;
Kategori

Ekonomi

( 40465 )

Harga CPO 2022 Tetap Tinggi, Butuh Strategi Kendalikan Laju Inflasi

27 Dec 2021

Harga minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) diproyeksikan tetap  tinggi diatas US$ 1.000 per ton tahun depan. Kondisi tersebut akan berdampak pada kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik yang berpotensi mendongkrak inflasi. Karena itu, kenaikan harga CPO perlu disikapi dengan menyiapkan strategi pengendalian laju inflasi yang tepat. Wakil Ketua Umum Gabungan Pengausaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tagor Sitanggang menyatakan, fakta menarik yang timbul sebagai dampak kenaikan harga CPO adalah menanjaknya harga minyak goreng sehingga menyebabkan tingginya inflasi. "Kenaikan harga CPO membuat devisa negara bertambah, tapi disisi yang lain inflasi harus tetap dijaga. Ini menjadi tantangan, apa yang harus dilakukan. Kondisi global saat ini memang terjadi peningkatan permintaan mau tidak mau membuat harga komoditas, seperti sawit, juga mengalami kenaikan harga, ini tidak bisa dihindari." Jelas Togar. (Yetede)

Waspada, Modus Kejahatan Perbankan di Era DIgital

24 Dec 2021

Era digital membuat hidup semakin gampang. Di sektor keuangan, hampir semua transaksi ritel bahkan sudah menggunakan kanal digital. Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (BBNI) YB Hariantono mengatakan, risiko kejahatan perbankan yang paling susah dicegah datang dari sisi nasabah. "Seperti penipuan social engineering. Ini susah karena berada di luar kontrol bank," katanya pada KONTAN, Kamis (23/12). Di sisi lain, nasabah juga harus waspada. Seperti jangan memposting data diri pribadi dan main percaya dengan media sosial. Ibarat kata, percuma sudah digebok, tapi kunci gembok gampang diambil penjahat. 

Realisasi Pembiayaan Investasi Naik Empat Kali

24 Dec 2021

Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi pembiayaan investasi termasuk suntikan modal kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga November 2021 mencapai Rp 116,3 triliun. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani posisi ini melonjak 278,5% dari periode yang sama 2020. Realisasi ini setara 56% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar RP 184,5 triliun. "Masih ada pencairan anggaran pembiayaan investasi Desember ini dengan jumlah sangat besar," kata Menkeu, Rabu (22/12). Selain itu suntikan modal kepada Lembaga Pengelola Investasi senilai Rp 15 triliun, PT Hutama Karya Rp 6,21 triliun, PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) Rp 5 triliun, kewajiban penjaminan Rp 2,72 triliun, serta PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Rp 2,25 triliun. 

Jumlah Investor Pasar Modal Melesat Berkat Inovasi Teknologi

24 Dec 2021

Semakin banyak orang Indonesia yang melek investasi. Jumlah investor pasar modal meningkat 89,58% menjadi 7,3 juta single investor dentification (SID) sepanjang tahun ini sampai dengan 17 Desember 2021. Jumlah tersebut merupakan SID gabungan yang terdiri dari investor saham, surat utang, reksadana, surat berharga negara (SBN) dan jenis efek lain yang tercatat di KSEI. Jika dirinci, jumlah investor yang memiliki aset saham meningkat 101,19% menjadi 3,41 juta. Sedang jumlah investor yang memiliki reksadana melesat 111,29% jadi 6,71 juta. Investor yang memiliki aset SBN naik 31,96% jadi 607.000. Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, yang menarik, dari total 7,3 juta investor, sebesar 99,5% merupakan investor ritel. "Investor ritel ini banyak didominasi oleh dua generasi, yakni generasi milennial dan generasi Z," kata Uriep di Jakarta Selatan, Kamis (23/12).


Likuiditas Makin Deras Menjelang Akhir Tahun

24 Dec 2021

Likuiditas sektor keuangan Indonesia November 2021 naik, sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang akhir tahun. Bank Indonesia (BI) mencatat, uang beredar dalam arti luas (M2) November 2021 mencapai Rp 7.572,2 triliun, tumbuh 11% year on year (yoy). Jumlah ini lebih tinggi ketimbang Oktober 2021 sebesar Rp 7.491,7 triliun, naik 10,5% yoy. BI menyebut kenaikan berasal dari akselerasi uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. Adapun komponen uang kuasi pada November 2021 tercatat Rp. 3.405,8 triliun, tumbuh 7,0% yoy. Angka ini juga naik dari bulan Oktober 2021 yang sebesar Rp 3.393,8 triliun atau tumbuh 6,0% yoy. Asal tahu saja, komponen uang kuasi ini di dorong oleh peningkatan simpanan berjangka dan giro valas. 

Memacu Ekspor Industri

24 Dec 2021

Kabar baik datang dari perdagangan Indonesia. Kemarin, Kementerian Perdagangan resmi melepas ekspor dengan nilai puluhan triliun rupiah ke puluhan negara tujuan. Tak hanya itu, jumlah perusahaan yang terlibat pun sampai ratusan yang berasal dari berbagai daerah. Meski masih berjibaku menghadapi penyebaran virus corona, yang mengakibatkan melemahnya perekonomian nasional dan global, kinerja ekspor Indonesia pada tahun ini patut diapresiasi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai ekspor Indonesia pada Januari–November 2021 mencapai US$209,16 miliar atau naik 42,62% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut diklaim menjadi angka tertinggi yang melampaui rekor pada 2011 senilai US$203 miliar.

Tak hanya secara nilai, torehan prestasi lainnya yang dicatatkan atas kinerja ekspor pada tahun ini adalah bidang usaha yang berkontribusi tinggi. Bila sebelumnya ekspor didominasi oleh produk komoditas seperti produk pertanian, minyak sawit, dan karet, kini sudah beralih pada industri pengolahan. Sebagaimana yang dilansir oleh BPS, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada Januari–November 2021 naik 35,42% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020, dengan tujuan ekspor produk manufaktur terbesar dikirimkan ke China, yaitu sebesar US$5,41 miliar. Selanjutnya disusul Amerika Serikat senilai US$2,54 miliar dan Jepang US$1,64 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 44,61% terhadap ekspor nasional. Adapun ekspor ke Asean dan Uni Eropa masing-masing sebesar US$4,14 miliar dan US$1,80 miliar.


Geliat Kota Palembang, Adaptasi Pedagang Merawat Pembeli

24 Dec 2021

Toko kebutuhan pokok Alan (68)  di Pasar Gubah, Palembang memajang kode pembayaran non tunai (Quick Response Code Indonesian Standard/QRIS). Pelanggan memindai kode QRIS dengan gawai mereka, uang langsung ditransfer ke rekening Alan. Teknologi itu bantu masyarakat belanja, yang makin jarang gunakan uang tunai terutama menghindari sentuhan selama pandemii Covid-19. Untuk mendapat kode QRIS, pedagang mendaftarkan rekening ke bank, yang memudahkan pelanggan belanja tanpa khawatir kekurangan uang tunai. Meski baru 10 % pelanggan menggunakannya. Kini ada 332.886 pengguna QRIS di Sumsel atau 96,98 % target tahun 2021 sebesar 344.000 pengguna.

Ketika sibuk hingga tak punya waktu ke pasar Soak Batok, Palembang, pembeli tinggal pilih belanjaan memakai aplikasi Pasar.id diikuti transfer pembayaran, barang yang dipesan diantar ke rumah. Dirops Perumda Pasar Palembang Jaya Saiful mengatakan, perkembangan zaman bukan hambatan pasar tradisional, tapi pelecut untuk berbenah. Pasar Sekanak, akan jadi sentra penjualan cendera mata khas Palembang sebagai pengembangan obyek wisata baru berlayar di Sungai Sekanak dan Lambidaro, wisatawan diharapkan beli oleh-oleh, digitalisasi pasar menjadi prioritas utama. (Yoga)


Paradoks Bonanza Komoditas

24 Dec 2021

Hingga akhir November 2021, pendapatan negara mencapai 97,5 % target Rp 1.743,6 triliun dan diyakini  melebihi target di akhir tahun. Semua pos penerimaan tumbuh positif, penerimaan pajak sudah 88 %, penerimaan bea cukai 108 %, dan PNBP 128 % target. Ekspor catat rekor tertinggi pada Agustus dan terjadi surplus neraca dagang sejak Mei 2020. Membawa kita keluar dari tekanan fiskal sejak pandemi, namun peringatan muncul untuk tak larut dalam euforia, karena bonanza penerimaan ini disumbangkan tingginya harga komoditas. Seiring peningkatan penerimaan negara, defisit APBN ditekan dari 5,73 % PDB pada Oktober 2021 jadi 3,63 %, dan bisa turun di bawah 3 % di 2023. Berbagai kajian ingatkan bahaya Dutch desease atau ketergantungan berlebih pada SDA sebagai paradox keunggulan komparatif yang menggerogoti daya saing jangka panjang. UNCTAD 2019 menyebut, 10 tahun terakhir kontribusi Indonesia di rantai pasok global menurun. Deindustrialisasi yang terjadi ancam prospek jangka panjang pertumbuhan ekonomi, dan memerangkap Indonesia dalam jebakan negara berpendapatan menengah. (Yoga)


Nilai Ekonomi Kereta Cepat

24 Dec 2021

Mulanya kereta adalah pilihan pergerakan manusia dan barang / logistik berjarak sedang dan menengah jauh. Saat ini Indonesia sedang menyelesaikan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Teknologi kereta yang maju telah mengatasi masalah kecepatan, bahkan teknologi magnet levitation (mag-lev) menawarkan kecepatan lebih dari 500 km/jam meski belum jadi kecepatan kendaraan komersial. Saat ini rata-rata kecepatan kereta cepat komersial 200-350 km/jam, bahkan di China hingga 380 km/jam. Kehadiran kereta cepat mempersingkat waktu perjalanan penumpang, dan lebih unggul dari moda transportasi udara karena dapat langsung menusuk jantung kota yang jadi asal atau tujuan akhir, sementara transportasi udara membawa penumpang ke bandara yang berjarak jauh dari jantung kota.

Untuk mempertahankan kecepatan tinggi dengan aman, butuh safety issues ketat sehingga teknologi kereta cepat memiliki biaya investasi pembangunan, operasi, dan perawatan tinggi sehingga financial internal rate of return (FIRR), tak mampu menjawab kelayakan dalam memilih kereta cepat. Kereta cepat, sebagai moda transportasii harus jadi bagian total system transportasi yang terintegrasi secara moda dan jaringan seamless transportation. Seyogianya relevansi pilihan atas moda kereta cepat, yang tak murah juga memperhitungkan aspek tereduksinya perjalanan manusia yang tergantikan oleh aktivitas berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kereta cepat Jakarta-Bandung, sebagai pengalaman pertama (unprecendented project), perlu dikawal dengan cermat (Yoga)


Peningkatan Kinerja Dagang, Ekspor Sasar 58 Negara

24 Dec 2021

278 Perusahaan dari 28 provinsi melakukan ekspor serempak senilai USD 2,44 miliar, setara 35,03 triliun ke 58 negara, menandai berlanjutnya kontribusi ekspor bagi pemulihan ekonomi nasional. Mendag Muhammad Lutfi (23/12)dalam pelepasan di Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Krawang International Industrial City (KIIC) menjelaskan ekspor Indonesia sampai November 2021 menembus USD 209,6 miliar, tertinggi dalam sejarah, melampaui rekor 2011, USD 203 miliar. Kemendag terus memotifasi pelaku usaha berani mengeksplorasi pasar di kawasan emerging market dan pasar non tradisional, juga optimasi potensi ekspor ke Afrika, Asia Selatan, Eropa timur dan negara-negara Oceania.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi memerinci, 54 perusahaan yang berpartisipasi adalah UMKM dengan ekspor USD 5,56 juta atau Rp 79,7 miliar. Produk yang dikirim UMKM diantaranya produk perikanan dan kelautan, furniture, kerajinan tangan, produk dekorasi rumah, makanan olahan, rempah serta tekstil dan produk tekstil. 224 perusahaan non-UMKM atau 81 % mengekspor USD 52,43 miliar, setara 54,9 triliun. Dari 58 negara tujuan, 87 % didominasi ekspor ke pasar tradisional , sedang 13 % merupakan negara non tradisional seperti Tonga, Kolombia, Pakistan, Kamboja, Afsel, Maladewa dan negara kawasan Oceania. (Yoga)