;
Kategori

Ekonomi

( 40753 )

Harga Produk Terjaga, Kinerja Alfamart Berjaya

03 Sep 2022

Kinerja emiten ritel masih solid meski dihantui kenaikan harga barang. Lihat saja kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Pada semester I-2022, emiten pemilik merek gerai ritel Alfamart ini berhasil meraup pendapatan bersih Rp 47,89 triliun, naik 13,92% dibanding periode yang sama setahun sebelumnya. Rani Wijaya, Corporate Communication General Manager Sumber Alfaria Trijaya, menuturkan, moncernya kinerja perseroan ini pada semester I-2022 didorong masih terjangkaunya harga produk-produk primer yang dibutuhkan konsumen. Rani mengklaim, ini lantaran AMRT menerapkan sejumlah strategi untuk menjaga harga produk. Misalnya, Alfamart berkoordinasi dengan pemasok untuk menjaga ketersediaan produk. Selain itu, menggelar promo rutin agar kenaikan harga bisa dijaga. "Kami terus berupaya mencari pasokan dan pilihan produk dengan harga terjangkau. Jadi, kami bisa terus menyalurkan berbagai bahan makanan pokok," ungkap Rani kepada Kontan, Jumat (2/9). Rani tak menampik, kinerja AMRT ke depan akan menghadapi banyak tantangan. Salah satunya dari fluktuasi harga produk yang berpengaruh kepada end user. Kondisi ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif terhadap bisnis ritel di Tanah Air.

Pelemahan Rupiah Kikis Laba Pebisnis

02 Sep 2022

Rupiah yang lemah dan kenaikan harga komoditas, rupanya tak bersahabat bagi sejumlah korporasi di dalam negeri. Pelemahan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga komoditas mengikis kinerja sejumlah emiten di dalam negeri. Lihat saja catatan kinerja sejumlah emiten saham sepanjang semester I-2022. Emiten saham yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki utang denominasi dollar AS terkena dampak rugi kurs paling signifikan. Emiten saham produsen mi instan merek Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), misalnya, mencatatkan kerugian kurs hingga senilai Rp 1,32 triliun di enam bulan pertama tahun ini. Rugi selisih kurs ini berasal dari obligasi dollar AS yang mencapai 95% dari total utang. Dus, manakala rupiah melemah, sementara harga gandum di pasar dunia melesat, kerugian selisih kurs yang dicatatkan emiten Grup Salim tersebut meningkat. Laba bersihnya pun turut tergerus.

Inflasi Inti 2022 Bisa Menembus 4%

02 Sep 2022

Komponen inflasi inti menjadi penyumbang terbesar Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2022. Bahkan, meski pada Agustus IHK terjadi deflasi, inflasi komponen inti masih naik baik secara bulanan maupun tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2022 terjadi deflasi sebesar 0,21% secara bulanan atau month on month (mom). Alhasil, secara tahunan tercatat inflasi 4,96% year on year (yoy). Dengan andil sebesar 0,24%, komponen inti mencatatkan inflasi 0,38% secara bulanan dan 3,04% yoy. Angka itu lebih tinggi ketimbang Juli 2022 yang tercatat inflasi 0,28% mom dan 2,86% yoy. Menurut Kepala BPS Margo Yuwono naiknya inflasi inti Agustus 2022, sejalan naiknya harga beberapa barang seperti sewa rumah, dan mobil. "Inflasi inti ini mencakup 711 komoditas, dan dengan meningkatnya inflasi inti, menunjukkan permintaan bagus karena daya beli masih baik. Cakupan komoditas komponen ini cukup besar," kata Margo, Kamis (1/9). Apalagi, tingkat inflasi umum tahun 2022 sudah melampaui batas atas target BI dan pemerintah yang sebesar 4% yoy. "Tentu saja, dengan mengontrol harga barang dan jasa ini bisa membantu pemerintah menekan inflasi yang juga bisa memengaruhi daya beli masyarakat," tambahnya.

Menjaga Manufaktur Tak Kendur

02 Sep 2022

Optimisme dunia usaha masih terbaca dari Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia Agustus 2022 lansiran S&P Global yang mencapai 51,7 alias berada di zona ekspansi. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang indeks Juli yang tercatat 51,3. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2022 bahkan mampu melampaui Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing hanya 51,5 dan 47,6. Menurut S&P Global, perusahaan manufaktur di Indonesia mencatat perbaikan lebih kuat pada keseluruhan kondisi bisnis. Hal tersebut didukung oleh produksi yang naik selama tiga bulan berturut-turut, tercepat dalam tujuh bulan terakhir. Kendati demikian, Ekonom S&P Global Market Intelligence Laura Denman mengatakan kepercayaan bisnis secara keseluruhan masih turun pada Agustus 2022 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Lunturnya optimisme ini tak lepas dari masih beratnya tekanan ekonomi akibat harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan yang berpotensi kembali mendorong inflasi. Hal tersebut bisa bermuara pada penurunan daya beli masyarakat sehingga konsumsi turun. Apalagi, realisasi inflasi pada bulan lalu masih parkir di atas target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan yakni 3,5%—4,5%.

Sentimen Inflasi: Target Kredit Bank Tetap Tinggi

02 Sep 2022

Bayang-bayang inflasi yang berpotensi menekan ekonomi tidak mengendurkan target perbankan dalam penyaluran kredit. Permintaan kredit, terutama dari kelompok korporasi, diperkirakan masih terjaga. Data Bank Indonesia mencatat outstanding penyaluran kredit perbankan hingga Juli 2022 mencapai Rp6.143,7 triliun atau naik 10,5% year-on-year (YoY). Angka pertumbuhan kredit ini tercatat yang tertinggi dalam periode yang sama selama 3 tahun terakhir. Keyakinan bank dalam mendorong kredit juga diyakini dari hasil Indikator Likuiditas Bulanan yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 25 Agustus.Kendati perbankan dihadapkan pada kebijakan pengetatan giro wajib minimum (GWM) hingga bulan ini, dampaknya terhadap kondisi likuiditas perbankan relatif terbatas.“Kapasitas bank mendorong pertumbuhan kredit diproyeksikan tetap tinggi,” tulis laporan LPS itu dikutip, Kamis (1/9). Laporan itu juga menyebut peningkatan permintaan kredit akan menjadi tantangan bagi bank dalam mengelola likuiditasnya sekaligus tetap menjaga partumbuhan kredit yang sehat.Terkait dengan bunga simpanan, LPS memperhatikan suku bunga simpanan diperkirakan akan mulai meningkat secara bertahap, dipengaruhi peningkatan ekspektasi inflasi dan dampak dari perubahan strategi pengelolaan likuiditas bank mengantisipasi kenaikan kredit dan perubahan GWM.

Inflasi di Zona Euro ”Terbang ke Bulan”

02 Sep 2022

Inflasi di zona euro terus meroket dan mencatatkan rekor demi rekor baru. Mengerek naik suku bunga sebagai salah satu obat masih jadi perdebatan di sejumlah negara. Inflasi di zona euro mencapai 9,1  % pada Agustus 2022. Pada Juli, inflasi zona euro mencapai 8,9 %. Inflasi pada Agustus sudah empat kali lebih dari target inflasi 2 %. Bulan depan kemungkinan inflasi di zona euro akan melebihi 10 %. Demikian informasi dari Eurostat, Rabu (31/8). Inflasi di Jerman juga naik ke level tertinggi dalam 50 tahun terakhir, yakni 8,8 % pada Agustus atau naik dari 8,5 % pada Juli.

Pada Agustus, inflasi di Italia sudah mencapai 9 % dan Spanyol 10,3 %. Inflasi di Estonia, Lituania, dan Latvia masing-masing 25,2 %, 21,1 %, dan 20,8 %. Ekonom dari Capital Economics, Jack Allen-Reynolds, mengingatkan, inflasi zona euro bisa di atas 10 % pada akhir 2022. ”Perkembangan itu menjadi dorongan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menaikkan suku bunga,” kata ekonom VP Bank, Thomas Gitzel. Presiden Bank Sentral Jerman Joachim Nagel juga menyatakan perkembangan itu mendorong ECB menaikkan suku bunga. (Yoga)


Pemasar Digital Diminta Bantu UMKM

02 Sep 2022

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki secara terbuka meminta bantuan para pelaku pemasaran digital untuk mengangkat berbagai produk lokal sehingga UMKM bisa berkembang dan naik kelas. ”Saya berharap agar UMKM dibantu untuk bisa masuk ke market online. Kita membutuhkan jagoan-jagoan reseller serta jagoan internet marketers. Banyak UMKM kita yang belum terhubung ke ekosistem digital,” kata Teten dalam pergelaran ”Indonesia Digital Meetup 2022” di Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (1/9). (Yoga)

Ekonomi Syariah Jadi Alternatif Solusi

02 Sep 2022

Ekonomi syariah dapat menjadi alternative untuk mengembangkan masyarakat yang peduli sesama dan lingkungan. Dengan sentuhan teknologi digital, perekonomian syariah diharapkan lebih besar dan mampu bersaing. Menurut Kepala Perwakilan BI Jabar Herawanto, ekonomi keuangan syariah mampu menjadi solusi untuk menghadapi krisis pangan hingga inflasi di Jabar. Dalam temu media menjelang Digital and Sharia Economic Festival (Digisef) di Bandung, Kamis (1/9), Herawanto mengatakan, ekonomi syariah berkonsep kebersamaan dan kesinambungan bagi semua kalangan.

Menurut Herawanto, perekonomian syariah di Jabar berkembang positif, indikatornya ialah peningkatan pembiayaan syariah. Pada triwulan I-2022, penyaluran pembiayaan syariah di Jabar 13,19 %. Pada triwulan II naik menjadi 15,5 %. Berdasarkan Statistik Perbankan Syariah pada April 2022 yang dikeluarkan OJK, sebaran bank umum syariah dan unit usaha syariah terbesar di Indonesia berada di Jabar. Jabar memiliki 64 unit kantor pusat operasional atau kantor cabang bank syariah dari 482 kantor serta 22 unit usaha syariah dari 177 kantor di Indonesia. (Yoga)


Tarif Integrasi Diresmikan Medio September

02 Sep 2022

Dinas Perhubungan DKI Jakarta memastikan sistem pembayaran tarif integrasi angkutan umum perkotaan DKI Jakarta akan resmi diluncurkan pada pertengahan September mendatang. Saat ini, PT JakLingko Indonesia tengah menyempurnakan sistem, baik sistem pembayaran dengan aplikasi maupun alat pembaca kode respons cepat. Kadis Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan hal itu, Kamis (1/9). (Yoga)

Melesat 8.771% Laba Bersih, Bumi Resource Tembus Rp 2,49 T

02 Sep 2022

JAKARTA, ID – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$ 167,7 juta atau sekitar Rp 2,49 triliun pada semester I-2022, terbang jauh 8.726% dari periode yang sama tahun lalu yang sebanyak US$ 1,9 juta. Pendapatan konsolidasi sepanjang semester I-2022 sebesar US$ 3,81 miliar, meningkat 66% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 2,29 miliar. “Pendapatan BUMI naik. (Kenaikan) ini diperoleh dari realisasi kenaikan harga batu bara sebesar 92%,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava dalam keterangan resmi, Kamis (1/9/2022). Beban usaha BUMI periode hingga 30 Juni 2022 adalah US$ 159,5 juta. Ini lebih besar 39% dari periode sama 2021 di US$ 114,4 juta. Sedangkan laba usaha US$ 931, juta pada semester I-2022. Angka itu meningkat 151% dibandingkan semester I-2021 yang berjumlah US$ 370,9 juta. Margin usaha di semester pertama tahun ini meningkat tajam jadi 24,4%, dibanding 16,2% pada semester I-2021. (Yetede)