Ekonomi
( 40465 )Pendapatan MRT Jakarta Rp 453,8 Miliar
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda) Farchad Mahmud, Selasa (1/3), menyatakan, capaian pendapatan nonfare box atau nontiket MRT pada 2021 sebesar Rp 453,8 miliar. Pendapatan nontiket didapat, antara lain, dari periklanan luar dan dalam stasiun, kolaborasi pelayanan telekomunikasi, hak penamaan stasiun, kerja sama sistem pembayaran, serta pengembangan bisnis ritel. (Yoga)
Relasi Ekonomi Desa-Kota
Masyarakat perdesaan yang berperan sebagai produsen biasanya penghasil komoditas pertanian karena 82 % desa di Indonesia hidup dari sektor pertanian. Membicarakan relasi ekonomi penduduk perdesaan dan perkotaan dilihat dari seberapa besar nilai barang dan jasa serta faktor produksi yang mengalir dari desa ke kota, dan sebaliknya, dari kota ke desa. Hampir semua barang yang diperdagangkan di warung desa pertanian datang dari luar desa atau hasil industri di kota, antara lain, rokok, sabun, minyak goreng, gula, makanan kecil, mi instan, air dan minuman kemasan, pupuk, serta benih padi. Satu-satunya barang ”hasil produksi desa” adalah beras. Posisi tawar warga desa yang lebih rendah menyebabkan relasi ekonomi desa-kota timpang. Bisa jadi hal itu penyebab tingkat kemiskinan di desa selalu lebih tinggi daripada di perkotaan.
Kesejahteraan penduduk perdesaan dapat ditingkatkan dengan menyelesaikan problem rendahnya posisi tawar mereka dibandingkan warga perkotaan. Sebagai konsumen, petani dapat memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian secara mandiri, misalnya menghasilkan pupuk (pupuk kompos) dan benih sendiri. Selain meningkatkan kedaulatan, faktor produksi buatan sendiri biasanya menghasilkan produktivitas lebih tinggi. Sebagai produsen, petani dan nelayan di perdesaan dapat membentuk kelompok atau koperasi yang memperjuangkan kepentingan mereka, seperti menjaga harga produk tidak jatuh berlebihan ketika panen tiba. Upaya menaikkan posisi tawar ini tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk desa,tetapi juga demi keadilan dan kesetaraan dalam relasi ekonomi antara penduduk perdesaan dan warga perkotaan. (Yoga)
Masih Ada Kendala dalam Pendanaan Ekonomi Hijau
Laporan Net Zero Investmentin AsiaThird Edition yang dirilis Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) Kamis (24/2) menyebutkan sejumlah hambatan pendanaan atau investasi ekonomi hijau untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050, antara lain, kurangnya instrumen untuk mengukur dampak hijau (45 % responden), kurangnya permintaan klien akan investasi hijau (30 %), dan peluang yang ada tidak sebanding dengan risiko karena pendanaan jangka panjang (25 %). Chief Executive Officer AIGCC Rebecca Mikula-Wright mengatakan, ”Perlu terus didorong komitmen dan kerangka kerja global untuk mempercepat peningkatan transisi menuju nol emisi karbon”.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah (28/2) menjelaskan, dalam konteks Indonesia, tantangan utama investasi atau pendanaan ekonomi hijau adalah masih belum luas dan meratanya pemahaman soal ini, proyek-proyek di sektor ini pun masih sangat terbatas. Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan berkata, Bank Mandiri berkomitmen memberikan pembiayaan lanjutan di sektor lingkungan, sosial, dan tata kelola (environtmental, social, and governance/ESG) melalui repurchase agreement (Repo). Upaya mendorong ekonomi hijau juga dilakukan BI dengan mendukung Asian Green Bond Fund yang diluncurkan Bank for International Settlements (BIS), organisasi kerja sama antarbank sentral. (Yoga)
Prioritas Kuota untuk Nelayan Kecil
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota akan memprioritaskan nelayan kecil. Kuota dialokasikan untuk nelayan kecil terlebih dulu, lalu sisanya untuk badan usaha dan koperasi. Dirjen Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini (27/2), mengatakan, kuota diperuntukkan baik bagi nelayan lokal, tujuan nonkomersial seperti penelitian dan rekreasi, maupun industri. (Yoga)
Di Bawah Bayang-Bayang Lonjakan Inflasi Tinggi
Siap-siap menghadapi lonjakan inflasi tinggi. Setelah harga pangan terkerek dalam beberapa waktu terakhir, kini harga minyak, gas bumi dan komoditas energi lain makin terkerek akibat perang Rusia-Ukraina. Harga minyak mentah jenis brent, misalnya, sempat menyentuh level US$ 105,07 per barel pada perdagangan Senin (28/2), sekaligus level tertinggi sejak tahun 2008. Pukul 21.00 WIB kemarin, harga brent turun tipis ke US$ 101,01 per barel. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengakui, kita masih dibayangi inflasi tinggi. Untuk itu, BI akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kelancaran suplai bahan pokok.
Perpanjangan PPKM Jawa-Bali
Pemerintah kembali memutuskan memperpanjang periode Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di luar wilayah Jawa-Bali untuk periode 1-14 Maret 2022. Menteri Koordinator Perekonomian sekaligus ketua KPCPEN dan Koordinator PPKM untuk wilayah luar Jawa-Bali Airlangga Hartanto menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan hasil penilaian beberapa indikator tren lonjakan pandemi Covid-19 dan Level Asesmen Situasi Pandemi.
Safe Haven Bisa Jadi Pilihan Saat Ada Gejolak Geopolitik
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina mempengaruhi pergerakan berbagai mata uang dunia. Kurs dollar Amerika Serikat (AS) misalnya meroket lantaran mata uang ini menjadi buruan lantaran pelaku pasar memanfaatkan mata uang ini sebagai safe haven. Investor bisa memanfaatkan volatilitas di pasar valuta asing (valas) akibat kisruh Rusia Ukraina ini untuk mendulang untung. Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, perang Rusia dengan Ukraina membuat mata uang safe haven seperti yen (JPY) dan franc Swiss (CHF) diburu. CHF dan JPY berpotensi menguat terhadap USD. Selain tersangkut efek geopolitik, mata uang euro dan poundsterling ramai dipasang jual oleh investor karena bank sentral dua negara tersebut cenderung dovish. Faisyal memprediksi target pairing EUR/USD di 1,0800. Sedangkan, harga GBP/USD berpotensi mengarah ke 1,2700.
Lampu Kuning Utang Korporasi
Korporasi nasional perlu waspada perihal pengelolaan utang. Pasalnya, menurut International Monetary Fund (IMF), Indonesia termasuk kategori negara dengan tingkat utang korporasi yang tinggi. Laporan IMF berjudul Policy Options for Supporting and Restructuring Firms Hit by the Covid-19 Crisis itu menyatakan korporasi di Indonesia memiliki sejumlah kerentanan yang berisiko mengarah ke pailit. Kerentanan itu mengacu pada enam tolok ukur, yakni persentase return of asset, leverage ratio, interest coverage ratio, cash ratio, utang berisiko, dan peringkat investasi perusahaan. Dari berbagai indikator tersebut, kerentanan yang paling tinggi ada pada interest coverage ratio (ICR) alias rasio cakupan bunga. ICR merupakan rasio antara utang dan profitabilitas yang dapat menjadi ukuran seberapa mudah perusahaan membayar bunga atas utangnya.
Faktanya, kendati menghadapi kerentanan yang cukup tinggi, korporasi nasional masih agresif memburu dana segar, salah satunya melalui penerbitan surat utang baik untuk ekspansi maupun refinancing. Menanggapi dinamika tersebut, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyarankan kepada pemerintah untuk mendorong perbankan, khususnya pelat merah untuk memberikan fasilitas keringanan beban utang korporasi. Di antaranya layanan debt to equity swap, menukar utang dengan saham, penjadwalan ulang pembayaran utang, hingga meringankan beban bunga utang.Impian Makmur Bersama di Indo-Pasifik
Perancis sebagai ketua bergilir Uni Eropa menginisiasi pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, UE, dan sejumlah negara Indo-Pasifik di Paris. Menlu RI Retno LP Marsudi di hadapan peserta forum mengatakan, Indonesia menyadari sepenuhnya pentingnya pertumbuhan Indo-Pasifik bagi perekonomian dunia. Namun, tanpa perdamaian dan stabilitas dan tanpa menghormati hukum internasional, semua potensi itu hilang dan tidak ada gunanya. Menlu Retno menyadari, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memandang Indo-Pasifik. Namun, berbagai cara pandang itu merupakan bukti adanya kepentingan yang menyatu dalam mempromosikan stabilitas sekaligus mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Di tengah dinamika itulah, menurut dia, semakin mendesak sifatnya untuk menyinergikan berbagai inisiatif tersebut.
Sebagaimana pidato Menlu AS Antony J Blinken, di UI Desember Tahun lalu, “Indo-Pasifik adalah kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Indo-Pasifik adalah rumah bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Tujuh dari 15 ekonomi terbesar ada di kawasan ini”. UE pun meningkatkan keterlibatan strategisnya di kawasan vital Indo-Pasifik itu dengan berkontribusi pada stabilitas kawasan, keamanan, kemakmuran, dan pembangunan berkelanjutan Indo-Pasifik, sejalan dengan prinsip demokrasi, supremasi hukum, hak asasi manusia, dan hukum internasional, kata Menlu Perancis Jean-Yves Le Drian pada konferensi pers penutupan forum di Paris itu. Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Josep Borrell mencatat ”dialog khusus” yang sudah berlangsung lama antara UE dan China. Ia menekankan pentingnya kawasan Indo-Pasifik layaknya ”aorta” bagi Eropa dengan 40 % perdagangan UE melewati perairan kawasan itu.
IMF, Bank Dunia, Mengingatkan Dampak Global dari Perang Ukraina
Para pemimpin Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) mengisyaratkan pihaknya siap membantu Ukraina. Dua kreditor internasional terus mengingatkan bahwa invasi Rusia akan berdampak pada pemulihan ekonomi global. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan dirinya sangat prihatin tentang dampak pertempuran terhadap rakyat Ukraina. Dengan nada memperingatkan, ia menulis di media sosial Twitter bahwa konflik ini menambah resiko ekonomi yang signifikan bagi kawasan dan dunia. Presiden Bank Dunia David Malpas mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa pihaknya menilai tindak kekerasan yang mengejutkan dan adanya korban jiwa adalah hal yang mengerikan. "Kami siap memberikan dukungan segera ke Ukraina dan sedang mempersiapkan opsi untuk dukungan tersebut, termasuk pembiayaan cepat," kata Malpass,Kamis (24/2). Joe Biden mengumumkan sanksi-sanksi keras terhadap Rusia, termasuk pembekuan aset bank-bank dan pemotongan ekspor teknologi tinggi ke negara itu, berkoordinasi dengan Eropa. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









