Ekonomi
( 40789 )BI Prediksi Inflasi 2022 Mencapai 6,3 %
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi hingga akhir 2022 mencapai 6,3% secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi ini lebih rendah dari konsensus analis berkisar 6,6-6,7%. Ekspektasi inflasi dari consensus forecast terlalu tinggi atau overshooting,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (20/10). Menurut dia, berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) BI, inflasi pada minggu kedua Oktober 2022 diperkirakan lebih rendah dibanding September 2022. BI memperkirakan inflasi IHK (indeks harga konsumen) mencapai 5,88% Oktober 2022, lebih rendah dibandingkan September sebesar 5,95%. "Perkiraan inflasi lebih rendah ditopang eratnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah, terutama dengan kebijakan fiskal berupa tambahan subsidi energi, serta pemberian insentif bagi pemda yang mampu mengendalikan inflasi," ujar dia. Tak hanya itu, dia menyatakan, pemerintah juga terus memperkuat sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), khususnya dalam melalui peningkatan nilai tambah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.
"Itulah yang menyebabkan kenapa inflasi bulan ini akan lebih rendah dari sebelumnya. Untuk keseluruhan, tahun ini juga akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya," jelas dia. Lebih lanjut Perry menjelaskan, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, BI 7 Day Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75% dari 4,25% dalam RDG pekan ini. BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4% dan suku bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 5,5%, juga merupakan langkah mengendalikan ekspektasi inflasi, selain langkah front loaded, preemptive, dan forward looking. Sebelumnya, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Agustus 2022 dan 50 bps pada bulan lalu. Perry menyatakan, laju inflasi diperkirakan di bawah 4% pada kuartal III-2023. Hal ini akan menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan mendorong konsumsi swasta," ucap dia. Ryan Kir yanto, ekonom dan co-founder & dewan pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED), menilai, keputusan BI menaikkan BI7DRR 50 bps tepat dan taktis. Kebijakan ini menyiratkan langkah BI yang frontloaded, pre-emptive, dan forward looking, terutama untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi, berkisar 6-7%, pasca kenaikan harga BBM. Melalui langkah ini, dia menyatakan, BI ingin memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3% plus minus 1% dengan jangkar 3% lebih awal dari perkiraan semula, yaitu menjadi semester I-2023. (Yoga)
Melonjak 140 %, Laba Matahari Tembus Rp 1 Triliun
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,05 triliun pada Januari-September 2022, melonjak 140,64% dibanding periode sama tahun lalu Rp 438,69 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan kotor sebanyak 26,5% menjadi Rp 9,5 triliun. “Dengan kuartal III-2022 dan momentum pertumbuhan yang kuat di tahun ini, perseroan berada di jalur yang tepat untuk panduan EBITDA tahun penuh 2022 sebesar Rp 2,1 triliun dan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun,” kata CEO Matahari Terry O’Connor dalam keterangan resminya, Kamis (20/10). Terry mengungkapkan, pencapaian tersebut menunjukkan pemulihan yang kuat dari perseroan. “Menjelang 2023, anggaran awal tahun depan kami berada pada level EBITDA Rp 2,4-2,5 triliun.
Namun, mengingat ketidakpastian global yang dapat berdampak secara nasional, kami memutuskan untuk mengeluarkan panduan anggaran yang berhati-hati sebesar Rp 2,3-2,4 triliun,” ujar dia. Matahari, kata Terry, berkomitmen atas dividen tahun buku 2022 sebesar Rp 525 per saham, yang merupakan pembayaran tertinggi hingga saat ini. Dividen tersebut akan dibayarkan pada 2023, bergantung pada persetujuan yang diwajibkan, yang mempertajam komitmen kuat kami terhadap peningkatan pengembalian nilai pemegang saham secara keseluruhan. Dia menyebut, perseroan baru-baru ini meluncurkan kembali pemosisian merek, identitas, dan logo baru yang mewakili Matahari baru sebagai House of Specialists yang berpusat pada pelanggan, omni-channel untuk melayani kebutuhan fesyen spesialis dari kelompok pelanggan terbesar di seluruh Indonesia. (Yoga)
Hidup Kian Sulit, Nasabah Kecil Mulai Makan Tabungan
Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin makin terhimpit. Inilah cerminan pertumbuhan simpanan nasabah di perbankan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, per Agustus 2022, simpanan nasabah dengan nominal di atas Rp 5 miliar meningkat 3,3% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 3.975 triliun. Jika dibandingkan dari tahun 2014, pertumbuhan simpanan di atas Rp 5 miliar hingga 109%.
Menurut Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, data itu menggambarkan nasabah kaya lebih memilih mengamankan uang mereka di tengah tekanan ekonomi. Menempatkan dana di deposito dianggap lebih aman daripada diinvestasikan. Apalagi, tren bunga perbankan juga sedang naik.
Sedangkan dari sisi nasabah kecil mulai banyak menarik uang, karena terdampak perlambatan ekonomi. "Nasabah ritel perlu mengambil simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari," kata Trioksa, Rabu (19/10).
Tekan Utang, SAL Jadi Andalan Pembiayaan
Tekanan ekonomi global membuat pemerintah memutar otak untuk menyusun strategi pembiayaan anggaran pada tahun depan. Sebab, penerbitan surat utang di tengah tekanan global, justru bisa semakin memberatkan pemerintah.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Luky Alfirman mengakui, pembiayaan utang tahun depan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Terutama, tingginya tingkat bunga dan volatilitas pasar keuangan akibat tekanan global.
Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan anggaran tahun depan, pemerintah memilih untuk memaksimalkan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Perlu diketahui, penggunaan SAL oleh pemerintah gencar dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam dokumen Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023, penggunaan SAL tertinggi terjadi pada tahun 2021 sebesar Rp 144 triliun.
Hasil Penjualan ORI022 Diproyeksi Sesuai Target Mitra
Penjualan obligasi ritel negara seri ORI022 hingga Rabu (19/10) memang masih lebih kecil dari hasil penerbitan seri sebelumnya. Namun, mitra distribusi menyebut, hasil penawaran ORI022 sudah sesuai target yang mereka tetapkan.
Hingga Rabu (19/10), berdasarkan data salah satu agen penjual, Investree ORI022 telah laku terjual Rp 12,59 triliun. Dari situs Investree, angka tersebut masih di bawah target pemerintah Rp 14 triliun.
ORI022 akan selesai ditawarkan pada hari ini (20/10) dan menawarkan bunga tetap 5,95%. Salah satu mitra distribusi Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyebut telah menjual Rp 1,01 triliun. Aestika Oryza Gunarto, Corporate Secretary BRI menjelaskan, angka tersebut lebih tinggi dari target awal BRI Rp 750 miliar.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengaku mendapatkan hasil penjualan ORI022 sesuai ekspektasi. General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia mengatakan, per 19 Oktober 2022 tercatat pemesanan sebesar Rp 1,14 triliun atau 114% dari target Rp 1 triliun yang disampaikan ke Kementerian Keuangan.
OJK Mengatur Ulang Premi Kendaraan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menimbang ulang pemberlakuan kebijakan penetapan tarif premi asuransi kendaraan. Sejak tahun 2017, regulator mengatur batas bawah dan batas atas tarif premi atau kontribusi di lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan asuransi harta benda.
Saat ini, OJK mempertimbangkan untuk menyerahkan penentuan premi ke mekanisme pasar. Dengan kata lain, regulator tidak akan campur tangan dalam penentuan besaran premi.
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), HSM Widodo menyebut, saat ini yang diperlukan industri adalah menaikkan batas-batas tarif, yang disesuaikan dengan akumulasi inflasi yang ada selama ini.
Ia menduga, jika saat ini pembatasan tarif dihilangkan, perang tarif sangat mungkin terjadi. Di masa lalu, alasan OJK menetapkan batas bawah dan batas atas adalah terjadinya perang tarif di antara pemain. Persaingan semacam itu dicemaskan akan merugikan nasabah dan industri.
Jalan Tengah Suku Bunga
Manuver Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dan upaya fiskal yang dilakukan pemerintah terbukti manjur mengekang gerak inflasi sejauh ini. Kendati demikian, kalangan dunia usaha berharap, ke depan bank sentral tak agresif perihal kebijakan suku bunga. Menurut pengusaha, ancaman resesi di sejumlah negara perlu diperhitungkan dengan cermat agar sasaran ekonomi Tanah Air tetap terjaga. Apalagi, capaian ekonomi pada tahun ini cukup solid dengan realisasi pertumbuhan mencapai 5,44% pada kuartal II/2022. Apabila suku bunga terus dikatrol, maka berisiko menahan laju ekonomi. Demikian pula dengan upaya fiskal yang harus terus dilakukan, salah satunya melalui penebalan bantalan sosial maupun insentif lainnya. Kekhawatiran pelaku usaha itu bukannya tanpa sebab. Dalam 2 bulan terakhir BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps), untuk memastikan inflasi kembali pada sasaran 2%—4% pada kuartal III/2022. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani, mengungkapkan nilai suku bunga saat ini sudah cukup ideal bagi pebisnis di Tanah Air. Menurutnya, apabila suku bunga di atas 4,25%, akan berdampak pada kinerja dunia usaha yang saat ini sudah tertekan akibat permintaan ekspor yang menurun.
Ekosistem Transportasi Publik
Menteri BUMN Erick Thohir dan Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyampaikan keterangan pers seusai menggelar pertemuan di Kantor Kementerian BUMN di Jakarta, Rabu (19/10). Pertemuan tersebut membahas tentang ekosistem transportasi publik serta sinkronisasi aset yang dimiliki BUMN dan Pemda untuk menjadi fasilitas publik atau fasilitas mendukung UMKM
STRATEGI BISNIS : Pertamina Bor Lapangan Tarakan
Tarakan Field Manager Pertamina EP Isrianto Kurniawan mengatakan bahwa persiapan sudah mencapai 80%. Lokasi pengeboran berada di Kelurahan Kampung Satu Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan. Pengeboran ini akan menambah produksi migas di Tarakan Field sebagai bagian dari Zona 10 Regional 3 Kalimantan Subholding Upstream. Saat ini, produksi minyak Tarakan Field berkisar di angka 1.920 barel minyak per hari (bph) dan produksi gas mencapai 2,2 juta kaki kubik per hari (MMscfd). “Akhirnya proses pengeboran sumur Pamusian dapat dilakukan. Saat ini, perlengkapan pengeboran sudah mayoritas tiba di lokasi, dan ditargetkan akhir bulan Oktober 2022 ini tajak sumur dapat dilakukan,” ujarnya pada Rabu (19/10). Lebih lanjut, Iwan menjelaskan bahwa pengeboran sumur Pamusian sempat tertunda karena membutuhkan waktu persiapan hingga 2 tahun.
Transisi Energi Minat Masyarakat Jadi Magnet Investasi
Ketertarikan masyarakat beralih ke energi bersih menjadi sentiment positif bagi investor di bidang transisi energi. Minat ini perlu dibarengi dukungan skema pembiayaan agar masyarakat dapat menggunakan energi terbarukan dalam keseharian. Meski demikian, program transisi energi harus disosialisasikan lebih gencar. Tanggapan positif masyarakat itu terangkum dalam kajian yang disusun Litbang Kompas berjudul ”Siapkah Masyarakat? Bertransformasi dalam Penerapan Energi Baru Terbarukan, Ekonomi Digital, dan Investasi Hijau”. Laporan (white paper) diserahkan Kompas kepada Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Rabu (19/10) sebagai sumbangan gagasan untuk Presidensi G20. Penelitian itu bersumber dari jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada periode 16-19 September 2022 melalui panggilan telepon dengan penentuan sampel secara acak. Responden berjumlah 502 orang dari 34 provinsi.
Sebanyak 59,9 % responden menyatakan tertarik beralih dari energi berbasis BBM ke energi bersih. Masyarakat juga sudah mengenal ragam sumber energi terbarukan. Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN Hartanto Wibowo mengatakan, isi laporan terutama mengenai kesiapan masyarakat berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi dalam hal transisi energi menjadi indikasi baik. Seiring Presidensi G20 Indonesia, hal itu menjadi momentum untuk menunjukkan Indonesia berkomitmen bertransisi energi. ”Saat masyarakat berkeinginan mengubah gaya hidup yang lebih hijau, potensi investasi Indonesia terhadap energy hijau semakin besar. Ini membuka peluang berbagai lapangan kerja. Industri di Indonesia pun akan tumbuh. Transisi energy yang dikembangkan membuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) meningkat,” ujar Hartanto. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









