;

BI Prediksi Inflasi 2022 Mencapai 6,3 %

Ekonomi Yoga 21 Oct 2022 Investor Daily
BI Prediksi Inflasi 2022 Mencapai 6,3 %

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi hingga akhir 2022 mencapai 6,3% secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi ini lebih rendah dari konsensus analis berkisar 6,6-6,7%. Ekspektasi inflasi dari consensus forecast terlalu tinggi atau overshooting,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (20/10). Menurut dia, berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) BI, inflasi pada minggu kedua Oktober 2022 diperkirakan lebih rendah dibanding September 2022. BI memperkirakan inflasi IHK (indeks harga konsumen) mencapai 5,88% Oktober 2022, lebih rendah dibandingkan September sebesar 5,95%. "Perkiraan inflasi lebih rendah ditopang eratnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah, terutama dengan kebijakan fiskal berupa tambahan subsidi energi, serta pemberian insentif bagi pemda yang mampu mengendalikan inflasi," ujar dia. Tak hanya itu, dia menyatakan, pemerintah juga terus memperkuat sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), khususnya dalam melalui peningkatan nilai tambah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

"Itulah yang menyebabkan kenapa inflasi bulan ini akan lebih rendah dari sebelumnya. Untuk keseluruhan, tahun ini juga akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya," jelas dia. Lebih lanjut Perry menjelaskan, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, BI 7 Day Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75% dari 4,25% dalam RDG pekan ini. BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4% dan suku bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 5,5%, juga merupakan langkah mengendalikan ekspektasi inflasi, selain langkah front loaded, preemptive, dan forward looking. Sebelumnya, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Agustus 2022 dan 50 bps pada bulan lalu. Perry menyatakan, laju inflasi diperkirakan di bawah 4% pada kuartal III-2023. Hal ini akan menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan mendorong konsumsi swasta," ucap dia. Ryan Kir yanto, ekonom dan co-founder & dewan pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED), menilai, keputusan BI menaikkan BI7DRR 50 bps tepat dan taktis. Kebijakan ini menyiratkan langkah BI yang frontloaded, pre-emptive, dan forward looking, terutama untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi, berkisar 6-7%, pasca kenaikan harga BBM. Melalui langkah ini, dia menyatakan, BI ingin memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3% plus minus 1% dengan jangkar 3% lebih awal dari perkiraan semula, yaitu menjadi semester I-2023. (Yoga)


Tags :
#Inflasi
Download Aplikasi Labirin :