Ekonomi
( 40753 )Dana Asing Masuk Lagi ke Pasar Keuangan
Setelah sempat terjadi capital outflow akibat sentimen kenaikan suku bunga The Fed, dana asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan Tanah Air. Di bursa saham, sepekan terakhir asing melakukan net buy Rp 4,71 triliun di pasar reguler.
Investor asing juga mulai melakukan aksi beli di pasar obligasi. Ini tercermin dari naiknya kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), per 8 Agustus, jumlah kepemilikan asing di SBN Rp 761,96 triliun, naik hingga Rp 10,72 triliun dari posisi akhir Juli, Rp 751,24 triliun.
Insentif Impor Alat Kesehatan Berakhir
Pemerintah bakal mengevaluasi pemberian insentif pajak impor alat kesehatan (alkes) untuk penanganan pandemi Covid-19. Insentif pajak ini akan berakhir di 31 Desember 2022. Penghentian ini sejalan meredanya kasus positif Covid-19.
Pemerintah memberikan insentif pajak untuk impor alat kesehatan selama pandemi Covid-19 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92 Tahun 2021 dan PMK Nomor 34 Tahun 2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai serta Perpajakan atas Impor Barang untuk Keperluan Penanganan Pandemi Covid-19. Beleid tersebut diperpanjang hingga 30 Juni 2022 yang tertuang dalam PMK Nomor 226 Tahun 2021. Dan kembali diperpanjang hingga 31 Desember 2022 melalui 113 Tahun 2022.
Perlu Dana Pemda Tekan Inflasi Pangan
Inflasi kini jadi momok pemulihan ekonomi. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan pangan.
Untuk itu Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tengah berupaya menekan inflasi pangan domestik. Sebab inflasi pangan Juli 2022 sampai berada di level 10,32% secara tahunan. Inflasi tersebut merupakan inflasi pangan tertinggi selama tahun 2022. Gubernur BI Perry Warjiyo, saat kick off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8) berharap inflasi pangan bisa ditekan di level 6% bahkan hingga 5% pada tahun ini.
Kinerja Tertekan Penurunan Daya Beli
Meskipun trafik pengunjung di mal kembali naik, kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) masih lesu. Emiten perkakas rumah tangga ini membukukan penurunan pendapatan sebesar 2,36% menjadi Rp 3,31 triliun per akhir Juni 2022.
Sejalan dengan itu, laba bersih ACES menyusut 12,47% year on year (yoy) menjadi Rp 242,40 miliar pada semester I-2022. Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya memperkirakan, penurunan kinerja ACES berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Bahkan, laba bersih ACES diramal akan turun 28,8% di akhir 2022. Analis Ciptadana Sekuritas Robert Sebastian mengungkapkan, sebagian besar segmen pendapatan ACES mengalami penurunan.
Perbankan Berupaya Semakin Efisien
Perbankan, terutama bank-bank besar, mampu mendorong efisiensi biaya pada semester I 2022. Seiring dengan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih tertahan dan likuiditas yang masih cukup longgar.
Hingga Juni 2022, biaya dana atau cost of fund perbankan turun cukup besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini pula salah satu yang mendorong kinerja bank-bank besar tumbuh tinggi.
Sinar Mas dan Lazada Resmi Memiliki Dana
Kongsi di dompet digital Dana semakin banyak. Tidak main-main, Dana berhasil mengumpulkan konglomerasi keuangan digital.
Dana mengumumkan penyelesaian transaksi investasi terbaru dari Sinar Mas dan perusahaan e-commerce, Lazada Group. Masuknya kedua nama ini menambah lagi nama perusahaan yang sudah ada di dalam ekosistem Dana. Vince Iswara, CEO & Co-Founder Dana Indonesia meyakini, melalui dukungan kedua investor dapat memperkuat peningkatan layanan keuangan digital bagi masyarakat Indonesia. Lazada juga meyakini masuknya mereka sebagai langkah untuk bisa melengkapi jejaring bisnis mereka selama ini. Sinar Mas masuk ke Dana ini melalui anak usahanya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk.
Kebijakan Bunga Rendah
Bunga deposito yang rendah sangat penting agar masyarakat jangan terbuai atau terdorong untuk hidup dengan menikmati bunga. Masyarakat yang mempunyai dana harus hidup dari keuntungan dengan cara berusaha atau masuk ke pasar modal di bursa. Dengan cara itu, ekonomi akan lebih produktif dan membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Sekarang kita juga menghadapi tantangan krisis ekonomi dunia yang pasti akan berimbas pada ekonomi nasional. Pemerintah menghadapi pilihan kebijakan yang tidak mudah. Pertama, menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga dengan cara subsidi energi yang besar Rp 502 triliun. Kalau ditambah subsidi lain, seperti pupuk dan pangan, bisa Rp 550 triliun, yang berarti 20 % APBN 2022.
Kedua, menjaga fiskal dengan subsidi yang tidak terlalu tinggi dengan menaikkan harga BBM dan mengganti dengan subsidi ke orang tak mampu dengan BLT sehingga lebih tepat sasaran. Akibatnya tentu inflasi akan naik karena biaya transport akan naik, diikuti harga barang-barang yang besar volumenya, tapi fiskal lebih stabil dengan mengurangi defisit dan pinjaman sehingga anggaran pembangunan bagi masyarakat lebih besar. Pilihan kebijakan yang baik dan tingkat bunga yang lebih rendah akan memberi manfaat pada daya saing dan ketahanan ekonomi nasional menghadapi kesulitan ekonomi dunia yang melanda kita. (Yoga)
EKONOMI HIJAU, Dari Utopia ke Realitas
Energi hijau adalah sebutan untuk sumber energi yang berasal dari bahan-bahan yang tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Industri hijau merupakan aktivitas produksi yang selaras dengan kelestarian. Sementara ekonomi hijau merupakan payung, yang menaungi semua kegiatan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan. Berbeda dengan model ekonomi konvensional selama ini yang secara praktik tidak memprioritaskan kelestarian, gagasan ekonomi hijau justru mengedepankan adanya keberlanjutan, tidak hanya dari faktor ekonominya, tetapi juga dua faktor lain, yakni sosial dan lingkungan.
Berdasarkan kalkulasi Bappenas, untuk mendukung capaian pembangunan emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060, per tahun dibutuhkan dana setara 6 % PDB. Dengan acuan PDB 2021 yang Rp 16.970,8 triliun, setidaknya butuh dana Rp 1.000 triliun per tahun. Kemampuan APBN tidak mencukupi untuk pembiayaan itu. Dibutuhkan sinergi antara swasta dan pemerintah, bahkan bantuan organisasi internasional, agar pengembangan ekonomi hijau dapat berjalan secara optimal.
Dari sisi industri, kesadaran mengurangi emisi dan bertransisi ke ekonomi hijau makin meningkat seiring tuntutan persaingan di rantai pasok global. Permintaan pasar global membuat perusahaan nasional yang berorientasi ekspor menyadari urgensi dekarbonisasi dan bertransisi ke ekonomi hijau. Pelaku industri yang tidak mengurangi emisi karbon akan sulit bersaing di rantai pasok global. Saat ini pemerintah sudah menerbitkan Indeks Ekonomi Hijau nasional untuk memastikan bahwa proses transisi ekonomi di Tanah Air menuju ekonomi hijau berada di jalur yang tepat. (Yoga)
Stabilitas Pasar Modal dan Keuangan Dijaga
OJK bersama Self Regulatory Organizations (SRO), yakni PT Bursa Efek Indonesia, PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia serta pelaku industri pasar modal berkomitmen untuk bersama-sama menjaga stabilitas pasar modal dan keuangan. Di tengah meningkatnya volatilitas perekonomian global, pasar modal Indonesia tetap mencatat pertumbuhan. Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam acara puncak peringatan 45 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia yang mengusung tema ”Menuju Ekonomi Tangguh, Stabil, dan Berkelanjutan” di BEI Jakarta, Rabu (10/8).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi menambahkan, peringatan 45 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap industri pasar modal sekaligus menjadi sarana untuk mengomunikasikan pencapaian dan peranan penting pasar modal dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. Dalam kesempatan terpisah, Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, menjelaskan, pendalaman pasar dilakukan dari berbagai sisi, baik sisi produk maupun investor. BEI akan terus berkolaborasi dengan sejumlah pihak untuk mencapai pertumbuhan investor yang merata, juga memberikan edukasi. ( Yoga)
Minim Variasi Produk, Pasar Modal Indonesia Dinilai Kurang Atraktif
JAKARTA -- Meski sudah 45 tahun diaktifkan kembali, pasar modal Indonesia dinilai kurang atraktif, terutama bagi pemodal besar dan investor asing. Salah satu penyebab utama adalah minimnya variasi produk. Hingga saat ini, produk yang dijual masih terbatas pada saham, obligasi, dan reksa dana. Sudah lama kalangan investor dan manajer investasi mengharapkan sejumlah produk turunan dari saham dan obligasi seperti stock futures, stock options, foreign exchange futures, foreign exchange option, dan interest rate futures. Selain minim variasi produk, Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai gagal menjadi filter yang baik untuk mendapatkan emiten berkualitas. Sebagian dari 809 emiten yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (10/08/2022), adalah saham berkapitalisasi kecil, di bawah Rp 5 triliun, yang rawan menjadi saham gorengan. Dari sisi permintaan, jumlah investor baru 9,4 juta. Tidak sebanding dengan jumlah kelas menengah yang sudah mencapai 55 juta atau 20% dari penduduk Indonesia. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









