Ekonomi
( 40789 )Waktunya Akumulasi Saat IHSG Terkoreksi
Selama empat hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di bawah tekanan. IHSG bergerak mundur dari level 7.000 hingga bertengger di 6.909,20 pada akhir perdagangan Rabu (12/10).
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed yang semakin agresif menjadi salah satu pemberat langkah IHSG. Apalagi, ancaman resesi global makin membayang.
Sementara, Direktur Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, dalam jangka pendek, IHSG masih akan mengalami tekanan dari kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah dan hengkangnya dana asing dari pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sejak awal tahun hingga Rabu (12/10), sejumlah sektor masih mengalami tekanan yang cukup dalam. Misalnya, indeks sektor teknologi yang turun 25,84% dan sektor properti dengan penurunan 12,06%. Sektor konsumer siklikal juga melandai 6,16% dan indeks sektor keuangan turun 4,74% sejak awal tahun.
"Koreksi yang terjadi saat ini dapat digunakan investor untuk mulai melakukan akumulasi saham-saham penggerak indeks," jelas Daniel.
Yield US Treasury Rekor, Pasar Obligasi Negara Tertekan
Sempat melandai di awal Oktober,
yield
US Treasury kembali melesat memasuki pertengahan bulan ini. Per pukul 20.52 WIB, Rabu (12/10),
yield
US Treasury acuan tenor 10 tahun berada di level 3,939%.
Perlu dicatat juga,
yield
US Treasury kemarin di level 3,947% tersebut merupakan rekor tertinggi
yield
US Treasury sepanjang sejarah. Kondisi ini tentu menekan pasar obligasi negara lain, termasuk pasar obligasi Indonesia.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan,
yield
US Treasury masih berpotensi naik. Analis menilai strategi ini cukup efektif menjaga harga SUN. Apalagi, porsi investor asing di SUN tidak lagi besar. "Tekanan jual terhadap obligasi secara umum sebenarnya sudah terus menurun seiring kuatnya fundamental serta kecilnya porsi kepemilikan asing," jelas Dimas Yusuf,
Bank-Bank Kecil Terus Berjuang
Tenggat waktu pemenuhan ketentuan modal inti minimun perbankan sudah semakin mepet. Sebagian besar bank kecil yang harus menambah modal akan menempuh aksi rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Adapun sebagian lainnya memilih private placement atau melalui injeksi modal secara langsung yang dilakukan pemilik saham maupun investor baru.
Bank Ina Perdana Tbk (BINA), misalnya, memilih jalur rights issue. BINA akan menerbitkan saham baru sebanyak 296,85 juta saham atau 4,76% dari total saham yang ditempatkan.
Per Juni 2022, modal inti Bank Ina tercatat Rp 2,27 triliun. Jika seluruh saham rights issue terserap modal inti BINA akan melebihi Rp 3 triliun.
Daniel Budirahaju, Direktur Utama Bank Ina mengatakan, perseroan akan mengembangkan superapp. "Setelah mendapat izin digital banking dari OJK, kami akan mengembangkan unit digital bank," kata Daniel, Rabu (12/10).
Sementara Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) akan menggelar private placement dengan menerbitkan saham baru sekitar 19,9 miliar unit saham. Saham baru ini bakal diserap oleh Capital Global Investama, pengendali saham eksisting.
Bank Ganesha Tbk (BGTG ) juga akan rights issue dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 120 per saham. Sehingga berpeluang meraup dana Rp 900 miliar. Modal inti Bank Ganesha per Juni 2022 sebesar Rp 2,1 triliun.
Fintech Tersandung Kredit Macet dan Bunga Tinggi
Lonceng peringatan berdentang di bisnis financial technology (fintech) lending. Tekanan bisnis dan kondisi ekonomi belakangan ini menyerang bisnis pinjaman online. Tanda-tanda tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak bulan Mei lalu. Saat itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha fintech Uang Teman. Kala itu, fintech tersebut belum membayarkan gaji dan pajak penghasilan alias PPh karyawan, sejak akhir 2020. Begitu juga dengan asuransi ketenagakerjaan dan kesehatan. Uang Teman akhirnya mengajukan gugatan ke OJK.
Kini, ancaman datang dari tren kenaikan suku bunga. Fintech dihadapkan pilihan sulit. Saat bunga naik, fintech harus ikut menaikkan bunga pinjaman ke peminjam. Apalagi, lender atau pemberi pinjaman mengharapkan ada kenaikan imbal hasil.
Kondisi pinjaman macet terlihat dari beberapa pemain belakangan ini. KONTAN mencatat, ada dua fintech yang mengalami kenaikan kredit bermasalah, yakni Tani Fund dan iGrow.
Data OJK memperlihatkan kenaikan pinjaman macet di Agustus dibandingkan tahun lalu. Dan secara industri, kenaikan pembiayaan macet ini terjadi sejak Mei 2022.
Sepertiga Negara di Dunia Alami Tekanan Ekonomi
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut, sepertiga negara di dunia akan mengalami tekanan ekonomi dalam kurun waktu empat hingga enam bulan ke depan. Hal ini dikatakan Menkeu dalam pertemuan bilateral bersama dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (11/10).
Sri Mulyani menyebut, kondisi itu terjadi karena negara-negara kesulitan di tengah tingginya beban utang, ditambah lemahnya fundamental makroekonomi dan isu stabilitas politik. Menurutnya, tekanan perekonomian tersebut tidak hanya dialami negara berkembang, tapi juga negara maju.
Grup Axiata Kuasai 96% Saham Link
Axiata Group Berhad telah merampungkan penawaran tender wajib alias
mandatory tender offer
atas saham PT Link Net Tbk (LINK).
Penawaran tender ini menyusul rampungnya akuisisi 63,45% saham LINK oleh Axiata Investments (Indonesia) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dari tangan Grup Lippo dan CVC Capital Partners pada 22 Juni lalu senilai Rp 8,72 triliun.
Usai
tender offer, Axiata Investments kini menguasai 76,42% saham LINK. Ditambah dengan kepemilikan XL Axiata, Grup Axiata kini menguasai 95,64% saham LINK sementara publik mengempit 0,46%.
Okupansi Kamar Masih Terjaga, Eastparc Revisi Target Kinerja
Emiten perhotelan PT Eastparc Hotel Tbk merevisi naik target kinerja tahun 2022. Emiten dengan kode saham EAST ini percaya diri mampu mencetak pendapatan Rp 78 miliar-Rp 88 miliar, naik dari target sebelumnya Rp 75 miliar-Rp 85 miliar.
Optimisme itu bercermin pada kinerja perseroan hingga September 2022. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis EAST pada Senin (10/10), Eastparc sudah meraih pendapatan Rp 60,39 miliar pada periode Januari-September 2022. Nilai ini melesat 98,91% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 30,36 miliar.
Wahyudi Eko Sutoro, Direktur Pemasaran Eastparc Hotel bilang, kenaikan kinerja hingga kuartal ketiga tahun ini sejalan dengan rampungnya pembangunan wahana baru.
Alhasil, okupansi kamar EAST terdongkrak dan memicu kenaikan harga. "Okupansi rata-rata mencapai 88,55% sampai September 2022. Ini naik 34,59% secara tahunan," ujar Wahyudi kepada Kontan, Selasa (11/10).
Digitalisasi Angkat Pengelolaan Kas
Bisnis layanan
cash management
atau pengelolaan kas yang dijalankan perbankan mengalami pertumbuhan pesat, seiring digitalisasi layanan di segmen nasabah non ritel. Peningkatan ini mendorong pendapatan berbasis komisi bagi bank sekaligus mendorong pertumbuhan dana murah.
Salah satu bank yang menorehkan pertumbuhan di bisnis pengelolaan kas adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Bank ini mencatatkan volume transaksi
cash management system
sebesar Rp 3.755 triliun hingga September 2022 atau tumbuh 27% secara
year on year
(yoy). Adapun frekuensi transaksinya mencapai 33,6 juta.
UJI KONSISTENSI JANGKAR INFLASI
Kendati risiko ketidakpastian global meninggi, inflasi Indonesia diproyeksi masih terkendali. Hal itu tercermin dalam laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Namun, sejumlah kalangan meminta pemerintah dan otoritas moneter tak terlena dengan hal tersebut lantaran pengendalian inflasi ke depan amat menantang, khususnya terkait dengan volatilitas harga pangan. Dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2022, IMF memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada tahun ini sebesar 4,6%, relatif berada dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan, dan jauh di bawah outlook Badan Kebijakan Fiskal (BKF) di kisaran 6%. Sejumlah kalangan memang menilai strategi pengendalian inflasi Indonesia sejauh ini berjalan baik. Selain kucuran instrumen fiskal yang terus dipacu untuk meredam impak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ragam kebijakan yang ditempuh otoritas moneter juga dinilai dapat meredam risiko lonjakan inflasi. “Langkah BI yang saat ini cukup agresif menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% pada September sudah tepat,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Selasa (11/10). Menurutnya, BI melakukan langkah antisipatif untuk menjangkar ekspektasi IHK, terutama inflasi inti yang saat ini masih dalam rentang target. Setali tiga uang, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan strategi mengucurkan bansos dan penaikan suku bunga acuan cukup efektif menjaga kendali inflasi.
BISNIS BATU BARA : Babak Baru Kongsi Salim dan Bakrie
Restu pemegang saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) atas aksi korporasi private placement membuka gerbang kongsi Grup Salim dan Grup Bakrie di sektor pertambangan batu bara. Lampu hijau untuk menggelar Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) diperoleh BUMI dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada Selasa (11/10). Berdasarkan hasil pemungutan suara pemegang saham BUMI, sebanyak 96,22% pemegang saham setuju atas rencana private placement dan hanya 3,07% pemegang saham yang menyatakan tidak setuju. Berbekal persetujuan pemegang saham, BUMI bakal mendapat aliran dana segar senilai Rp24 triliun atau setara dengan US$1,6 miliar. Nilai fantastis yang akan diterima oleh entitas pertambangan batu bara di bawah kendali Grup Bakrie itu bakal diterima dari dua entitas yang terafiliasi dengan Anthoni Salim. Adapun, dua entitas afiliasi Grup Salim yang akan menyerap emisi 200 miliar saham Seri C BUMI yang diterbitkan dengan skema private placement yaitu Mach Energy (Hong Kong) Limited dan Treasure Global Investment Limited. Apabila ditelisik, pemegang saham Mach Energy terdiri atas PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan kepemilikan saham 42,5% di bawah kendali grup Bakrie, Colver Wide Limited dengan kepemilikan saham 15% dan dikendalikan oleh Agoes Projosasmito, dan terakhir 42,5% saham dimiliki oleh Mach Energy Pte.Ltd. yang berbasis di Singapura dan berada di bawah kendali Anthoni Salim alias Grup Salim.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bumi Resources Sri Dharmayanti mengatakan dana superjumbo yang dihimpun akan digunakan untuk pembayaran kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo. Dengan kata lain, BUMI kembali lolos dari jurang default alias gagal bayar berkat kucuran dana dari Grup Salim. “Dengan PMTHMETD ini posisi keuangan perseroan akan mengalami perbaikan dengan meningkatnya rasio likuiditas dan solvabilitas perseroan, beban keuangan yang menurun akan meningkatkan profitabilitas,” paparnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









