Ekonomi
( 40512 )Perdana Menteri Liz Truss Mengundurkan Diri
PM Inggris Liz Truss, Kamis (20/10) mengundurkan diri dari kursi pemimpin Partai Konservatif, artinya, ia pun mundur dari posisinya sebagai PM Inggris, posisi yang baru didudukinya kurang dari dua bulan. ”Kegagalan” mengemban mandat partai untuk membenahi kinerja ekonomi menjadi alasan pengunduran diri itu. ”Saya dipilih Partai Konservatif dengan mandat mengubahnya. Kami memenuhi tagihan energi dan memangkas asuransi nasional. Dan kami menetapkan visi untuk pajak rendah, target ekonomi pertumbuhan tinggi yang akan memanfaatkan Brexit. Namun saya mengakui, mengingat situasinya, saya tidak dapat memenuhi mandat tersebut, karena itu, saya telah berbicara dengan Raja dan menyampaikan kepada beliau bahwa saya mengundurkan diri dari posisi pemimpin Partai Konservatif,” kata Truss di depan kantornya di Downing Street, London. ”Saya menjabat pada saat kondisi ekonomi dan internasional tengah didera ketidakstabilan. Kondisi kehidupan rumah tangga dan bisnis dibayangi kekhawatiran pada besarnya biaya yang harus mereka tanggung, serangan Rusia atas Ukraina mengancam benua kita, dan Inggris telah begitu lama terhambat oleh pertumbuhan ekonomi yang rendah,” kata Truss. Langkah Truss dinilai sangat mengejutkan karena sehari sebelumnya ia menegaskan bahwa dia tidak akan menyerah. Ia bahkan menegaskan hal itu dengan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pejuang, seseorang yang tidak mudah menyerah. Namun, tekanan pada Truss memang tidak ringan. Selain isu ekonomi, berdasarkan catatan kantor Berita Associated Press, ia pun dihadapkan pada ”buruknya” situasi internal Partai Konservatif.
Sebelum memutuskan mengundurkan diri, Truss telah kehilangan Suella Braverman, Mendagri Inggris. Sebelum pengunduran diri Braverman, Truss memecat Menteri Keuangan Inggris Kwasi Kwarteng. Seorang anggota parlemen dari Partai Konservatif, Simor Hoare, mengatakan, kondisi pemerintahan sedang kacau. Banyak anggota parlemen lantas meminta Truss mundur, terutama setelah berminggu-minggu kondisi domestik tidak kunjung membaik. Rencana-rencana ekonomi yang dibangunnya justru memicu gejolak keuangan dan krisis politik. ”Sudah waktunya bagi perdana menteri untuk mundur,” kata Miriam Cates, anggota Parlemen Inggris. Anggota parlemen lainnya, Steve Double, mengatakan, Truss tidak cocok dengan tugas itu. Salah satu yang memicu kemarahan anggota parlemen adalah sikap Truss yang tetap ingin mempertahankan upaya memperoleh gas serpih melalui metode fracking, teknologi hidrolika patahan. Metode itu banyak ditentang kalangan Konservatif. Perdebatan keras mengenai hal itu memicu ”kekacauan” di Parlemen Inggris. Kondisi ekonomi Inggris memang tak mudah. Bulan lalu, inflasi mencapai 10,1 %, harga pangan melonjak hingga mencapai titik tertinggi dalam 42 tahun terakhir. Bank Sentral Inggris terpaksa mengintervensi mencegah krisis menyebar lebih luas, termasuk untuk menyelamatkan dana pensiun. (Yoga)
Mencari Pasar Baru di Ambang Resesi
Ditengah prediksi resesi global tahun 2023, setiap negara berupaya memperkuat perekonomiannya. Membangun kemitraan dagang menjadi penting. Perdagangan bebas dianggap memberi lebih banyak keuntungan bagi rakyat negara yang berpartisipasi dibandingkan dengan sikap proteksionisme. Pertumbuhan ekonomi menjadi lebih stabil dan lebih baik. Indonesia selama 29 bulan terakhir menikmati surplus neraca perdagangan yang didorong tingginya harga minyak sawit serta harga komoditas dan barang tambang, selain produk manufaktur. Tiga kawasan ekonomi superbesar, AS, China, dan Uni Eropa, pertumbuhannya diperkirakan akan melambat pada 2023. Perlambatan itu akan memengaruhi negara lain di seluruh dunia. Indonesia tak terkecuali. Dalam perlambatan ekonomi global, tak tertutup kemunkinan sikap proteksionis kembali muncul. Bisa juga karena keterbatasan devisa sehingga sejumlah negara membatasi impornya untuk kebutuhan esensial saja. Pada sisi lain, negara-negara akan mengupayakan peningkatan perdagangannya untuk mendapat devisa. Kompetisi akan mewarnai pasar dan akan baik apabila berjalan adil, meski pada tahap awal perdagangan baru dibuka ada pihak yang kalah dan pekerja kehilangan pekerjaan, akibat barang impor yang lebih murah dan baik.
Presiden Jokowi berulang kali mengingatkan semua pihak tetap waspada menghadapi perubahan global yang sulit diprediksi, meski neraca perdagangan kita surplus. Mencari pasar baru ekspor, seperti disampaikan Mendag Zulkifli Hasan, menjadi keharusan bagi Indonesia (Kompas, 20/10). Mencari pasar baru dapat berdasarkan negara tujuan, jenis produk yang ditawarkan, atau model kemitraan strategis. Kemitraan strategis bisa dilakukan dengan mendirikan usaha di kawasan tujuan ekspor, bermitra dengan bisnis lokal. Hal ini dilakukan sejak lebih dari 30 tahun lalu dan bisa diintensifkan. Walakin, kita harus dapat mengirim produk yang berdaya saing. Pertama-tama kita harus memilih produk ekspor yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Minyak sawit, misalnya, adalah keunggulan kompetitif dan komparatif kita, tetapi China dan India berambisi memproduksi sendiri minyak sawit. Karena itu, hilirisasi dan diversifikasi produk penting untuk mendapatkan nilai tambah dan pasar baru. Kita juga perlu mencari komoditas baru di tengah perubahan besar global akibat perubahan iklim, pandemi, ataupun ketidakstabilan geopolitik. Jerami padi, misalnya, sangat dibutuhkan industri peternakan sapi di Jepang. Nikel kadar rendah dapat dimanfaatkan untuk baterai. Artinya, pasar baru sebetulnya ada ketika terjadi perubahan rantai nilai global. (Yoga)
Ekspor Dipacu meski Ekonomi Melambat
Pemerintah terus berupaya mendongkrak ekspor, antara lain, melalui pameran perdagangan dan misi dagang yang membuahkan kontrak bisnis. Di sisi lain, pelaku industri tengah tertekan kenaikan inflasi dan suku bunga, serta depresiasi rupiah. Pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2022, Kemendag telah memfasilitasi 100 kontrak dagang pelaku usaha nasional dengan para pembeli dari 14 negara. Total nilai transaksi kesepakatan dagang pada hari pertama pameran perdagangan itu mencapai 1,19 miliar USD atau Rp 18,45 triliun. Ke-14 negara itu adalah Jepang, Malaysia, Belanda, Arab Saudi, Italia, Inggris, AS, Australia, Brasil, Spanyol, Jerman, Bangladesh dan Filipina. Komoditas yang diminati, antara lain, produk makanan dan minuman, perikanan, kertas, cangkang kelapa sawit, obat-obatan, sayuran, briket, gula aren, kopi, furnitur, produk kecantikan, rempah-rempah, produk kayu, dan ban kendaraan bermotor.
Mendag Zulkifli Hasan, Kamis (20/10) mengatakan, penandatanganan 100 kesepakatan dagang tersebut menunjukkan antusiasme mitra dagang Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi, mereka tetap percaya dan berupaya memperkuat perdagangan untuk memulihkan ekonomi global. TEI 2022 digelar secara luring pada 19-23 Oktober 2022 di Indonesia Convention Exhibition BSD City, Tangerang, Banten, dan daring pada 19 Oktober-19 Desember 2022. Pameran perdagangan itu diikuti 795 pelaku usaha dan dihadiri 2.288 pembeli potensial dari 176 negara. Transaksi ditargetkan mencapai 10 miliar USD atau meningkat 65 % realisasi transaksi TEI 2021 yaitu 6,1 miliar USD. (Yoga)
Redam Kejatuhan Rupiah, BI Agresif Naikkan Bunga
Kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terus berlanjut ditambah ekspektasi inflasi yang dinilai masih tinggi mendorong BI kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 %. Kenaikan suku bunga acuan ini diharapkan bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengembalikan inflasi ke dalam sasaran 2-4 % pada semester I-2023. Kebijakan itu diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar, Kamis (20/10). Ini merupakan kenaikan 50 basis poin (bp) berturut-turut setelah pada bulan sebelumnya BI melakukan hal yang sama. Pada Agustus 2022, BI hanya menaikkan suku bunga sebesar 25 bp. Saat memaparkan hasil RDG BI secara daring pada Kamis, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini salah satunya untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya. Sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022, mata uang rupiah telah terdepresiasi 8,03 % terhadap dollar AS.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs rupiah pada perdagangan Kamis ditutup pada level Rp 15.579 per dollar AS, melemah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp 15.491 per dollar AS. Kendati demikian, depresiasi kurs rupiah masih lebih rendah dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya, seperti rupee India yang melemah 10,42 %, ringgit Malaysia turun 11,75 %, dan baht Thailand yang anjlok 12,55 %. Pelemahan nilai tukar rupiah salah satunya dipicu langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang sepanjang tahun ini sangat agresif menaikkan suku bunga acuannya. Kini suku bunga acuan The Fed berada pada posisi 3,25 %. Investor memindahkan dananya ke aset-aset berdenominasi dollar AS lantaran imbal hasilnya lebih menarik. Di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global, para pemodal makin terdorong menempatkan dananya di pasar AS. (Yoga)
Laba BCA Triwulan III-2022 Rp 29 Triliun
Laba bersih PT Bank Central Asia Tbk pada triwulan III-2022 naik 24,8 % secara tahunan menjadi Rp 29 triliun. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan kredit sebesar 12,6 %. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam paparan kinerja, Kamis (20/10) mengatakan, pertumbuhan kredit BCA terjadi di semua lini. Hal ini sejalan dengan pemulihan ekonomi. (Yoga)
Area Konservasi Topang Wilayah Perikanan
Perlindungan kawasan konservasi perairan memberi manfaat bagi keberlanjutan pengelolaan perikanan. Dari area konservasi perairan, larva ikan didistribusikan ke berbagai tempat, termasuk ke area penangkapan, bahkan keluar dari wilayah pengelolaan perikanannya. Ini ditunjukkan dalam riset Universitas Pattimura dan Konservasi Indonesia di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 714 di Laut Banda dan WPP 715 di Laut Seram, Maluku. Tim penelitian menggunakan metode genetika, teknik permodelan, dan analisis dinamika populasi. ”Antara ikan di dalam dan di luar MPA (kawasan konservasi perairan) benar-benar harus dikelola secara bersama-sama karena ikan-ikan itu masih satu keluarga. Apa yang kita lakukan di suatu daerah atau pulau itu akan berimbas luas pada wilayah perikanan lain,” kata Elle Wibisono, peneliti dari Konservasi Indonesia, dalam seminar Dampak Ekonomi dari Hubungan Ekologis antara Kawasan Konservasi dengan Sumber Daya Perikanan di WPP 714 dan 715, Kamis (20/10) di Jakarta.
Menanggapi hasil riset tersebut, Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Ocky Karna Radjasa sangat mengapresiasinya. ”Ini baru (riset) permulaan, tetapi bisa memberi jawaban atas beberapa fenomena yang menjadi pertanyaan pengambil kebijakan,” katanya. Direktur Perencanaan Ruang Laut KKP Suharyanto mengatakan, riset tersebut menjadi angin segar penanganan seluruh perencanaan ruang laut di Indonesia. Pihaknya akan menyusun tata ruang laut seperti yang dijabarkan pada riset itu. ”WPP 714 punya hubungan dengan WPP 715, tetapi kalua bicara provinsi tata ruangnya itu lebih dari satu provinsi sehingga kita bisa menyarankan ke pemda untuk mendesain arahan peruntukan ruang agar terjadi korelasi dan integrasi setiap daerah,” katanya. (Yoga)
Mulai Terkena Dampak Kenaikan Suku Bunga
Dunia usaha mulai kelimpungan setelah BI menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate. Kemarin, bank sentral kembali mengerek suku bunga sebesar 50 basis point (bps) ke level 4,75 %, demi menjangkar inflasi yang terus meningkat hingga mendekati 6 %. Wakil Ketua Umum Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Kamdani, berujar pengusaha kini terimpit di tengah dinamika perekonomian yang tak menentu, yaitu tekanan inflasi, pelemahan kurs rupiah, hingga ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat penurunan permintaan dan konsumsi masyarakat.
Kenaikan suku bunga membuat biaya ekspansi usaha menjadi lebih mahal, terlebih ketika harus meminjam dana dari perbankan ataupun lembaga pembiayaan lainnya. Ombang-ambing kurs rupiah yang kini berada di atas Rp 15 ribu per dolar AS juga membuat pelaku usaha terpukul karena tingginya ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam perdagangan, khususnya impor. Terakhir, risiko kenaikan inflasi diprediksi masih akan terus berlanjut hingga awal tahun depan dan diprediksi akan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi domestik.
“Hal terbaik yang bisa kami lakukan pada saat ini adalah mengelola dampak yang mungkin terjadi, dengan meningkatkan efisiensi, memastikan kelancaran arus kas, dan kecukupan modal,” kata Shinta. “Kami perkirakan dalam jangka pendek, 3-6 bulan ke depan akan ada semakin banyak sektor yang melakukan penyesuaian harga di pasar, karena efek domino dari kenaikan harga BBM.”. (Yoga)
Agar Modal Baru Mengalir ke Bandara
Para operator bandara masih harus memantapkan portofolio bisnis agar bisa menarik investasi baru. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Transportasi, Denon Prawiraatmadja, mengatakan badan usaha milik negara di bidang pengelolaan bandara harus jeli memperkirakan keinginan pemodal agar proyeknya diminati dalam proses penjajakan pasar. "Yang pasti, investor selalu mencari peluang jangka panjang," tuturnya kepada Tempo, kemarin. Menurut Denon, yang juga memimpin Indonesia National Air Carriers Association (INACA), iklim investasi penerbangan di Indonesia sudah menarik di mata pemodal asing dan domestik karena tingkat permintaan pasar yang menjanjikan. Dengan karakter negara kepulauan, bandara menjadi aset aviasi yang dibutuhkan di banyak wilayah dan bisa dikembangkan dalam periode jangka panjang.
Meski begitu, investor bandara sangat teliti menyaring tawaran kemitraan yang datang. "Makanya, dalam tawaran harus jelas apa nilai tambah dan keuntungan (proyek) dibanding tempat lain." Investor pun selalu menimbang aspek tata kelola dan kelancaran usaha perusahaan penyedia proyek. Denon berujar tawaran proyek bandara bakal makin menarik bila dilengkapi desain bisnis jangka panjang. "Apakah bisa menyiapkan rencana sedekade ke depan atau kalau perlu hingga 2045 akan bagaimana. Profil usaha juga harus diperjelas," ucapnya. Dari tren yang berkembang, dia menyebutkan, brown project atau proyek yang sudah beroperasi secara terbatas lebih menarik bagi investor bandara dibanding proyek anyar atau green project. (Yoga)
Tahun 2023, Puncak Suku Bunga
Agresivitas penaikan suku bunga acuan bank sentral di berbagai negara akan terus terjadi dan mencapai puncaknya tahun 2023. Setelah menaikkan bunga acuan 50 basis poin, BI akan menyesuaikan kebijakannya dengan langkah The Federal Reserve (Fed) yang saat ini mematok suku bunga acuan di level 3,25%. Kami perkirakan FFR akhir tahun ini di level 4,50% dan pada tahun depan mencapai puncak tertinggi, 4,75%,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (20/10). Langkah agresif menaikkan suku bunga acuan tidak hanya dilakukan The Fed, melainkan bank juga sentral negara lainnya. Kebijakan itu terpaksa diambil untuk mengendalikan inflasi akibat berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan, dan investasi. “Kenaikan inflasi memicu pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di negara maju. Dampak rambatan fragmentasi ekonomi global diperkirakan dapat menyebabkan perlambatan ekonomi di emerging market,” ujar dia.
Kenaikan suku bunga The Fed akan mendorong makin kuatnya mata uang dolar AS, sehingga memberi tekanan atau depresiasi terhadap nilai tukar negara lain, termasuk Indonesia. Dalam RDG, Kamis (20/10), BI menaikkan BI7DRR untuk ketiga kalinya tahun ini sebesar 50 bps menjadi 4,75%. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,5%. BI menyebut keputusan itu sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting). Sementara itu, kalangan bankir dan ekonom yang dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Kamis (20/10), menyatakan, penaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,75% akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan dan fundamental ekonomi nasional. Selain meredam pelemahan nilai tukar rupiah dan mengerem laju inflasi, penaikan BI7DRR akan menambah pendapatan bank dari surat berharga negara (SBN) akibat naiknya imbal hasil (yield). Kepemilikan bank di SBN saat ini mencapai Rp 1.620,71 triliun atau 31,77% dari total SBN senilai Rp 5.101,04 triliun. (Yoga)
Pemerintah Dorong Industri Sawit Berkelanjutan Hulu-Hilir
Pemerintah terus mendorong industri sawit berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Industri hulu sawit yakni perkebunan yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari inovasi teknologi dan keterampilan dari SDM yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Karena itu, peningkatan keterampilan dan pelatihan bagi petani kecil juga dibutuhkan untuk mewujudkan produksi yang berkelanjutan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, guna mendorong keberlanjutan industri sawit, pemerintah telah menerapkan kerangka peraturan dan mendorong kerja sama multipihak di sektor kelapa sawit, di antaranya melalui Perpres No 44 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Inpres No 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RANKSB) 2019-2024. “Selain itu, ada Program Strategis Nasional tentang Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang diatur dalam Permentan No 3 Tahun 2022 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengembangan, Peremajaan, serta Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit,” ungkap Airlangga dalam keterangan Kemenko Perekonomian.
Kinerja ekspor Indonesia pada September 2022 tercatat tumbuh positif 20,28% (year-on-year/yoy) dengan tiga komoditas unggulan ekspor, yaitu besi baja, minyak sawit, dan batu bara. Indonesia dapat menyumbangkan 52% minyak sawit terhadap pangsa pasar dunia serta mampu menghasilkan 40% dari total minyak nabati dunia. Hal ini bagaikan oase yang membangkitkan semangat pemulihan ekonomi nasional di tengah kondisi ekonomi global yang masih fluktuatif. Perkebunan sawit nasional juga terus berkembang signifikan dengan luas 16,38 juta hektare dan menyerap tenaga kerja lebih dari 17 juta kepala keluarga, petani, dan karyawan yang bekerja di sektor on farm maupun off farm. “Pengembangan industri hilir juga merupakan upaya strategis meningkatkan nilai tambah industri sawit agar tidak hanya terkonsentrasi pada bahan baku, tetapi perlu terus didorong ke industri hilir bahkan sampai produk akhir. Dengan upaya ini, nilai tambah tentu akan berada di dalam negeri,” tutur Airlangga saat 7th Indonesian Palm Oil Stakeholders Forum bertema Korporatisasi untuk Kemandirian Petani melalui Kemitraan yang Sehat yang sekaligus membuka Pekan Riset Sawit Nasional 2022, Kamis (20/10). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









