Ekonomi
( 40789 )Penjualan Bisa Ngebul Saat Pemilu
Emiten rokok bakal lebih ngebul menjelang musim kampanye pemilihan umum atau pemilu. Secara historis, permintaan rokok biasanya lebih tinggi pada tahun pemilu.
Hajatan politik itu katalis positif bagi kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) hingga akhir tahun 2023. Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Stevanus Juanda mengatakan, secara historis, penjualan GGRM cenderung bertumbuh selama pemilu. Pada pemilu 1999 misalnya, penjualan GGRM naik 27,3% secara tahunan atau
year on year
(yoy).
Lalu, pada pemilu 2004, penjualan GGRM naik 5% yoy dan pada pemilu 2009 meningkat 9% yoy. Pada dua pemilu terakhir, GGRM mencetak pertumbuhan dobel
digit.
Rinciannya, penjualan GGRM naik 17,6% pada pemilu 2014 dan mendaki 15,5% pada pemilu tahun 2019 lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama juga sepakat, penyelenggaraan pemilu di semester kedua ini bakal mengerek volume penjualan GGRM. Dari data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, produksi rokok pada tahun pemilu 2019 juta meningkat. "Ini menggambarkan saat pemilu daya beli masyarakat menguat," sambungnya. Hanya saja, GGRM dan perusahaan rokok besar terancam produk rokok yang harganya lebih murah.
RHB Sekuritas dalam riset 23 Agustus juga menilai, permintaan rokok mulai pulih dan bisa memicu pertumbuhan volume GGRM. Kinerja penjualan ini juga disebabkan menurunnya agresivitas GGRM dalam meningkatkan harga produk.
Di antara emiten rokok lainnya, RHB Sekuritas memilih GGRM sebagai saham pilihan teratas. Hal ini seiring dengan pulihnya margin dan kenaikan pangsa pasar di segmen sigaret kretek mesin (SKM).
Bank Menanti Kajian OJK Soal Kredit Kategori Hijau
Peluang sektor bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara masuk kategori kredit hijau masih terbuka. Peluang ini dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan, saat ini OJK tengah mengkaji perluasan indikator pembiayaan PLTU batubara yang bisa masuk dalam kategori hijau.
Sebelumnya, pembiayaan terhadap PLTU batubara bisa masuk kategori hijau jika hanya digunakan untuk transisi energi. Tapi kini, OJK akan memperluas peran PLTU batubara yang digunakan untuk menghasilkan produk hijau dan berkelanjutan.
Dari hasil kajian ini, OJK akan menentukan apakah sektor batubara bisa masuk taksonomi hijau atau tidak. Jika hasil kajian menyebut PLTU batubara bisa memberi dampak positif besar terhadap industri EBT, bisa saja sektor ini masuk kategori hijau.
Ekonom Perbankan Binus University Dody Arifianto menilai wajar jika kajian tersebut dilakukan OJK. Terlebih, sektor pertambangan termasuk batubara di Indonesia tergolong besar.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja juga menyambut baik langkah OJK. Menurut dia, kebutuhan batubara untuk pasar domestik masih besar. "Kebutuhan batubara cukup banyak, dan masih cukup menarik," ujar Jahja.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility
BCA Hera F. Haryn menambahkan, penyaluran kredit BCA ke sektor-sektor berkelanjutan masih besar. Per Juni 2023, total kredit BCA ke sektor ini mencapai Rp 181,2 triliun, naik 6,9% secara tahunan.
MEMBUKA GERBANG DAGANG ASEAN
Berstatus sebagai eksportir terbesar keempat di dunia rupanya tak membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara lekas berpuas diri. Buktinya, yurisdiksi yang tergabung dalam The Association of Southeast Asian Nations (Asean) terus berupaya membuka gerbang dagang lebih lebar.Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 Asean pun dimanfaatkan betul untuk memperluas kemitraan dagang, baik secara bilateral maupun multilateral. Sejumlah negara mitra Asean pun berkomitmen untuk memperluas atau mengimplementasikan penuh kemitraan niaga lintas batas. Mulai dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Asean dengan lima negara Pasifi k, Asean Plus Three (APT), hingga kemitraan bilateral yang dijalin oleh kawasan ini.Indonesia yang memegang Keketuaan Asean 2023 pun tak tinggal diam. Strategi yang ditempuh antara lain mendorong seluruh anggota untuk meratifi kasi RCEP dengan lima negara Pasifi k yakni Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.Kemudian menegosiasikan kesepakatan secara bilateral di antaranya dengan Amerika Serikat (AS), China, Jepang, Korea Selatan, dan Kanada. Bahkan, Indonesia juga memfasilitasi negosiasi Asean dengan AS soal UU Infl ation Reduction Act (IRA).Tujuannya adalah terus menggenjot nilai perdagangan dari Asean ke pelosok bumi. Apalagi, nilai ekspor Asean ke seluruh negara mitra terus mencatatkan peningkatan.
Presiden Joko Widodo, dalam KTT ke-26 Asean Plus Three, Rabu (6/9), mengatakan seluruh pihak perlu terus meningkatkan kerja sama dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Presiden menambahkan, Asean juga secara bulat menyepakati untuk terus menjalankan fungsinya sebagai lokomotif perdamaian dan stabilitas kawasan, yang dalam kaitan itu Indo-Pasifik harus menjadi platform bagi kolaborasi.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, meminta agar penyelesaian perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dengan Asean dipercepat.
Perdana Menteri China Li Qiang, mengungkapkan komitmen Negeri Panda untuk mendukung peningkatan kemitraan yang saling menguntungkan dan produktif di Asean.Terlebih, hingga saat ini China merupakan negara mitra dagang terbesar Asean dengan nilai lebih dari US$970 miliar pada 2022 dan ditargetkan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menyampaikan bahwa trilateral atau kerja sama tiga negara antara Korea Selatan, AS, dan Jepang akan terus mendukung arsitektur regional Asean. Sementara itu, Wakil Presiden AS Kamala Harris, menekankan akan terus memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia. Dia berharap kedua negara terus memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Perkuat Integrasi Ekonomi Kawasan
Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ke-43 Asean bakal menjadi momentum penting dalam upaya menyiapkan kawasan ini sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi dunia. Salah satu langkah strategis yang wajib ditempuh, yakni mengakselerasi kerja sama ekonomi dengan sejumlah negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Seperti diketahui, RCEP merupakan pakta kerja sama ekonomi komprehensif yang digagas oleh Indonesia dan negara anggota Asean lainnya, serta melibatkan lima negara mitra strategis, yakni China, Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan. Agenda kemitraan multilateral ini pertama kali diresmikan dalam pertemuan puncak KTT Asean ke-21 di Phnom Penh, Kamboja pada 2012. Bagi negara anggota Asean, khususnya Indonesia, terlibat aktif dalam proyek kerja sama dengan lingkungan perdagangan yang kompetitif seperti ini tentu sangat vital guna mendongkrak kualitas dan produktivitas industri di kawasan regional, juga dalam negeri. Bersama China, misalnya Presiden Joko Widodo berulang kali menegaskan pentingnya kerja sama konkret yang saling menguntungkan dengan negara-negara anggota Asean. Momentum KTT Asean tahun ini juga dimanfaatkan Indonesia untuk merekatkan hubungan dengan China, terutama memastikan kerja sama terkait dengan penghiliran, pembangunan infrastruktur, serta mendukung pengembangan ekonomi berkelanjutan di dalam negeri. Selain enam agenda pembangunan yang tengah diinisiasi—penghiliran, digitalisasi, infrastruktur, pendidikan, distribusi ekonomi, dan dekarbonisasi—pembahasan megaproyek kereta cepat Jakarta—Bandung sudah pasti menjadi salah satu topik penting yang didalami bersama China. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dalam paparannya di hari kedua ASEAN-Indo-Pacific Forum 2023, turut menyampaikan komitmen untuk mempererat kerja sama dengan Asean. Salah satu manifestasi dari komitmen itu, yakni tecermin dalam Dana Integrasi Asean-Jepang atau The Japan-Asean Integration Fund senilai total US$100 juta. Beberapa inisiatif kerja sama Asean-Jepang di antaranya yakni di bidang transisi energi untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan ancaman lingkungan, inovasi digital dalam mendukung ekonomi berkelanjutan, hukum dan peradilan, ketahanan pangan, serta penguatan dari sisi intelektual dan pendidikan.
Diplomasi Negatif Beras India
Keputusan India melarang ekspor beras sejak Juli 2023 telah membuat kepanikan baru di pasar beras global. Apalagi, diplomasi negatif itu dilakukan pada masa kekeringan ekstrem El-Nino yang melanda sebagian besar negara produsen beras Asia. Harga beras global merangkak naik menjadi US$547 per ton pada Juli 2023, lalu naik lagi menjadi US$635 per ton pada Agustus 2023 untuk beras kualitas Thai 5% broken. Harga beras medium (Thai 25% broken) di pasar global US$524 per ton pada Juli 2023, lalu naik lagi menjadi US$600 per ton pada Agustus 2023.Apakah diplomasi negatif India akan menghasilkan ‘kiamat beras’ di pasar global, seperti sering menjadi tajuk berita media nasional dan media sosial? Tidak separah itu. Artikel ini menganalisis pasar beras global setelah pelarangan ekspor beras oleh India dan konsekuensinya bagi ekonomi perberasan Indonesia.
Laporan Prakiraan Pasokan dan Permintaan Produk Pertanian yang dirilis oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada Agustus 2023 sedikit melegakan dibandingkan dengan Laporan serupa versi Juli 2023. Secara umum pada 2023/2024 ini terjadi peningkatan pasokan, penurunan konsumsi, penurunan ekspor, dan peningkatan stok dibandingkan dengan bulan lalu. Pasokan beras naik 0,4 juta ton menjadi 694,7 juta ton, terutama karena stok awal yang lebih besar di India.
Meskipun demikian, diplomasi negatif larangan ekspor beras India telah membuat banyak negara net-consumers beras, terutama di Asia, mulai kalang kabut dalam 2 bulan terakhir. Saat ini, 40 negara menggantungkan impor beras dari India. Bahkan, beberapa negara di Afrika dan Asia Selatan sekitar 80% impor berasnya bergantung kepada India.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode kerangka sampel area (KSA) menunjukan bahwa neraca beras mulai defisit lagi sejak Juli, Agustus, bahkan diperkirakan berlanjut hingga September dan Oktober 2023, bahkan mencapai total 720.000 ton. Strategi manajemen stok beras dan kemampuan pengelolaan psikologi pasar akan mampu menahan lonjakan harga beras di dalam negeri.
Harga Komoditas Melambung, IHSG Tembus 7.000
JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek jakarta (BEI) sempat menembus level psikologis 7.000 pada perdagangan Rabu (6/9/2023), ditopang melambungnya harga komoditas. Namun indeks akhirnya ditutup di level 6.995, seiring maraknya aksi profit taking ketika berada di level 7.044. Dalam jangka pendek, analis memprediksi IHSG menguji rentang area 7.025-7.070. Selain harga komoditas, indeks mendapatkan angin segar dari data perekonomian nasional yang sesuai ekspektasi pasar. "Secara teknikal, IHSG masih berpeluang menguat. Namun, demikian yang perlu diperhatikan, dalam jangka pendek penguatan IHSG akan cenderung terbatas untuk menguji rentang area 7.025-7.070," kata Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily, Rabu (06/09/2023). "Dengan demikian, indeks dalam jangka pergerakan IHSG lebih cenderung limited upside dengan range antara 6961 hingga 7044 sehubungan dengan indikator RSI yang hampir menyentuh area overbought," jelasnya kepada Investor Daily. (Yetede)
Konektivitas Asean Jadi Kunci Pengembangan Ekosistem EV
JAKARTA,ID-Konektivitas antar negara anggota Asean menjadi kunci dalam mewujudkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Pengembangan ekosistem kendaraan listrik serta kapasitas produksi tidak akan dapat terwujud tanpa konektivitas antar negara anggota Asean. Pernyataaan itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Pahala Nugraha Mansury saat memberikan sambutan pada The Asean Indo-Pacific Forum Day 2 di Jakarta, Rabu (6/9/2023). Wamenlu menuturkan bahwa Indonesia telah meluncurkan dan membangun ekosistem mobil listrik dan kendaraan listrik. Dengan kekayaan alamnya yang memiliki total sekitar 26% sumber daya dunia berupa nikel, Indonesia memiliki rencana ambisius untuk dapat menjadi bagian dari rantai pasok global dalam ekonomi sistem EV. Pahala mengatakan, negara-negara anggota Asean lainnya juga memiliki potensi yang besar, seperti Filiina yang sebenarnya juga memiliki potensi yang sangat signifikan dalam pengembangan nikel. "Di Indonesia, kita juga mempunyai sumber daya yang lebih dari sekedar nikel." ucap dia. (Yetede)
Merger Garuda-Pelita Air Dinilai Jadi Opsi Terbaik
JAKARTA,ID-Rencana penggabungan usaha (merger) antara maskapai penerbangan milik PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan Pelita Air yang dimiliki PT Pertamina yang diharapkan bisa menghasilkan opsi terbaik yang dapat mengakselerasi kinerja bisnis kedua BUMN tersebut ke depannya. Rencana merger yang menyeruak sejak 21 Agustus 2023 itu bahkan sukses mengangkat harga saham Garuda di lantai bursa hingga 40%. "Kami sedang telpon dengan beberapa teman konsultan, dan bersama teman-teman Pertamina mencari cara atau opsi yang terbaik untuk kami berdua, baik secara komersial maupun legal," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra pada acara Berita Satu Spesial BTV, Rabu (6/9/2023). Irfan mengatakan, wacana penggabungan masakapai milik Garuda Group dengan Pelita Air telah muncul sejak proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Garuda masih berlangsung. Rencana itu mencuat sebagai opsi apabila Garuda tidak lolos PKPU dan dinyatakan pailit. Irfan kembali menegaskan, pada waktu itu pesannya sudah sangat jelas, rencana menghidupkan penerbangan berjadwal dilakukan untuk mengantisipasi bila garuda tidak lolos PKPU. (Yetede)
Terganjal Sertifikasi Sebelum Beroperasi
Tak sampai setengah jam, Perdana Menteri Cina Li Qiang sudah bisa bolak-balik antara Stasiun Halim dan Stasiun Karawang yang berjarak sekitar 41 kilometer dengan menumpang kereta cepat. Orang nomor dua di Cina itu menjajal sepur berkecepatan 350 kilometer per jam tersebut bersama Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Li Qiang juga meninjau kesiapan sarana dan prasarana moda transportasi tersebut sebelum mulai beroperasi komersial pada Oktober mendatang. "Di kereta api, kami banyak berdiskusi mengenai detail kereta ini dan merasakan bersama bahwa kualitas keretanya cukup bagus. Kami merasakan kecepatan hingga 326 kilometer per jam," ujar Luhut setelah menjajal kereta cepat. Namun Luhut belum memastikan kapan kereta cepat Jakarta-Bandung bakal diluncurkan. Ia hanya mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo ingin masyarakat di sekitar jalur kereta cepat menjajal lebih dulu kereta berteknologi anyar tersebut sebelum masuk tahap komersial. (Yetede)
Setengah Hati Tinggalkan Dolar
JAKARTA — Aktivitas perdagangan dan transaksi internasional masih sangat bergantung pada dolar Amerika Serikat. Bukan hal mudah menurunkan penggunaan dolar AS atau "dedolarisasi" di tengah posisinya sebagai mata uang utama dunia saat ini. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan, saat ini mayoritas pelaku usaha sudah kelewat nyaman dengan dolar AS, meski upaya menerapkan kebijakan penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction sudah dimulai. Indonesia saat ini memang telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan Malaysia dan Thailand yang dimulai sejak 2018, lalu dengan Jepang pada 2020, dan dengan Cina pada 2021. Adapun eksposur penggunaan LCT paling banyak dilakukan dengan baht Thailand dan yuan Cina. “Tapi memang belum banyak karena bagaimanapun dolar masih jadi mata uang dunia," kata Toto, kemarin, 6 September 2023. Sering kali para pengusaha menerima pembayaran dalam mata uang lokal. Namun mereka harus kembali menggunakan dolar saat harus membeli bahan baku dari negara lain. Kurangnya sinkronisasi kebutuhan penggunaan mata uang lokal dengan dolar AS menjadi salah satu tantangan utama penerapan kebijakan LCT. Hal ini pada akhirnya justru berpotensi kian membebani pelaku usaha. “Supplier kami misalnya ada juga yang belum berkenan dengan mata uang lokal, mintanya dolar. Ya ini membebani kami karena ujungnya harus bayar selisih kurs dobel,” kata Toto. Menurut dia, penerapan kebijakan ini harus dilengkapi dengan implementasi kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha. "Misalnya dalam melakukan transaksi di bank devisa, kami bisa mendapatkan kurs tengah yang lebih kompetitif. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









