Ekonomi
( 40512 )Pasokan Minyak Terpangkas
Kondisi perekonomian dunia semakin sulit, akibat berkurangnya pasokan minyak dunia menyusul keputusan pemangkasan produksi minyak hingga 2 juta barel per hari oleh OPEC+. Muncul kekhawatiran, kenaikan harga minyak pasca pemangkasan produksi dapat memperparah inflasi yang kini menggoyahkan ekonomi global. Pada Rabu (5/10) Arab Saudi dan Rusia serta negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)+ bersepakat memangkas produksi minyak sebesar dua juta barel per hari, setara 2 % produksi minyak global saat ini dan menjadi pemangkasan terbesar sejak pandemi tahun 2020. Pemangkasan tersebut akan diberlakukan mulai November 2022. Dalam konferensi pers seusai pertemuan OPEC+ di Vienna, Austria, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, keputusan pemangkasan produksi minyak itu dipicu tanda-tanda penurunan ekonomi dunia yang bisa memperlemah permintaan dan jatuhnya harga minyak.
”Kami lebih memilih langkah pencegahan daripada nanti menyesal,” kata Abdulaziz, seperti dikutip The New York Times. ”Keputusan ini didasarkan pada kajian teknis. Kami tidak akan menggunakan (OPEC) sebagai organisasi politik,” ujar Suhail Al-Mazroui, Menteri Energi Uni Emirat Arab, menyangkal tudingan soal politisasi terhadap OPEC+. Keputusan pemangkasan produksi minyak tersebut dibuat saat harga minyak turun dari 120 USD per barel pada tiga bulan lalu menjadi 90 USD per barel. Saat keputusan pemangkasan produksi minyak OPEC+ diumumkan, harga minyak Brent yang menjadi patokan utama internasional naik 1,7 % sebelum ditutup pada 93,37 USD per barel. IHSG sejumlah bursa AS dan Eropa anjlok hingga 1,1 %. Mantan Kepala Departemen Analisis OPEC Hassan Balfakeih menyebutkan, pemangkasan produksi lebih dipicu faktor geopolitik dibandingkan kondisi pasar. (Yoga)
Kerajinan Kerang Magelang Diekspor ke AS
Sekitar 9.000 kerajinan kerang buatan warga Magelang, Jateng, menembus pasar AS. Ekspor perdana dilakukan CV Sabila Multi Kreasindo, Kamis (6/10) dengan nilai 33.000 USD atau Rp 503 juta. ”Jika pengiriman pertama mendapat respons bagus, pihak importir dari AS menjanjikan akan rutin memesan,” kata Prajoko, pemilik perusahaan tersebut. (Yoga)
OneMed Incar Dana Ipo Rp 1,25 triliun
PT Jayamas
Medica Industri Tbk (OMED)
atau OneMed
bersiap menggelar penawaran
umum perdana (IPO) sebanyak-banyaknya
4.058.850.000 saham dengan nilai
nominal Rp 25 per saham. Dari
aksi korporasi ini, perusahaan alat
kesehatan tersebut mengincar dana
segar hingga Rp 1,25 triliun.
Dalam prospektus awal
perseroan yang dipublikasi Kamis
(6/10) dijelaskan, jumlah
saham yang ditawarkan setara
15% modal ditempatkan dan
disetor penuh perseroan setelah
penawaran umum perdana saham,
dengan harga penawaran berkisar
Rp 204 hingga Rp 310 per saham.
Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO Rp 828 miliar hingga Rp 1,25
triliun.
Dana yang diperoleh dari IPO
saham ini setelah dikurangi seluruh
biaya-biaya emisi saham, akan
dialokasikan 72,19% untuk
pengembangan usaha dalam bentuk
belanja modal (capital expenditure)
dan modal kerja (working capital),
lalu 22,87% diberikan kepada perusahaan anak, yaitu PT
Intisumber Hasil Sempurna Global
(IHSG) untuk belanja modal dan
modal kerja, 4,94%
diberikan kepada IHSG dalam
bentuk setoran modal, kemudian IHSG akan memberikan kepada anak usaha PT Inti Medicom
Retailindo (IMR) dalam bentuk
setoran modal untuk belanja modal
dan modal kerja. (Yoga)
IMF Minta Bank Sentral Tetap Fokus Perangi Inflasi
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau IMF Kristalina Georgieva pada Kamis (6/10) meminta bank sentral di seluruh dunia tetap fokus memerangi lonjakan inflasi. Sekalipun upaya itu berpotensi memicu resesi ekonomi global. “Inflasi masih tetap membandel dan kukuh. Risikonya justru jauh lebih besar jika tidak berbuat banyak dibandingkan berbuat terlalu banyak,” ujar Georgieva, dalam wawancara dengan AFP di Universitas Georgetown, Washington, DC, AS. Ia mendesak para pengambil kebijakan di seluruh dunia menyatukan langkah supaya kenormalan baru tersebut tidak membahayakan dunia. Dalam pidatonya jelang pertemuan tahunan IMF pekan depan, di universitas tersebut, Georgieva mengatakan sangat penting untuk menstabilkan ekonomi dunia dengan mengatasi tantangan-tantangan terbesarnya, termasuk memerangi inflasi. Dalam prosesnya, tambah dia, langkah-langkah bank sentral itu akan menyakitkan bagi masyarakat maupun pebisnis. Karena bank sentral mengambil jalan agresif menaikkan suku bunga guna meredam tekanan kenaikan harga-harga.
Langkah agresif tersebut
dapat memicu perlambatan ekonomi berkepanjangan, yang biasanya menimbulkan resesi.
Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 180
lebih negara anggota IMF-Bank Dunia akan berkumpul tatap
muka untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 pekan depan
di Washington.
Georgieva mengatakan, prospek ekonomi global ke depan
makin suram. Karena potensi terjadinya resesi semakin besar. Ia
menandaskan IMF sekali lagi akan memangkas proyeksi ekonomi
dunia untuk 2023. IMF pada Juni 2022 memangkas proyeksi pertumbuhan tahunan
global tahun ini menjadi 3,2% dan untuk tahun depan menjadi 2,9%.
Penurunan itu adalah yang ketiga kalinya secara berturut-turut.
(Yoga)
Lonceng Tanda Bahaya Cadangan Devisa
Bank sentral di seluruh dunia tengah dilanda kegelisahan. Cadangan devisa mereka terkuras, karena dipakai untuk mengamankan kejatuhan mata uang negaranya. Melawan penguatan dolar Amerika Serikat di sepanjang tahun ini. Dolar AS terus menguat karena kebijakan The Federal Reserve mengerek suku bunga acuan. The Fed, begitu biasa disebut, sepanjang tahun ini telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali. Terakhir, 22 September 2022, bank sentral asal Negeri Paman Sam itu menaikkan Fed Fund Rate sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 3,0%—3,25%. Sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga 75 bps pada 28 Juli dan 16 Juni, 50 bps pada 5 Mei, dan 25 bps pada 17 Maret. Langkah agresif bank sentral AS ini membuat Fed Fund Rate berada di level tertinggi sejak krisis ekonomi 2008. Cukup beralasan, karena The Fed tengah memerangi lonjakan inflasi yang mendekati angka tertinggi sejak 1980-an. Bahkan, pejabat The Fed mengisyaratkan untuk terus menaikkan Fed Fund Rate mencapai titik akhir sebesar 4,6% pada 2023. Akibat kebijakan The Fed ini membuat bank sentral seluruh dunia melakukan langkah serupa.
PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN : SUMITOMO IKUT BANGUN PLTA KAYAN
PT Kayan Hydro Energy menggandeng Sumitomo Corporation untuk melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga air atau PLTA Kayan Cascade di Kalimantan Utara yang diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$17 miliar.
Selama ini, Kayan Hydro Energi sendirian membangun infrastruktur yang diproyeksi menjadi PLTA terbesar di Asean, karena memiliki kapasitas total 9.000 megawatt (MW).Andrew Suryali, Direktur Utama Kayan Hydro Energy, mengatakan bahwa hingga 2020 saja perusahaan telah menggelontorkan investasi hingga Rp2 triliun. Dana tersebut digunakan perusahaan untuk melakukan desain, survei, dan pekerjaan teknis lainnya. “Semua pekerjaan sekarang 100% dibiayai oleh Kayan Hydro Energy sendiri. Dana Rp2 triliun yang telah dikeluarkan dari internal Kayan Hydro Energy,” katanya, Kamis (6/10).Masuknya Sumitomo Corporation ke dalam proyek tersebut pun menambah angin segar penyelesaian proyek tersebut, karena sebenarnya sudah dimulai sejak 2011.
Saat ini, sambung Andrew, pihaknya tengah melakukan pembangunan infrastruktur awal bendungan. Diperkirakan pada 2023 akan dilanjutkan untuk membangun infrastruktur pendukung bendungan, dan bangunan pengelak atau diversion channel bendungan yang jadi anak tangga pertama dalam tangga cascade. Adapun, listrik yang dihasilkan oleh proyek PLTA tersebut akan menyuplai kawasan industri hijau yang dikembangkan PT Indonesia Strategis Industri (ISI), dan kebutuhan listrik di Pulau Kalimantan pada umumnya.
Landai Produksi Meski Kemarau Basah
Serikat Petani Indonesia (SPI) memperkirakan melandainya produksi gabah mendatang disebabkan oleh penurunan kualitas tanah karena kurangnya bahan organik dan meningkatnya ancaman hama penyakit. Ketua Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI, Muhammad Qomarun najmi mengatakan, kurangnya bahan organik pada tanah dapat menyebabkan pemupukan tidak efektif. Sementara ancaman hama saat menghambat produksi gabah di beberapa wilayah Indonesia. "Potensi penurunan produksi bisa sampai 10 % karena tidak efektifnya pupuk dan meningkatnya ancaman hama penyakit," ujar dia kepada Tempo, kemarin. Saat ini pun, menurut dia, kendati produksi gabah per luasan tanah masih relatif stabil dan meningkat karena adanya periode La Nina, kenaikannya tak setinggi musim kemarau basah sebelumnya. Selain karena hama, lesunya pertumbuhan produksi gabah disebabkan oleh adanya banjir di beberapa wilayah. Qomarun najmi juga melihat produksi menurun akibat sebagian petani beralih dari menanam padi ke komoditas lainnya, misalnya jagung. "Karena pada periode awal masa pandemi Covid-19 harga gabah murah banget. Sedangkan harga jagung lebih tinggi," ujar dia. Pemerintah perlu memberi jaminan pasar dan harga gabah untuk memacu semangat petani memproduksi gabah. Petani juga perlu mendapat pendidikan dan pelatihan penggunaan pupuk organik hingga pengendalian hama terpadu untuk meningkatkan produksi.
Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa, membenarkan bahwa kenaikan produksi beras pada periode La Nina yang berlangsung sejak 2020 tidak setinggi periode sebelumnya. Bahkan pada tahun lalu produksinya turun. Berdasarkan catatan AB2TI, produksi padi turun 7,7 % pada 2019 karena periode El Nino. Memasuki La Nina pada 2020, produksi naik tipis 0,09 %. Masih pada periode kemarau basah, produksi gabah turun 0,42 % pada 2021 ujar Andreas, yang juga guru besar Fakultas Pertanian IPB. Padahal, 20 tahun terakhir, fenomena La Nina membuat produksi meningkat sangat tajam, dengan angka kenaikan terendah sebesar 4,7 % pada 2007. Andreas menduga turunnya produksi itu dipicu oleh menurunnya minat petani menanam padi. Pasalnya, ia mencatat, sejak Agustus 2019 hingga Juni 2022, harga gabah di tingkat usaha tani anjlok. Sebelum kembali melonjak pada Juli 2022, Andreas mengatakan asosiasinya mengusulkan pemerintah segera menaikkan HPP dari Rp 4.200 menjadi Rp 6.000 per gabah kering panen. (Yoga)
Melacak Potensi Window Dressing Sahan Teknologi
Saham emiten di sektor teknologi masih jadi bandul pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2022.
Buktinya, sejumlah saham emiten teknologi masih menghiasi papan laggard di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Salah satu alasannya, saham-saham teknologi berpotensi terkena arus window dressing akhir tahun ini. Apalagi, banyak saham teknologi yang valuasi harganya terbilang sangat murah.
Martha Christina,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai, peluang saham teknologi rebound di akhir tahun 2022 cukup terbuka. Terutama, saham teknologi
big caps
seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Program Insentif Pajak Terkait Covid Disoal BPK
Insentif pajak yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak dalam rangka Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) maupun non PC PEN mendapat rapor merah dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Hasil pemeriksaan sementara lembaga audit negara tersebut mengungkap adanya masalah dalam pemberian sejumlah insentif pajak dengan nilai jumbo.
Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Sementara (IHPS) Semester I 2022, ditemukan sejumlah masalah terkait pengelolaan insentif dan fasilitas perpajakan tahun lalu senilai Rp 15,31 triliun.
Insentif perpajakan yang disoal BPK antara lain, pertama, pemberian fasilitas pajak pertambahan nilai (PPN) non PC-PEN kepada pihak yang tidak berhak. Akibat salah sasaran itu, negara harus kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar Rp 1,31 triliun.
Atas temuan itu, BPK meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak segera memutakhirkan sistem pengajuan insentif wajib pajak. Antara lain dengan menambahkan persyaratan kelayakan penerima insentif dan fasilitas perpajakan sesuai ketentuan.
Inflasi Dongkrak Jumlah Masyarakat Miskin
Lonjakan inflasi mengancam daya beli masyarakat. Bank Dunia (World Bank) mewanti-wanti dampak kenaikan inflasi, akibat lonjakan harga pangan dan energi, terhadap daya beli, terutama masyarakat miskin. Dalam laporan yang bertajuk East Asia and The Pacific Economic Update edisi Oktober 2022, World Bank menyebut bahwa masyarakat miskin merupakan kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak inflasi tinggi. Apalagi, rumah tangga miskin selama ini cenderung membelanjakan pendapatannya untuk makanan. Sementara komoditas pangan merupakan salah satu pemicu inflasi saat ini. Berdasarkan perhitungan World Bank, masyarakat miskin Indonesia terdampak inflasi 0,8% lebih tinggi daripada orang kaya. Sebab, masyarakat miskin Indonesia lebih banyak mengeluarkan pendapatan untuk membeli makanan dan bahan bakar.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









