasi yang bagus dan efisien. Dalam sepekan terakhir, Bank BNI santer diberitakan bersepakat dengan perusahaan digital asal Singapura, Sea Group, mengembangkan Bank Mayora sebagai bank digital. BNI merupakan bank yang sudah matang. Sedangkan Sea Group sebagai perusahaan digital mempunyai ekosistem digital yang bagus untuk menunjang rencana mengubah Bank Mayora menjadi bank digital.
Langkah BNI menggandeng SEA Group dalam membeli bank lama untuk diubah menjadi bank digital membutuhkan biaya investasi yang lebih murah dibanding membangun bank digital dari nol. Sea Group dikenal sebagai pemilik Shopee dan PT Bank Seabank Indonesia, yang dulu bernama Bank Kesejahteraan Ekonomi. Mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan bank digital sedang menjadi tren saat ini. Alasannya sama, yaitu ongkos mendirikan bank baru lebih mahal, dengan perizinan yang memakan waktu. Selain biaya akuisisi lebih murah, biaya operasional bank kecil lebih murah.
Sinyal Perbaikan Kinerja Penerimaan Negara
Tempo, Jakarta - Penerimaan negara diharapkan mencatatkan hasil menggembirakan pada akhir tahun ini. Adapun realisasi penerimaan pajak Januari-September 2021 mencapai Rp 850,1 triliun atau setara dengan 69,1 persen dari target. Penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi Rp 182,9 triliun atau tumbuh 29 persen dan kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terkumpul Rp 320,8 triliun atau tumbuh 22,5 persen. Jika dirinci, pos penerimaan pajak dengan kontribusi terbesar adalah pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri, dimana pertumbuhannya pada kuartal III mencapai 18,5 persen. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu, penerimaan terkontraksi 9,4 persen.
Capaian positif tersebut ditopang oleh pemulihan ekonomi yang berlangsung dan mampu mengerek konsumsi serta belanja masyarakat. Direktur Jenderal Pajak Kementrian Keuangan berujar pemerintah bakal mengoptimalkan berbagai upaya untuk menggenjot realisasi penerimaan pajak yang ditargetkan Rp 1.229,59 triliun pada 2021. Upaya pertama ialah mengawasi kepatuhan pembayaran pajak di sektor usaha yang mencatatkan pertumbuhan tinggi, yaitu industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









