;
Kategori

Ekonomi

( 40753 )

Penjualan Eceran Makin Melaju

10 Aug 2022

JAKARTA – Kinerja penjualan eceran pada Juli 2022 diprediksi melanjutkan peningkatan, tercermin dari perkiraan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang sebesar 204,9 atau tumbuh 8,7% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini menunjukkan tren yang makin melaju dibandingkan dua bulan sebelumnya yakni 2,9% (yoy) dengan IPR 234,1 pada Mei 2022 dan 4,1% (yoy) dengan IPR 206,6 pada Juni 2022. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menjelaskan, peningkatan itu terutama didukung oleh kenaikan penjualan subkelompok sandang yang tumbuh 49,5% (yoy), kelompok bahan bakar kendaraan bermotor melonjak 66,9% (yoy), serta suku cadang dan aksesori naik 34,6% (yoy). Peningkatan terjadi di antaranya di Banjarmasin sebesar 24,3% (yoy), Jakarta 11,4% (yoy), dan Makassar 7,7% (yoy). “Secara bulanan, penjualan eceran Juli 2022 diperkirakan membaik menjadi -0,8% (mtm) dari bulan sebelumnya -11,8%. Ini didorong oleh peningkatan penjualan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor serta kelompok barang budaya dan rekreasi,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis pada Selasa (9/9/2022), terkait hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru yang digelar bank sentral. (Yetede)

Kemendag Amankan Produk Baja Senilai Rp41,6 Miliar

10 Aug 2022

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) mengamankan sementara produk baja yang diduga tidak memenuhi persyaratan mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). Produk baja yang diamankan berupa baja lembaran lapis seng (BjLS) dan galvanized steel coils yang digunakan sebagai bahan baku, serta galvanized steel coils with alumunium zinc alloy (BjLAS) dengan berat sekitar 2.128 ton senilai Rp 41,68 miliar.  Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menerangkan, pihaknya merespon adanya informasi maraknya importasi bahan baku BjLS dan BjLAS asal Tiongkok, serta peredaran produk BjLS tidak memenuhi kualitas yang dipersyaratkan secara teknis. Setelah diuji, produk-produk tersebut dinyatakan tidak memenuhi ketentuan SNI, yakni SNI 07-2053-2006 dan SNI 4096:2007. “Produk baja yang diamankan tercatat seberat 2.128 ton dengan nilai mencapai Rp 41,68 miliar,” ungkap Mendag Zulhas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/8/2022). (Yetede)

Ekuitas Waskita Beton Berbalik Positif Rp 2,5 T

10 Aug 2022

JAKARTA - PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) membukukan nilai ekuitas positif sebesar Rp 2,5 triliun pada akhir semester I-2022. Capaian ini meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir 2021 yang ekuitasnya negatif Rp 2,9 triliun. Director of Finance & Risk Management Asep Mudzakir mengatakan, perbaikan ekuitas merupakan salah satu target prioritas perseroan dalam program pemulihan fundamental keuangan. Sebab, besaran ekuitas menjadi indikator kesehatan struktur permodalan perusahaan. “Sebagai perusahaan manufaktur dengan skema job order, ekuitas positif menjadi salah satu syarat bagi perseroan untuk mengikuti berbagai kegiatan tender proyek baik pemerintah, BUMN, maupun swasta. Dengan posisi ekuitas positif tersebut, maka WSBP dapat berpartisipasi dalam tender proyek dari pasar-pasar non Waskita Group,” jelas Asep dalam keterangan resmi, Selasa (9/8/2022). Ekuitas yang positif juga bakal mendukung strategi perseroan dalam meningkatkan pangsa pasar. Menurut Asep, positifnya ekuitas WSBP merupakan implikasi dari putusan homologasi (perjanjian perdamaian) yang disahkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa, (28/6/2022).

Ekspektasi Inflasi Melambat

10 Aug 2022

Proyeksi konsumen Amerika Serikat (AS) terhadap inflasi dilaporkan mengalami penurunan secara signifikan pada Juli 2022. Didorong merosotnya harga BBM dan keyakinan bahwa harga makanan serta rumah juga akan surut di masa depan. Hal ini terungkap dalam hasil bulanan Survei Ekspektasi Konsumen dari The Federal Reserve (The Fed) New York yang dilansir CNBC pada Selasa (9/8). Menurut survei itu, responden memperkirakan inflasi melaju pada kecepatan 6,2% selama tahun depan dan mencapai 3,2% untuk tiga tahun ke depan. Berdasarkan standar-standar historis angka-angka itu masih sangat tinggi, tetapi angka-angka tersebut menandai penurunan besar dari hasil survei masing-masing pada Juni 6,8% dan 3,6%. Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat,
hingga Juni harga pangan menunjukkan kenaikan 10,4% selama setahun terakhir. Harga itu diprediksi masih naik 6,7% selama 12 bulan ke depan, namun angkanya mengalami penurunan dari survei Juni sebesar 2,5 poin persentase – yang diklaim sebagai penurunan terbesar dalam rangkaian data sejak Juni 2013. (Yetede)

Perlambatan Permintaan Rugikan Eksportir Asia

10 Aug 2022

SINGAPURA – Kepala ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann mengatakan bahwa para eksportir di Asia bakal menghadapi tantangan dan kerugian signifikan karena melambatnya permintaan dari pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam beberapa bulan mendatang. “Produsen-produsen di Eropa sudah mundur cukup signifikan, yaitu di Jerman. Ingat bahwa Eropa adalah pasar ekspor utama bagi eksportir Asia. Kami juga memperkirakan pada dasarnya pengiriman yang terjadi pada semester kedua tahun ini, yang melengkapi poros dalam pengeluaran AS yang jauh dari barang. Perlambatan AS dan Eropa akan menjadi hambatan bagi eksportir Asia,” ujar Neumann kepada CNBC pada Senin (8/8). Ia menambahkan, perlambatan ekonomi di Tiongkok akan semakin memperburuk masalah yang dihadapi eksportir di kawasan itu, “Data perdagangannya sangat jelas menunjukkan pelemahan permintaan domestik ini. Tiongkok adalah pasar ekspor besar ketiga yang benar-benar perlu kita dukung – yang sepertinya juga tidak benar- benar meningkat.  Dari perspektif itu, resesi perdagangan tidak dapat dikesampingkan pada saat ini,” kata dia. (Yetede)

Inflasi Mencekik, Sukuk Ritel Terbaru Bisa Dilirik

09 Aug 2022

Para pengabdi obligasi ritel, bersiaplah! Bulan ini, ada satu obligasi ritel yang dijadwalkan akan ditawarkan ke publik, yakni Sukuk Ritel seri SR017. Seri ini menjadi surat berharga negara (SBN) ritel keempat yang diterbitkan pemerintah tahun ini. Jika berdasarkan jadwal awal tahun, SR017 akan ditawarkan mulai 19 Agustus hingga 14 September 2022. Namun Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Dwi Irianti belum mengonfirmasi penerbitan ini akan sesuai jadwal atau tidak. Toh, para analis sepakat menyebut obligasi negara ritel ini akan menjadi instrumen investasi yang menarik. Direktur Panin Asset Management Rudiyanto berpendapat, tinggi tidaknya permintaan dari SR017 akan tergantung kupon yang ditawarkan. Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, SR017 jauh lebih menarik dibandingkan dengan deposito. Apalagi tenor sukuk ritel biasanya tidak terlalu panjang, sekitar tiga tahun. Wawan menyebut, SR017 akan menarik bila mematok kupon setara dengan SBN ritel pendahulunya, yakni SBR011, yang menawarkan bunga 5,5%. Wawan sepakat inflasi tinggi memungkinkan investor akan berspekulasi jika bunga yang diberikan oleh pemerintah bisa lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi jika ternyata pemerintah tidak memberi bunga yang menarik, maka investor yang menjual sukuk ritel di tengah jalan akan tinggi.

Risiko Proteksionisme Makin Meningkat

09 Aug 2022

Ketegangan politik yang terus memanas antara China dan Taiwan dikhawatirkan menimbulkan risiko baru bagi perekonomian global. Sebab itu, pemerintah terus mewaspadai kondisi ini dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat, ketegangan China dan Taiwan berpotensi menimbulkan proteksionisme perdagangan oleh negara-negara dunia seiring geopolitik global yang makin terpecah. Dinamika politik ini mengancam perekonomian semua negara di dunia yang tiga dekade terakhir membaik. "Proteksionisme kemungkinan akan semakin besar, blok akan semakin menguat. Hubungan investasi perdagangan tidak lagi berdasarkan kepada flow of goods dan capital serta manusia yang bebas namun sudah diperhitungkan dari aspek geopoliik," kata Sri Mulyani, Senin (8/8).

RALS Mengejar Kenaikan Pendapatan 20%

09 Aug 2022

Di tengah kenaikan inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) masih optimistis bisa meraup pertumbuhan penjualan sebesar 20% hingga akhir 2022. Ini seiring dengan rencana RALS menambah dua gerai baru lagi pada tahun ini. Menurut Vice President Director RALS Jane Melinda Tumewu, kuartal III-2021, pembatasan sosial berimbas pada operasional sejumlah gerai RALS. Dus, "Ramayana akan membuka dua gerai baru di semester II-2022 dan membuka gerai yang sempat ditutup sementara," ujarnya kepada KONTAN, Senin (8/8).

ADU GESIT BANK JARING DANA

09 Aug 2022

Perebutan dana masyarakat oleh bank menengah dan kecil diprediksi kian sengit seiring dengan pengetatan likuiditas yang berpotensi terjadi. Apalagi, Bank Indonesia terus melanjutkan normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan ‘setoran’ giro wajib minimum (GWM) perbankan. Tak ayal, penyesuaian suku bunga simpanan diramal menjadi andalan bank-bank menengah dan kecil untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Gelagat itu juga sudah terdeteksi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dalam laporan Indikator Likuiditas Juli 2022, menyebutkan bahwa bank berpotensi mulai menaikkan suku bunga rupiah dan suku bunga valuta asing untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Tantangan likuiditas terutama bakal dirasakan oleh bank di kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dan KBMI 2. Dua kategori bank itu menghimpun DPK sebesar Rp1.781,24 triliun atau 23,8% dari total DPK bank umum yang mencapai Rp7.485,69 triliun per April 2022. Saat dimintai tanggapan, Direktur PT Bank Oke Indonesia Tbk. Efdinal Alamsyah mengatakan bahwa sebagai bagian dari ekosistem perbankan, perseroan akan mengikuti tren yang berkembang di pasar. “Kalau ada kecenderungan kenaikan suku bunga DPK, kita juga harus melakukan hal yang sama sama,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/8).


RENCANA KERJA PELINDO : Volume Angkutan Laut Kerek Kinerja Pelabuhan

09 Aug 2022

Tingginya volume angkutan laut domestik sepanjang semester I tahun ini menumbuhkan optimisme di kalangan pelaku industri jasa pelabuhan, termasuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Sepanjang semester I tahun ini, volume angkutan laut domestik mencapai 26,75 juta ton, atau tumbuh 1,33% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo Ali Mulyono mengatakan bahwa perseroan optimistis kinerja Pelindo akan terus meningkat seiring dengan pulihnya kondisi perekonomian nasional. “Kami optimistis kinerja Pelindo akan terus meningkat seiring dengan kondisi perekonomian yang semakin membaik, serta transformasi yang terus berjalan di dalam perusahaan,” katanya Senin (8/8). Ke depan, Pelindo menargetkan pertumbuhan positif hingga akhir 2022, baik untuk arus peti kemas maupun non-peti kemas. “Dengan target arus peti kemas sebesar 17,3 juta TEUs dan non-peti kemas sebesar 144,3 juta ton,” imbuh Ali. Adapun, volume angkutan laut domestik juga tercatat tumbuh positif secara bulanan, yakni sebesar 6,89% dibandingkan dengan Mei 2022 yaitu 25,02 juta ton.