Paradoks Bonanza Komoditas
Hingga akhir November 2021, pendapatan negara mencapai 97,5 % target Rp 1.743,6 triliun dan diyakini melebihi target di akhir tahun. Semua pos penerimaan tumbuh positif, penerimaan pajak sudah 88 %, penerimaan bea cukai 108 %, dan PNBP 128 % target. Ekspor catat rekor tertinggi pada Agustus dan terjadi surplus neraca dagang sejak Mei 2020. Membawa kita keluar dari tekanan fiskal sejak pandemi, namun peringatan muncul untuk tak larut dalam euforia, karena bonanza penerimaan ini disumbangkan tingginya harga komoditas. Seiring peningkatan penerimaan negara, defisit APBN ditekan dari 5,73 % PDB pada Oktober 2021 jadi 3,63 %, dan bisa turun di bawah 3 % di 2023. Berbagai kajian ingatkan bahaya Dutch desease atau ketergantungan berlebih pada SDA sebagai paradox keunggulan komparatif yang menggerogoti daya saing jangka panjang. UNCTAD 2019 menyebut, 10 tahun terakhir kontribusi Indonesia di rantai pasok global menurun. Deindustrialisasi yang terjadi ancam prospek jangka panjang pertumbuhan ekonomi, dan memerangkap Indonesia dalam jebakan negara berpendapatan menengah. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi MakroPostingan Terkait
Meningkatkan Pendapatan dari Pajak Digital
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Potensi Lonjakan Rasio Utang perlu Diwaspadai
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023