Ekonomi
( 40498 )Sejahtera di Tengah Perubahan Iklim
Minggu (7/8), Irfan Maulana (24) menyelam di kolam udang PT Nayottama Kelola Laut Indonesia, Tasikmalaya, Jabar, demi memastikan udang, inovasi, dan harapan warga sejahtera tetap hidup. Mengenakan penutup telinga, Irfan belasan kali menceburkan diri ke dasar kolam untuk membuka tutup saluran pembuangan, agar kotoran dan sisa pakan tersedot ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan tertangkap jaring. Dengan begitu, kotoran tidak mencemari ke laut. Irfan membudidayakan udang seperti menjaga manusia. Alasannya, udang membuat warga Cipatujah, Tasikmalaya, ini kini lebih menikmati hidup. Empat tahun lalu, ia sempat merasakan pahit bekerja sebagai ABK di Jepang. ”Tahun 2019, saya dipulangkan karena sakit di tulang ekor. Kalau tidak, saya bisa lumpuh,” ujar Irfan, lulusan SMK ini. Juli 2021, ia mendengar PT Nayottama Kelola Laut Indonesia di dekat desanya membuka lowongan kerja. Meskipun gajinya tak sebesar di Jepang, Rp 7,5 juta per bulan, dia nyaman bekerja di tambak udang. Tidak harus menahan rindu pada keluarga, Irfan mempunyai banyak ilmu baru tentang budidaya udang ramah lingkungan.
Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar mencatat, pada 2021 produksi budidaya udang di provinsi itu 146.576 ton atau 19,08 % produksi nasional. Nilai produksinya lebih dari Rp 7,5 triliun. Selain di pantura Jabar, sentra udang di provinsi itu tersebar di wilayah selatan, yakni di Tasikmalaya dan Garut. Di Jabar selatan, potensi budidaya udang sangat besar. Pencemaran air lautnya belum separah pantura. Di Indonesia, rata-rata memproduksi udang 14-16 ton per ha. Di pantura Jabar, rata-rata 10-12 ton per ha. Di Jabar selatan, bisa 16-20 ton per ha. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, potensi itu terbuka dikembangkan. Selain meningkatkan kesejahteraan warga, keberadaannya memaksimalkan ketersediaan lahan. Ia meyakini, lewat sejumlah inovasi yang sudah diterapkan, seperti akuakultur dan pakan otomatis, Jabar bisa tetap sejahtera di tengah perubahan zaman. Wahyudi Sasprihanto, Direktur Operasional PT Nayottama Kelola Laut Indonesia, sepakat bahwa inovasi menjadi amunisi menghadapi ragam tantangan, terutama iklim dunia. (Yoga)
SIMPANAN NASABAH : BISNIS WEALTH PERBANKAN TUMBUH
Bisnis pengelolaan keuangan di perbankan masih mencatatkan pertumbuhan di tengah tingkat suku bunga simpanan berjangka yang masih relatif rendah. Tren itu juga sejalan dengan makin berkembangnya kebutuhan nasabah terhadap pengembangan aset investasi.
Jika mencermati pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan hingga Juli 2022, masih mencatat pertumbuhan 8,4% year-on-year(YoY). Dari angka pertumbuhan itu, kelompok simpanan berjangka yakni deposito masih mengalami kontraksi 0,3%.Kendati besaran kontraksi menyusut dibandingkan dengan posisi Juni 2022 sebesar 1%, bank masih cenderung untuk ‘melepas’ dana-dana mahal. Dana itu bisa saja masuk ke sejumlah instrumen investasi seperti obligasi, surat berharga, reksa dana, properti, dan lain sebagainya. Salah satu bank yang mencetak pertumbuhan dana kelolaan untuk produk investasi yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Menurut Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani, perseroan senantiasa memperkuat strategi dan mengedukasi terkait pentingnya pengelolaan keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Krisis Biaya Hidup di Inggris Semakin Parah
LONDON, ID – Golongan rumah tangga di Inggris saat ini dihadapkan pada kenaikan tagihan listrik dan gas sebanyak 80% pada Jumat (26/8). Krisis biaya hidup ini semakin buruk pada saat Inggris tak lama lagi memasuki musim dingin. Regulator Kantor Pasar Gas dan Listrik The Office of Gas and Electricity Markets (Ofgem) mengatakan, batas atas harga energinya – untuk menetapkan harga konsumen tanpa kesepakatan tetap dengan pemasok – akan naik mulai 1 Oktober, dari 1.971 poundsterling saat ini menjadi rerata 3.549 pounds (US$ 4.197) per tahun. Kondisi lebih parah diprediksi terjadi pada Januari tahun depan karena Ofgem melanjutkan pembaruan batasannya, dimana tagihan energi rata-rata diperkirakan mencapai 5.000 pounds atau lebih. Ofgem pun menuding penyebab kenaikan batas harganya dikarenakan lonjakan harga gas grosir global pasca pencabutan pembatasan terkait pandemi Covid-19 dan pembatasan pasokan dari Rusia. “Semua orang akan mendapat masalah,” tutur Diane Skidmore (72 tahun), yang tinggal di panti sosial di London selatan dan berpenghasilan 600 pounds sebulan. (Yetede)
Laba Bersih PTPN V Tembus 1,3 Triliun
PEKANBARU, ID – PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) berhasil mencatatkan laba bersih Rp 1,3 triliun untuk tahun buku 2021. Capaian itu merupakan laba tertinggi sepanjang sejarah perusahaan milik negara tersebut berdiri. “Alhamdulillah, buah dari perbaikan yang digesa selama tiga tahun terakhir dapat membawa perusahaan membukukan laba bersih Rp 1,3 triliun. Tertinggi sepanjang sejarah perusahaan berdiri,” kata CEO PTPN V Jatmiko Santosa di Pekanbaru, Riau, kemarin. Dia menyebutkan, angka Rp 1,3 triliun tersebut menyumbang hampir sepertiga dari total laba setelah pajak induk usaha PTPN V yaitu Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) atau PTPN Group pada 2021 sebesar Rp 4,6 triliun, atau melonjak 312,81% dari laba PTPN V tahun sebelumnya. Konsistensi tren positif tersebut tetap berlanjut tahun ini. Pada semester I-2022, PTPN V mencatatkan laba bersih sebesar Rp 781 miliar (unaudited). Angka tersebut meningkat 158% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021. Jatmiko optimistis tahun ini kinerja perusahaan akan lebih baik meski korporasi mengalami pasang surut harga komoditas utamanya yaitu minyak sawit mentah (CPO). “Insya Allah 2022 lebih baik. Dengan dukungan penuh pemegang saham serta dengan sumber daya terbaik, ruang perbaikan serta selalu terbuka, tahun ini kita optimis melampaui capaian 2021," tutur dia. (Yetede)
Cuma Cukup Beli Bumbu
Jakarta- Kenaikan harga pangan yang simultan membuat dampak inflasi mulai terasa. Pengeluaran belanja harian dirasa terus meningkat, terutama oleh para ibu rumah tangga. Rosmaida Tampubolon, warga Jakarta, mengatakan perlu mengeluarkan uang lebih untuk kebutuhan dapurnya. "Beberapa bulan lalu, uang seratus ribu rupiah masih bisa membeli bahan bumbu, cabai, tomat, bawang, sekaligus daging, dan ikan," ujarnya kepada Tempo, kemarin. Dalam beberapa waktu terakhir, perempuan berusia 69 tahun ini melanjutkan, jumlah uang yang sama hanya bisa ia belikan bumbu. Per kemarin, berdasarkan situs web Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga sejumlah komoditas bergerak naik. Diantaranya adalah minyak goreng bermerek yang naik Rp 500 menjadi Rp22.050 per kilogram dari hari sebelumnya. Gula pasir lokal juga naik tipis Rp50 menjadi Rp14.550 per kg. (Yetede)
Kayu Penopang dari Limbah Kayu dan Plastik
Sekilas pandang, instalasi kayu di dinding, lantai, dan perabotan di area presentasi Group Hyundai Motors Indonesia dalam pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2022 tampak normal. Namun, siapa sangka, gerai seluas 45 meter persegi di Hall 1A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City itu dipasangi matrial serupa kayu yang terbuat dari sekam padi dan sampah plastik. DInamai "Sustainability Area", konsep ramah lingkungan itu ditampilkan Hyundai bersama Plana- salah satu entitas pengusung ekonomi daur ulang. Co-founder Plana, Juan Apriliano Chandra, mengatakan ide produksi Plana Wood- nama material kreasi perusahaannya-sudah muncul sejak 2015. "Kami ingin sesuatu yang baru, karena plastik sebenarnya sangat eco-frendly. Lalu ayah dan paman saya mengembangkannya formula matrial Plana Wood," ujar Juan saat bertemu Tempo di pabrik Plana di kawasan Legok, Kabupaten Tangerang, kemarin. (Yetede)
Pebisnis Ancang-Ancang Menaikkan Harga Barang
Spekulasi atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terus bergulir. Demi meredam gejolak di pasar, para pelaku usaha membutuhkan kepastian pemerintah ihwal kebijakan harga Pertalite dan Solar subsidi.
Maklum, wacana kenaikan harga BBM yang terus bergulir tapi tak kunjung diputuskan pemerintah, berpotensi menyulut spekulasi untuk menaikkan harga barang. Ketidakpastian beleid BBM juga menyulitkan kalangan pengusaha untuk menyusun agenda bisnis mereka.
Sejauh ini, sejumlah pelaku bisnis, mulai dari transportasi, distribusi, logistik, manufaktur hingga ritel, mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga BBM. Sektor ritel, misalnya, sudah mulai terdampak rencana kenaikan harga BBM.
Cari Cuan Menarik, Hot Money Membanjiri Pasar Modal
Di tengah kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, investor asing masih gencar masuk ke pasar modal dalam negeri. Dalam sebulan terakhir, investor asing mencatatkan aksi beli di pasar saham dengan nilai bersih (net buy) Rp 7,51 triliun. Sejak awal tahun ini, nilai beli bersih asing telah mencapai Rp 64,14 triliun. Sementara itu di pasar obligasi, saat ini posisi dana asing mencapai Rp 770,55 triliun atau naik Rp 19,31 triliun dari posisi akhir Juli 2022. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75% diapresiasi pelaku pasar termasuk investor asing, karena kebijakan ini menjadi langkah preventif untuk menstabilkan inflasi. Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, ketimbang negara lain, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih tergolong lebih tinggi.
BKPM Fasilitasi Perizinan Usaha Mikro dan Kecil
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus berupaya memberikan kemudahan perizinan usaha mikro dan kecil (UMK). Menurut Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal Riyatno upaya memfasilitasi UMKM ini diantaranya menjalin kerjasama dengan alumni perguruan tinggi. Salah satunya kerja sama dengan ikatan alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). BKPM meneken Nota Kesepahaman tentang Sinergi Pengembangan Inovasi Kebijakan Investasi dan Peningkatan Skala Usaha di kalangan alumni UI.
MENGEJAR CUAN REKSA DANA
Tren kenaikan suku bunga acuan dapat menjadi momentum untuk menata ulang portofolio reksa dana sesuai dengan profil risiko masing-masing investor. Kalangan analis menilai, memasuki era suku bunga mahal, reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap cukup menjanjikan lantaran keduanya menikmati keuntungan dari pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI).“Untuk investor baru yang masuk sekarang untuk investasi jangka menengah, 3 tahun ke reksa dana pendapatan tetap, sudah oke karena sudah ada kenaikan harga di pasar,” ujar Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana, Kamis (25/8)Wawan memperkirakan BI bakal melanjutkan pengetatan moneter setidaknya hingga suku bunga acuan berada pada rentang 4% hingga 4,25%. Mengacu pada proyeksi tersebut, dia menilai investor dengan horizon investasi jangka menengah dan panjang tak perlu khawatir.
Dengan pertimbangan ruang penguatan bagi kinerja pasar saham dan obligasi, Wawan memperkirakan kinerja imbal hasil reksa dana saham bisa menyentuh 10% dan reksa dana pasar uang pada rentang 3,75% hingga 4%. Namun, kinerja produk secara aktual bisa beragam tergantung pada kepiawaian manajer investasi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









