Ekonomi
( 40789 )MENJAGA NAPAS LIKUIDITAS
Tak butuh waktu lama bagi perbankan untuk merespons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada periode Agustus hingga Oktober 2022. Mulai bulan depan, suku bunga simpanan bank diperkirakan kompak naik. Naiknya suku bunga simpanan itu sebagai cara bank agar likuiditas tetap aman. Kendati dana simpanan dinilai masih melimpah, terutama di bank-bank besar, penyesuaian bunga simpanan dilakukan untuk memastikan ketersediaan uang guna mendorong penyaluran kredit. Kenaikan bunga untuk jenis simpanan deposito 1 bulan mulai terasa sejak Juli 2022. Dalam laporan asesmen transmisi suku bunga kebijakan oleh Bank Indonesia pada Oktober 2022, terlihat rerata bunga deposito 1 bulan pada Agustus 2022 berada di level 2,89%, atau lebih tinggi dari posisi Juli 2022 di level 2,81%. Jumlah simpanan deposito 1 bulan di perbankan secara nilai hampir 40% dari total simpanan berjangka di bank yang pada Juli mencapai Rp2.859,97 triliun. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan hingga 125 basis poin dalam 3 bulan terakhir, cukup menjadi perhatian pelaku bank untuk menyiapkan strategi baru melakukan penyesuaian bunga simpanan agar likuiditasnya tetap terjaga. Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sigit Prastowo menyatakan masih terus memantau kondisi likuiditas di pasar. Dari sisi likuiditas, katanya, ada potensi kenaikan LDR bank pada tahun depan dibandingkan dengan posisi 2022. “Kami akan jaga di bawah 90% pada 2023 dan seterusnya,” kata Sigit. Kenaikan suku bunga kredit ke depan berpotensi dapat mengganggu permintaan kredit dari kalangan pelaku usaha sektor riil.
PENJUALAN GAS KE SINGAPURA : Kontrak Ekspor Diperpanjang
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memperpanjang kontrak penjualan gas ke Singapura. Rencananya, kontrak penjualan gas itu akan diperpanjang hingga 2028 atau 5 tahun setelah kontrak awal berakhir tahun depan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, keputusan itu diambil setelah adanya permintaan gas yang tinggi dari Singapura. Di sisi lain, neraca gas domestik tahun ini dipastikan mengalami surplus hingga jangka waktu yang relatif lama seiring dengan beroperasinya sejumlah lapangan gas besar di dalam negeri.
Pasar Terus Menurun, Bisnis Apartemen Limbung
Bisnis apartemen terus merunduk, terus menunjukkan kelesuan. Bahkan, hingga saat ini, belum ada faktor yang mampu menjulangkan penjualan hunian jangkung itu. Benar, Bank Indonesia (BI) berencana kembali memperpanjang kebijakan uang muka 0% untuk properti, termasuk apartemen. Namun, kebijakan ini diyakini belum mampu mendorong bisnis apartemen. Ancaman resesi global, suku bunga tinggi menjadi sebab.
Catatan konsultan properti, yakni Colliers Indonesia dan Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia, laju penjualan apartemen dan kondominium melambat tahun ini. Bahkan, data Colliers menyebut, permintaan apartemen terus menyusut selama delapan tahun terakhir. Hingga kuartal ketiga tahun ini, permintaannya cuma 782 unit. Tahun lalu, permintaan apartemen masih berkisar 1.800 unit. Colliers juga mengamati langkah pengembang menahan harga jual apartemen di pasar primer untuk wilayah Jakarta.
"Secara year-on-year, bisa dikatakan harga rata-rata apartemen di Jakarta tak bergerak, naik pun kurang dari 1%. Kebanyakan pengembang menahan diri menaikkan harga agar menarik bagi calon pembeli, ujar Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto kepada KONTAN, kemarin.
Lesunya bisnis hunian jangkung ini juga berkorelasi dengan kredit bermasalah atau non performing loan di sektor konstruksi, yang di dalamnya termasuk proyek apartemen. Salah satunya nampak di NPL PT Bank Tabungan Negara Tbk. Kredit bermasalah konstruksi hingga kuartal III-2022 mencapai 24,32%, lebih tinggi dari NPL. Senior Director, Research and Consultancy Savills Indonesia, Tommy Bastamy menyebut, harga apartemen di pasar sekunder terkoreksi 20%-40% dibanding harga sekunder saat kondisi pasar normal.
Hal ini didorong. Pertama, tingkat pendapatan sewa yang turun sejalan melemahnya permintaan selama pandemi. Kedua, beban biaya pemeliharaan yang tetap harus dibayar meski apartemen tak dihuni.
Ketiga, kebutuhan kas pemilik yang sebagian besar membeli unit apartemen dengan tujuan investasi. Keempat, pemilik dan investor telah menikmati return dari sewa unit apartemen.
Ekonomi AS Naik, Rupiah Sulit Naik
Nilai tukar rupiah diperkirakan tidak akan banyak bergerak di akhir pekan ini. Maklum, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan.
Kemarin, rupiah juga tidak banyak bergerak. Kurs spot rupiah turun tipis 0,03% ke level Rp 15.567 per dollar Amerika Serikat (AS). Kurs referensi JISDOR naik 0,15% menjadi Rp 15.573 per dollar AS.
Meski pergerakan rupiah terbatas, mata uang Garuda ini masih belum lepas dari tekanan. "Rupiah masih tertekan baik oleh sentimen internal maupun eksternal," tutur Lukman Leong, Analis DC Futures, kemarin.
Realisasi ini lebih baik ketimbang konsensus proyeksi pengamat yang memprediksi ekonomi AS cuma tumbuh 2,3% secara kuartalan. Buat perbandingan, di kuartal dua lalu ekonomi AS turun 0,6% secara kuartalan.
RUANG SEMPIT MODAL VENTURA
Ruang gerak modal ventura sedang tak leluasa. Urusan memilih perusahaan rintisan alias startup yang bakal didanai kini semakin menantang lantaran bayang-bayang ketidakpastian ekonomi dunia. Startup baru di sektor mainstream seperti teknologi finansial atau wealth management misalnya, diprediksi sulit untuk mendapat tempat di hati investor. Selain karena persaingan yang kian ketat, keuangan masyarakat juga berisiko tertekan gejolak ekonomi. Tak ayal, pelaku industri modal ventura pun kini perlu lebih cermat memilih perusahaan rintisan, salah satunya dengan memburu startup di layanan teknologi yang inovatif. Co-founder & Managing Partner Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani meyakini perusahaan rintisan di layanan bahan pangan, agrikultur, akuakultur, dan ekonomi hijau, berpeluang bersinar. Selain itu, katanya terdapat peluang bagi pelaku startup yang masuk ke solusi terkait dengan high-tech manufacturing dan renewable energy. Senada, Chief Investment Officer merangkap Plt. CEO Mandiri Capital Dennis Pratistha mengatakan strategi baru dibutuhkan untuk menghadapi gejolak ekonomi yang secara umum membuat valuasi startup tertekan. Jika diamati, sejatinya risiko gejolak ekonomi global yang terjadi tak serta merta membuat pelaku industri modal ventura di Indonesia mati kutu. Buktinya, penyaluran pembiayaan terus tumbuh.
Paket Bali di KTT G20
Pada November 2022 mendatang, Bali akan menjadi lokasi KTT G20 pertama yang diselenggarakan oleh Indonesia, sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara (Asean) di forum G20 yang menjadi salah satu forum terbesar ekonomi di dunia. Di tengah pandemi Covid-19, inflasi global, perubahan iklim, krisis energi dan pangan, serta tentunya konflik perang antara Rusia dan Ukraina, kita patut bersyukur di mana Indonesia masih menjadi negara G20 dengan proyeksi ekonomi oleh OECD yang tumbuh di atas 4% di tahun 2022 dan 2023 bersama China, Arab Saudi, dan India. Terakhir kalinya Bali menjadi saksi konferensi besar Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ke-9 pada 3—7 Desember 2013. Dalam konferensi tersebut lahirlah Paket Bali (Bali Package) yang bertujuan melonggarkan batasan perdagangan global, sekaligus unik, karena menjadi kesepakatan pertama yang disetujui oleh semua anggota WTO yang notabene adalah organisasi dengan tingkat kompleksitas negosiasi yang tinggi. Beberapa pokok kunci yang perlu dibawa oleh Indonesia sebagai tuan rumah dan dalam merumuskan Paket Bali Jilid II adalah sesuai daftar inventarisasi masalah mendesak yang luar biasa besar di seluruh dunia baik sektor sosial, ekonomi, ekologi dan keamanan. Pertama adalah Rusia. Invasinya ke Ukraina telah meningkatkan masalah energi global yang berimbas ke banyak hingga fiskal dan moneter. ‘Kegagalan’ PBB sebagai garda terdepan resolusi perdamaian harus diambil alih oleh G20. Kedua, konsentrasi dan totalitas pada masalah perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Indonesia seharusnya menjadi pionir dan sekaligus momentum untuk pembenahan internal baik dari manajemen sumber daya alam dan lingkungan seperti hutan, gambut, mangrove, energi, pertambangan, hingga masalah hidrometeorologi.
Ketiga, kehatian-hatian makro (makroprudensial). Pertumbuhan ekonomi, yang makin tidak merata, dengan tingkat yang berbeda di berbagai negara, tergantung pada tingkat vaksinasi, kemampuan untuk pulih, dan kesinambungan dukungan fiskal dan moneter. Stimulus fiskal dan moneter, sambil mengurangi defisit fiskal pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya, utang publik dan swasta, neraca bank sentral utama, dan inflasi, yang lebih kuat lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Demikian juga dengan perlunya penghapusan utang untuk negara-negara miskin dan rentan.
Yang terakhir adalah perlunya G20 menyusun peta jalan (road map) pembangunan global dengan analisa adapatasi dan mitigasi yang praktikal terhadap potensi ancaman, bahaya, tantangan, dan bencana ke depan yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia. Aksi ini dapat didukung oleh mitra G20 seperti dari wadah pemikir atau think-tank (T20), pemuda (Y20) dan organisasi kemasyarakatan (C20).
OMZET DAGANG-EL : Ekosistem Digital Penting untuk UMKM
UMKM disarankan terhubung ke ekosistem platform digital agar ikut menikmati omzet digital yang meningkat pesat hingga hampir 900% dalam 4 tahun. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan bahwa 93% pasar UMKM mengalami penurunan omzet. Namun, omzet itu beralih ke perdagangan online atau dagang-el.Dia menyebutkan tren perkembangan industri e-commerce di Indonesia melonjak dari Rp42 triliun pada 2017 menjadi Rp401 triliun pada 2021.
Perusahaan rekanan GoTo, Gojek, dan Tokopedia, kembali menggelar KoMD untuk para pegiat UMKM, menyusul kesuksesan gelaran KoMD pertama pada 2021 yang menjangkau belasan ribu pelaku UMKM.Edisi kedua KoMD ini mengusung tema ‘Transformasi Usaha Digital dan Ramah Lingkungan’ yang selaras dengan misi pemerintah Indonesia dalam presidensi Indonesia di G20. KoMD 2022 bertujuan mendorong kemajuan dan daya saing UMKM. Mengingat 95% perekonomian Indonesia ditopang oleh UMKM
Kinerja Makin Solid, Laba BSI Tumbuh 42% di Kuartal III
Kinerja positif PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berlanjut pada kuartal III-2022, tercermin dari laba bersih yang meningkat 42% secara year on year (YoY) mencapai Rp 3,21 triliun. BSI membukukan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 245,18 triliun, atau tumbuh 11,86% pada periode yang sama. Kinerja positif ini didukung oleh kepercayaan masyarakat melalui penempatan DPK. Bahkan tabungan wadiah tumbuh melesat dan menjadi salah satu produk yang paling diminati masyarakat, karena bebas biaya administrasi bulanan dengan fasilitas e-banking yang mudah diakses. Kinerja solid juga didukung total pembiayaan yang tumbuh 22,35%, menjadi Rp 199,82 triliun.
Kontribusi pembiayaan terbesar berasal dari bisnis mikro yang tumbuh 37,32%, disusul pembiayaan kartu yang meningkat 35,81% dan pembiayaan gadai naik 30,15%. Capaian ini juga didukung oleh kualitas pembiayaan yang sangat sehat. Hal itu tercermin dari NPF Nett yang sangat terjaga, hanya 0,59%. Dirut BSI Hery Gunardi mengatakan, kinerja perseroan hingga September 2022 berada pada jalur yang tepat dan menuju pertumbuhan yang semakin solid. “Kami terus melakukan transformasi dan efisiensi di internal serta mencermati perkembangan ekonomi di dalam negeri dan global, agar kami dapat melakukan antisipasi dan terus mendorong pertumbuhan kinerja BSI yang se[1]hat dan berkelanjutan,” tuturnya. (Yoga)
Triwulan Tiga, Ekonomi AS Tumbuh 2,6%
Kekhawatiran inflasi di AS diharapkan mereda setelah ekonomi mencatatkan kenaikan pertumbuhan pada kuartal ketiga 2022. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan pada Kamis (27/10) PDB periode Juli hingga September 2022 naik 2,6% dibandingkan tahun sebelummnya. Melebihi perkiraan Dow Jones yang sebesar 2,3%. Ekspansi ini membalikkan koreksi dua kuartal berturut-turut, yang sebetulnya memenuhi definisi resesi teknikal tapi belum menurut Biro Riset Ekonomi Nasional. Pertumbuhan pada kuartal III sebagian besar didorong penurunan defisit perdagangan, yang diperkirakan oleh para ekonom sebagai kejadian satu kali yang tidak akan terulang di kuartal mendatang. Peningkatan PDB itu juga berasal dari peningkatan belanja konsumen, investasi tetap non-perumahan, dan belanja pemerintah.
“Secara keseluruhan, rebound sementara 2,6% pada kuartal ketiga lebih dari sekedar membalikkan penurunan pada paruh pertama tahun ini, tapi kami perkirakan tidak bertahan lama,” kata Paul Ashworth, kepala ekonom Capital Economics untuk Amerika Utara, seperti dikutip CNBC. Menurut dia, ekspor akan segera menurun dan permintaan domestik semakin tertekan karena beban suku bunga tinggi. Laporan PDB itu keluar saat otoritas AS berjuang melawan inflasi, tertinggi dalam 40 tahun. Laporan BEA menunjukkan ekonomi melambat di sektor-sektor utama, terutama belanja konsumen dan investasi swasta. Belanja konsumen hanya naik 1,4% pada kuartal tersebut dan turun dari 2% pada kuartal II. Sedangkan investasi domestik swasta turun 8,5%, melanjutkan tren penurunan setelah jatuh 14,1% pada kuartal kedua. Sisi positifnya, ekspor naik 14,4% sementara impor turun 6,9%. (Yoga)
Bank Memanen Fulus dari Transaksi Valas
Sejumlah bank besar di Tanah Air menjala kenaikan pendapatan transaksi valuta asing (valas). Lonjakan ekspor dan impor, remitansi dan penguatan dollar AS menjadi pengerek pundi-pundi pendapatan berbasis valas.
Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mencatatkan pendapatan berbasis komisi dari transaksi foreign exchange dan derivatif senilai Rp 2,12 triliun di sembilan bulan pertama tahun ini. Nilai itu naik 3% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,06 triliun.
Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri Timothy Utama menyatakan, platform yang baru berumur satu tahun ini mencetak pertumbuhan transaksi sebesar 27% yoy menjadi Rp 13.420 triliun hingga kuartal III-2022. Adapun nilai transaksi e-fx (e-foreign exchange) Kopra tumbuh 109% yoy dari Rp 71 triliun menjadi Rp 149 triliun.
Selain BMRI, Bank BNI Tbk (BBNI) mencatatkan pendapatan berbasis valas sekitar Rp 1,17 triliun hingga September 2022. Nilai tersebut melejit 18,3% secara tahunan dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 997 miliar.
Di sisi lain, kata Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini, bunga kredit valas naik antara 1%-2%. “Penyesuaian suku bunga, khususnya deposito valas, untuk memenuhi tingginya permintaan kredit valas,” ujar Novita.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









