;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Strategi Agar Tarif Tak Timbulkan Tekanan Kinerja

11 Apr 2025
Penundaan tarif impor oleh Amerika Serikat selama 90 hari tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran para pelaku ekspor Indonesia. Ketidakpastian hasil negosiasi tarif dengan AS membuat para eksportir waswas, terutama karena potensi penurunan volume perdagangan dan meningkatnya biaya ekspor dapat mengganggu arus kas serta berdampak pada kualitas kredit perbankan nasional.

Data OJK menunjukkan tren kenaikan Non Performing Loan (NPL), terutama di sektor perdagangan dan perikanan. NPL sektor perdagangan mencapai 3,72% per Februari 2025, naik dari 3,29% di Desember 2024, sementara NPL sektor perikanan meningkat menjadi 5,1%.

Menghadapi risiko ini, Bank Mandiri melalui Corporate Secretary M. Ashidiq Iswara telah mengambil langkah mitigasi, seperti stress test, analisa sensitivitas, diversifikasi portofolio kredit, dan peningkatan pencadangan sebesar 59,5% menjadi Rp 900 miliar.

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) yang diwakili oleh Hera F. Haryn juga menyatakan bahwa BCA terus memantau risiko kredit dan menetapkan batasan kredit berdasarkan prospek industri. BCA mencatat rasio Loan at Risk (LAR) turun menjadi 5,3% dan memiliki pencadangan NPL kuat di level 208,5%.

Bank CIMB Niaga (BNGA) pun bersiap menghadapi tekanan ini. Presiden Direktur Lani Darmawan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan assessment dan stress test terhadap industri yang berisiko terdampak oleh kebijakan tarif ekspor.

Perbankan nasional telah mengantisipasi dampak lanjutan dari ketidakpastian tarif ekspor ke AS dengan strategi mitigasi risiko dan peningkatan pencadangan, demi menjaga stabilitas sektor keuangan di tengah tekanan global.

Investor Institusi Dinanti untuk Gerakkan Pasar

10 Apr 2025

Di tengah pelemahan pasar saham dan volatilitas indeks harga saham gabungan (IHSG) yang telah turun 15,71% sepanjang 2025, sejumlah investor institusi seperti asuransi jiwa, asuransi sosial, dan dana pensiun mulai melihat peluang untuk kembali mengakumulasi saham, khususnya saham-saham berfundamental kuat yang saat ini dinilai undervalued.

Menurut Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Research Associate dari IFG Progress, saham yang telah terkoreksi dalam justru membuka ruang kenaikan harga ke depan, meski tetap perlu kehati-hatian dalam mencocokkan investasi dengan profil kewajiban jangka waktu institusi.

Senada, Felix Darmawan, Equity Research Analyst Panin Sekuritas, menyebut bahwa investor institusi dengan horizon jangka panjang, seperti dana pensiun dan asuransi sosial, lebih fokus pada valuasi dan potensi jangka panjang, dibanding melakukan aksi jual di tengah koreksi pasar. Strategi diversifikasi seperti kombinasi saham, SBN, dan emas, juga dipandang sebagai langkah untuk menjaga stabilitas portofolio.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menegaskan bahwa meskipun fluktuasi pasar berdampak pada hasil jangka pendek, industri asuransi jiwa tetap kuat berkat sifat investasi jangka panjang dan manajemen risiko yang disiplin. Sementara itu, CEO Ciputra Life Hengky Djojosantoso menyebut koreksi pasar sebagai momen untuk mendapatkan saham berkualitas dengan harga lebih murah, bahkan mencatat pertumbuhan hasil investasi 28,5% pada 2024.

Institusi lain seperti BPJS Ketenagakerjaan dan PT Taspen juga menyatakan tetap optimistis dan siap memanfaatkan momentum pasar dengan penempatan dana di saham-saham likuid dan berfundamental baik.

Di sisi lain, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menekankan bahwa secara agregat, emiten di bursa membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 19,32% YoY pada 2024, mencerminkan ketahanan fundamental korporasi Indonesia, meski IHSG mengalami tekanan.

Secara keseluruhan, artikel ini menyoroti bahwa meski sektor saham tengah mengalami tekanan, para pelaku institusi tetap percaya pada fundamental jangka panjang, dan mulai kembali ke pasar untuk menangkap peluang investasi di tengah tekanan pasar.


Imbas Tarif AS ke Rantai Pangan & Pertanian RI

10 Apr 2025

Kebijakan tarif perdagangan resiprokal sebesar 32% yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 9 April 2025, telah menciptakan ketidakpastian ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi di berbagai negara. Lembaga CEIC memperkirakan bahwa Indonesia memiliki risiko resesi sebesar 5%, namun tetap harus waspada karena dampak kebijakan ini cukup besar, terutama terhadap sektor pangan dan pertanian yang menyumbang devisa penting melalui ekspor ke AS.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai ekspor produk pangan-pertanian Indonesia ke AS cukup signifikan, mencakup komoditas seperti minyak sawit, karet, hasil laut, dan alas kaki. Penerapan tarif resiprokal dapat mengurangi daya saing ekspor Indonesia dan mengganggu industri serta lapangan kerja dalam negeri. Oleh karena itu, strategi manajemen krisis dan diplomasi perdagangan menjadi sangat penting.

Menurut artikel ini, pemerintah Indonesia bersama pelaku usaha dan akademisi harus aktif melakukan diplomasi dagang dengan Pemerintah AS, terutama melalui kerangka kerja sama ASEAN-US TIFA yang bisa dimanfaatkan sebagai platform negosiasi yang inklusif. Pembicaraan dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia sudah dilakukan untuk membentuk kesatuan posisi dalam menghadapi kebijakan Trump.

Diplomasi juga perlu diarahkan pada kebijakan non-tarif, misalnya terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang sebelumnya pernah menjadi sorotan perusahaan besar seperti Apple, General Electric, dan Microsoft.

Di tingkat domestik, pemerintah juga perlu membenahi regulasi impor pangan yang masih tumpang tindih, seperti perbedaan syarat antara Permentan No. 5/2022 dan Permendag No. 8/2024. Efektivitas kebijakan pembatasan impor, termasuk mekanisme Neraca Komoditas (NK), perlu diperkuat agar melindungi industri dalam negeri sambil tetap menjamin kelancaran rantai pasok industri pangan.


Obligasi Naik Daun, Tapi Suplai Bisa Jadi Ancaman

10 Apr 2025

Di tengah pelemahan rupiah yang berdampak negatif pada pasar saham, instrumen obligasi, khususnya Surat Berharga Negara (SBN), masih menjadi pilihan relatif stabil, termasuk bagi investor asing. Namun, tekanan fiskal yang meningkat membuat risiko oversupply surat utang kian nyata, seiring dengan kebutuhan pembiayaan besar dari pemerintah dan swasta.

Chang-kun Shin, Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah memunculkan kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi Indonesia, termasuk risiko defisit fiskal yang melebar akibat beban program seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta kewajiban pembayaran surat utang jatuh tempo. Ia juga menyoroti bahwa Bank Indonesia tidak memiliki ruang cukup untuk menurunkan suku bunga demi menjaga daya tarik obligasi Indonesia.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income di Anugerah Sekuritas, menambahkan bahwa walaupun pasar obligasi ikut terdampak, efeknya tak sedalam saham karena obligasi bersifat investasi jangka panjang. Ia menekankan pentingnya kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif, termasuk stimulus ekonomi dan dukungan likuiditas untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Sementara itu, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti bahwa capital inflow tetap positif di SBN, dengan pembelian bersih mencapai Rp23,87 triliun. Ia memperkirakan imbal hasil SBN 10 tahun akan berada pada kisaran 6,75%–7,10% di 2025, dan menyarankan akumulasi bertahap karena pelemahan obligasi dinilai bersifat sementara.

Namun, tantangan besar tetap ada. Dengan utang pemerintah yang mencapai Rp800 triliun dan bunga sebesar Rp500 triliun, penerbitan obligasi baru tak terhindarkan untuk menutup defisit APBN. Jika permintaan rendah, suku bunga mungkin harus dinaikkan, yang bisa meningkatkan beban bunga negara di masa depan.


Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan

10 Apr 2025
Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat, ditandai dengan penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,71% sejak awal tahun 2025. Di tengah volatilitas tinggi dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing senilai Rp 34,89 triliun, banyak investor mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman seperti emas, yang justru mencatatkan kenaikan harga lebih dari 14% secara tahunan.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, menilai bahwa di tengah ketidakpastian dan ancaman resesi, banyak investor memilih mengamankan dana dalam bentuk cash, termasuk dengan menjual emas sebagai likuiditas cadangan. Ketika pasar saham mencapai titik rendahnya, uang tunai ini bisa dimanfaatkan untuk membeli saham berharga murah.

Sementara itu, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyarankan agar investor tetap berinvestasi di saham yang menawarkan dividen besar, menggunakan dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Ia melihat posisi IHSG yang sudah menjauh dari angka 6.000 menandakan bahwa harga saham sudah relatif murah.

Oktavianus Audi, VP Kiwoom Sekuritas, menekankan agar investor menghindari saham dengan utang dalam dolar AS yang tinggi, serta perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) di atas 1x. Ia juga menyarankan untuk melakukan diversifikasi aset ke instrumen bebas risiko seperti obligasi pemerintah dan emas.

Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, mengingatkan investor untuk tidak menempatkan dana di instrumen berisiko tinggi dalam situasi pasar seperti sekarang. Ia merekomendasikan alokasi dana yang proporsional tergantung pada profil risiko, dengan fokus utama pada cash dan emas.

Meski pasar saham belum menarik, para ahli sepakat bahwa strategi investasi yang hati-hati, berbasis likuiditas tinggi dan diversifikasi ke aset safe haven seperti emas, adalah kunci menghadapi tekanan pasar saat ini.

Dampak Ekonomi Regional Merembet ke Indonesia

10 Apr 2025
Perekonomian Indonesia diprediksi akan menghadapi tekanan berat akibat kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan ini bukan hanya menurunkan permintaan global dan harga komoditas, tetapi juga menimbulkan risiko limpahan produk dari negara mitra dagang utama seperti China, yang mengalami pelemahan ekonomi dan kelebihan kapasitas produksi.

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi AS dan negara-negara besar lain seperti Uni Eropa, Jepang, dan terutama China, akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Mandiri menghitung bahwa setiap penurunan ekonomi China sebesar 1% bisa menurunkan ekonomi RI sebesar 0,39%, bahkan lebih besar dibanding dampak dari AS yang mencapai 0,37%.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga memperkirakan dampak kebijakan tarif Trump akan memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di sektor ekspor-impor seperti tekstil dan alas kaki. Ahmad Heri Firdaus, peneliti dari Indef, menambahkan bahwa Vietnam dan China justru menjadi negara yang paling terdampak secara langsung, dengan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi hingga 0,84% untuk Vietnam akibat tarif tinggi yang dikenakan AS.

Kebijakan proteksionisme Trump menciptakan tekanan global yang berimbas pada Indonesia. Dengan sektor manufaktur sebagai penopang utama PDB, dan ketergantungan terhadap ekspor, perekonomian Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap perlambatan ekonomi mitra dagang utama, terutama jika tidak segera dilakukan antisipasi dari sisi kebijakan domestik.

Jalan Tol Melambat, Kinerja Jasa Marga Terpengaruh

10 Apr 2025
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan kinerja pada tahun 2025, terutama disebabkan oleh stagnasi volume lalu lintas di jalan tol. Meskipun pendapatan JSMR tumbuh signifikan sebesar 35% yoy menjadi Rp 28,70 triliun pada 2024, laba bersih justru turun 33% yoy ke angka Rp 4,5 triliun, terutama karena hilangnya keuntungan dari revaluasi investasi di Tol Trans Jawa.

Andhika Cipta Labora, analis dari Kanaka Hita Solvera, memproyeksikan trafik kendaraan tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, ditandai dengan penurunan jumlah pemudik saat Lebaran 2025—momen penting bagi peningkatan trafik. Sementara itu, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menyebut tren lalu lintas yang datar sebagai faktor penekan utama, dan memperkirakan dua ruas tol baru yang akan dioperasikan JSMR tidak akan memberikan dampak signifikan.

Namun, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas masih optimistis. Ia menilai bahwa penyesuaian tarif tol yang dilakukan JSMR akan menjadi sumber pertumbuhan pendapatan di tahun ini, karena efeknya baru akan terasa penuh pada 2025. Sukarno memperkirakan pendapatan JSMR bisa tumbuh hingga 7% menjadi Rp 30,93 triliun, meski laba bersih diprediksi tetap menurun sebesar 18%.

Dari sisi rekomendasi saham, Aqil menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold dengan target harga Rp 4.200 per saham, menimbang potensi kinerja yang melambat. Sebaliknya, Sukarno dan Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy, masing-masing dengan target harga Rp 5.500 dan Rp 4.180.

Meskipun JSMR masih memiliki peluang dari penyesuaian tarif, para analis menyoroti stagnasi trafik sebagai hambatan utama bagi pertumbuhan laba perusahaan di 2025.

Prabowo Dorong Kredit ke Sektor Tekstil

10 Apr 2025
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya dukungan terhadap industri tekstil nasional, meskipun sektor ini sempat diguncang kasus gagal bayar seperti yang dialami oleh Pan Brothers dan Sritex. Menurut Prabowo, industri tekstil adalah sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja, sehingga perlu mendapatkan dukungan pembiayaan, terutama dari bank-bank BUMN. Ia yakin potensi pasar domestik, seperti kebutuhan seragam bagi 44 juta siswa, menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mendukung arahan Presiden namun menekankan perlunya kesiapan dari pelaku industri dan respons yang cermat dari perbankan agar pembiayaan benar-benar efektif. Ia menegaskan bahwa industri tekstil belum memasuki masa surut dan masih memiliki potensi jika dibekali dengan teknologi dan pembiayaan yang tepat.

Bank Mandiri, melalui Sekretaris Perusahaan M. Ashidiq Iswara, menyatakan tetap menyalurkan kredit ke sektor tekstil, namun dengan selektivitas tinggi berdasarkan kinerja dan prospek usaha. Total kredit ke sektor industri pengolahan mencapai Rp 182,9 triliun, termasuk tekstil. Di sisi lain, Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, menyampaikan bahwa kredit tekstil di perusahaannya masih dalam kondisi sehat dan tetap akan didukung selama nasabah menunjukkan kinerja yang baik.

Para tokoh dan pelaku industri menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan, sektor tekstil tetap dianggap strategis dan potensial untuk terus didorong demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Pemerintah Sebaiknya Lebih Fokus Pada Diversifikasi Ekspor

10 Apr 2025

Pemerintah Indonesia akan menempuh negosiasi untuk menanggapi tarif impor resiprokal AS. Namun, konsesi yang ditawarkan berpotensi menurunkan posisi tawar RI di depan AS. Alih-alih berkompromi, pemerintah disarankan untuk fokus saja pada diversifikasi pasar ekspor di luar AS. Kebijakan tarif impor resiprokal AS akan mulai diterapkan secara efektif kepada sejumlah negara mitra dagang pada Rabu (9/4) waktu setempat. Indonesia dikenai tarif bea masuk sebesar 32 %, keenam tertinggi di kawasan ASEAN. Tekad pemerintah untuk menempuh langkah negosiasi demi menurunkan tarif telah bulat. Keseriusan pemerintah untuk bernegosiasi ditunjukkan dengan melayangkan surat kepada otoritas perdagangan AS.

Pemerintah menawarkan serangkaian kebijakan yang mengarah pada konsesi, mulai dari deregulasi aturan perpajakan dan pengurangan tarif bea masuk atas produk AS, pembukaan akses pasar yang lebih lebar bagi sejumlah produk AS, pelonggaran kuota impor, hingga relaksasi syarat tingkat komponen dalam negeri. Menurut Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, berbagai upaya itu diharapkan dapat menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia dengan AS, yang saat ini mencatat surplus bagi Indonesia sebesar 16,8 miliar USD pada tahun 2024. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, beberapa komoditas yang akan ditambah impornya dari AS meliputi bahan baku liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) dan minyak mentah.

Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mendorong pemerintah mempercepat perjanjian dagang dengan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika untuk diversifikasi ekspor. Jangka pendeknya, penting menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. ”Beberapa caranya bisa dengan intervensi di pasar keuangan dan stimulus bagi dunia usaha terdampak,” ujar Anggawira. Perluasan sasaran dagang, juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP). RCEP adalah blok perdagangan di Asia Pasifik yang melibatkan 15 negara dengan porsi sepertiga dari total ekonomi global. (Yoga)


China Melawan Tarif Trump

10 Apr 2025

Tarif timbal balik yang dijatuhkan Presiden AS, Donald Trump terhadap sejumlah negara berlaku efektif pada Rabu (9/4). Negara-negara sasaran terus berupaya meredam dampak tarif tinggi tersebut pada perekonomian. Negara-negara Uni Eropa (UE) tengah mempersiapkan persetujuan untuk balasan pertama blok itu terhadap tariff Trump. UE menyusul langkah China dan Kanada yang menyatakan akan membalas tarif yang diberlakukan Trump. UE, yang adalah blok 27 negara, menghadapi tarif 25 % atas baja, aluminium, dan mobil. Selain itu, ada tarif 20 % untuk hampir semua barang impor dari UE. Pada Senin, Komisi Eropa mengusulkan tarif ekstra rata-rata 25 % atas barang yang diimpor dari AS.

Hal itu mencakup sepeda motor, ternak, buah, kayu, pakaian, dan benang gigi. Nilainya total 21 miliar euro tahun lalu. Rencananya, tarif balasan UE berlaku bertahap, mulai 15 April, dilanjutkan 16 Mei, hingga 1 Desember. Sementara, China berusaha membuat perekonomiannya ”anti tarif” dengan menggenjot konsumsi dan berinvestasi pada industri-industri kunci. China dikenai tarif AS dengan total 104 %. China menyatakan akan membalas sampai titik penghabisan. Sikap itu dibuktikan China pada Rabu petang. China kini menyerang balik AS dengan tarif baru sebesar 84 % naik dari selumnya, 34 persen. Menurut Kemenkeu China, tarif baru tersebut akan berlaku pada Kamis (10/4) pukul 12.01 waktu setempat.

”AS terus merusak dengan tarif untuk menekan China. China tegas menentang dan tak akan menerima bentuk perundungan apa pun,” kata jubir Kemenlu China dalam konferensi pers, Rabu. PM China Li Qiang mengatakan, para pejabat yakin dengan ketangguhan perekonomian China. Tajuk rencana People’s Daily yang berafiliasi dengan Partai Komunis China pada akhir pekan lalu menggambarkan tarif Trump sebagai ”kesempatan strategis” bagi China untuk memperkuat konsumsi sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. ”Kita harus mengubah tekanan menjadi motivasi,” demikian tajuk rencana itu. (Yoga)